
Tiga tahun yang lalu...
Awalnya, keluarga yang dibangun oleh seorang aktris cantik dan aktifis politik itu sangat harmonis. Mereka bangun di pagi hari, saling memberi kecupan, sarapan bersama, saling bercerita di meja makan saat makan malam dan menonton film yang dilakoni Ibu sampai ketiduran.
Saat anak-anak ketiduran, peran Ayah dimulai.
Dengan otot lengannya, ia memindahkan ketiga anaknya ke kamar masing-masing. Iya, Theo punya Adik dan Kakak.
Adiknya adalah Marshaluna Titian atau sering dipanggil Titi, sementara Kakaknya adalah Leonardo Edgar, laki-laki yang empat tahun lebih tua dari Theo itu sering dipanggil Bang Leo.
Setelahnya, baru waktunya bersama Ibu dimulai.
Namun, keharmonisan dan tawa itu seketika lenyap ketika suatu hari Ibu menggugat cerai Ayah karena Ayah kedapatan bercinta dengan perempuan lain.
Theo yang malam itu belajar di kamarnya, terkejut karena ada suara bantingan pintu dari kamar orang tuanya. Buru-buru Theo keluar dan bersamaan dengan itu, Bang Leo pun keluar.
Kakak dan adik itu saling melepar pandangan penuh tanya.
Kemudian bersamaan, menghampiri pintu kamar orang tua mereka yang kebetulan terbuka. Di sana ada ibu yang tengah meremas sebuah foto dan menangis tersedu-sedu.
Ketika Theo bertanya, Ibu tak menjawabnya. Justru membanting pintu tepat di depan wajah Theo dan Leo dengan makian kasar agar dua anaknya itu tidak menganggu.
Theo paham Ibu marah, Theo paham Ibu sedih dan Theo paham Ibunya hancur.
Tapi ... apakah egois untuk Theo berharap Ibunya tak berubah drastis seperti itu?
Ibu seolah buta arah, seolah lupa pada anak-anaknya dan tidak peduli lagi selain kesedihan dan kemalangan yang menimpanya.
__ADS_1
Setiap pagi, tak ada lagi sarapan yang tersedia. Siangnya, tak ada yang membereskan rumah atau menyiram bunga di halaman. Pun malamnya, tak ada kehangatan atau bertukar sapa dengan segenap anggota keluarga.
Mendadak, Ayah dan Ibu menjadi orang asing yang turut membuat anak-anaknya tak tahu harus berbuat apa.
Setiap kali mereka bersuara, Ayah dan Ibu membalasnya dengan makian dan kutukan. Bahkan untuk Titi yang baru berusia 2 tahun.
Semenjak itu, hari-hari yang Theo lalui seperti neraka. Dia baru saja berumur 14 tahun dan harus mendengarkan bagaimana Ibu menangis kencang setiap malam saat Ayah mempersulit proses perceraiannya.
Bersama adiknya yang masih berumur dua tahun saat itu, Theo mengunci diri di kamar. Kakaknya yang sudah berusia delapan belas tahun sering kabur dari rumah karenanya.
Biasanya selalu ikut bermain dengan Titi, bahkan berebut ciuman dengan adik manis itu, Leo berubah sejak Ayah dan Ibunya sering bertengkar.
Leo yang awalnya sangat hangat dan selalu membantu Theo ketika kesulitan, menjadi teman saat Theo tidak bisa tertidur, menjadi lawan Theo untuk terus berkembang dan telah menjadi sebagian kehidupan Theo juga.
Hingga akhirnya, tahu-tahu Leo didapati meninggal di kamar mandi dengan satu botol cairan pembersih lantai. Leo bunuh diri. Hal itu sangat mengguncang Theo. Dia seperti tak punya keluarga lagi.
Leo bahkan tak mengucapkan selamat tinggal atau perpisahan yang baik pada Theo. Karena itu, sampai kini, dia membenci Leo.
Persis setelah kejadian itu, keluarga Theo ... hancur berantakan.
Namun, dia ingat Titi. Satu-satunya orang yang dia sayang dan ingin dijaga sampai mati.
Ketika akhirnya Leo pergi, Ayah dan Ibu bahkan tidak peduli.
Foto-foto keluarga, vas bunga estetik, patung-patung yang menghiasi dinding dihancurkan semuanya oleh Ayah ketika Ayah dan Ibu benar-benar telah bercerai; benar-benar terpisah dan tak akan kembali seperti dulu.
Ibu memang mengatakan bahwa dirinya sayang pada Theo dan Titi sebelum pergi untuk mengejar kembali karirnya sampai ke bintang teratas. Namun, tanpa salam perpisahan, Ayah pergi meninggalkan Theo dan Titi di rumah.
__ADS_1
Theo sangat terpukul.
Hari-hari pertama, dia kesulitan mengatur jam sekolahnya dengan menjaga Titi. Ayah dan Ibu tidak membantu sama sekali. Mereka hanya mengirim uang yang bahkan Theo bingung harus dihabiskan untuk apa.
Menyewa seorang pembantu? Waktu itu Theo sulit sekali percaya pada orang lain. Percaya pada keluarganya sana Theo tidak mendapatkan kepuasan, apalagi pada orang lain?
Karena itu pula, sekolah Theo jadi agak berantakan selama satu bulan. Dia sibuk mengurus Titi lebih dulu.
Dia menemukan balapan sebagai jalan keluar untuk melupakan masalahnya, kemudian bertemu Ten dan membuat jalan keluar untuk Titi hadir. Theo mulai percaya Ten, Theo percaya panti asuhan itu dan semuanya berjalan lancar sampai sekarang.
Hingga akhirnya, satu semester kemarin, Ayah mendatanginya dan memaksanya untuk menjadi penerusnya. Theo sempat marah, Theo sempat memberontak dan membentak, namun ada satu senjata yang Ayah pegang untuk membuat Theo menjadi menuruti perintahnya tanpa bantahan lagi.
Ayah akan membuat Titi terpisah dari Theo.
Theo jelas tak mau itu terjadi. Titi adalah satu-satunya keluarga yang dia punya, yang harus dia pertahankan dan harus dia lindungi.
Meski Ayah keras padanya, meski Ayah menyakitinya, bahkan sampai Theo harus menggunakan alkohol atau ganja untuk meredakan tekanan batin yang bergejolak, Theo akan tetap berusaha hidup untuk Titi, untuk melihat senyum dan suara riang Titi; sebab dia bahagia bagaimana sakitnya kehilangan orang yang berarti.
Theo tak mau itu terjadi pada Titi.
Cukup dirinya saja yang sakit hati. Tidak untuk orang yang paling dia sayangi.
Theo berjanji, bahwa dia akan bahagia kelak bersama Titi setelah penderitaan dan pahit-pahit yang dia alami kini.
Karena itu, Theo bertahan.
***
__ADS_1