Dari Korea

Dari Korea
WABBL - 115


__ADS_3

Malam hari ini, untuk pertama kalinya Lili membuka ponselnya. Banyak pesan dan pemberitahuan lainnya yang masuk. Salah satu yang paling menarik perhatiannya adalah yang berasal dari, ya, siapa lagi kalau bukan Jae.


Kak Jae: kamu ke mana aja, Li? Padahal kemarin kita-kita makan karena dapet juara dua


Kak Jae: Li?


Kak Jae: kamu sakit ya, Li? Maaf aku nggak bisa jenguk


Kak Jae: hari ini kamu udah pulang ke rumah, ya?


Lili tersenyum saja saat membaca sederet pesan dari Jae sejak dia kecelakaan dan sampai sekarang. Tak ada pesan baru lagi darinya sejak tiga hari yang lalu.


Sayang sekali, pesan terakhir itu dikirim tiga hari yang lalu. Sehari setelah Lili pulang ke rumahnya. Lili tak mau membalasnya karena jelas Jae sudah lupa kepadanya hingga tak lagi kepo dengan keadaannya.


Sayang sekali lagi, Lili tak bisa ikutan makan-makan untuk turut merayakan kemenangan film Jae.


Sambil rebahan di kasur sambil telungkup, Lili memilih untuk mengecek Instagram pribadinya yang kini dibanjiri followers. Jelas lah, orangnya ganteng dan humble gitu.


Ada tiga post terbaru di akunnya.


Pertama, foto bersama dalam filmnya.


Kedua, fotonya saat di atas motor sambil mengarahkan kamera seperti tengah memotret.


Ketiga, fotonya dengan seorang perempuan. Perempuan itu berjinjit ke bahu Jae, seperti hendak mencium pipi Jae. Namun, untungnya perempuan itu menoleh ke kamera dan tersenyum. Mereka tampak serasi seperti—


Eh?


Seorang perempuan?


Se orang perem puan?

__ADS_1


Pe rem pu an?


P e r e m p u a n?


Cantik lagi.


Hati Lili langsung meronta-ronta. Kentang sepertinya bisa apa saat disandingkan dengan perempuan dengan rambut kecoklatan yang amat lurus seperti spaghetti mentah, senyum semanis arumanis dan badan proporsional bak model.


Hai, namaku Stella, pacarnya Jae yang diumpetin satu tahun :( tapi nggak apa-apa, asal Jae menepati janjinya kalau dia menang lomba film tahun ini. love u babe :*


Ada yang retak dalam hati Lili dan rasanya sakit sekali. Seperti ada yang memukul-mukul dadanya hingga Lili kesulitan bernapas dan tangannya jadi lemas. Tak lagi bertenaga untuk memegang ponselnya. Matanya mulai berkaca-kaca.


Tubuh Lili ambruk. Ya, memang sudah ambruk sebelumnya di ranjang, tapi kini lebih-lebih ambruk.


Kemudian Lili mengambil bantal dan menangis di sana.


Sekarang, Lili tak merasa sayang sekali karena tak ikutan makan-makan untuk merayakan kemenangan film Jae itu. Sebab jika dia ikut, kemungkinan dia akan bertemu Stella dan prosesi patah hatinya pasti akan lebih dramatis dari sekarang.


***


Lili pernah patah hati saat ia naksir teman sekelasnya, tapi dia malah jadian sama anak kelas lain. Rasanya sakit bener, tapi Lili berhasil untuk sembuh. Sebab Lili jarang berinteraksi dengan cowok itu. Hanya memandang dari belakang saja, mengagumi dengan senyum tercipta lebar.


Jadi, waktu sakit hati, Lili nggak parah-parah amat.


Kasusnya dengan Jae beda. Lili sudah berinteraksi lumayan instens dan jelas saja sakit hatinya jadi lebih parah. Bahkan Jae memakai gaya bahasa yang membuat Lili berasa tinggal di surga.


Membaca dan melihat fakta bahwa Jae sudah memiliki pemilik hati, apalagi sudah satu tahun, membuat Lili sangat-sangat syok sampai matanya bengkak ketika di pagi hari.


Yohan dan Ily sempat bertanya, namun Lili tak menjelaskan.


"Udah, Ayah sama Ibu nggak usah khawatir lagi. Lili bener-bener udah sembuh." Lili berkata dengan wajah penuh senyuman. Tampak melegakan untuk dilihat Yohan dan Ily. Sepertinya, anak itu benar-benar sudah sembuh dari kesedihan hatinya.

__ADS_1


Perlahan, Ily dan Yohan tersenyum bangga, lega dan bahagia.


"Lili akan cari cita-cita baru seperti yang Ayah bilang. Lagian Lili juga udah capek. Lili mau cari jalan yang baru buat hidup Lili." Lili tersenyum enteng.


"Ya, langkah kamu masih panjang, Li." Yohan membalas, menguatkan dan menggenggam tangan Lili dengan erat. Matanya menyorot dalam dan penuh kesabaran. "Jangan buru-buru atau merasa tertekan. Ayah dan Ibu nggak menuntut kamu. Oke?"


"Siap, Yah!" seru Lili mengerti.


"Hari ini kamu mau ngapain?" tanya Ily kemudian.


"Hm ...." Lili tampak tengah berpikir sebentar, kemudian menyunggingkan sebuah senyuman di wajahnya yang riang seperti biasa. "Aku mau belajar aja. Seminggu ini belum baca buku. Pasti udah tumpul ini otak."


***


Perlu satu bulan penuh untuk Theo bisa berjalan dan beraktivitas normal lagi. Meski kadang agak ngilu dan masih takut-takut untuk leluasa bergerak, Theo bisa ke sekolah.


Melihat kursi di seberang sampingnya kosong membuat hati Theo tak karuan. Dia tak bisa berkonsentrasi dengan baik. Theo terlalu khawatir.


Theo tau cedera Lili lebih parah darinya, namun tak menyangka jika rasanya akan semengganggu ini. Berhari-hari Theo merasa frustasi. Namun, ia berusaha menahannya. Satu hari, dua hari, tiga hari, empat hari ... dan Theo tak sanggup menahannya lagi.


Jadilah, kini Theo ada di depan gerbang rumah Lili.


Jelas Theo takut. Ada perasaan begitu yang menahannya untuk tak langsung membuka gerbang itu. Theo berdecak, kemudian berbalik.


Seharusnya hubungannya dengan Lili sudah berakhir, bukan?


Seharusnya Theo tak menemui Lili lagi, kan?


Mengapa Theo ingin terus mengganggu Lili?


Konyol.

__ADS_1


Kkkriett.


Nyatanya, waktu suara gerbang dibuka terdengar, Theo langsung berbalik. Dia menarik senyuman di wajahnya saat melihat Lili. Perempuan itu sudah tidak memakai gips di lengan kanannya, namun wajahnya masih pucat dan mendeskripsikan seseorang yang masih tak sehat.


__ADS_2