
"Hm, ada drama apa ya, yang belum gue tonton?" Ily bergumam ketika tangannya menggerakkan kursor pada laptop di depannya. Mencari apa yang ia minati dan belum ia tonton pada ratusan video yang ada. "Ini udah kemarin, ini juga, ini juga, ini dub Jepang padahal film Korea, ini kualitas CAM, ini gak ada subtitle, ini kayaknya kurang deh, ini serem kalau diliat sore-sore, ini juga, aduh... yang mana ya?"
Tangannya terus bergerak, matanya terus menelusuri dan otaknya terus berpikir. Tak pernah sekalipun Ily merasa seperti ini. Biasanya ia akan cepat dalam memilih. Namun, kali ini berbeda. Entah apa alasannya, namun ada nama Kim Yohan dalam pikirannya.
Apa laki-laki Korea itu sudah duduk nyaman? Apa dia nyaman dalam pesawatnya? Apa makanannya dinikmati olehnya? Apa dia dan ibunya berbicara lancar setelah banyak masalah yang ditimbulkan Yohan?
"Ngapain sih Ily? Kok jadi mikirin Yohan?" Ily menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat. Mengusir apa yang ada dipikirannya yang menurutnya agak mengganggu itu. "Yaudah, nonton ini aja. Kemarin baru episode tiga."
Akhirnya, untuk membunuh pikiran dan waktu, Ily memilih untuk menonton drama Korea series. Setidaknya, dengan rasa yang diberikan drama, nama Kim Yohan perlahan samar dalam pikirannya.
Sore berganti malam.
Waktu memang berlalu secepat itu. Seperti pedang. Seperti bom.
Ily akhirnya mematikan laptopnya karena dua faktor. Pertama; karena baterainya sudah sangat lemah, kedua; karena perutnya kosong hingga Ily merasa sangat lemah. Padahal dirinya tak melakukan apa-apa. Hanya rebahan dan menonton.
Selesai mengisi daya laptop, Ily mengambil ponselnya yang telah terisi penuh karena diisi sewaktu ia menonton dan keluar dari kamarnya.
Rumah sudah gelap ketika Ily sampai ke dapur. Ayah dan ibunya mungkin sudah tidur karena jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Tadi mereka sempat menawarkan untuk makan malam bersama, namun Ily menolaknya dan ingin makan terpisah saja karena sedang terjadi masa klimaks di dalam drama yang ditontonnya.
Ily membuka kulkas setelah sebelumnya melihat meja makan yang kosong dan itu artinya kedua orang tuanya tak menyisakan makan malam untuknya. Bukannya Ily marah, itu sudah menjadi hal yang biasa.
Dalam kulkas hanya ada bahan mentah yang membuat Ily malas mengolahnya. Beruntung ada sereal dan susu instan peninggi badannya. Ily mengambil kedua bahan itu dan mencampurnya hingga kini tersedia sebuah makan malam untuk mengisi kosong perutnya.
__ADS_1
Ily tersenyum, bahagia rasanya dapat merasakan manis ini. Memang sederhana. Ily sangat menikmatinya.
Rasa sepi yang membuat segalanya canggung membuat Ily inisiatif memainkan ponselnya. Tangan kanannya masih sedia menyuapkan makanan, sementara tangan kirinya memainkan ponsel. Tak banyak yang Ily harapkan.
Namun, ia membuka aplikasi chat dan terkejut ketika grup yang berisi dirinya, Yohan, Elvan dan Eza memiliki 1000 lebih obrolan. Melihatnya saja Ily sudah malas, apalagi membukanya dan membacanya kemudian.
Ily berdecak, pasti isinya perang sticker antara Elvan dan Eza yang 100% unfaedah. Oleh karenanya, Ily menutup aplikasi yang membosankan itu untuk setelahnya membawa galeri.
Sereal dalam mangkuk di depannya hampir habis dan bersamaan dengan itu, hujan turun. Awalnya rintik kecil dan Ily tak sadar, namun kini hujan itu bertransformasi menjadi deras dan suaranya memekakkan telinga.
Ily tak menyukainya. Apalagi malam, yang membuat suara itu semakin jelas, berisik dan mengganggu.
Memakan suapan terakhir, Ily mencuci mangkuk bekas makannya dan pergi ke kamarnya kembali. Ily segera menyerang ranjangnya dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut, berharap suara hujan itu bisa diredam oleh benda lembut itu.
Dengan telungkup ditutupi selimut, Ily melihat foto-foto di mana dirinya bersama Yohan berada dalam satu frame. Ily melakukannya karena ia rindu dengan kehadiran Yohan.
Biasanya laki-laki itu menemaninya dalam sebuah obrolan online setiap malam sebelum tidur. Ily selalu mengajarkan Yohan tentang cara menjadi anak gaul, sementara Yohan membalasnya dengan banyak bertanya hal-hal lainnya. Obrolan mereka selalu berakhir panjang. Membuat Ily cepat mengantuk dan tidur nyenyak.
Sekarang, tak ada lagi yang seperti itu.
Ily merasa dirinya akan susah tidur malam ini.
Foto yang Ily lihat adalah ketika dirinya dan Yohan berada di minimarket. Yohan selfie dengan Ily yang sedang memilih kotak susu instan. Yohan mengirimnya pada Ily dan Ily menyukai karena wajah Yohan sangat kocak. Meski tampan, Yohan membesarkan lubang hidungnya agak tampak jelek.
__ADS_1
Ily hampir tertawa jika ia tak menahannya kuat-kuat. Ia takut menganggu ayah dan ibunya yang mungkin sedang tidur.
Melewatkannya dengan tahan tawa, Ily menggeserkan layar untuk melihat foto berikutnya. Ketika mereka berada di toko buku.
Di sana mereka berfoto dengan buku super mahal karya seseorang yang sangat Yohan kagumi. Jika di Korea Yohan dilarang ayahnya membeli buku apalagi buku yang ingin dibelinya ini hanya cerita fiksi, di sini ia bebas membeli buku apapun karena tak ada ayahnya.
Yohan tertawa senang, mengangkat jari jempolnya dengan bangga di atas kepala Ily yang menunjukkan wajah datar dengan senyum tipis.
Ily ingat betapa semangatnya Yohan ketika membelinya, kemudian membacanya sambil video call dengan Ily padahal jarak rumah mereka tak kurang dari lima meter.
Sungguh konyol. Namun, Ily tak menyadarinya saat itu. Waktu seolah berjalan sangat lama, padahal baru tadi sore mereka berpisah.
Ily tertawa kecil. "Yohan, aku rindu."
Kemudian perempuan delapan belas tahun itu mengubur kepalanya dalam-dalam dengan bantal saking malunya setelah berucap sedemikian rupa.
***
**jadwal publish diganti jadi Sabtu dan Minggu, ya^^
have a nice day, everyone
please, leave a comment to support this story to reach the end hehe
__ADS_1
see you**