Dari Korea

Dari Korea
Dari Korea 2 52


__ADS_3

Setelah diobati, Yohan mandi, kemudian mengenakan baju ayah Ily dan waktu menunjukkan pukul tujuh malam ketika semuanya selesai. Ketika Yohan sudah bersih, sudah rapi, sudah berpenampilan normal kembali.


Ily tak tahu seberapa merahnya pipinya saat Yohan masuk ke dalam kamarnya setelah ibu bilang bahwa Yohan menginap di kamar Ily saja. Rumah Ily memang sederhana, hanya ada dua kamar di dalamnya. Jadi, mau tak mau Ily harus menyumbangkan kamarnya jika tak mau Yohan tidur di sofa dan kedinginan.


"Anggap saja rumah kamu sendiri. Jangan sungkan apalagi malu-malu," pesan ibu sebelum meninggalkan Ily dan Yohan di kamar Ily.


Keduanya bergerak canggung. Beruntung Ily sudah merapikan kamarnya dan tak ada barang memalukan yang biasanya berserakan. Hanya saja, ada beberapa Foster Shawn Mendes yang Ikut coret-coret seperti fans fanatik yang ingin menikah dengan idolanya.


"Itu--"


"Kal--"


Ily dan Yohan berkata bersamaan ketika Ily sedang mengambil selimut untuk Yohan dalam lemarinya sementara Yohan tetap berdiri di dekat pintu seraya menunggu dan memerhatikan gerakan Ily.


"Kamu mau bilang apa?" tanya Ily setelah keduanya menciptakan keheningan yang amat canggung.


"Ah, itu," jelas Yohan, "Kalau kamu keberatan aku berada di ruangan yang sama, aku bisa tidur si sofa depan."


"Nggak, Yohan," tolak Ily langsung. Kemudian meletakkan selimut di sisi kanan ranjangnya dengan menaruh guling di tengah-tengah, sebagai pembatas daerah Ily dan Yohan untuk tidur. "Kamu bakal kedinginan di sana. Aku juga pernah merasakan. Meski pakai selimut, rasanya udara dingin menembus dan menusuk sampai ke tulang-tulang."


"Aku beda, Ly. Aku kuat."


"Kuat dari mana itu luka-luka gitu," tukas Ily tak suka.


"Tapi, Ly, kelihatannya kamu nggak suka ada di tempat yang sama denganmu untuk tidur." Yohan menaikkan alisnya, sebab sejak ia bicara, Ily seolah tak mau balas menatapnya. Justru menyibukkan diri menata bed cover yang sebenarnya sudah amat rapi dari awal.


Ily berdeham salah tingkah. "Nggak, Yohan. Aku bukannya nggak suka kamu tidur denganku, apalagi satu ranjang. Tapi, bukannya kamu berpikir ini ... agak ... mm ... memalukan?"


Akhirnya Ily berbalik, namun dengan wajah semerah tomat yang sukses membuat Yohan menahan tawa geli.


"Memalukan kenapa? Aku nggak merasakan hal yang sama," balas Yohan santai.


Ily meringis, bingung mau menjawab apa. Tangannya bergerak ke sana ke mari seiring otaknya memikirkan sebuah jawaban. "Ya, pokoknya gitu, deh, Yohan. Kita bukan anak kecil yang tak mengerti apa-apa saat tidur bersama ... jadi ... jadi ...."


"Oh, tenang, aku tidak akan melakukan apa-apa kepadamu, Ly," potong Yohan tenang. "Aku memang suka sama kamu, aku memang sayang sama kamu, tapi aku tidak akan melewati batasan, Ly. Maaf-maaf saja, aku bukan laki-laki yang seperti itu."


Akhirnya, Ily dapat menghela napas tenang. "Baguslah, kamu mengerti maksudku."


Yohan tertawa. "Kamu lebay sekali."


Mata Ily membulat. "Aku begini karena takut! Harusnya wajah, dong?"


"Ah, iya, iya," balas Yohan menyerah untuk mendebat lebih panjang.


"ILY, YOHAN, AYO MAKAN MALAM!"


Teriakan ibu memecah keheningan yang hampir melingkupi Ily dan Yohan. Karenanya, Ily segera berjalan keluar kamar setelah mengajak Yohan. Di perjalanan, Yohan mengikuti dengan pandangan bingung.

__ADS_1


"Serius aku diajak juga?" tanyanya tak percaya.


Ily membuang napas kecil. "Memangnya kamu nggak mau diajak?"


"Ya, nggak begitu juga, sih."


"Anggap saja rumah sendiri, Yohan. Aku, ibuku dan ayahku juga nggak keberatan," tukas Ily dengan senyum lebar yang membuat hati Yohan tenang dan damai.


Sejurus kemudian, Ily dan Yohan telah duduk bersebelahan dengan ayah yang sudah duduk di seberang mereka. Ayah sudah tau cerita mengenai kedatangan Yohan dan rencana ke depannya dari ibu. Ayah menerimanya dengan tangan terbuka sebab ia sudah kenal Yohan sejak dulu, luar dalam.


Meja makan sudah penuh oleh berbagai hidangan. Biasanya hanya ada tiga piring, kini bertambah satu. Begitupula dengan lauk pauk yang tersaji, kini bertambah varian dan porsi. Yohan bingung untuk berekspresi, apakah dia harus bahagia karena disanjung dan disambut sedemikian rupa atau justru malu karena merepotkan.


Dia sudah diobati, diberi tempat tidur dan kini diajak makan malam pula.


"Nah, ini namanya tumis kangkung, ini ikan mas, ini bakwan jagung dan ini perkedel kentang. Cuma makanan rumahan biasa, sih," kata ibu menjelaskan satu persatu hidangan dalam piring. Dengan senyum hangat dan nada lembut seperti ibunya sendiri. "Semoga suka, ya, Yohan."


Yohan menahan air mata yang menggenang di pelupuk matanya. "Iya, Bu. Terimakasih atas makanannya. Aku ... aku pasti akan membalas semua kebaikan yang aku terima di sini."


"Oh, jangan sungkan, Yohan," tukas ayah dengan tawa bersahabat. "Manusia adalah makhluk sosial. Wajar jika mereka saling menolong. Kamu juga begitu padamu."


Senyum Yohan mengembang, menatap ayah dengan penuh arti. "Iya, ayah."


Ily mengernyit tiba-tiba, setelah mendengar bertapa akrabnya Yohan dengan kedua orang tuanya. "Sejak kapan kamu tidak canggung kepada ayah dan ibuku? Kok panggilnya sama kayak aku?"


"Heh, emangnya nggak boleh?" Ibu yang membalas dengan mata melotot. "Kamu jangan begitu, Ily. Yohan di sini adalah tamu, tau."


Hal yang pertama dirasakan Yohan setelah menyuapkan satu sendok nasi dan lauk pauknya adalah hangat, kemudian enak dan senang bercampur di mulutnya. Air matanya hampir turun, jatuh ke pipi jika ia tak menahannya kuat-kuat.


Dikelilingi orang-orang hangat dengan tawa bercampur di dalamnya saat makan malam, menjadi momen berharga yang tak akan Yohan lupakan.


Jika biasanya ia hanya ditemani keheningan dan keseriusan saat makan, kini ia bisa tertawa bebas atas beberapa lelucon yang Ayah lontarkan. Yohan tak merasa dikekang lagi, merasa dunianya jadi lebih cerah dan berwarna karena kehangatan keluarga Ily.


Karenanya, Yohan tak mau pulang kembali. Tak mau meninggalkan rumah ini.


"Coba tebak lagi, ya. Makanan apa yang bikin heran?" Ayah mengeluarkan kembali pertanyaan yang pastinya nanti akan jatuh sebagai lelucon yang mengundang tawa.


Ibu tampak berpikir, begitu juga Ily.


"Bakwan jagung," jawab Yohan asal.


"Salah," tukas ayah dengan senyum jahil. "Ayo, tebak lagi."


"Tau, ah, nyerah," balas Ily tak mau berpikir lagi.


"Asin," timpal Ibu, sama-sama menyerah.


"Aku juga menyerah," tambah Yohan ikut-ikutan.

__ADS_1


"Oke," tukas ayah dengan senyum penuh arti. "Jawabannya nasi."


"Hah? Kok bisa?"


"Lah?"


"Hm?"


Ibu, Ily dan Yohan bereaksi sama. Ketiganya menampilkan wajah bingung yang jelas. Benar-benar tak habis pikir dengan jawaban yang dilontarkan ayah.


"Nah, kan, kalian pada heran. Jadi, makanan nasi itu adalah makanan yang bikin heran. Setuju?"


"Serah." Ibu memutar bola mata jengah.


Sementara ayah tertawa atas leluconnya sendiri. Reaksi Ily tak jauh beda dari Ibu, namun Yohan justru ikut tertawa dengan ayah. Sejauh hidup kini, Yohan tak pernah tertawa dengan ayahnya. Karenanya, momen ini terasa amat tak nyata sekaligus membahagiakan.


Tawanya keras, membuat ibu dan Ily menatapnya heran. Kedua perempuan itu paham perasaan Yohan, mereka tahu apa yang dibutuhkan Yohan.


Karenanya, ibu dan Ily ikut tersenyum tipis saat melihat bagaimana Yohan menyuarakan kebahagiaannya yang seolah baru dia rasakan hari ini. Seolah hari-hari sebelumnya, Yohan tidak rasakan bahagia.


"Ya, udah, ah," kata ayah setelah tawanya mereda. Menatap Yohan dengan lurus-lurus. "Yohan, kalau ketawa jangan terlalu keras gitu. Nanti orang anggap kamu beda."


"Iya, yah," tukas Yohan seraya mengelap air matanya yang menetes karena terlalu keras tertawa.


Kemudian, mereka kembali menyuapkan nasi serta lauk pauknya. 


"Oke. Jadi, kamu besok kerja, Ly?" Ayah kembali bertanya dengan konteks lebih serius. Tak lelah mengeluarkan suara. Memang, rasanya ada yang kurang jika meja makan keluarga Ily hening.


Ily menatap ayahnya sekilas, berpikir sebentar sebelum menjawab. "Aku ambil cuti aja, deh."


"Hah? Kenapa?"


"Pasti mau sama Yohan terus, ya?" goda ibu sempat-sempatnya.


Yohan batuk-batuk karena terkejut. Ayah Ily segera menyodorkan gelas berisi air putih padanya untuk diminum supaya batuknya reda.


"Ih, nggak!" Ily segera menukas tak terima. "Maksud aku, aku kerjanya di rumah aja. Bikin soal dan pembahasannya buat minggu depan. Itu adalah maksud cuti di tempat kerja aku. Bukan benar-benar nggak kerja."


Ayah membulatkan mulutnya dengan wajah paham. "Berarti punya waktu banyak buat sama Yohan, dong."


Ily menunduk malu, tak mau membahas lebih lanjut dan fokus makan saja. Sementara Yohan di sebelahnya, menatap Ily dengan senyuman senang, bahagia dan haru.


Yohan benar-benar bersyukur dapat bertemu Ily. Dalam bagian hidupnya yang gelap dan kusut, ia tak pernah terpikirkan akan bertemu seseorang yang berupa cahaya serta warna di dalamnya.


Ilyssa, terimakasih telah hadir.


Terimakasih karena telah menjadi titik awal bahagia dalam hidupku.

__ADS_1


__ADS_2