
"Nah, jadi cerita ini tentang seorang perempuan yang mengejar cita-citanya. Dia itu miskin materi, tapi nggak miskin hati. Banyak yang menyukainya, banyak yang membantunya untuk menjadi desainer handal di masa kini." Imel menjelaskan pada seluruh penggemarnya yang datang ke mal ini untuk menghadiri launching novelnya. "Laki-laki yang menyukainya juga turut terajak untuk bercita-cita setinggi mungkin, tepatnya menjadi seorang pilot untuk menyenangkan hati sang perempuan. Di buku ini, diajarkan bagaimana kita harus menempuh pendidikan. Apapun hambatannya, apapun alasannya, pendidikan tidak boleh ditunda-tunda."
Hari ini adalah hari di mana Imel melakukan launching novel ketiganya. Judulnya bagus sekali, membuat Lili tercengang karena tak mengira Imel akan seterampil ini.
Jejak Yang Tak Pernah Pudar.
Lili sudah membacanya malam sebelumnya, isinya sangat mengharukan dan penuh nilai pelajaran hidup. Imel benar-benar berbakat, tidak seperti dirinya.
Di acara itu, Lili diperkenalkan sebagai sahabat Imel yang senantiasa mendukung dan menjadi teman konsultasi novelnya. Banyak yang bertepuk tangan pada Lili, namun sampai akhir acara, Imel selalu jadi sorotan.
Apalagi mengingat Imel akan turut menjadi pemeran utama dalam film remaja yang diangkat dari novel yang dia tulis sendiri. Iya, Imel sudah memutuskan untuk mencoba karir di bidang akting.
"Nah, aku akan tetap belajar selama shooting film Puji dan Syukur, dengan homeschooling tentunya." Imel menjawab sebuah pertanyaan dari pendengar. "Pokoknya, mau apapun alasannya, pendidikan harus tetap jalan. Nggak boleh ditunda-tunda apalagi diberhentikan."
Tepuk tangan meriah langsung mengudara setelah Imel berkata. Lili hanya mampu tersenyum turut bahagia saat ini.
Semuanya menyiksa.
Lili mulai membayangkan jika dirinya berada di posisi Imel, bagaimana rasanya? Jika dia berbicara di mikrofon itu, apa akan sesenang Imel? Apa dia akan terus tersenyum lebar selama acara berjalan?
Menarik napas untuk mencoba sabar, Lili tetap tersenyum selama Imel terus bicara, berbagi pengalaman pada semua yang datang.
Sampai akhirnya tiba penandatanganan buku, Lili benar-benar iri pada Imel.
Di kursinya, Imel bisa bertukar sapa secara dekat dengan pembacanya, menerima pujian-pujian yang membuat hidup terbang ke awang-awang, berjabat tangan sepenuh hati dan tertawa bahagia.
Lili ... kapan dia bisa seperti itu?
Sampai jam dua siang tiba, acara pun selesai.
Lili langsung berdiri dan membuat perhatian Imel teralih.
"Mau langsung pulang, Li?"
"Iya, dong. Emangnya masih ada acara lagi?"
"Nggak ada, sih. Tapi gue sama Tim mau makan siang dulu, nih. Lo mau ikut nggak?"
Lili tersenyum tipis. Kehadirannya nanti di sana bakal membuatnya semakin menyedihkan, karenanya Lili menggeleng kecil. "Gue mau cari novel baru dulu. Lo selamat happy-happy, deh!"
"Oh yaudah kalau gitu, bye! Lo hati-hati juga!"
"Iya, bye!" Lili balas melambai pada Imel yang buru-buru mengambil ponsel untuk pergi bersama Tim-nya.
Lili menipiskan bibirnya. Ia ingin menangis, namun lemah dan menyerah bukan kata yang ada dalam kamusnya.
Langkah penuh tekad Lili ambil untuk sampai di bagian rak buku-buku. Lili akan membeli buku yang bisa menginspirasi. Namun, baru beberapa menit ia fokus mencari, tiba-tiba di hadapannya ada sosok seseorang yang tidak terduga.
Orang itu juga menatapnya dengan terkejut.
Mata Lili mengerjap-ngerjap di balik kaca mata bulatnya. "Theo? Ngapain? Eh?"
Lili semakin bingung, apalagi saat ada seorang anak perempuan yang memeluk kakinya. Lili menatap Theo lagi. "Ini siapa, Theo?"
"Lo ngikutin gue?" Theo mendengus geli.
"Sumpah, hari ini gue nggak ngikutin lo."
"Oh, jadi yang kemarin-kemarin lo beneran ngikutin gue?"
"A ... iya, deh, iya! Iya! Gue ngaku ngikutin lo." Lili akhirnya mengaku dengan kesal. Kemudian dia berjongkok untuk setara dengan anak perempuan yang datang bersama Theo. "Aduh, lucu banget. Ini siapa?"
"Namaku Titi," kata Titi dengan suara cadel khas anak kecil.
"Ngapain Titi ke sini?" tanya Lili penasaran. Sekarang dia sudah tau siapa Dedek Titi yang sempat dibicarakan Theo, Ten dan Lucas. Ternyata adalah anak kecil semanis ini.
"Mau jalan-jalan, bosen di rumah nggak ada mainan," jawab Titi jujur.
"Oh, gitu." Senyum Lili berkembang lebar. "Woah, Titi berapa tahun? Adiknya Theo, ya?"
"Lima tahun. Iya, itu adik gue." Theo yang bersuara. "Udah yuk, Ti, pulang. Udah dua jam muter-muter."
Titi tak mengindahkan perkataan Theo karena fokus pada Lili yang menusuk-nusuk kecil pipi tembamnya.
"Ih, ucul bingits," kata Lili gemas, kemudian menarik tas selempangnya ke depan, membuka gantelan tas squisy dan melepasnya begitu saja. Tanpa berpikir panjang, Lili menyerahkannya pada Titi. "Mau ini, nggak?"
Mata Titi langsung berbinar. "Mau! Ih, Kakak main sama aku, yuk! Ayo ke rumah!"
Theo melotot kaget. "Eh, Ti, ini orang asing, lho."
Kini, giliran Lili yang melotot karena merasa sakit hati dianggap orang asing.
"Tapi Kakaknya baik. Ngasih aku squisy, ini lucu banget!" seru Titi justru lebih membela Lili daripada Theo yang kini wajahnya dan sangat kusut.
Melihat Theo, Lili tersenyum tipis.
"Ya udah, biar nggak jadi orang asing, Kakak perkenalkan diri dulu." Lili menjabat tangan kecil. "Nama Kakak Lili."
"Kak Lili!" seru Titi riang.
Theo dibuat tak bisa berkata-kata lagi.
__ADS_1
Tahu-tahu Lili menggendong Titi saat squisy-nya sudah diambil oleh Titi. Dengan semangat, Lili tersenyum. "Ayo, main sama Kakak. Sekarang, ayo kita pulang! Rumah Titi di mana?"
"Di sana!" seru Titi semangat, menunjuk pintu keluar mal.
Theo melotot tak terima.
"Meluncur!" seru Lili. Tanpa permisi pada Theo, perempuan berkuncir kuda itu berjalan cepat keluar mal. Memaksa Titi menunjuk salah satu mobil dan membuat Theo tak punya pilihan selain masuk di dalamnya bersama Lili yang menggendong Titi menuju rumah.
Theo tak tahu apa rencana Lili, namun dia punya firasat buruk.
***
Mobil yang dikendarai Theo akhirnya berhenti setelah memasuki sebuah perumahan dan di depan pagar sebuah bertingkat dua yang mewah.
Theo turun dari mobilnya untuk membuat pagar rumah dan masuk kembali untuk memasukkan mobilnya ke dalam garasi milik rumah. Mesin mobil akhirnya dimatikan dan Theo langsung menatap Lili datar seperti biasanya.
"Turun," katanya dingin.
Lili tersenyum tipis. Ia mengambil tubuh Tigi yang berada di sampingnya untuk digendong dan barulah ia keluar dari mobil. Tak lama, Theo menyusul keluar dari mobil setelah mengunci mobil tersebut dengan wajah kusut.
Terpaksa, Teo memimpin jalan Lili dan Titi masuk ke rumah.
Sebenarnya, Lili sudah merasakan debaran jantung yang kurang nyaman saat ini, namun dengan dia melihat Titi, ia merasa terlindungi. Baiklah, Lili akan benar-benar masuk ke dalam rumah seorang Bad Boy.
Setelah membuka kunci rumah, Theo masuk dan diikuti Lili dan Titi yang masuk ke dalam rumah tersebut.
Satu kata yang menggambarkan rumah tersebut adalah sepi.
Saat Lili masuk ke dalamnya, tak banyak hiasan yang bergantung di dinding itu. Namun, rumahnya sangat-sangat luas dan mewah. Apa yang dipijak Lili adalah marmer mahal yang mengkilat. Sebuah lampu mewah dan besar menggantung ketika Lili mendongak.
"Duduk aja di sofa, main sama Titi tuh sepuasnya."
Asyik mengamati rumah yang sebenarnya tampak kosong tanpa ada foto keluarga atau vas bunga ataupun lukisan-lukisan yang indah, Lili dikejutkan oleh suara Theo.
Tanpa membiarkan Lili menjawab lagi, Theo sudah hilang di belokan rumah. Lili tak mau nekat dengan mengejar Theo untuk tahu apa yang laki-laki itu lakukan hanya untuk meninggalkan Titi sendirian.
Bisa-bisa Titi dalam bahaya seperti Luhan yang nekat memanjat meja dapur saat tak ada yang mengawasi.
"Titi," tegur Lili saat telah duduk di sofa. Ada satu TV LED di dinding, namun Lili tak berniat menyalakannya untuk mengalihkan perhatian Titi.
Titi mendongak dengan pandangan tanya. "Kenapa, Kak?"
Lili terdiam lama. Apakah ia langsung saja bertanya? Apa Titi akan mengetahuinya?
Detik demi detik berlalu, Lili akhirnya memilih untuk tersenyum dan menggeleng. "Nggak jadi, deh. Kakak tanya ke Theo aja. Sekarang, kita main aja!"
"Oke!" Titi berseru semangat. "Kak Lili punya mainan lagi nggak?"
Lili tersenyum, kemudian mulai bermain bayang-bayang di TV dengan tangannya. "Nih, Kak Lili bisa sulap."
"Titi tau nggak ini bentuk apa?" tanya Lili lembut.
Kening Titi mengerut kecil, pandangan seriusnya membuatnya terlihat mirip dengan Theo sekilas, hingga akhirnya Titi cemberut. "Nggak tau, Kak. Emang itu apaan, deh?"
"Lah, kamu belum pernah nonton film Aladin emangnya?"
Titi menggeleng sedih. "Kakak Theo bilang film itu bisa bikin mata rusak. Jadi, Titi jarang liat film."
"Ya ampun, Ti," kata Lili dengan tawa kecil. "Nonton TV nggak seburuk itu, kok. Adik Kakak juga sering nonton TV, matanya bagus-bagus aja sampai sekarang."
"Woah, Kakak punya adik?"
"Iya. Baru dua tahun."
"Pengen main, pasti lucu."
"Aduh, kamu juga lucu kali, Ti."
Titi tertawa lucu. "Terus itu lampu Aladin berfungsi buat apa?"
"Oh ini?" Lili baru sadar dengan tangannya yang masih berbentuk lampu Aladin. "Ini gunanya buat ngeluarin jin yang nantinya bakal mengabulkan tiga keinginan kita."
Titi awalnya semangat, jadi sedih karena sesuatu. "Cuma tiga keinginan, Kak?"
"Iya," balas Lili turut sedih. "Tapi itu cukup, kok. Kalau Titi mau minta apa ke jin kalau dia ada?"
"Hm," pikir Titi. "Kayaknya ketemu ayah sama ibu tiap hari, terus punya temen dan banyak mainan aja, deh."
Kepala Lili mulai memunculkan banyak spekulasi dari perkataan Titi. Banyak sekali yang ingin ia tanyakan, namun Lili justru tersenyum lebar.
"Kalau gitu, coba gosok tangan Kakak. Terus kamu merem, siapa tau ada jin keluar," kata Lili memberi perintah dengan riang. Dia baru saja melihat Theo akan menghampirinya dari sana.
Titi menurut. Mata mungilnya kemudian terpejam dengan tangan yang menggosokkan lampu ajaib yang dibuat Lili dengan tangannya.
"Satu ... dua ... tiga," kata Lili riang. "Coba buka mata Titi. Itu di depan TV ada apa."
Mata Titi langsung terbuka. "Kak Theo?" tanyanya bingung, kemudian menatap Lili dengan pandangan menuntut. "Kok jin-nya jadi Kak Theo? Eh, kok Kak Theo jadi jin-nya?"
"Lah, emang kenapa?"
"Lo jadiin gue jin?" Theo bertanya tak suka setelah menaruh buah-buahan yang telah dia kupas dan potong kecil-kecil.
__ADS_1
Lili tertawa tanpa dosa.
Theo berdecak. "Ti, makan dulu buahnya. Nanti kita makan malam."
Titi langsung berseru riang. Dia mengambil garpu plastik yang khusus untuknya dan menusuk buah semangka. Namun, bukan untuknya, Titi justru mengarahkannya pada Lili.
"Kakak buka mulutnya," kata Titi.
"Aaaaaa." Dengan senang hati Lili memakan buah itu. Lili terharu karena Theo tidak tidur seperti dugaannya, laki-laki itu justru merawat Titi dengan baik.
Kini, Lili mulai meragukan. Apa Theo benar-benar Bad Boy?
Selanjutnya, Titi sibuk memakan buah dan Theo kini duduk di sebelah Lili. Menatapnya tajam. Lili salah tingkah, tak balas menatap tatapan Theo dan sibuk memainkan rambut pendek Titi.
"Kak, Titi mau dikepang dong! Kakak bisa nggak?" Titi menyuarakan keinginannya.
"Oh, bisa dong," balas Lili senang karena punya perhatian baru dari Theo.
"Rambut Kak Lili panjang banget, Titi jadi pengen juga kayak begitu."
"Ya, Titi harus tumbuh besar dulu, baru panjangin rambut." Lili menukas lembut. "Harus nurut sama Kak Theo juga, jadi adik yang baik."
"Oke, Kak."
"Sok perhatian banget," tukas Theo berupa bisikan. Dia tak mau suara tajamnya yang didengar oleh Titi. "Pulang sana."
"Bentar dong, kepangin dulu nih, nggak liat?" Itu memang benar, tapi Lili hanya beralasan. Dia punya banyak pertanyaan kini. "Boleh nanya nggak?"
"Nggak."
"Lah, kenapa?"
Lili turut berbisik, tak mau percakapannya didengar anak kecil. Theo tak membalas dulu, justru menyalakan musik anak-anak dalam ponselnya dan Titi jadi larut di dalamnya.
"Nggak, ya, nggak." Theo membalas pedas.
"Orang tua lo ke mana?"
Theo tak habis pikir pada Lili. "Mereka udah cerai."
"Ouw." Mulut Lili mengerucut dengan lambat. Dia terkejut, namun lebih terkejut lagi karena Theo menjawab tanpa debat. "Di rumah nggak ada pembantu?"
"Nggak."
"Jadi, lo cuma berdua sama adik lo?"
"Ya, lo liat sekarang."
"Kakak idaman banget," puji Lili tulus. "Terus dapat uang dari mana?"
"Ya, ortu." Tanpa diduga Theo menjawab pertanyaan Lili dengan cepat. "Meskipun mereka udah pisah, uang selalu ngalir buat gue dan Titi."
"Berapa tiap bulan?"
"Apa pertanyaan lo nggak terlalu kasar?" Theo akhirnya berhenti menjawab.
Lili cemberut. "Maaf."
"Lo udah dapet bahan cerita dari gue." Theo berkata dingin. "Itu nggak gratis." Tangannya menengadah meminta sesuatu pada Lili. "Bayar lo."
Mata Lili membulat, kemudian mengerjap-ngerjap. "Apa?"
"Kak?" Titi bersuara. "Kepangannya kok dilepas."
"Aduh, maaf Titi, Kakak kurang konsen," kata Lili ketika sadar telah melepaskan tangannya karena terkejut atas perkataan Theo.
Theo mendengus kecil. "Katanya lo bakal ngasih gue kalau lo ambil cerita gue. Mana buktinya?"
"Lo ngomong tiba-tiba, ya, gue kaget." Lili merongoh tas selempangnya dengan satu tangan dan meletakkan sebuah koin di telapak tangan Theo yang menengadah padanya. "Nih. Cukup, kan?"
"Lo bercanda?" Theo mengepalkan tangannya yang baru saja diberi lima ratus perak oleh Lili.
"Ya gue punyanya segitu. Nanti, ya, The, kalau udah jadi buku baru ada hasil. Nah, baru gue bagi-bagi. Pasti rata, kok, tenang aja. Asal lo kerja sama."
Theo langsung bangkit. "Titi ayo, tidur."
Musik anak-anak itu segera dimatikan dan tepat ketika potongan buah habis dimakan Titi, Titi menoleh dengan senyuman lebar. "Ayo, Kak. Dadah Kak Lili!"
Lili yang awalnya sedih, jadi memaksakan senyumnya dan melambaikan tangan pada Titi yang kini dituntun Theo ke kamarnya. Lili membuang napas panjang, sepertinya Theo memasang tamengnya lagi.
Lili harus bagaimana?
Apa dia buka kartu saja? Ah, pasti Theo bisa mengatasinya seperti tempo hari dengan menculik Lili dan--
"Lo nggak pulang?" Tahu-tahu Theo sudah berada di hadapannya, menatapnya tajam dan mengusir.
Lili bangkit dengan wajah kesal. "Lo nggak anterin?"
"Lo nggak takut gue?"
"Takut kenapa?" Lili bertanya dengan berani. "Lo makan nasi, gue makan nasi. Lo mandi pake air--",
__ADS_1
"Mau diculik?"
"Oh, iya, gue naik ojol aja!" seru Lili, langsung saja berlari keluar rumah Theo karena tatapan Theo sudah bertanda bahaya bagi Lili.