Dari Korea

Dari Korea
Dari Korea 2 14


__ADS_3

Seusai Elvan bersikap aneh dan tak mau bercerita banyak bahkan setelah Ily dan Eza menanyainya sedemikian rupa, keempatnya memutuskan untuk bersih-bersih. Raihan sendiri tak mau terlalu ikut campur dengan masalah yang sedang dihadapi Elvan, dia baru di sini. Sudah seharusnya mengetahui batasan dan hanya akan masuk jika diijinkan.


Elvan dan Eza bertugas membersihkan ruang keluarga, sementara Raihan bertugas mencuci piring karena dianggap sebagai orang yang handal dalam melakukannya. Ily sendiri hanya memantau karena dia tuan rumah.


"Lo cukup liatin aja kerja kita-kita, kalau ada yang salah kasih tahu aja, oke?" Begitu kata Eza pada Ily. "Sebagai orang yang menyediakan tempat yang nyaman, kita berterima kasih dan membalas dengan bersih-bersih ini."


Agak geli sebenarnya, tapi Ily bangga dengan pemikiran Eza yang semakin dewasa itu. Anak laki-laki yang dulunya bandel dan sering bercanda itu berubah menjadi laki-laki dewasa dengan tangan hangat dan perilaku sopan.


Namun, di sini lain, Ily memikirkan tentang Elvan. Biasanya Elvan akan sangat berisik dan mengganggu, namun hari ini auranya agak meredup dan Ily yakin ada sesuatu yang membuatnya seperti itu.


Sayang seribu sayang, Ily tak merasa dirinya cukup dekat dan baik hingga Elvan tak mau menceritakan keluhnya.


Ily hanya akan menunggu. Seiring waktu berjalan, Elvan pasti akan menghampiri dirinya, berkata panjang lebar dengan wajah lelah dan Ily akan memberikan pelukan untuk menenangkannya.


"Lo mikirin apa, sih? Serius gitu wajahnya."


"Hah? Ah, gue lagi em..."


Suara Raihan membuat lamunan Ily buyar. Ily sedang duduk di meja makan yang menghadap langsung ke wastafel di mana Raihan sedang mencuci piring. Ily menatapnya, memerhatikannya, namun pikirannya ada di tempat lain.


"Mikirin Elvan, sih. Aneh banget dia hari ini."


"Oh," tukas Raihan, mata dan tangannya fokus mencuci piring-piring kotor, namun dia tetap bersuara. "Mungkin ada masalah di rumahnya. Lo jangan khawatir, sih, laki-laki itu memang selalu punya masalah, tapi mereka nggak perlu banyak orang buat menyelesaikannya."


"Serius gitu?" Ily membulatkan matanya penuh minat. "Kok gue baru tahu?"


"Serius." Raihan mengangguk. "Beda lagi sama cewek. Mereka cenderung butuh bantuan, kadang melibatkan banyak orang karena, gue bukan merendahkan atau apa ya, tapi kebanyakan dari mereka cuma bisa nangis kalau ada masalah."


Hening menyambut agak lama setelah perkataan Raihan berakhir. Hening itu membuat Raihan khawatir sebenarnya. Sebab bisa jadi Ily marah karenanya.


Memikirkan perkataan Raihan lebih lama, Ily justru mengangguk, setuju.


"Bener sih, kata lo, Han. Gue juga gitu." Ily tertawa kecil, merasa terhibur sekaligus penasaran. "Kok lo bisa tau?"


"Tau aja. Gue banyak mengobservasi orang," balas Raihan.


"Calon orang hukum mah beda," goda Ily dengan maksud bercanda.

__ADS_1


Raihan tertawa karenanya, namun itu sebentar, selanjutnya ia berdeham tanda meragu. "Tapi, gue penasaran sama sesuatu. Lebih tepatnya, heran."


"Apa?"


"Gue heran sama lo."


"Gue?"


"Iya."


"Emang gue kenapa?" Ily menumpu wajahnya dengan tangan, penasaran mengapa bisa Raihan berpikir demikian.


"Rumah lo ini kosong, nggak ada siapa-siapa selain kita berempat. Lo sendirian cewek di sini, yang pada umumnya cewek itu lemah fisiknya. Gimana kalau seandainya terjadi sesuatu sama lo karena tiga cowok itu?"


Mata Ily membulat, tiba-tiba merasa takut dan jantungnya berdebar karenanya. "Kok lo bisa berpikir sampai ke sana, sih? Gue aja nggak pernah sampai ke sana, lho! Gila, sih, lo makin pinter aja, Han. Good job!"


"Fokus, Ly," tegas Raihan datar. "Seandainya lo diapa-apain, gimana? Takdir nggak ada yang tahu."


"Oh, kalau itu, lo tenang aja. Elvan itu sepupu gue dan Eza temen gue sejak masih bayi, ****. Mungkin udah terikat sejak dalam kandungan. Nggak mungkin--"


Ily hampir tak bisa bernapas normal ketika Raihan menatapnya lekat dengan wajah yang perlahan di dekatkan dengan wajahnya. Beruntung di antara mereka ada meja makan dan Ily bisa langsung berdiri.


"Gila, sih, lo kenapa, Han? Bikin takut aja," kata Ily seraya memegang dadanya yang terus berdebar meski ia paham Raihan sedang bercanda. "Gue bisa panggil Elvan sama Eza kalau lo mau macem-macem. Meski gue suka liat mereka babak belur kalau berantem, gue yakin kalau mereka berdua lawan lo, lo bisa kalah, Han."


Jeda beberapa saat, keheningan menyelimuti dan mencekik, akhirnya semua itu pecah saat Raihan tertawa kecil. Wajah ramah dan hangatnya kembali.


"Makanya, lain kali jangan bawa cowok banyak-banyak ke rumah waktu lagi sendiri. Lo nggak tau apa yang bakal terjadi, kan?" Raihan memberikan sedikit nasihat yang membuat Ily sangat tertampar. "Untung ini gue. Coba kalau orang lain."


Ily menipiskan bibirnya, memainkan jemarinya satu sama lain dan menatap Raihan dengan polos.


"Tapi, rumah gue nggak pernah terima cowok selain Elvan dan Eza. Sekarang, tambah lo. Nggak pernah ada cowok lain lagi yang pernah masuk," balas Ily. Membuat Raihan terkejut bukan main. "Ah, ada satu lagi. Cuma berempat, kok."


"Berempat itu banyak, Ly," balas Raihan, berubah agak kesal setelah sebelumnya terkejut.


Ily tersenyum. "Iya, iya."


"Gue serius, Ly. Demi keselamatan lo ini."

__ADS_1


"Iya, iya."


"Ly."


"Iya?"


"Kok lo agak nyebelin, ya, sekarang?"


"Hah? Kok gitu?"


"Gue nggak suka lo deket sama cowok-cowok, mereka berdua."


"Elvan Eza?" Ily memastikan dengan wajah menahan tawa.


"Iya."


"Ya ampun, mereka udah kayak saudara gue. Mereka bukan cowok. Nggak gue anggap gitu."


Raihan menatap Ily dengan mata menyipit, tak puas dengan jawabannya.


"Ngapain juga lo nggak suka? Emang mereka ngapain lo?" Ily bertanya heran. "Kan gue udah bilang, kalau lo diapa-apain sama mereka bilang aja. Gue bakal bantu."


Jika dalam komik, sudah pasti ada tanda kesal di pelipis Raihan ketika mendengar penjelasan Ily yang membuatnya ingin segera pergi dari hadapan Ily.


"Gila, lo nyebelin banget."


Usai berkata tak jelas seperti itu, Raihan meninggalkan Ily begitu saja. Ily melotot dibuatnya, sama sekali tak mengerti, namun ingin sekali menjambak rambut Raihan karena gemas.


***


**oke, oke, konfliknya memang belum dimulai, sabar, sabar


ikuti aja sesuai alur wokee


**aku udah berusaha upload gambar Elvan, tapi gagal terus dan akhirnya aku menyerah. mungkin part di Minggu yang akan datang, Elvan dan Eza akan bersama-sama diupload


maaf semuanya**

__ADS_1


__ADS_2