Dari Korea

Dari Korea
WABBL - 105


__ADS_3

Lili tersadar di sebuah puncak piramida.


Bukan Piramida yang ada di Mesir. Piramida yang Lili puncakki berwarna hitam dan banyak orang-orang di melihatnya dengan tatapan benci di bawah sana.


Lili hendak mundur, namun dia sadar kalau dia mundur, maka dirinya akan terjatuh. Lili memilih diam dengan ketakutan.


"Lo hujat karya gue!" seru seseorang yang tak Lili kenali. Salah satu yang menatapnya dengan benci dari sekian banyak orang di bawah sana. "Lo tau seberapa kerasnya gue bergadang buat menyelesaikannya, hah? Lo tau seberapa susahnya hidup gue dan karena itu gue melampiaskannya seluruh kemarahan gue atas hidup ini ke dalam sebuah bentuk tulisan? Lo inget tanggal 24 April jam 8 malem komen apa ke lapak cerita gue?"


Lili terperangkap. Napasnya tersengal-sengal.


"Tulisannya jelek banget. Nggak ada aturannya. Ceritanya boring. Heran kok bisa banyak yang baca." Orang tersebut menyuarakan komentar Lili yang pernah diposting di masa lalu. Orang itu menangis darah dan wajahnya jadi mengerikan. Ada panah yang menusuk dadanya. Panah tersebut berhiaskan tulisan Lili, perkataan hujatan Lili dulu pada salah seorang penulis di Wetfed yang membuatnya iri. "Gue inget itu sampai sekarang. Sayang banget, lo pake akun palsu dan tiba-tiba hapus akun sampai gue gila rasanya. Ingin balas dendam, tapi gue nggak tau siapa sasarannya."


Setelah mengucapkan itu, penulis Wetfed itu berubah menjadi debu dan tak terlihat lagi.


Lili meneguk ludahnya susah payah. Keringatnya mulai membanjirinya.


"Li." Imel tiba-tiba bersuara di bawah sana. Penampilannya tak kalah mengerikan dari penulis tadi."Lo jahat, Li."


"Imel, lo kenapa?" tanya Lili khawatir. Dia ingin mengulurkan tangannya, namun dia akan jatuh kalau melakukannya. Ketika memaksakan untuk melangkah, Lili benar-benar hampir jatuh. "Aduh."


"Lo ngomongin gue dalam hati, Li. Lo jelek-jelekin gue dalam hati. Lo nuduh gue yang nggak-nggak." Imel mengeluarkan suara lemahnya. Darah mulai mengalir dari matanya. "Tau gimana rasanya? Sakit ...."


Tanpa membiarkan Lili membalas dan menjelaskan, Imel sudah lebih dulu menghilangkan menjadi debu yang teranginkan kemudian.


"Kak Lili lebih peduli sama tulisan Kakak. Lupa sama Luhan. Padahal Luvi cuma temen Luhan, bukan Kakak Luhan. Luhan maunya selalu main sama Kakak. Luhan benci Kak Lili." Luhan berkata dengan suara yang menyayat hati. Adik laki-lakinya itu menangis deras.


"Luhan ...." Lili tak tahan melihat Luhan terluka dan menangis. Lili memaksakan diri untuk memeluk Luhan, jatuh ke bawah, hanya untuk menembus badan Luhan yang lebih dulu menjadi debu. Pada akhirnya, Lili jatuh secara cuma-cuma. "Aaaaaaa."

__ADS_1


Lili terus jatuh dalam ruang hampa yang seolah tak punya ujung. Napasnya tersekat.


"Kenapa kamu turun?" Ada suara seseorang. Entah siapa. "Bukannya selama ini kamu mau di atas? Begitu rasanya di atas, Liliana Kim."


"Aduh," ringis Lili saat tersadar dirinya jatuh di sebuah tempat hitam yang luas dan dingin. Lili ketakutan.


"Li, diam-diam lo seneng ya gue nggak bisa buat buku antologi puisi?" Gema tiba-tiba memunculkan dirinya. Matanya memerah dan wajahnya penuh kebencian. "Gue sadar, Li. Gue sadar, selama ini lo nyaman temenan sama gue, karena posisi gue lebih menyedihkan daripada lo yang biasa nulis tapi nggak bisa tembus penerbit. Sementara gue nulis aja dilarang dan ditentang."


"Nggak gitu, Gem ...." Lili langsung berdiri, hendak meraih Gema. Namun, Gema mundur dan seperti terbang ke belakang. "Gemaaaaaaa!"


Waktu Lili berjalan, tahu-tahu dia ada di ujung jurang. Jika selangkah lagi ia maju, maka Lili terjatuh. Dia akhirnya berhenti sambil menangis menatap Gema yang terbang di atas jurang di depannya.


"Lo nggak kenal sama gue, nggak paham sama gue, tapi lo maki-maki gue dalam hati." Gema menghilangkan berubah debu lagi. Debu-debu itu jatuh ke jurang.


"GEMAAAA!"


"Dasar penyihir. Bikin pidato dari nyontek ke Google aja bangga. Modal tampang doang pasti. Padahal kemarin ketahuan nyontek dari Google dan didiskualifikasi." Suara dirinya dari belakang membuat Lili menoleh. Ada sosok Lili yang lain di sana. Penuh kebencian dan hujatan pada sosok Sherin yang perlahan muncul di depannya dengan air mata mengalir sakit. "Tapi, sekarang menang? Hahahahahaha. Dasar sampah."


"Lo tau seberapa kerasnya gue berpikir di antara padatnya latihan PMR? Lo mana tau. Gue sebagai ketua PMR itu punya tanggung jawab yang besar." Sherin menatap Lili yang penuh kebencian itu. "Tahun kemarin memang gue salah, makanya gue ngaku waktu tiba-tiba jadi juara karena merasa nggak fair, tapi gue jadiin itu pelajaran. Tahun ini gue berusaha keras. Gue bikin sendiri. Pake otak sendiri. Lo tau apa gimana susahnya itu, hah?!"


Lili yang di sana mengepalkan tangannya kuat-kuat.


"Lo membenci gue karena Theo?" Sherin bertanya dan tertawa hambar. "Haha, dasar kekanak-kanakan. Lo mana paham situasi antara gue, Sherin dan Theo. Sok ikut campur banget."


Napas Lili terasa sesak sekali. Dia terjatuh, bersimpuh, lemah.


"Dia begitu karena memanfaatkan cerita kita buat novelnya."

__ADS_1


"Theo?" Lili mendongakkan kepalanya saat mendengar suara itu.


Ada Theo di antara dirinya yang lain dan Sherin.


"Iya, kan?" Theo menatap ke arahnya dengan dingin. "Abis itu lo nggak peduli lagi perasaan kita. Lo cuma mau penderitaan kita jadi cerita yang menarik dan bikin lo untung, ya kan?"


Mata Lili membulat. Dia ingin menjawab, tapi seolah ada yang mencekik tenggorokannya. Rasanya sakit dan sesak.


"Dasar penulis sampah!" seru penulis Wetfed yang dari Piramida tadi. Dia tiba-tiba muncul di sebelah Theo. "Bisanya ngatain orang, karya buatannya sendiri nggak begitu wah daripada karya yang dikata-katai sendiri!"


"Dasar egois!" Imel tubuh muncul dan menatap Lili dengan jijik.


"Dasar penulis penjahat!" seru Gema yang berikutnya muncul di sebelah Imel.


"Kakak nggak peduli lagi sama Luhan gara-gara nulis! Huh! Luhan benci Kakak!" Luhan turut menangis setelah turut muncul.


"Makanya, Li, jangan nulis berlebihan." Yohan muncul kemudian. Wajahnya penuh luka-luka. "Sebenarnya dari awal Ayah nggak setuju kamu menulis. Ayah pikir kamu nggak akan sesuka itu pada buku dan menulis. Ini semua salah Ayah."


"Ayah ...." Lili merangkak lemah pada Yohan saat dilihatnya ia mengambil panah dari penulis Wetfed dan hendak menusukkannya sendiri pada dadanya.


"Mending Ayah mati saja." Yohan mengarahkan panah di tangannya pada dadanya, kemudian menusukkannya dalam satu gerakan.


Kemudian, Yohan terkulai lemas dengan darah membanjiri dadanya.


"Nggak! Ayah! Ayah! AYAH!" teriak Lili dengan banjir air mata.


Ketika ia sangat sedih, ada seseorang yang memeluknya dari belakang. Lili menoleh. Itu Ily.

__ADS_1


"Ibu ...." Lili memeluk Ily dengan erat. "Lili takut."


"Tenang, nak. Tenang." Ily menepuk-nepuk punggung Lili yang sudah bersimbah keringat. Suaranya lembut dan menenangkan. "Ayo, pulang."


__ADS_2