Dari Korea

Dari Korea
LSF - 36


__ADS_3

Berhari-hari ini, Sari tak meminta bantuan Luhan lagi. Luhan jadi bete.


Sari kelihatan lebih sibuk dengan anggota sekbid enam yang lainnya dan melarang Luhan untuk membantu lagi sebab katanya Luhan sudah cukup membantu. Sari ingin semua anggota bekerja dengan porsi yang sama dan adil untuk semuanya.


Luhan tak bisa mendebat dan menentang keputusan Sari. Berkatnya, seharian Luhan tak tersenyum-tersenyum bahkan saat Lethan menunjukkan video lucu yang biasanya membuat Luhan ngakak setengah mati.


"Kenapa lagi lo?" tanya Lethan kemudian. Tak nyaman juga kala Luhan jadi sedih dan diam-diam begini sementara biasanya anak itu berisik seperti anak ayam baru lahir.


"Terlalu hard." Luhan menjawab dengan pandangan kosong dan wajah putus asa


"Hah?"


"Level Sari terlalu hard, anjuir, gue stress nih." Luhan menjambak rambutnya dengan frustasi.


"Ya tinggal cari ikan baru lah. Apa sulitnya, Kawan?" tanya Lingga ikut campur saat mendengar suara Luhan yang begitu sedih.


"Cari ikan baru?" Luhan mengerutkan keningnya sambil menatap Lingga dengan bingung.


"Iya." Lingga mengangguk santai.


"Cari ikan baru lo bilang?!" Mata Luhan melotot tak terima. Napasnya jadi menurut tanpa bisa dicegah. "Sari itu udah jadi setengah jantung gue, Makmur!"


"Buset dah, emosi jiwa banget lo kayaknya." Lingga menukas kaget. "Cinta mati lo sama Sari?"


"Dibilang cinta mati sih nggak juga, Bro." Luhan berdecak, kemudian meringis sambil mengusap-usap dagunya, berpikir keras. "Cuman sukanya gue sama Sari itu kayak beda sama rasa suka gue yang lainnya. Ibarat kata hati bisa berubah sesusai level seriusan cinta, sekarang hati gue berbentuk berlian."


Lingga saling melempar pandangan dengan Langit saking tak pahamnya dengan apa yang dikatakan Luhan barusan.


"Biasanya hati gue berbentuk perak doang." Luhan melanjutkan dengan nada serius.


"Sebenernya di sini yang bege siapa sih?" tanya Lingga akhirnya. Dia menatap Lethan, Luhan dan Langit bergantian dengan wajah super kebingungan yang tampak frustasi.


"Maksud anda?" Kening Luhan ikut mengerut.

__ADS_1


Lingga menatap Luhan sambil menunjuknya dengan jari telunjuknya, "Yang bege itu dia dengan kata-kata alien-nya atau," Lingga menatap Lethan dan Langit bergantian, "kita-kita yang mau-mau aja dengerin kata-kata alien-nya dia?"


Luhan berdecak, emosinya mulai naik dan hampir meledak. Luhan menatap Lingga dengan mata penuh adalah yang ditahan. "Yeee, si Kampret. Belum ngerasain gimana rasanya dipepes ya lo?"


Lingga mengangkat kedua tangannya dengan wajah polos. "Maaf-maaf nih, gue bukan ikan."


***


Waktu dua minggu untuk latihan secara intensif untuk mengikuti tes penyeleksian sekolah akhirnya dimulai tepat hari ini.


Para murid yang sudah didata sebagai bibit-bibit unggul dari setiap kelasnya dikumpulkan dan dibariskan di lapangan sesuai bidang keahlian masing-masing. Dipimpin seluruh anggota OSIS seksi bidang enam, bibit-bibit unggul itu akan dilatih baik-baik.


Yang memimpin setiap pengarahan jelas ketuanya, siapa lagi kalau bukan Sari.


"Nah, pastiin kalian latihan tiap pulang sekolah. Ini buat diri kalian dan orang-orang yang ingin kalian buat bangga. Jangan aneh-aneh selama latihan. Tetap fokus dan semangat." Sari menatap seluruh anak-anak yang berbaris di depannya dengan tatapan tajam. "Bisa dipahami?"


"Siap, Bisa."


"Ada yang mau ditambahin?" tanya Sari seraya menatap seluruh anggota seksi bidang enam yang diketuainya satu-persatu, termasuk Luhan.


"Baiklah." Sari mengangguk dan kembali menatap anak-anak yang berbaris di depannya. "Latihan mulai dari sekarang. Silahkan ke tempat latihan masing-masing setelah saya hitung sampai tiga. Di tempat kalian latihan itu akan ada beberapa perwakilan OSIS."


Sebelum hari ini, Sari memang sudah membagi setiap anak ke dalam kelompok untuk mewakili empat bidang lomba O2SN nanti. Luhan kebagian untuk mengawasi mata lomba berenang. Sementara Sari bidang lomba taekwondo.


"Diharapkan kalian fokus atau kalian akan kena teguran. Bisa dimengerti?" tanya Sari kemudian.


"Siap, mengerti!"


"Ada pertanyaan?"


"Tidak!"


"Oke." Sari mengangguk puas. "Latihan dimulai dari satu ... dua ... tiga!"

__ADS_1


Ketika akhirnya anak-anak yang berbaris itu mulai bubar, Luhan malah tertawa dan tawanya jelas membuat Sari menatapnya dengan heran.


"Kayak master chef aja." Luhan mengutarakan alasan mengapa dirinya tertawa secara terang-terangan tanpa malu. "Ha ha ha ha ha ha."


"Serah." Sari sudah lelah sendiri bahwa sebelum dia benar-benar menyuarakan kekesalannya. Gantinya, Sari menyenggol bahu Luhan saat dia melangkah ke arah tempat latihan taekwondo.


Tubuh Luhan agak oleng saat mendapat senggolan itu. Luhan terkejut karena. "Buset dah, selain garang, kekuatan bodi senggolnya mantep juga." Luhan menyentuh bahunya yang jadi korban senggolan Sari, kemudian meringis kesil.


"Sakit juga."


***


Luhan hanya melihat keseriusan anak-anak yang berpotensi dalam renang dan mencatat setiap kemajuannya. Dia hanya mengarahkan untuk selalu semangat dan beberapa kali berbagi cerita agar anak-anak tak terlalu kaku padanya yang baru dikenal ini.


Setelahnya, Luhan hendak pulang. Namun, dia teringat pada Sari dan akhirnya menyambangi tempat latihan taekwondo di sebuah ruangan.


Yang Luhan dapati di sana bukan hal bagus. Senyum Luhan langsung lenyap saat dia melihat Sari tengah berbicara dengan seseorang yang tak terlalu Luhan kenali. Bukan hanya bicara, Sari juga tertawa dan bahkan sampai menepuk bahunya sangat akrab.


Kening Luhan mengerut. Setahunya, Sari tak memiliki kenalan sampai sebegitu dekatnya. Juga, Sari tak bisa tertawa secerah itu hingga membuat wajahnya memancarkan cantik yang selama ini terpendam oleh wajah juteknya.


Ada yang panas membara di dada Luhan.


Tak lama, setelah laki-laki itu pergi dari hadapan Sari, Luhan langsung mendekati Sari. Sari sedang merapikan isi tasnya saat Luhan tiba di hadapannya.


"Tadi siapa, Ri?" tanya Luhan tanpa basa-basi.


"Yang mana?" tanya Sari dengan nada cuek sambil melangkah meninggalkan Luhan untuk pulang.


Luhan segera menyejajarkan langkahnya dengan langkah Sari yang memang lebih cepat dari langkah rata-rata seorang perempuan. "Yang tadi ngomong sama lo di lapangan."


"Banyak yang ngomong sama gue di lapangan." Sari menjawab seadaanya.


"Oh, jadi dia bukan siapa-siapa?" Luhan bertanya dengan senang. Dia mengangguk-angguk dengan senyuman lebar. "Baguslah."

__ADS_1


Sari menatap Luhan dengan kening mengerut samar. "Aneh lo."


***


__ADS_2