
Lili masih tak berani bertanya pada Theo tentang masalah apa yang sebenarnya tengah dia hadapi.
Kenapa rasanya sangat mengganjal?
Memikirkan itu, tahu-tahu Lili sudah ada di depan pintu kamar rawat inap Theo. Sepulang sekolah, ia langsung ke sini sendirian.
"Li, lo mau ngapain ke sini, sih?"
"Kak Lili!"
Baru saja Lili berbalik, tiba-tiba terdengar suara tanya Theo dan seruan Titi setelah pintu terbuka. Mau tak mau, Lili berbalik. Dia tersenyum kaku dan menatap dengan malu-malu.
Leher Theo sudah tidak ada perbannya lagi. Jahitannya sudah terlepas dan ada bekas yang agak mengerikan di sana. Lili tersenyum kikuk pada Theo, Laura dan Titi.
"Eh, kamu yang kemarin kan?" tanya Laura dengan senyum senang.
"Lili, Tante." Lili mengangguk.
"Oh, yang keturunan Korea tapi nggak bisa baca, tulis dan ngomong bahasa Korea itu ya?"
Pasti Theo yang bilang begitu ke Laura.
Agak tak terima karena dibilang begitu, namun Lili tetap mengangguk. Lagipula, itu tak salah. "Iya, Tante."
"Mau jenguk Theo lagi?"
"Eh ...." Tak mungkin Lili mengaku ingin membeli buku di rumah sakit. "Iya, Tante. He he he."
"Sayang banget, Theo mau pulang sekarang. Udah sembuh." Laura membalas sedih.
"Wah, baguslah." Lili menukas senang, meski sebenarnya sangat menyayangkan karena ia ingin bertanya-tanya pada Theo. "Yaudah, aku pulang aja, Tante."
"Kenapa nggak ikut aja?"
Waktu Lili mau berbaik pergi, Laura berkata begitu.
"Eh?" Lili berbalik lagi dengan wajah kebingungan. .
"Iya, Kak! Kak Lili ikut aja!" seru Titi mendorong. "Titi kangen main sama Kakak."
"Eh ...." Lili berpikir keras.
Tanpa sengaja, Lili bertatapan dengan Theo. Tatapan Theo seolah berarti, 'jangan ikut'. Dan beberapa kali laki-laki itu menggeleng tanpa sepengetahuan Laura.
Lili jadi bimbang.
"Ayo, ikut aja. Kayaknya kamu teman yang agak spesial ya, buat Theo." Laura segera memutuskan. Kemudian menarik tangan Lili untuk ikut.
Lili jadi serba salah dan tak enak.
Laura tersenyum padanya. "Udah lah. Mau malam juga. Kita sekalian makan bareng."
Sejurus kemudian, Lili, Theo, Laura dan Titi melakukan perjalanan ke rumah Laura. Seperti rumah Theo sebelumnya, rumah Laura membuat Lili takjub. Interiornya estetik dan mewah.
__ADS_1
Lili sibuk bermain dengan Lili di meja makan seraya menunggu Laura memasak. Sementara itu, Theo duduk di sebelah Lili dengan terus diam aja seraya menonton pergerakan Laura.
Lili memberi Titi tangannya untuk dimainkan dan berkat itu, Lili bisa bebas darinya. Lili menatap Laura dengan senyuman saat Laura berbalik untuk mengambil sesuatu.
Laura sangat cantik. Jelas, dirinya adalah aktris.
"Mau aku bantuin, Bu?" tanya Theo tiba-tiba.
"Nggak usah." Laura segera menjawab. "Kamu istirahat aja."
Theo mengangguk, kemudian dia beralih pada Lili. "Udah bilang ke Ibu lo?"
"Eh ...." Lili baru ingat. "Oh, belum."
"Udah malem. Dia pasti khawatir." Theo membalas tak suka. "Kasih tau dulu."
"Yah, batre gue habis." Lili baru saja mengecek ponselnya dan tak bisa dinyalakan.
"Ck. Gue juga nggak tau HP gue ada di mana."
"Gimana dong?"
"Ibu?" tanya Theo akhirnya pada Laura setelah berpikir sejenak.
"Iya?"
"Boleh pinjem HP Ibu nggak?"
"Mau telepon Ibu Lili."
"Oh, iya. Bener. Udah malem. Tante nggak sadar." Laura menyempatkan diri untuk menatap Lili. "Maaf ya, Tante main ajak-ajak kamu aja."
"Nggak apa-apa, Tante. Ibu aku jarang marah kok, Ibu aku baik." Lili menjawab santai.
"Baguslah." Laura menukas lega. "Sekalian nginep aja di sini."
"Eh?" Lili terkejut luar biasanya begitupula dengan Theo yang mematung sesaat ketiak tengah mengambil ponsel Laura.
"Bohong kali." Laura langsung tertawa. "Nanti Tante anterin kamu pulang, kok."
Lili lega dan senang. "Makasih, Tante."
"Nih." Theo tahu-tahu menyodorkan Lili sebuah ponsel.
Lili menerimanya dan segera menelpon nomor Ily yang sudah dua hafal sejak kecil.
"Halo, Bu?" Lili berkata pada telepon dengan Ily. "Ini Lili ... ada di rumah temen, Bu ... Lili bakal pulang sebelum jam delapan, kok ... Iya, Ibu nggak usah khawatir ... Theo, Bu ..." "Oke, Bu. Yaudah, dadah ...."
"Udah?" tanya Laura heran sebab suara Lili tahu-tahu berhenti setelahnya.
"Udah."
"Wah, kok cepat sekali, ya?" tanya Laura takjub. "Tante kira kamu bakal dimarahin atau dipaksa pulang saat ini juga. Mungkin kalau Tante jadi Ibu kamu, pasti Tante langsung jemput kamu ke sini."
__ADS_1
"Iya, soalnya Ibu aku baik. Pengertian banget. Bikin aku nyaman dan nggak berani nakal-nakal." "Jadi gampang kalau mau main-main ke luar."
"Mungkin karena dia tau kamu ada di rumah Theo. Jadi diizinin."
Lili tersenyum tipis.
"Ngaco, Bu." Theo ambil suara dengan senyum geli.
Laura memilih mengabaikan Theo. "Waktu Tante liat kamu, Li, Tante itu kayak tersihir sama wajah kamu."
"Eh, kok gitu, Tante?" tanya Lili heran.
"Soalnya cantik banget." Laura menahan cepat. "Lucu. Tante langsung jatuh hati."
"Aduh, Tante bisa aja." Lili tertawa kecil, malu. "Ini karena keturunan, kok. Aku beruntung punya Ibu cantik dan Ayah ganteng."
Laura ikut tertawa kecil. Beda dengan Theo yang memasang wajah tak suka karena barusan dia diabaikan oleh ibunya karena Liki.
"Tapi, Theo juga ganteng, Tante." Lili segera menambahkan. Memandang Theo dengan penuh arti hingga membuat jantung Theo disko. "Aku aja tersihir."
"Memangnya hubungan kalian itu apa, sih? Penasaran Tante." Laura cepat-cepat bersuara lagi, membuat Lili mengalihkan pandangannya dari Theo. Theo membuang napas lega karenanya. "Dikata pacaran kayaknya bukan, dianggap cuma temen pun kayaknya bukan. Hm ...."
"Cuma temen satu kelas, Bu." Theo segera menjawab.
"Kalau boleh jujur ... sebenarnya hubungan aku sama Theo itu serius banget, Tante."
Mata Theo membulat, menatap tak percaya pada Lili.
"Serius banget?" Laura bertanya penasaran. "Kok bisa? Kata Theo, dia nggak punya temen di kelasnya."
"Ih, ada!" seru Lili gemas. Kini, mantap Theo dengan tatapan tajam.
"Apa?" tanya Theo kesal.
"Jahat banget, sih. Aku nggak dianggap." Lili cemberut, membuat Theo merasa geli.
"Theo, jangan jahat-jahat begitu. Buktinya ini ada temen satu kelas kamu yang peduli." Laura menasehati dadakan. "Kenapa nggak diangggap?"
"Ya, wajar sih, Tante." Lili menunduk sedih, kemudian membuang napas panjang. "Aku awalnya cuma manfaatin Theo."
"Maksudnya?"
"Aku suka menulis, Tante. Aku mau bikin novel dan aku butuh sumber inspirasi. Aku pilih Theo buat inspirasi aku dan nagih-nagih kisah hidupnya." Lili menatap Theo dengan penuh penyesalan dan kesedihan mendalam. "Mana mau Theo temenan terus sama aku yang manfaatin cerita hidupnya. Tapi, sekarang aku serius mau temenan sama Theo, Tante. Sebenarnya kita memang temen, sih. Cuma ...."
"Cuma apa?" tanya Laura semakin penasaran. Dia hanya memasak sup ayam andalannya, jadi mudah untuknya berkonsentrasi memasak seraya mengobrol panjang-panjang.
"Ayah aku ... bilang ke Theo supaya jauhin aku. Aku juga dilarang buat deket-deket sama Theo lagi." Lili menunduk lagi. Menaut-nautkan jari-jari tangannya. "Sedih."
"Kenapa ya bisa begitu?" Laura bertanya heran.
Sebelum Lili sempat menjawab, Laura lebih dulu berseru senang. "Wah, supnya udah jadi, nih! Ayo kita makan! Pasti udah pada lapar, kan?"
***
__ADS_1