Dari Korea

Dari Korea
Extra Part 3 : Bukan Cuma Empat Tahun Lagi


__ADS_3

Di sebuah cafe yang sepi karena masih terlalu pagi untuk orang banyak bepergian, duduk dua insan yang tengah ditimpa sebuah masalah.


"Ayah kamu masih nggak izinin, ya?"


Pertanyaan yang Eza lontarkan padanya membuat wajah Ayla semakin kusut. Sedih dan kesal bercampur di dalamnya dan membuat Ayla tak sanggup untuk tersenyum. Perempuan itu menyedot lemon tea miliknya dengan senyum pahit.


Eza yang melihat bagaimana ekspresi pacarnya yang sudah bertanya dua tahun ini hanya mampu tersenyum tipis. Eza sudah paham, karena itu, dia menerima saja.


"Lagian pendidikan juga penting, sayang," kata Eza menenangkan. "Aku bisa nunggu. S2 kamu. Cuma empat tahun aja, kan?"


Ayla ingin menangis saja. Dia tak mau membuat Eza menderita lagi. "Itu waktu yang lama, Kak. Empat tahun ... itu lama banget."


"Buat kamu aku rela apa aja, Ay," balas Eza serius. "Aku juga harus makan dulu, kayaknya."


"Kamu udah mapan, Kak," tukas Ayla agak kesal. "Udah konser sama ke tiga negara dan terkenal di sana. Kamu udah ada di puncak karir, Kak. Untuk aku jadi hakim, masih lama banget. Pasti aku jadi perawan tua, deh."


Melihat Ayla yang cemberut membuat Eza tertawa geli. Lucu sekali pacarnya itu. "Mau kamu perawan muda, mau kamu perawan tua, asal kamu Ayla, aku pasti tetap cinta."


Kadang Ayla bertanya-tanya, kenapa dia bisa bertemu malaikat tampan seperti Eza dalam hidupnya? Mengapa Eza menjadi pacar pertamanya, kemudian menjadi seseorang yang ingin Ayla habiskan sepanjang hidup bersamanya?


Ayla paham ini takdirnya dan ia ingin sekali menerimanya.


Namun, tetap saja, Ayla tak mau egois.


"Kakak serius bakal nungguin aku?" tanya Ayla dengan tatapan lekat-lekat pada Eza. "Selama apapun itu?"


Eza tersenyum seulas. Senyum yang membuat siapapun tenang dan memahami betapa sabarnya Eza. Selama tujuh tahun mengenal Eza, Ayla tak pernah melihat wajah itu penuh amarah, penuh benci atau penuh dendam.


Wajah itu selalu damai, selalu tersenyum dan dunianya tampak selalu cerah.


Ayla ingin ikut berada di dalamnya.

__ADS_1


"Apa aku kayak nggak serius, Ay?" Eza balik bertanya dengan kedua alis terangkat heran. "Aku bisa tunggu kamu sampai nenek-nenek kalau harus. Aku serius, Ay. Aku bisa lakukan apapun."


Ayla menipiskan bibirnya. Menahan air mata yang hendak turun karena merasa sangat terharu atas kata-kata lembut yang disuarakan pacarnya.


Selama lima tahun, Eza berjuang. Laki-laki itu memperjuangkan cintanya pada Ayla. Meski mendapat penolakan keras dari Ayah serta Kakak laki-laki yang ketat atas setiap laki-laki yang mendekati Ayla, Eza tak menyerah.


Apalagi waktu itu Ayla masih kelas satu SMA, sementara Eza masih tak memiliki pekerjaan tetap dalam dunia musiknya. Laki-laki yang suka ngamen di cafe itu jelas bukan selera Ayah Ayla yang merupakan jaksa, bukan seseorang yang cocok juga dengan Kakak laki-laki Ayla yang bercita-cita menjadi hakim.


Ayah Ayla pun menuntut Ayla untuk menjadi hakim, sama dengan jejak Kakak laki-lakinya.


Namun, Eza tak langsung menyerah di sana. Cintanya pada Ayla adalah sebesar itu. Tak peduli selalu dicaci-maki atau dilempari sumpah serapah agar Eza tak kembali, Eza membuktikan bahwa dirinya pantas untuk Ayla. Meski tak kaya materi, Eza kaya hati.


Perasaannya, hatinya, benar-benar tulus untuk Ayla.


Meski dijaga ketat oleh Kakak laki-lakinya, ada masa di mana Eza bisa bertemu dan menjaga Ayla. Kadang, Eza ingin menculik Ayla saja dan hidup bersama. Ayla pun setuju, namun jelas saja takdir tak semudah itu untuk mereka atur sendiri.


Ayah dan Kakak laki-lakinya menjodohkan Ayla dengan seorang direktur perusahaan. Ayla jelas menentang, dia memilih dengan Eza saja meski Eza belum sekaya orang yang dijodohkan dengannya itu.


Banyak sekali yang terjadi. Pertentangan demi pertentangan, perdebatan demi perdebatan, semuanya hampir memutus tali keluarga Ayla. Namun, ada kejadian di mana Ayah Ayla tak lagi memaksa Ayla untuk menikah dengan orang yang diinginkan Ayah.


Namun, tetap saja belum menyetujui pernikahan yang diajukan Eza. Ayla tak mengerti, padahal Eza sudah sukses, Eza sudah cukup memenuhi syarat untuk materi jika itu yang Ayah inginkan.


Ayah tampaknya ingin Ayla menikah dengan orang kayak, namun rupanya Ayla salah mengira. Ayah bukan ingin harta berlimpah untuk kehidupan Ayla, namun ilmu yang segunung.


Ayah ingin Ayla sekolah tinggi-tinggi. Menjadi orang tinggi, tak tersentuh dan menguasai tahta puncak kehidupan.


Dengan Eza, jelas dia bukan kriteria menantu yang Ayah Ayla inginkan. Musisi bukan pekerjaan dengan ilmu berlimpah dan bisa menguasai puncak kehidupan.


Bahkan Ayah benci musik. Suara bising itu membuat kegiatan belajarnya terganggu.


Sampai kini, mau apapun yang Eza lakukan untuk meluluhkan hati Ayah Ayla, belum ada yang berhasil.

__ADS_1


Kemarin, Eza sudah membantu mengecat seluruh rumah Ayla dan Ayah Ayla tampaknya belum merasa senang dan ingin menerima Eza sebagai menantunya.


Mau apapun penjelasan Eza. Entah itu sudah tujuh tahun dua berjuang, sudah mencapai puncak karirnya atau Eza sudah menjaga Ayla dari marabahaya selama bertahun-tahun.


"Tapi aku nggak mau kamu doang yang berjuang dan sakit. Aku jahat banget, Kak."


Eza langsung menggeleng kecil. "Aku senang berjuang buat kamu, asal kamu tahu. Kalau nggak ada kamu, aku nggak punya tujuan hidup, Ay."


"Manis banget, Kak." Ayla tersenyum akhirnya. Lebih lebar dari normalnya dan sampai matanya menyipit. "Aku juga ... aku juga mau menjadikan Kakak tujuan hidup aku. Aku bakal jadi hakim buat Kakak."


Senyum Eza tersenyum sama lebarnya. Dia bangga, bahagia dan terbawa ceria. "Nah, begitu baru pacar aku."


"Empat tahun lagi, Kak."


"Hm?"


"Kita bakal sama-sama selama empat tahun lagi," kata Ayla dengan pandangan penuh keyakinan. Lebih tepatnya, dia berharap dengan sangat kuat.


Eza menggerakkan tangannya, menyentuh kedua tangan Ayla dan menggenggamnya erat. Matanya menyorot lurus-lurus pada Ayla. "Pasti. Dan kita bukan akan sama-sama selama empat tahun lagi."


"Hah?" Ayla benar-benar terkejut. Matanya melotot khawatir pada Eza. "Maksudnya?"


"Bukan cuma empat tahun lagi. Kita akan sama-sama sampai mati, Ay."


Eza tersenyum sampai matanya menyipit, membuat Ayla menepuk kecil tangannya karena dibuat super terkejut sebelumnya.


***


**hai hai hai bagaimana kabarnya?


apa lagi yang ingin kalian ada di Extra Part? kalian mau tahu kehidupan siapa lagi selain yang udah dipost?

__ADS_1


atau kalian ingin momen Yohan-Ily lagi?


yaaaa, kita sama-sama lihat aja ke depannya hehehe**


__ADS_2