Dari Korea

Dari Korea
Dari Korea 2 09


__ADS_3

"Loh? Kok sekolah?"


Ibu tertawa ketika Ily telah duduk di meja makan untuk sarapan dengan seragam yang sudah terpasang rapi di tubuhnya. Ayah yang sedang makan di samping ikut menatapnya dengan penasaran.


"Iya, kok sekolah?" tanya ayah ikut-ikutan. "Udah selesai juga kan belajarnya? Tinggal perpisahan."


"Emang salah, ya, Ily sekolah? Daripada suntuk juga di rumah," balas Ily seraya mengambil piring sarapannya dan memakannya dengan wajah bersyukur. "Mau tepatin janji juga sama Elvan. Dia mau bayar pulsa soalnya."


"Lah? Kamu jualan pulsa?" tanya ibu terkejut. "Sejak kapan?"


Ily tetap mengunyah dengan wajah santai, berbeda sekali dengan ayah dan ibunya yang nampak sangat terkejut sampai sama-sama menghentikan kegiatan awal mereka. Ibu dengan cuci piringnya, sementara ayah dengan makannya.


"Kok nggak bilang-bilang ayah?" protes ayah tak terima.


Ily merotasikan bola matanya dengan jengah. "Ily kan udah gede, masa harus selalu bilang-bilang kalau mau ngelakuin sesuatu. Kayak anak kecil aja," katanya menjawab pertanyaan ayah.


Kemudian Ily beralih pada ibu. "Baru dari dua minggu yang lalu, sih. Temen aku anaknya distributor pulsa, aku diajakin sebagai tanda terimakasih. Aku ikutin katanya aja."


"Temen? Eza maksud kamu?" tanya ibu memastikan dengan wajah ragu.


Ily menggeleng-gelengkan kepalanya cepat. "Bukan."


"Lah? Terus siapa? Perasaan temen kamu cuma dia deh, Elvan nggak dihitung karena dia sepupu kamu. Yohan kan ada di Korea, nggak mungkin jadi penghubung kamu sama distributor pulsanya." Ibu tampak kebingungan. "Kamu jangan ngahalu deh, ya. Ibu nggak suka. Kamu sukanya di kamar, masa tiba-tiba jualan pulsa. Aneh banget."


"Aduh, ibu," keluh Ily merasa terhina. "Aku juga bisa bisnis, tau, bisa cari uang juga. Lagian, aku juga punya temen yang lain kok selain Elvan sama Eza. Ibu jangan merendahkan Ily, ya. Ily nggak suka."


"Idih, dibilang kok ngeyel," balas ibu jengah. Akhirnya melanjutkan kegiatan cuci piringnya yang sempat terjeda tadi.


Ayah berdecak setelah sedari tadi hanya mendengarkan untuk mengatakan sesuatu yang berarti. "Jadi, temen kamu yang mana uang bantu kamu jadi penjual pulsa? Jangan berhubungan sama sembarangan orang. Sekarang, jamannya mengerikan kalau salah jabat tangan."


Ily menipiskan bibirnya. Rasanya sedih sekali menjadi anak yang tak dipercayai orang tuanya sendiri.


"Tiffany, yah, namanya," jawab Ily pelan. Terlanjur kesal dan kecewa. Akhirnya, ia makan tanpa nafsu dan berharap bisa cepat-cepat pergi ke sekolah.


"Kok nggak pernah cerita? Baru kenal, ya?" tanya ayah perhatian. Bukan hal luar biasa sih, sebab ayah dan ibu selalu menginterogasi dirinya setiap malam tentang sekolah. Mulai dari pelajaran, guru sampai teman-temannya.


Ily hanya mengangguk, menanggapi pertanyaan ayah.


Entah mengapa, rasa kesal sekali. Seperti tak dihargai, namun ini hanya masalah sepele yang bahkan tak perlu berdebat berdasarkan landasan hukum untuk menyelesaikannya.


Ily tak mampu mengemukakannya, karenanya, hanya ia pendam dalam hati.


***

__ADS_1


Sekolah terasa sangat membosankan.


Bukan, bukannya Ily tak bersyukur atau apa. Namun, kenyataannya memang begitu. Jika biasanya para guru sangat rajin masuk dan anak-anak kelas pun sama ambisiusnya untuk mendapatkan nilai bagus di UN nanti, sekarang para guru sibuk menyusun soal dan serba-serbinya untuk kelas X dan XI sementara anak kelas XII dibiarkan saja.


Bebas untuk melakukan apapun dan sebenarnya untuk tak sekolah pun tak apa.


Anak kelas X dan XI juga banyak yang fokus mempersiapkan perpisahan kelas XII, karenanya tak jarang ada kelas yang hanya dihuni sepuluh orang. Ily sendiri duduk di kelasnya, memilih untuk mengerjakan soal latihan untuk tes masuk perguruan nanti bersama lima anak kelas lainnya yang sibuk pada kegiatan masing-masing.


Anak kelas yang lain tersebar di seluruh penjuru sekolah. Entah itu di kantin untuk menikmati makanan sambil menggoda sang gebetan, entah itu di perpustakaan untuk menikmati koneksi internet gratisan, entah itu di lapangan untuk membuat keringat keluar dari badan, ataupun jalan-jalan gabut di parkiran sekolah yang sedang ditanami berbagai bibit bunga. Sisanya, tidak sekolah.


Suasana kelas sangat sepi dan cocok untuk Ily sehingga ia tak perlu ke perpustakaan untuk mendapatkan kenyamanan dalam belajarnya ini.


Menit-menit berlalu terasa sangat cepat ketika Ily menyelesaikan tiap soal-soal yang ada di ponselnya ini. Sampai akhirnya ada telepon dari Elvan yang menginterupsi segalanya.


Tanpa merenung apalagi bertapa, Ily menempelkan ponselnya ke telinga setelah menggeser layar tanda menerima panggilan.


"Apa, Van?"


"Lo di mana?"


"Di kelaslah, di mana lagi?" Ily memutar bola matanya. Entahlah, mendengar suaranya saja membuat Ily merasa kesal. Pasti Elvan akan mengganggunya seperti biasa.


"Ya, takutnya lo ada di mana gitu. Gue mau ke kelas lo kalau gitu."


Ily berdecak. "Kalau mau ribut, bagusnya sih jangan ke sini."


Ily langsung mematikan sambungan teleponnya dan lanjut mengerjakan soal yang tersisa. Namun, baru lima menit ia kembali fokus, sebuah telepon lagi-lagi menginterupsi segalanya.


Namun, Ily tersenyum menyambut sang penelepon.


Dia Yohan.


"Iya, Yohan?" Ily langsung bertanya ketika telepon keduanya tersambung. Pasti mahal biaya untuk telepon internasional, karenanya Ily ingin langsung pada intinya sana.


"Kamu sehat?"


Suara itu membuat hati Ily meleleh. Padahal baru beberapa hari mereka tak bertemu, namun rindu yang terkumpul pada hati Ily sudah setebal ini sehingga sangat terharu bahkan hanya ketika mendengar suaranya.


Suara Yohan masih lembut dan logat Koreanya itu semakin tebal hingga membuat Ily tak kuasa untuk tak tertawa kecil, merasa geli dan gemas.


"Aku sehat, Yohan. Kamu sendiri bagaimana?"


Yohan ikut tertawa kecil. "Aku juga sehat di sini."

__ADS_1


Ily hanya tersenyum. Menunggu Yohan kembali bersuara. Namun, beberapa saat telah berlalu, Yohan masih juga tak bersuara seolah ada sesuatu yang menahannya. Ily khawatir dibuatnya.


"Yohan?"


Masih dijawab juga.


"Yohan?"


Hanya hening yang menyambut sahutan Ily Yang semakin khawatir itu.


"Yohan!"


"Ah, Ily. Aku terkejut." Terdengar suara napas yang terengah-engah di sana. Jelas sekali Yohan terkejut.


"Kamu kenapa? Kok bengong?"


Jeda sejenak sebelum Yohan menjawab dengan suara berat. "Aku dihadapi situasi yang buruk, Ily. Aku tak tahu kapan bisa kembali. Intinya, jangan hubungi aku lagi. Setidaknya lima tahun ke depan."


"Hah? Kenapa?"


"Ikuti saja kataku."


Kata-kata itu membuat Ily seperti kehilangan separuh nyawanya. Suara yang biasanya lembut dan menghangatkan hati itu berubah menjadi nada tajam yang merobek hayi. Ily bahkan tak menjawab sampai dua menit lamanya.


Yohan mengela napas panjang di sana, terdengar sangat frustasi dan pasrah. "Aku minta maaf, Ily. "


Bukan. Bukan Ily yang memutuskannya. Itu Yohan.


Ily mencoba berpikir jernih saat ini. Mungkin Yohan tak sengaja atau ponselnya tiba-tiba tergelincir sampai akhir rusak tanpa disengaja. Atau ponselnya direbut ayahnya atau... atau... atau...


Air mata yang tiba-tiba turun membuat pikiran Ily kalut. Bercampur dengan tak jelas dan membuatnya pening.


Hei, bagaimana bisa Yohan mengabarinya dengan hal buruk saat untuk pertama kalinya ia menghubungi Ily lagi. Bahkan Yohan tak meneleponnya saat pertama kali sampai di Korea, padanya Ily sudah sangat menantinya.


Sebab Yohan sudah berjanji kemarin, sudah membuat pohon harapan tumbuh dalam hati Ily, telah membuat Ily mendedikasikan waktunya hanya untuk Yohan.


Namun, balasannya justru menyakitkan. Sangat.


Ily tertawa sarkas. Menghapus kasar air matanya dan memasang wajah datar tanpa perasaan. Baiklah, baiklah, jika itu yang diinginkan Yohan. Ily akan menerimanya dengan senang hati.


Pada akhirnya, sebuah pikiran buruk muncul dalam pikiran.


Yohan akan melupakannya. Yohan memilih untuk memutus hubungan dengannya. Yohan akan mengingkari janjinya.

__ADS_1


Yohan bukan lagi temannya.


***


__ADS_2