
Hari ini bisa jadi hari terakhir lo, atau juga hari yang bikin lo harus selamanya ada di sini
Jangan bertindak macem-macem selain diam kalau jawabannya nggak sesuai yang lo inginkan
Inget, hari ini nggak akan ada lagi. Hari ini nggak akan datang lagi.
Kata-kata dari Juna malam kemarin itu terus terngiang-ngiang di kepala Elvan sewaktu dirinya memakai sepatu untuk bersiap keluar. Rekan-rekan satu timnya sudah bergegas keluar sementara dirinya agak tertinggal satu langkah dan menyebabkan Bang Jefri agak kesal padanya.
"Van," tegur Bang Jefri seraya menekan bahunya kuat-kuat. Elvan sudah kebal, namun tetap saja ia merasa agak kesakitan. Apalagi tatapan Bang Jefri seperti membunuhnya saat itu juga. "Kalau sakit bilang."
Namun, itu yang dikatakan Bang Jefri padanya.
Bang Jefri melepas cengkeramannya pada bahu Elvan dan bergegas masuk ke dalam mobil khusus setelah menyuruh yang lainnya untuk mempersiapkan diri serta senjata yang diperlukan.
Elvan sudah bercerita pada Bang Jefri tentang semuanya dan ia terharu akan balasan yang ia terima dari seseorang macam Bang Jefri. Bagi Elvan, Bang Jefri sudah seperti kakak dan ayahnya.
"Hei, Elvan, ayok!" seru Banget Jefri dari bangku kemudi mobil.
Elvan segera tersadar, menyusut ujung matanya yang nakal meneteskan air mata haru dan segera memasang senyum kemudian. Ia berlari ke arah mobil, duduk di samping Bang Jefri yang sigap menginjak pedal gas sewaktu Elvan telah memasang sabuk pengaman.
"Gimana?"
Alis Elvan terangkat waktu Bang Jefri bertanya begitu. Elvan tak mengerti apa maksud Bang Jefri dalam pertanyaan tersebut. Elvan menoleh dengan wajah bingung.
"Gimana apanya, Bang?"
"Perasaan lo."
Waktu Elvan seolah berhenti sejenak saat Bang Jefri menoleh hanya untuk menatapnya dengan haru dan senyum kecil yang menenangkan. Hanya sepersekian detik, karena selanjutnya, Bang Jefri kembali ke depan dengan tatapan datar dan wajah tegas seperti biasanya.
"Gue nggak tau, Bang," jawab Elvan, sesaat membuat Bang Jefri terkejut karena ia duga Elvan akan sangat senang untuk hari ini.
Sebab akhirnya penantian panjang yang menggerogoti impian serta harapan Elvan selama lima tahun, akan berakhir hari ini.
"Perasaan gue campur aduk. Ada sedih, ada juga bahagia. Dua rasa menciptakan kontradiksi yang nggak bisa gue tangkis," lanjut Elvan pelan, sarat akan keseriusan. "Gue akan tau jawabannya hari ini. Entah itu bikin bahagia atau kesal. Entah bikin gue mengela napas lega atau gila. Entah bikin gue oke-oke aja atau justru teriak karena nggak terima."
Elvan menoleh pada Bang Jefri. Sesuatu yang Bang Jefri sadari, karena berikutnya laki-laki itu ikut menoleh dengan pandangan penuh arti.
"Bang," kata Elvan lebih pelan dari sebelumnya, sejenak membuat Bang Jefri khawatir karena Elvan yang seperti ini adalah Elvan yang... entahlah, Bang Jefri sepertinya akan menitikkan air mata jika menjelaskannya. "Kalau gue ada macam-macam, suntik aja, bikin gue nggak sadar. Atau pukul aja sekuat tenaga. Atau pencet aja bahu gue, atau... atau... kalau perlu... kalau perlu lo tembak aja gue di tempat."
Bang Jefri menarik napas supaya menghentikan air mata untuk menggenangi matanya. Kemudian, buru-buru mengalihkan pandangannya dari Elvan.
"Gue yakin situasi lo nggak seburuk itu buat melakukan hal-hal buruk," balas Bang Jefri tenang.
"Nggak ada yang tau, Bang. Nggak ada yang tau," tukas Elvan seraya tertawa hambar.
Bang Jefri tak menjawab, justru menginjak pedal gas supaya mereka bisa lebih cepat sampai di tujuan.
Restoran ala Tiongkok yang berada sedikit lebih dekat dengan hutan tak terawat.
Elvan dan timnya serta Bang Jefri ada di sana satu jam sebelum pertemuan dilangsungkan. Pertemuan itu dilakukan untuk membahas sesuatu yang amat rahasia antara ayah Juna dan mantan bos ayah Elvan. Elvan tak peduli dengan pembahasannya, yang penting ia dapat bertanya seusai itu.
"Target datang."
Suara seseorang dari timnya lewat sistem yang terpasang di telinga Elvan terdengar. Keningnya mengerut begitu mendengar kata 'target'.
Beruntung masih ada Bang Jefri yang telah selesai memasang alat menyadap suara di pohon natal yang berada di ujung restoran. Sudah jam sepuluh pagi, namun tak ada pelanggan selain mereka. Sudah jelas, ayah Juna menyewa restoran ini.
"Bang," panggil Elvan dengan bisikan yang amat pelan.
Bang Jefri menyahut tanpa menolehkan kepalanya dari jendela, memantau lima mobil yang datang sekaligus. Sementara ayah Juna dan anaknya sendiri datang dengan satu mobil berisi pengawal. Sungguh perbedaan yang signifikan.
"Apa?" sahut Bang Jefri.
"Target apaan ya maksudnya?"
"Lo lupa apa pekerjaan lo?"
"Mengawal Juna dan ayahnya?" Elvan merasa dirinya benar, namun ia malah bertanya begitu.
"Itu benar," balas Bang Jefri pelan. "Tapi, yang utamanya adalah membunuh siapapun yang dianggap mengancam nyawa Tuan Kim Sungjun dan Juna."
"Sungjun?" Kedua alis Elvan hampir menyatu saking bingungnya.
"Ck. Itu nama ayah Juna."
"Lah, orang Korea juga?"
"Ssstt, ini bentar lagi Kim Yongjun datang," kata Bang Jefri tegas.
__ADS_1
Elvan segera menegakkan tubuh meski masih tak menyangka jika ayahnya Juan juga keturunan Korea. Lima tahun bekerja sebagai bawahan anaknya, bukan berarti Elvan bisa bertemu langsung dengan ayahnya. Elvan selama ini tak tahu apapun mengenai ayah Juna, sampai hari ini tiba.
Bang Jefri dan Elvan yang menjadi penjaga di depan restoran seharusnya membungkuk, memberi ucapan selamat datang dan tersenyum. Namun, yang dilakukan Elvan adalah membeku dengan mulut yang perlahan terbuka akibat terlalu terkejut.
Seseorang berjas dan berwajah sudah berumur jelas adalah Kim Yongjun, namun dia tak datang sendiri. Selain pengawalnya yang berjumlah puluhan, ada seseorang lagi di sampingnya. Mengenakannya jas serupa dan dari wajahnya, jelas dia masih muda.
Bahkan tampak seumuran dengan Elvan.
Tebak siapa.
Elvan hampir tersedak saat menggumamkan namanya.
Kim Yohan.
Laki-laki masih sama seperti dulu. Meski dengan jas dan gaya rambut formal membuatnya tampak lebih dewasa, tatapannya masih sama seperti dulu.
Iya, dia adalah tetangga Ily dulu, seseorang yang sempat membuatnya sebal dan rasa itu semakin menebal saat ini. Saat kenyataan bahwa dia adalah anak seseorang yang mungkin telah menghancurkan hidupnya.
Melihat Elvan sekilas, Yohan tampak biasa saja. Namun, ketika mereka berpapasan, mata Yohan membulat. Wajahnya jelas-jelas terkejut dan Elvan tersenyum miring karenanya.
Bagus. Yohan sepertinya ingat siapa Elvan posisinya di masa lalu
***
Juna tertawa hambar, untuk setelahnya menatap Yohan yang hanya memasang wajah datar di depannya dengan penuh dendam. Mereka berdua ada di bagian lain restoran sementara kedua ayah mereka sedang bernegosiasi dalam ruangan kedap suara.
Meski begitu, Juna dan Yohan dapat melihat kedua ayahnya karena ruangan yang digunakan terbalut kaca transparan.
"Konyol banget kita ketemu lagi di sini." Juna menyambutnya dengan tawa meremehkan.
Atas perkataannya yang amat sinis, sisi-sisi bibir Yohan tertarik ke atas. Amat sedikit hingga tak tampak jika Juna tak duduk seratus sentimeter darinya. "Halo, Juna."
"Jangan sok ramah lo," tukas Juna muak.
Yohan menatapnya sama jengah. "Kabarmu bagaimana?"
Juna memutar bola matanya, kesal, namun ia tak bisa langsung memberi Yohan pukulan. Jadi, yang ia lakukan hanya mengepalkan tangannya erat-erat, menahan emosi di dalamnya supaya tak keluar.
"Kelihatannya kita akan jadi musuh lagi," kata Yohan menyimpulkan. "Lihat saja ayah-ayah kita. Mereka sama seperti kita."
"Baru nyadar lo?"
Yohan mengangkat kedua bahunya, tak peduli begitu banyak.
"I know."
"Cih."
Yohan menegakkan tubuhnya, memasang wajah berbeda dari sebelumnya dan menatap Juna dengan tatapan menusuk. "Aku harap kamu nggak ikutan dalam rencana busuk ayahmu."
"Rencana busuk ayah gue?" Juna bertanya seperti aktris dalam iklan shampoo ketika tentara kesediaannya jika menjadi duta shampoo lain. Kemudian, Juna tertawa hambar. "Ayah lo duluan yang tipu ayah gue dan bawa uangnya. Sekarang, ditagih, ayah lo nggak mau balikin."
Yohan mengalihkan pandangannya dengan malas. "Kamu harusnya baca berita baik-baik. Di sana banyak sekali kasus ayahmu yang menipu banyak orang untuk kejayaan perusahaannya yang sekarang."
"Setidaknya ayah gue nggak menipu saudaranya sendiri."
Yohan tak dapat membalas dengan wajah percaya diri.
Melihatnya hanya terdiam, Juna berdecih lagi. "Lo diam, artinya gue benar."
"Aku nggak bilang kamu salah," tukas Yohan cepat.
Juna tertawa puas. Sangat puas sampai air matanya menitik di di ujung matanya. Yohan hanya menatap Juna yang tertawa dengan datar, sampai kemudian tawa Juna mereda.
"Kalau gue jadi lo," kata Juna serupa bisikan, mendekat pada Yohan sedemikian rupa hingga hidung mereka hampir bersentuhan. "Gue malu sekarang. Mati aja pengennya."
"Hanya pengecut yang melarikan diri."
"Gue nggak bilang melarikan diri. Gue bilang," koreksi Juna dengan penuh penekanan. "Mati."
Yohan menarik sebuah benda dari saku celananya. Benda itu digenggam dalam tangannya hingga Juna tak dapat mengenali benda tersebut sebelum Yohan membuka jari-jari tangannya.
Mata Juna membulat kala melihat apa yang Yohan bawa. Matanya memerah, urat-urat leher Juna segera menegang kala dilihatnya foto Tiffany yang dilipat-lipat kecil.
Di sana, Tiffany tak sendiri. Laki-laki itu tengah berpelukan dengan wajah penuh senyuman lebar.
"Maksud lo apa," kata Juna penuh penekanan.
"Aku bertemu dengannya waktu ke Australia, lalu ingin mengabarkannya pada seseorang," balas Yohan tenang.
__ADS_1
Juna tertawa hambar. "Lo ngeledek gue."
Yohan mengangkat bahunya dengan wajah puas. "Terserah mau menanggapi seperti apa, aku hanya membeberkan faktanya."
"Lo nggak tau apa yang menyambut lo di sana. Lo pikir sepupunya Elvan nggak sama cowok lain saat lo ada di Korea?"
***
Dari tiga jam yang berlalu tadi siang,
Elvan diberitahukan dua kabar.
Dua-duanya membuatnya kini terdiam di balkon hotel yang menampilkan pemandangan kota seperti biasanya dengan semilir angin uang menyejukkan. Elvan tak tahu lagi bagaimana untuk melanjutkan hidupnya saat Bang Jefri tiba-tiba datang dan menepuk bahunya.
"Hidup harus tetap jalan, Van," katanya tegas. "Jangan sampai lo mau lompat."
"Idih, siapa yang mau lompat," balas Elvan jujur. "Malah gue nggak ada pikiran mau lompat, lho, bang. Ih, fitnah mulu nih."
"Bukan nggak ada," balas Bang Jefri tak mau kalah. "Tapi belum ada."
"Ye," cibir Elvan, memajukan mulutnya dengan sebal.
Bang Jefri berdeham. Dia telah lama bersama Elvan dan rasa empatinya kian kuat untuk anak itu. "Gue paham posisi lo."
"Paham apaan. Bohong banget."
"Ye, ni bocah dibilangin ngeyel."
"Abang kalau mau ceramah mending jangan, gue lagi nggak mood buat dengerin."
Bang Jefri tak tahan untuk tak menepuk kepala Elvan lumayan keras hingga anak itu meringis dan memarahi Bang Jefri.
"Sakit, bang!"
"Mulai berani lo, ya, sama gue," kata Bang Jefri penuh penekanan. "Lagian gue nggak akan ceramahin lo. Ge-er banget. Males banget kasih kata-kata mutiara buat batu selokan kayak lo."
Elvan tertawa atas kata-kata Bang Jefri. Setidaknya, ia merasa dipedulikan saat merasa terpuruk seperti ini meski dengan kata-kata yang mengiris hati.
Tanpa adu mulut lagi, Bang Jefri meninggalkannya sendirian. Elvan mengela napas lega karenanya, kemudian menunduk. Elvan ingin sendiri, ingin tenang.
Dan di sana, ia mulai menangis.
Tanpa Elvan sadari, Bang Jefri masih ada di sana, melihatnya di balik jendela dengan mata berkaca-kaca. Tak tahan melihatnya, Bang Jefri berbalik, berjalan menjauh untuk menenangkan diri.
Sakit sekali rasanya melihat Elvan. Yang takdirnya sama sepertinya.
Di sisi lain, Elvan berdeham, kemudian mengangkat kepalanya untuk ia susut air mata di wajahnya. Ia mulai berpikir bahwa tak ada gunanya menangis jika ia tak mengubah apa-apa.
Kata Juna, ayahnya dipecat karena tak mau berurusan dengan bisnis gelap Kim Yongjun. Kim Yongjun berniat untuk menarik uang dari Kim Sungjun--ayah Juna yang rupanya adalah adik dari Kim Yongjun yang juga merupakan ayah Yohan, dan secara tak langsung membuat Juna dan Yohan bertemu serta berkenalan sebagai saudara--sebagai donasi untuk anak-anak yang berkebutuhan dan itu harusnya dilakukan oleh ayah Elvan. Namun, ayah Elvan menolak dan lebih baik dipecat dengan alasan tak jelas.
Hanya sebatas itu cerita yang ia dapat hari ini. Namun, itu sangat berdampak padanya.
Selama ini, Elvan sudah berprasangka buruk terhadap ayahnya dan jika saja ia lebih rasional saat itu, maka semua ini tak akan terjadi.
Fakta itu sudah sangat mengguncang Elvan dan ia tak sanggup menerimanya bahkan sampai saat ini. Setelah berjam-jam berlalu.
Dunia seolah senang menyiksa Elvan, mengaduk-aduk perasaan, saat Juna mengabarkan satu kenyataan lagi.
Bahwa Kim Sungjun akan menyerang balik Kim Yongjun yang tak mau mengembalikan dananya dalam satu minggu. Jika waktu itu tiba, maka akan ada pertumpahan darah yang tak bisa dicegah.
Dua saudara itu sudah sepakat tadi siang dan mau tak mau, Elvan serta timnya dan Bang Jefri harus siap untuk kemungkinan terburuk.
Semakin memikirkannya, hati Elvan semakin sakit.
Padahal... padahal ayahnya mencoba untuk menghindari bahaya, namun yang dilakukan Elvan justru menemuinya dan melibatkan diri hingga terlibat dan tak bisa lepas begitu saja.
Apa yang dilakukannya lima tahun ini?
Mengapa dirinya begitu bodoh?
Sial.
Elvan sudah memohon pada Juna untuk pamit, untuk pergi dan ingin hidup damai lagi. Namun, jawaban Juna membuatnya sangat terpaksa untuk tetap tinggal, setidaknya satu minggu lagi.
Kalau nggak ada gue, lo nggak akan tau kebenarannya sampai kapanpun, Van. Pikirkan itu. Lagian, setelah lo tau rahasia keluarga Kim, lo nggak akan bisa sembarangan hidup.
Itu aturan tak tertulis dunia ini.
Tak kuasa untuk hadapi hari esok dengan tidur nyenyak, Elvan menangis lagi.
__ADS_1
Hingga fajar kembali terbit. Hari telah datang untuk menyambutnya, membawanya dalam neraka tanpa ujung.
***