Dari Korea

Dari Korea
WABBL - 40


__ADS_3

"Kenapa, Cas?" Ten bertanya ketika mereka bertiga--Theo, Ten dan Lucas--berjalan bersampingan menuju parkiran untuk pulang ke rumah masing-masing.


Hari ini anak-anak dipulangkan satu jam sebelum bel berbunyi karena ada rapat dadakan para guru. Lucas yang kedapatan melihat ponselnya dengan wajah mencurigakan membuat Ten menebak-nebak.


"Dari siapa?" tanya Theo turut penasaran.


"Dari Sutradara film yang kemarin gue ikutin casting." Lucas menjawab lemas.


"Lo diterima, Cas?"


Lucas mendongak dari ponselnya, menyapa Ten dan mengangguk malas.


Ten langsung menyenderkan tubuhnya dengan lemas. "Nggak ada temen kempisin ban Pak Toto lagi, dong."


"Mulai besok lagi ***** mulai shootingnya," keluh Lucas kesal. Dia menyedot es jeruknya dengan emosi. "Film ini beda, Ten. Sutradara sama penulisnya itu membara banget semangatnya. Pengen cepet-cepet beres sama diteken buat maksimal lagi. Ampun deh gue, stress yang ada."


"Tapi dapet duit kan enak," kata Theo memberi pendapatnya.


Lucas berdecak meremehkan. "Lo nggak tau, Yo. Duit yang gue dapet disimpen Ibu. Ya kali katanya buat investasi."


"Ya bagus dong kalau gitu, Ege," balas Ten jadi emosi, sampai mengetok kepala Lucas dengan gemas


"Sakit, woi!" seru Lucas tak terima.


"Katanya, makin ke sini, orang bakal makin susah cari uang. Makanya, dari muda mending investasi sebanyak-banyaknya," kata Ten menjelaskan. "Kata Pak Toyo, investasi banyak jalannya. Bisa dengan otak, otot atau atoy."


"Atoy?" Kening Theo mengerut.


"Money," balas Ten seraya menggerak-gerakkan jari telunjuk dan jari tengahnya. "Duit kalau lo nggak ngerti."


Ten berdeham, bersiap untuk melanjutkan perkataannya. "Kata Pak Toyo, gue nggak punya atoy buat investasi atau otot pun gue nggak terlalu mahir. Gue pakenya otak. Gue pinter dan itu cukup buat investasi masa depan gue." Ten kemudian menatap Lucas. "Nah, lo sendiri investasi pake atoy alias uang."


Theo ingin bertanya, 'kalau gue udah investasi apa?' pada Ten, namun Lucas lebih dulu bersuara dengan nada ringan.


Lucas tertawa mencemooh. "Atoy itu bahasa apaan dah."


"Nggak tau, namanya juga Pak Toto, semuanya aneh," tukas Ten tak peduli banyak dengan wajah sebal. Apalagi saat melihat Pak Toto sudah melambaikan tangannya pada Ten di sebelah mobilnya yang masih terparkir.


"Ten! Ayo pulang!" seru Pak Toto di sana.


"Waduh, udah dijemput ayah aja, nih, cihuy," goda Lucas, segera mendorong punggung Ten dengan semangat.


"Kayaknya emang bener lo anak kesayangan," kata Theo dengan seringai meledek. "Ada lagi nggak yang panggilan namanya nggak diubah sama Pak Toto selain lo?"


"Ih, ngeri gue," balas Lucas takut. "Disayang banget lo Ten."


"Bacot kalian."


Mau tak mau, Ten berjalan ke arah Pak Toto setelah memberi Lucas dan Theo acungan jari tengahnya. Lucas tertawa-tawa karenanya. Sementara Theo hanya menatap kepergiannya dengan datar.


"Cocok dah mereka," kata Lucas ketika melihat Pak Toto menepuk bahu Ten dan membukakan mobil untuk temannya yang atau itu.


"Gue duluan deh, manajer cerewet udah jemput katanya," pamit Lucas kemudian, menepuk pundak Theo satu kali untuk setelahnya berlari ke arah sebuah mobil dan masuk ke dalamnya.


Theo menatap dua mobil yang membawa teman-temannya mulai bergerak, kemudian hilang di belokan.


Theo menunduk.


Kapan dia merasakan itu lagi?


Satu mobil dengan orang tuanya, ditepuk bahunya dengan bangga, diacak-acak rambutnya dengan gemas dan perhatian kecil lainnya.


Theo tak manja, namun dia ingin diperhatikan seperti saat kecil lagi.


Ketika pikiran itu menghantuinya, Theo tiba-tiba dikejutkan oleh tepukan di punggungnya.


"Woi!" seru Theo tak terima. Menatap Lili sebagai orang yang bertanggung jawab atas keterkejutan yang dia rasakan.


"Sorry," kata Lili santai seraya menyatukan kedua tangannya, meminta maaf. "Ayo, kita pulang!"


Theo melengos. Lanjut berjalan ke arah motornya dan langsung memberi Lili helm. Lili yang tak kunjung menerimanya membuat Theo mengerutkan keningnya dengan pandangan tajam.


"Tangan gue pegel," kata Theo.


"Nanya nggak?"


"Jangan bikin gue emosi."


Lili tertawa renyah, mengambil helm dari tangan Theo kemudian. "Justru lo harus banyak-banyak latihan emosi sama gue biar temperamennya turun."


Brm brm!


Suara Lili malah dibalas dengan deruman motor yang sengaja dikencang-kencangkan.


Lili mendengus kecil. Kemudian memakai helm-nya dan naik motor Theo untuk setelahnya motor tersebut melaju membelah jalanan yang masih diterangi sinar matahari bekas siang hari.


Hari ini baru menunjukkan pukul tiga sore.


"Yo," tegur Lili. Meski Theo tak langsung menjawab, Lili segera melanjutkan perkataannya. "Gue boleh nanya nggak? Selain suka balapan, clubbing, lo suka apa lagi? Yang termasuk bahaya, tapi dilakukannya nggak malem-malem. Gue mau ikutan."


Theo mendengus di depan sana. "Ada." Jawabannya terdengar tak lama kemudian.


Mata Lili melebar semangat. "Serius?"


"Iya."


"Apa, tuh?"

__ADS_1


"Main kuda sama Lucas." Theo menjawab dengan nada yang dikencangkan karena suaranya terbawa angin. "Biasanya hari Sabtu. Jam sepuluh pagi."


"Main kuda?"


"Naik kuda. Balapan kuda."


"Gue cuma liat doang, kan, ya. Nggak bahaya sama sekali, dong?" Lili bertanya kecewa.


"Kadang kudanya ngamuk ke penonton, bahkan pernah ada yang mati," jelas Theo. "Justru balapan kuda lebih-lebih bahaya daripada balapan mobil atau motor Dan clubbing."


Lili tersenyum penuh arti. "Oh, ya?"


"Iya."


"Yaudah, gue mau berani aja. Nanti jemput, ya!" balas Lili semangat.


"Kalau akhirnya lo kabur, gue nggak bakal ajak lo ke mana-mana lagi," peringat Theo.


"Iya, iya, bawel ah," balas Lili malas. "Lo ada cerita yang belum dikatain ke gue?"


"Nanti malam." Theo menjawab yang membuat Lili penasaran akut. "Gue telepon lo."


***


Lili menatap ponselnya untuk yang ke-987654321 kali.


Jangan berpikir buruk dulu, ya.


Lili bukan menunggu adanya telepon dari Theo saja, dia juga menunggu Imel meneleponnya kembali atau setidaknya mengirim pesan singkat untuk membuat Lili tidak berpikiran buruk. Lili juga menunggu Gema membalas pesannya tentang tugas Matematika karena Lili kurang mengerti. Juga, dalam hati terdalamnya, Lili menunggu Jae menghubunginya.


Apa Jae lupa padanya?


Lili segera menggeleng. Jangan berpikiran buruk. Jangan. Jae pasti akan menghubungi dirinya jika butuh. Tak mungkin Jae lupa pada salah satu adik kelasnya yang manis ini, bukan?


Hei, Lili manis kan?


Ketika tiba-tiba pertanyaan itu terlintas d benaknya, Lili buru-buru menghampiri cermin. Dia melihat pantulan penampilannya di sana.


Lili menaik-naikkan alisnya, tersenyum dengan berbagai gaya, mengedipkan mata kanan dan kirinya dengan bermacam formasi, mengerucutkan bibirnya berkali-kali, menjawil pipinya beberapa kali sampai mengubah gaya rambutnya.


Lili akhirnya mengembuskannya napasnya.


Tangannya menyentuh kaca mata dengan lemah. Sepertinya benda ini yang membuat penampilan Lili terhambat pancarannya. Namun, tanpa benda ini, Lili tak mungkin bisa melihat dengan jelas masa depannya.


Lili membuang napas panjang sekali lagi, kemudian terdengar dering ponsel yang membuat Lili buru-buru menghampiri ponsel yang tergeletak di atas kasur dengan senyum semangat.


Begitu Lili sudah melihat apa yang membuat ponselnya berbunyi, senyum Lili lenyap seketika. Wajahnya jadi bete karena hanya mendapatkan SMS dari operator tentang RBT baru.


Lili menipiskan bibirnya. Dia melihat jam di ponselnya; pukul 21:02.


Apa Lili tidur saja?


Lili meringis. Kentara sekali dia sedang menunggu Theo. Oke, Lili akan mengaku saja. Dia sebenarnya sangat penasaran dengan Theo--


Drrt drtt. Ponselnya bergetar. Ada SMS masuk. Lili membacanya dengan mata berkaca-kaca senang dan menutup mulutnya yang terbuka karena sungguh terharu.


Ada SMS dari Theo.


Udah tidur belum?


Lili menipiskan bibirnya. Tangannya menari-nari di atas keyboard layar sentuh ponselnya.


Belum hehe


Tanpa menunggu lama lagi, setelah Lili mengirimkan balasan itu, Theo langsung meneleponnya.


Dan Lili segera mengangkatnya.


Lili kira Theo akan langsung berkata setelah telepon mereka berdua tersambung, namun justru yang Lili dengar hanya suara kosong.


"Yo?"


Tak ada suara dari Theo.


"Yo?"


Masih belum ada balasan dari Theo.


"Yo, masih hidup, kan?" tanya Lili jadi khawatir. "Yo--"


"Iya, ini gue masih hidup," potong Theo datar. Malam yang tenang membuat warna suara Theo terdengar jelas.


Entah bagaimana Lili bisa menggambarkan warna, namun warna suara Theo tampaknya abu-abu. Lili tak tahu kini Theo sedang sedih satai senang. Laki-laki itu terlalu datar, namun abu-abu lebih condong pada kesedihan dan kesepian.


Maaf-maaf, ini hanya teori calon penulis yang ceroboh dan egois.


"Lo kenapa, Yo?" Lili bertanya khawatir lagi. "Kok ngelamun?"


Theo mendengus kecil di sana.


"Lo di mana? Kok hening banget?"


"Di kamar."


Lili tercengang. "Kok bisa?"


"Yang lo kira apaan emang?"

__ADS_1


"Gue pikir lo balapan atau clubbing gitu," balas Lili agak tak enak. "Aneh kalau malem-malem lo ada di kamar."


"Dasar netizen."


"Eh?"


"Gue gini, dikatain. Gue gitu, dikatain."


Lili tertawa tanpa dosa. "Ya maaf. Mulut kan emang gitu."


"Ck."


"Marah lo, Yo?"


"Nggak."


"Tapi suara lo kedengarannya lagi marah."


"Serah."


Lili yakin, jika Theo berada di hadapannya, pasti laki-laki itu memutar sambil membuang napas jengah.


"Maaf, Yo." Lili menyesal. "Gue nyebelin, ya?"


"Sangat."


Lili cemberut. "Jahatnya."


"Lo yang tanya."


"Ini lo lagi ulur waktu apa gimana, nih?" tanya Lili heran. "Nggak biasanya lo basa-basi gini."


Ada jeda yang signifikan setelah Lili berkata. Lili merasa telah salah berkata-kata, jadi dia khawatir, sampai akhirnya Theo membalas.


"Nggak boleh emangnya gue begini?"


"Eh?" Lili menggigit kuku-kuku jarinya, tiba-tiba gugup. "Eh, eh, nggak gitu juga, Yo. Nggak gitu, aduh, gimana ya jelasinnya ... ekhm ... gini ... lo tadi sore bilang ... mau cerita apa gitu ke gue waktu lo telepon malem-malem. Lo ... lo udah lak-telepon gue kan sekarang, jadi gue kira lo bakal cerita ... gitu ...."


Lili menggigit bibirnya. Mengutuk diri karena sudah gugup seperti orang bodoh.


"Oh," tukas Theo seperti baru saja mengerti. "Gue ... cerita gue udah habis, Li. Nggak ada yang gue ceritain lagi. Lo udah tau semuanya. Ayah gue, Ibu gue, Kakak gue, Adik gue. Udah gue kasih tau semuanya."


Lili membulatkan matanya. "Tentang Sherin? Temen-temen lo yang lainnya juga. Gue belum tau semuanya, Yo."


"Tapi lo udah tau segalanya tentang gue." Theo menukas dingin. "Tentang Sherin ataupun temen-temen gue yang lainnya, itu nggak penting. Nggak berdampak banyak ke kehidupan gue juga."


Kening Lili mengernyit dalam, merasa ada yang berbeda dari warna suara Theo. Yang tadinya abu-abu, menjadi kuning. Artinya perkataannya tidak selaras dengan hatinya.


"Lo bohong?" tanya Lili penuh selidik.


Theo terdiam lama karenanya.


Lili membuang napas panjang. "Gue nanya, Yo. Lo bohong?"


"Iya."


Lili terperangah. Untuk waktu yang lama, dia tak dapat bersuara.


"Gue bohong soal gue pernah jatuh cinta ke tetangga gue dan tetangga itu mati secara mengenaskan."


Lili sudah punya firasat tentang itu. Sebab ketika Theo menceritakannya saja, wajahnya tampak datar dan tidak ada sedihnya sama sekali. Ketika mengetahui keberadaannya bahwa cerita itu tidak benar, Lili tak begitu terkejut.


"Gue nggak pernah jatuh cinta." Theo berdeham. Entah untuk apa.


"Terus?" Lili tak begitu paham dengan arah pembicaraan Theo. Meski sebenarnya dia sangat terkejut, namun ada yang lebih penting untuk Lili bahas.


Kejujuran Theo.


"Lo ada bohong lagi?"


"Nggak ada."


"Serius?"


"Serius."


"Oh, yaudah." Lili tersenyum segaris. Dia tak mau menjadi egois dan memaksa lagi. Lagipula, warna suara Theo barusan terdengar putih dan tulus. "Makasih udah mau jadi objek riset gue selama ini, Yo. Oh, ya, Sabtu besok berarti jadi riset gue yang terakhir, ya?"


Theo terdiam lama sebelum akhirnya dia membalas. "Iya."


"Gue boleh tanya-tanya sepuasnya?" tanya Lili semangat. "Pastinya seputar balapan kuda, lah, ya."


"Iya."


"Wah, tumben langsung nurut?"


"Dasar netizen."


Lili tertawa kecil.


"Setelah ini, lo nggak ada urusan lagi sama gue?"


"Oh, jelas. Lo bisa bebas sekarang. Gue nggak bakal ngikutin lo lagi."


Jauh dari tempat Lili tersenyum senang, Theo justru tersenyum pahit. Dia menutup sambungan telepon tanpa berkata lagi, untuk setelahnya tidur dan melupakan segalanya.


Lili menatap ponselnya yang tiba-tiba mati dengan cemberut. "Kebiasaan deh, suka main matiin aja. Kan sakit."

__ADS_1


***


__ADS_2