Dari Korea

Dari Korea
Dari Korea 2 49


__ADS_3

Badan Yohan langsung menegak saat sebelumnya tengah berbaring di sofa studio musik Eza kala suara pintu depan terbuka. Tak lama kemudian, Ily dan Eza datang. Wajah Ily tampak cemas dengan kerutan dalam di kening saat melihat Yohan.


"Kamu kenapa, Yohan?" tanya Ily cepat.


Yohan justru tersenyum. "Baguslah kamu bisa datang. Sekarang aku baik-baik saja."


"Memangnya kamu sebelumnya kenapa?" Ily bertanya lagi.


"Sebelumnya aku sakit," balas Yohan tenang, berbeda seratus delapan puluh derajat dengan Ily yang langsung membulatkan kedua matanya dengan garis wajah khawatir.


"Kok bisa?!"


"Ly, tenang, Ly. Udah malem, ini, takutnya tetangga terganggu," kata Eza berupaya untuk membuat Ily tenang dengan menepuk pundaknya pelan-pelan. "Jangan pake teriak-teriak."


"Ya, habisnya gue khawatir, Za. Yohan kenapa?" balas Ily tanpa mengurangi volume suaranya.


Eza mengela napas panjang. Memijat-mijat leher bagian belakangnya dengan wajah lelah. "Tanya aja sama Yohan langsung, Ly. Gue mau istirahat dulu, ya, bye."


Ily langsung beralih menatap Yohan lagi dengan pandangan menuntut. "Kamu kenapa sebenarnya, Yohan?"


"Aku malu mengatakannya."


Tawa hambar Ily menguar ke udara. Pandangannya menatap ke arah lain sebab tak percaya bahwa Yohan akan menjawabnya dengan jawaban seperti itu,  sebelum akhirnya kembali pada mata Yohan.


"Kamu bukan anak kecil lagi, Yohan." Ily mempertegas nada suaranya. Begitupula dengan wajahnya.


"Aku tahu."


"Dan kamu masih malu-malu."


"Ini takdirnya lelaki, Ly. Mereka akan merasa malu saat tampak lemah di dahapan perempuan," balas Yohan tak mau kalah, kemudian nada suaranya mengecil saat melanjutkan, "Apalagi di depan perempuan yang dia sukai."


Sedikit, jantung Ily berkedut lebih kencang. Tak menyangka bahwa perasaan Yohan masih sama dengan dulu. Dan Ily tak menyangka bahwa dirinya akan balas perasaan Yohan dengan rasa yang sama.


Akhirnya, Ily mengela napas. Menatap Yohan dengan lembut, tanpa mata yang mengandung sorot menghakimi. "Aku akan dengarkan kalau kamu udah siap."


Senyum Yohan tercipta lebih lebar. Dari dulu, Yohan selalu suka Ily Yang mengerti dirinya tanpa harus berdebat panjang atau saling menumpahkan emosi. Yohan menunduk, menarik tangan Ily untuk ia genggam dan lihat lekat-lekat.


Rasa hangat menjalari tangan Ily yang dingin. Rasanya nyaman, namun agak aneh karena sebelumnya Yohan tak pernah menggenggam tangannya seperti ini.


Ily mengernyit. Tak lama, Yohan kembali mendongakkan kepalanya dan menatap Ily dengan mata yang membuat Ily ingin selamanya ada di posisi ini.


Ily baru tahu, ada hal lain yang senyaman rumahnya, ada hal lain yang seaman kamarnya dan ada hal lain yang lebih menyenangkan dari menonton film di laptopnya sambil memakan cemilan.


Menatap dan ditatap Yohan.


"Kamu ke sini ... alasannya buat ayah sama ibu kamu, apa? Biasanya mereka nggak biarin kamu keluar melebihi jam sepuluh malam." Yohan kemudian menatap jam tangannya sesaat. "Sekarang udah jam sepuluh lewat dua puluh."


"Aku keluar bareng Eza. Jelas, ayah sama ibu nggak khawatir karena aku pernah menginap di studio ini waktu jaman kuliah dulu."


"Oh, ya?"


"Iya."


"Bahaya sekali kamu tidur di sini," kata Yohan seraya mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Studio ini tak begitu besar. Ada ruang tamu atau ruang depan yang terdiri dari satu set sofa kecil, kemudian satu kamar tidur, satu ruang studio yang besarnya dua kali lipat dari kamar tidur serta satu bilik kamar mandi di sebelah ruang studio. Ily tersenyum saat wajah Yohan menampilkan rasa kesal. "Kamu waktu itu tidur di mana?"


"Di kamar, aku kunci rapat-rapat, sampai tak bisa dibangunkan karena kuncinya aku letakkan di bawah bantal," balas Ily dengan tawa kecil yang membuat Yohan membulatkan matanya dengan wajah tak percaya. "Aku sampai kesiangan untuk kuliah dan harus dapat minus karena tak masuk."


"Kenapa tak masuk? Memangnya kamu bangun jam berapa dan kelasnya dimulai jam berapa?"


"Dosennya galak dan lebih baik tak masuk saja daripada telat dan kena hukuman," balas Ily dengan wajah cemberut.


Yohan tersenyum geli, kemudian menyentil kening Ily pelan, dengan rasa sayang dan gemas. "Nakal."


"Yohan!" protes Ily tak terima, hendak balas menyentil Yohan, namun tangan Yohan lebih cepat menangkap kedua tangannya dan menggenggamnya dengan erat hingga Ily dibuat membeku karenanya.


Wajah mereka sangat dekat, tanpa sadar hidup keduanya hampir bersentuhan hingga Ily sedikit menarik wajahnya dan Yohan lebih mundur karenanya.


Yohan menarik napas kecil, menatap Ily lurus-lurus. "Maaf, ya."


"Maaf untuk apa?" Ily memiringkan kepalanya dengan wajah bingung. Entah dibuat bingung berapa kali oleh Yohan, namun sepertinya Ily milih untuk kebingungan dibandingkan tidak bertemu dengannya sama sekali.


"Membuatmu datang ke sini."


"Jika kamu sangat butuh, aku tak akan keberataan Yohan," balas Ily cepat. "Aku akan senang jika dapat membantu keluhmu."


Yohan tersenyum segaris. "Terimakasih."


Perkataan terimakasih itu hanya dibalas senyuman seadanya oleh Ily. Setelahnya, suasana menjadi hening. Memang sudah malam, hanya suara kendaraan yang jarang dan beberapa makhluk malam. Namun, keheningan itu tak mencekik, rasanya nyaman dan Ily cukup dengan begini.


"Aku hanya ingin melihat kamu saja. Rasanya, rasa sakitku berkurang drastis saat lihat kamu."


Perkataan Yohan yang memecah keheningan itu membuat Ily khawatir setelahnya sebelumnya dibuat bahagia karena manisnya kata-kata itu.


"Kamu sakit?" Ily menatap Yohan dari atas sampai bawah dengan teliti. "Bagian mana yang sakit?"

__ADS_1


"Kamu serius ingin melihatnya?"


"Tentu! Aku akan mengobatinya!"


"Tak perlu diobati, tadi Eza sudah menanganinya."


"Aku kalah cepat," keluh Ily kecewa. "Mana lukanya?"


Yohan meringis, saat membalikkan badannya supaya memunggungi Ily Dan langsung menyingkapkan kaosnya untuk menunjukkan sebuah lebam besar di punggungnya. Mata Ily membulat, tangannya refleks menutup mulutnya yang otomatis terbuka.


Secepat itu, Yohan kembali menutup punggung dengan menurunkan kaos yang dipakainya untuk setelahnya berbalik menghadap Ily.


Jeda beberapa saat, hingga Ily membuang napas kesal.


"Kenapa bisa begitu?"


"Kamu tidak bisa menebaknya?"


Ily mengerutkan keningnya, kemudian tersadar akan satu hal. Wajahnya langsung pahit dan ngeri. "Jangan bilang Elvan ikut terlibat."


Yohan mengangkat kedua bahunya. "Aku bisa apa. Sekarang, aku benar-benar jadi musuh kawanannya Juna."


Ily menahan napas cemas.


"Tapi, kamu bisa tenang." Yohan menyambung penjelasannya dan membuat Ily dapat bernapas lega, meski sesaat karena selanjutnya ia mendengar fakta baru. "Elvan tidak ikut campur tentang malam ini sampai aku bisa mendapatkan luka ini. Sayangnya, besok kita akan benar-benar berhadapan tanpa bisa menahan rekan satu sama lain untuk tidak saling melukai."


***


Setelah diantar Eza ke rumah lagi, Ily tak bisa tenang.


Ily sudah bercerita pada kedua orang tuanya tentang Yohan dan Elvan, sudah makan, sudah mandi dan masih saja memikirkan dua orang yang ia sayangi akan terluka nantinya.


Ketika Ily sedang menggigiti kuku-kuku tangannya di kamar dengan pandangan kosong, pintu kamarnya diketuk oleh ibu, sehingga Ily menoleh untuk menyahut bahwa ibu boleh masuk.


"Ibu masuk, ya," kata ibu waktu masuk ke kamar Ily. Langkahnya perlahan menuju Ily, duduk di atas ranjang, di sebelah Ily. Tangannya menyentuh pundak Ily. "Ly, hei, nak."


Ily agak tersentak dari lamunannya. Membuat kening ibu mengerut karenanya.


"Kenapa sih? Ngelamun terus?" Ibu menangkup kedua pipi Ily supaya menatapnya. Mata Ily tampak sayu dan tak semangat.  "Hm?"


"Masih kepikiran Yohan sama Elvan, Bu," curhat Ily dengan wajah sedih. "Takut mereka kenapa-kenapa."


Ibu menarik napas kecil. "Kamu berdoa aja di sini. Semoga mereka berdua bisa baik-baik aja."


"Iya, Bu."


"Masih sesuka itu ya sama Yohan?" Ibu bertanya begitu, dengan tiba-tiba.


Ily menahan malu, jadi bersembunyi di dada ibu dengan pipi memanas. "Iya, Bu. Hehehe."


Ibu tertawa. "Kamu tu masih kayak anak kecil, ya. Ibu nggak nyangka ada yang mau lamar kamu sekarang."


Kepala Ily langsung mendongak, menatap ibunya dengan pandangan tak percaya. "Ha? Gimana, Bu?"


Ibu merapatkan bibirnya. Merasa dirinya baru saja keceplosan. "Em ... itu, Ly ...." Rasanya ibu tidak sanggup melanjutkan. Apalagi setelah melihat bagaimana anaknya mengkhawatirkan Yohan karena rasa sayangnya yang pekat.


"Apa, bu? Ada yang mau lamar aku sekarang?" Ily menyudutkan ibu. "Siapa, Bu?"


"Kamu yakin nggak apa-apa kalau ibu bilangin? Kalau kamu nggak mau, ibu bisa bilangin. Ibu nggak akan maksa lagi," balas ibu dengan senyum menenangkan.


Ily menggeleng pelan. "Ily mau tau siapa dulu. Ily nggak apa-apa, bu."


Ibu menatap Ily penuh arti. Membuat Ily semakin cemas, bahwa dugaannya akan benar.


"Ada Raihan sama keluarganya di bawah."


Mata Ily membulat. "Serius, Bu? Raihan mau lamar Ily hari ini?"


"Katanya sih gitu tadi waktu ibu tanya apa maksud kedatangannya ke sini."


Jantung Ily berdetak lebih kencang dari biasanya. "Ily mau ke bawah, Bu. Mau nemuin."


Ibu tersenyum. "Yaudah, ayo."


Ily bangkit dari duduk di ranjang nyaman itu, dengan tangan menggandeng lengan ibu dengan erat. Seperti bayi yang baru belajar berjalan.


Ibu tertawa kecil dibuatnya. "Kayak anak kecil banget, sih."


"Takut, Bu...."


"Tapi bagus, sih. Kamu menghadapinya, bukan menghindarinya," balas ibu bangga.


Ily menundukkan kepalanya, menyembunyikan senyum bahagia yang hampir jadi tangisan haru karena dia sangat bersyukur punya ibu yang amat mengerti dan memahami dirinya.


Ibu dan Ily keluar dari kamar Ily, turun dari tangga untuk berjalan lagi ke depan, tempat ruang tamu berada dan nemukan keluarga Raihan yang telah duduk di sofa dengan ayah yang mengajak basa-basi lebih dulu.

__ADS_1


Ada seseorang yang membuat Ily tak dapat fokus saat ini. Entah dia salah lihat atau memang benar, ada Lee Joehee di sana.


Setahu Ily, Lee Joehee adalah perempuan yang sudah seperti pacar untuk Raihan. Jika Raihan akan melamar Ily hari ini, kenapa Lee Joehee ikut serta di sini?


Kedatangan Ily dan Ibunya dibuat jelas karena Ily mengandung saat kakinya tersandung karpet dan hampir jatuh, jika saja tangannya tak terus melilit pada lengan ibunya.


Berkat itu, semua orang yang ada di ruang tamu itu menoleh padanya. Ibu Raihan tersenyum, meski agak terkejut karena Ily bahkan tak mempercantik diri untuk acara penting ini. Ayah Raihan tampak bangga melihat Ily. Raihan dan Joehee beda lagi.


Raihan tampak khawatir hanya karena Ily tersandung kecil, sementara Joehee kagum karena Ily cantiknya natural. Perempuan yang lebih tua darinya itu tampak sama saat di luar maupun ketika dirinya ada di rumah.


"Aduh, hati-hati, dong," kata ibu memberikan pesan pada Ily yang tak memperhatikan langkah.


Wajah ayah sama khawatirnya dengan Raihan atau ibu. Namun, segera memasang wajah berwibawa saat ibu dan Ily sudah duduk di sampingnya, turut serta menghadapi keluarga lain yang akan menyatakan pernyataan sakral.


"Ah, jadi ini yang namanya Ily," kata Lee Chanwoo, ayah Raihan, membuka suara pertama. Dia sudah diberitahu tentang Ily dari Raihan serta Rima.


Ily mengangguk, menyapa sopan dengan senyumnya. Dalam hati, dia tak menyangka bahwa ayahnya Raihan adalah seseorang dari Korea.


Dilihat dari warna kulit dan matanya yang semirip Joehee sudah jadi bukti tak langsung yang membuat pikiran Ily masuk akal.


Di saat-saat seperti ini, ada satu tanya yang terlintas di kepalanya.


Mengapa hidupnya dipenuhi orang-orang dari Korea?


Setahu Ily, dirinya tak begitu suka idol K-Pop yang banyak digemari itu. Dirinya tak pernah juga berdoa untuk bertemu orang Korea. Yang ada, Ily ingin menikah dengan Shawn Mendes. Penyanyi dari In My Blood yang pernah dia nyanyikan untuk praktek Seni di sekolahnya dulu.


"Saya Chanwoo," kata Chanwoo memperkenalkan diri. "Ayahnya Raihan dan Joehee."


"Saya Ily," balas Ily sebagai formalitas.


"Yah, cantik, ya?" Joehee membalas pada ayahnya dengan semangat. Membuat Ily mengernyit sesaat sebelum akhirnya dibuat terkejut saat dengan mudahnya, Joehee memeluk lengan Raihan erat-erat seperti pasangan mesra di luar sana. "Cocok banget sama kakakku! Ah, nggak sabar banget liat kalian menikah!"


"Heh, Lee Joehee! Jangan berkata sembarangan," tekan Chanwoo memperingati.


"Hah?" Ily membuka mulutnya, terkejut mendengar apa yang baru saja Joehee katanya. "Kalian adik-kakak?"


Raihan dan Joehee saling berpandangan dengan bingung. Chanwoo dan Rima sama bingungnya. Mereka kira, Raihan sudah memberitahu tentang hubungannya dengan Joehee.


"Jadi, kakak belum kasih tau Kak Ily?" Joehee bertanya tak suka. Ketika Raihan mengangguk, perempuan asal Korea itu menepuk lengannya dengan keras hingga kakaknya dibuat mengaduh kesakitan. "Bandel banget, sih! Kenapa nggak dikasih tau?! Pasti Kak Ily salah paham sama aku!"


Ily meringis, menyadari perkataan Joehee benar sepenuhnya.


"Sakit, Joehee!" seru Raihan tak terima. "Lagian Ily juga nggak tanya Raihan. Mana Raihan inget juga buat jelasin, orang Ily juga nggak bisa dihubungi dari kemarin-kemarin."


"Lah, Kak Ily ke mana emangnya?" Joehee bertanya tanpa berpikir panjang.


Pertanyaannya membuat Ily sulit untuk menjawab. Dia terlalu takut menyakiti ayah dan ibu Raihan yang mungkin sudah mengira Ily akan setuju dengan rencana yang akan dibahas hari ini.


"Temen lama Ily datang baru-baru ini. Tentu Ily sibuk untuk menghapus rindunya pada mereka," balas Ibu membantu menjawab.


Joehee tersenyum mengerti. "Ah, begitu."


"Oke, kita langsung saja pada inti pembahasan," cetus ayah Ily tegas. Menatap Raihan dengan sorot mata penuh arti. "Silahkan, Raihan."


Raihan mengangguk. Sebelum Ily datang, keluarganya serta ayah Ily sudah berunding dan memutuskan bahwa Raihan yang akan bilang sendiri pada Ily. Keluarga Raihan sudah bilang pada ayah Ily tentang tujuannya kemari, yang dibalas hangat oleh ayah Ily.


Hanya tersisa keputusan Ily.


Dehaman Raihan terdengar sebelum akhirnya tuntutan kalimat sakral yang disusunnya semalaman dengan Joehee itu keluar dari mulutnya.


"Raihan nggak minta Ily buat buru-buru bilang iya atau melanjutkan ke jenjang pernikahan atau rumah tangga, satu yang pasti, Raihan mau hidup bersama Ily sampai tua." Raihan mengambil kotak beludru merah yang hari-hari sebelumnya ditunjukkan untuk Ily. Pelan, laki-laki itu membukanya seraya berlutut di depan Ily. "Maukah Ily bersama-sama hidup dengan Raihan?"


Harusnya ini menjadi momen terbaik yang pernah ada bagi Raihan. Yang dia jalani dengan bahagia dan penuh hati suka. Sebab yang dinantinya sejak dulu telah tercapai; menyatakan perasaannya pada Ily.


Namun, ketika menatap wajah Ily yang tampak menyesal dan sedih, seluruh harap dan bahagia Raihan pupus sudah.


Mungkin saja ... mungkin saja hal buruk akan terjadi.


Chanwoo dan Rima menunggu jawaban Ily dengan napas tertahan. Begitupula dengan Joehee dan bahkan sampai menyatukan kedua tangannya di depan wajah, berdoa kepada keyakinannya.


Di posisinya, Ily terkejut, pertama tentang bagaimana bisa cara bicara Raihan jadi semanis ini hanya dalam dua hari. Kedua, karena Raihan sampai berlutut untuk  menyerahkan cincinnya bahkan setelah Ily menolak kemarin.


Raihan hanya berharap dirinya masih punya kesempatan, masih peluang tuk bahagia bersama dia yang dicinta.


Ketika menatap mata Raihan yang minta penjelasan, Ily menarik napas dalam-dalam.  Memejamkan matanya sesaat untuk setelahnya mengambil kedua tangan Raihan dan mengarahkannya supaya laki-laki itu kembali duduk.


"Maaf ...."


Hanya dengan satu kata itu, semua orang yang ada di sana mendesah berat. Paham dengan apa yang akan disuarakan Ily berikutnya.


***


**20 komen baru lanjut oke?


jangan lupa baca ceritaku yang lainnya hehe

__ADS_1


:* I-l-y**


__ADS_2