
Waktu istirahat milik Langit, Lingga, Luhan dan Lethan harus dipotong karena perbincangan mereka dengan Pak Abdul mengenai konsekuensi yang harus ditanggung perbuatan mereka menghabiskan banyak waktu dari perkiraan mereka. Pak Abdul ternyata pandai dalam berdebat dan mudah sekali tersinggung.
Ya, tepatnya, marah kali ini. Siapa yang tidak marah karena setiap kali diminta bantuan hanya untuk meninggalkan pos satpam, ternyata Lingga dan Lethan punya maksud lain untuk memasukkan Luhaeke sekolah karena anak itu telat masuk sekolah.
Pak Abdul yang biasanya ramah jadi tampak benci dan marah pada mereka berempat. Jadi, Pak Abdul memutuskan untuk memberi hukuman bersih-bersih fasilitas umum sekolah pada empat anak nakal yang tak tahu aturan itu selama satu minggu penuh.
Ya, termasuk hari libur.
Mue he he he he he he. Begitu lah suara senyuman yang diciptakan Pak Abdul du mata Langit, Lingga, Luhan dan Lethan.
"Sial banget." Lingga mengeluh untuk ke-5382835822 kalinya seraya menggerak-gerakkan sapu lidi untuk membersihkan daun-daun yang berserakan.
Pulang sekolah hari ini, mereka berempat langsung ditugaskan untuk bersih-bersih di depan gelanggang olahraga sekolah. Bukan hal yang mudah untuk melakukannya karena banyak sekali daun-daun serta sampah-sampah lainnya yang berserakan.
Kurang-lebih, bisa bersih setengah jam sepertinya.
"Gara-gara lo sih, bege!" seru Langit yang tak bisa menahan amarahnya kali ini. Dia memukul kaki Luhan dengan sapu lidi yang dia pegang.
"Sakit, anj1ng!" seru Luhan tak suka. Bekas tendangan Pak Somad masih terasa, dan baru saja Langit menambahnya dengan memukul di bagian yang sama. Kan sakit.
"Nggak usah pake anj1ng, B4bi!" balas Langit emosi. Anak itu memang mudah sekali memaki-maki dengan kata-kata rimba.
Luhan sudah siap membalas lagi saat suara Lingga terdengar setelah anak laki-laki itu menahan kekesalannya sedemikian rupa saat mendengar Langit dan Luhan malah saling membalas kata-kata makian kasar.
"Udah dong, Setaaaaaaaan!" seru Lingga frustasi. Ada lelah juga dalam suaranya. "Kalau nggak dikerjain sekarang-sekarang, kapan selesainya? Nggak ada kontes adu bacot pake bahasa binatang sekarang."
Langit berdecak. Dia setuju pada perkataan Lingga. Namun, tetap saja dia menatap Luhan dengan kekesalan yang masih mendidih. "Elu sih, pake telat segala, ah!"
"Lo nggak tau kemarin Clara ngapain!" seru Luhan sama kesalnya. Dia berdecak marah karena sesuatu. "Gue jelas nggak bisa tidur, lah!"
"Dia ngapain emang?" tanya Lethan penasaran. Dari yang lainnya, Lethan yang paling anti dengan emosi dan menggunakan kata-kata kasar.
"Jangan bilang dia ngelakuinnya sesuatu seperti yang lagi gue pikirin sekarang." Lethan membalas dengan wajah khawatir pada Luhan.
"Emang apa yang lagi lo pikirin sekarang?"
"Clara buka baj—"
"Lo kira gue cowok apaan, Bangs4t?!?!?" Luhan bergerak maju, mencengkram kedua bahu Lethan setelah membuang sapu lidi-nya dengan asal. Lethan melotot karena Luhan juga melotot padanya dengan napas memburu. "Gini-gini gue masih cowok suci yang meninggikan derajatnya wanita."
Lethan mencorong tubuh Luhan dengan keras. Menatapnya lurus-lurus dan sorotnya meremehkan. "Ciuh. Sampah. Tahun kemarin katanya lo cium pipi Lana."
"Bawa-bawa mantan aja lo. Udah basi itu." Luhan membalas tak suka. Kemudian dia mengambil sapu lidi-nya dan menggerak-gerakkan alat itu untuk menggiring daun-daun kering ke satu titik. "Lagian cuma pipi. Nggak sampai bibir."
Langit dan Lingga yang sudah lelah bahkan hanya untuk berbicara hanya menonton dan mendengarkan saja perbincangan yang dilakukan Luhan dan Lethan.
"Gue yakin bentar lagi noh lo bakal, dah." Lethan mencibir.
"Lo ngatain gue?" Luhan jadi kebawa emosi.
"Nggak."
"Ck."
"Jadi, Clara semalem ngapain sampai lo telat gini?" Lethan bertanya lagi dengan nada yang lebih santai dan rendah.
__ADS_1
"Clara nelpon gue, disuruh nemenin dia ngerjain apa gitu gue lupa. Dia berisik banget pokoknya, gue nggak bisa tidur-tidur." Luhan menjelaskan dengan setengah hati, meski begitu dia jujur. "Terus dia makasih gitu karena gue beneran nggak tidur dan hari ini dia bakal kasih gue sesuatu. Pulang sekolah ini."
"Najis, mata duitan banget." Lethan mencibir lagi.
"Dari pada jomblo, Nyet."
Lethan bergedik jijik. "Itu mulut busuk banget, Han."
"Cot ah."
"Jadi inget pelajaran Matematika." Lingga tiba-tiba bersuara setelah mendengar apa yang dikatakan Luhan barusan.
"Hah?" Tiga orang yang lainnya menatap Lingga dengan kening mengerut dalam. Perasaan mereka, Matematika tadi tidak ada tugas atau kejadian yang bergitu berarti hingga teringat secara tiba-tiba. "Inget Matematika? Kenapa begitu, kok bisa?"
"Cot. Cotangent." Lingga tertawa bodoh.
"Ha ha." Yang lainnya tertawa hambar.
"Eh, Han. Kata lo mau cabut pulang sekolah sama Clara." Lingga bersuara lagi, melupakan leluconnya yang hambar be-berapa saat yang lalu dan membuat Luhan menatapnya. "Tapi sekarang lo masih harus dihukum. Lo masih harus sapu-sapu."
"Bentar lagi ini beres lah." Luhan membalas santai. "Kita kerja sama aja biar cepet."
***
"Sayang!" Luhan berseru riang saat melihat sosok perempuan yang dikenalnya, tengah berdiri di dekat motornya yang terparkir rapi di lapangan.
Sontak, Luhan meninggalkan tiga temannya untuk berjalan cepat dan berhadapan dengan Clara.
Clara tersenyum menyambut kedatangan Luhan. Senyumnya hangat dan mencapai mata. Tampak sangat cantik di mata siapapun yang melihatnya. Luhan bersyukur dia bisa berpacaran dengan Clara sampai kini.
"Hai, babe." Clara menjawab sapaan Luhan dengan suara ramahnya yang biasa.
"Berbakti dengan jalan nakal. Aliran kena hukuman." Lingga tiba-tiba menyeletuk saat menaikki motornya yang terparkir tepat di sebelah motor Luhan. Langit dan Lethan juga sama-sama menaikki motor masing-masing yang terparkir berjejer.
Celetukan Lingga membuat Clara dan Luhan menoleh. Clara menatap Lingga dengan kening mengerut karena perkataan Luhan dan Lingga sangat berkebalikan.
"Sa ae." Luhan tertawa renyah pada Lingga. Namun, itu hanya sebuah topeng. Selanjutnya, Luhan menatap Lingga dengan tatapan tajam yang kira-kira berbunyi, 'Mati aja lo, Anj1ng!'
Clara Jadi menipiskan bibirnya. Berarti, perkataan Lingga yang benar. "Oh, dihukum? Sama siapa?"
"Sama Pak Abdul."
"Maksud aku kamu sendirian di hukumnya? Atau sama siapa?" Clara bertanya lagi dengan maksud yang sebenarnya.
"Oh, maksud kamu gitu, toh. Aku kira siapa yang hukum aku. Pertanyaan kamu ambigu, sih. Kayak apa aja." Luhan tertawa kecil. Siapapun yang mendengarnya pasti akan jatuh hati karena suaranya lembut dan ramah.
Clara juga jatuh pada tawa Luhan.
"Ya, aku dihukum bareng mereka." Luhan menunjuk Lingga, Langit dan Lethan yang sudah ada di motor masing-masing dan hendak tancap gas untuk pulang. Kemudian, Luhan menatap Clara lagi. "Karena mereka bukan temen kaleng-kaleng. Mereka dihukum karena bantuin aku masuk sekolah hari ini."
"Woah, hebat banget rasa solidaritasnya!" seru Clara jadi senang. Perempuan berambut panjang sepinggang, hitam dan lurus seperti sapu lidi itu mengacungkan dua jempolnya. "Mantul, Babe."
"Hehe."
"Yo dah, kita mau cabut, nih." Lingga bersuara lantang disela deru motornya yang menyala. "Hati-hati, Ra, kalau mau bareng sama Luhan."
__ADS_1
Luhan tersenyum manis pada Lingga, kemudian pada Langit dan Lethan. Di depan Clara, alias pacarnya, tentu Luhan tak mau dijelek-jelekkan seperti ini.
Maka senyum manis dan tatapannya berarti memperingatkan tiga temannya itu untuk berhenti berkata yang buruk.
"Awas dompetnya dijambret pacar sendiri." Langit turut bersuara saat melihat dompet Clara yang nongol sedikit di saku roknya. "Tau kan Luhan itu mataduitan."
Si Any1ng, disenyumin malah ngelunjak. Luhan mengumpat dalam hati.
Beruntung, tiga teman kampretnya itu segera pergi setelah mengeluarkan racun pada Luhan. Setelah itu, Luhan tersenyum manis lagi pada Clara. Mata yang awalnya penuh sorot tajam, kini meneduh dan melembut.
"Kamu kalau sakuin dompet yang bener. Gimana kalau nanti itu jatoh, coba?" Luhan memberi nasihat dengan lembut. "Nggak bisa hadiahi ultah aku deh nanti."
"Emangnya ultah kamu kapan?"
"Agustus."
"Masih lama, dong, Babe. Sekarang masih Oktober. Hampir satu tahun lagi." Clara cemberut sambil menepuk lengan Luhan dengan gemas. "Manja, deh!"
"Hehe, nggak sabar soalnya." Luhan tertawa agak malu-malu. Kemudian, ia menyerahkan satu helm yang selalu dia bawa untuk jaga-jaga pada Clara dan setelahnya, Clara naik di belakang Luhan.
Sebelum Luhan benar-benar tancap gas, dia bertanya seraya menoleh sedikit pada Clara, "Kita mau ke mana Tuan Putri?"
"Ke rumah aku aja langsung."
"Eh, kenapa?" Kini Luhan benar-benar menolehkan segenap kepalanya pada Clara karena terkejut dan heran. "Aku kira ... kamu bakal ajak aku ke suatu tempat gitu."
Waktu kening Clara mengerut samar atas perkataannya, Luham cepat-cepat nambah untuk menjelaskan, "Kan waktu malem udah bilang mau ngasih sesuatu karena udah nemenin kamu nugas."
"Oh, iya!" seru Clara dengan tawa renyah. Kemudian, ia meringis kecil dan cemberut. "Lupa, Babe. Maaf."
"Hm." Luhan menipiskan bibirnya. Jelas sekali kecewa. Meski begitu, ia tersenyum lebar pada Clara. "Yaudah, deh. Besok-besok aja."
"Yaudah, langsung gas aja!" balas Clara kemudian. Dia tampak tak terlalu mempermasalahkan apa yang Luhan masalahkan sebelumnya.
"Siap?" tanya Luhan bersiaga.
"Siap."
"Kok nggak pegangan?" Luhan heran, karenanya dia bertanya begitu. Sebab setelah menjawab 'siap', Clara selalu menggerakkan tangannya, melingkarkan kedua tangannya di pinggang Luhan dan menyenderkan dagunya pada lekukan leher Luhan.
"Nggak aja." Clara menjawab dan itu membuat Luhan sangat kecewa. Bukannya Luhan merupakan laki-laki hidung belang yang ingin dipeluk-peluk, namun Luhan rasa pelukan itu adalah bentuk rasa cinta. Jika tak ada, kemungkinannya rasa cinta itu juga tak ada. "Nggak apa-apa, kok."
"Oh, yaudah." Luhan berusaha keras mengenyahkan pikiran buruknya terhadap Clara dan bersuara dengan semangat secara menderukan mesin motornya berkali-kali. "Kita akan meluncur segera. Yuhuuuuu."
Perjalanan mereka seperti biasanya. Melewati jalanan-jalanan, bangunan-bangunan, orang-orang dan angin-angin. Disertai beberapa cerita ringan tentang apa yang di lalui dalam satu hari mereka hari ini, akhirnya motor Juga berhenti di sebuah rumah bercat putih.
Rumah Clara.
Jika harus dihitung, semenjak pacaran tepatnya, Luhan mengantarkan Clara sebanyak 22 hari. Tiga minggu lebih satu hari.
"Makasih ya," kata Clara ketika dia telah turun, kemudian membuka helm dan memberikannya kembali pada Luhan dengan senyum kecil.
Luhan mengambil helm itu dari tangan Clara dan balas tersenyum dengan lebar dan manis. "Sama-sama sayangku. Kalau gitu, aku pamit pulang, ya."
"Eh, bentar."
__ADS_1
"Oh? Kenapa?"
Clara mengepalkan tangannya agak kuat. Dia memberanikan dirinya. "Aku mau ngomong sesuatu."