
Theo dan Titi masih ditahan untuk ikut makan malam. Makan malam yang dipenuhi canda dan tawa.
Makan malam terbaik yang pernah Theo alami.
Dia merasa diperhatikan oleh Ily yang kerap kali bertanya apakah makanannya sesuai selera Theo, kemudian Lili yang tak jarang menyodorkannya makan untuk Theo coba, juga Titi yang menyuapinya dengan senyuman lebar.
Semuanya terasa bagai mimpi, mimpi yang pada kenyataannya adalah sebuah kenyataan terbahagia bagi Theo.
Dan yang tak akan pernah Theo lupakan.
Theo tak pernah pergi ke acara ulang tahun seseorang karena dulu jarang sekali dia punya teman dekat. Theo sendiri tak pernah dirayakan ulang tahunnya.
Oleh karena itu, hari ini benar-benar baru bagi Theo.
Sebenarnya Theo merasa sangat canggung. Namun, berkat kesupelan orang-orang di sana, Theo merasa lebih nyaman. Titi bersama Luhan, bersenang-senang ala mereka. Lili sibuk mengobrol dengan Yalya dan Rasha. Ily, Ayla dan Shasi seru mengobrol tentang resep makanan, sementara Theo harus bergabung dengan Yohan, Raihan Eza di ruang tamu karena sesama laki-laki.
Tiga laki-laki dewasa di depannya tidak merokok, namun berbincang dengan cara yang tidak sesuai dengan selera Theo.
Topiknya tak jauh dari keinginan Eza yang berharap Yalya lebih perhatian padanya sejak anak itu masuk SMP. Disambung dengan sikap dingin Rasha yang semakin menguat dan membuat Raihan khawatir. Berujung pada curhatan Yohan yang membuat semua laki-laki di sana menatap Theo dengan tajam.
"Anak gue pernah mengeluh tentang pegalnya dibangun seseorang buat nulis rangkuman tiga hari berturut-turut," kata Yohan.
"Serius? Ada yang bully Lili di sekolah? Siapa anaknya, mau gue sikat, nih!" seru Eza berapi-api.
"Tuh!" balas Yohan, menunjuk Theo dengan dagunya.
Theo melotot, ingin membela diri, namun dia tak tahu apa yang harus dibela karena dirinya ini memang salah.
"Kalau dibilangin ke Rasha, pasti udah disikat lo," kata Raihan mengompori. "Kalau sampai bully Lili? Apa masalahnya?"
"Ah ... itu ...." Theo mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ternyata Lili mulutnya bocor banget. Theo tak habis pikir. "Nggak, Om. Maksud saya bukan gitu ...."
"Ck, terus gimana?" tanya Eza tak sabaran.
"Dia Bad Boy, Za. Kayak Juna. Pernah ketahuan sama gue dia abis minum," balas Yohan memberi sebuah fakta yang membuat Eza membulatkan matanya.
"Bahaya dong, Han, dia," cetus Eza tanpa berpikir panjang. "Lili yang polos dan lucu itu masa punya temen kayak dia?"
__ADS_1
Theo merasa terhina.
"Gue maunya Lili jauh-jauh aja dari dia, tapi Ily udah terlanjur deket dan menerima dia banget." Yohan berdecak, menatap Theo lurus-lurus. "Kalau Lili kenapa-kenapa, siap tanggung jawab, ya?"
"Emangnya saya bakal ngapain Lili?"
"Ya, siapa tau, di mana depan," balas Yohan tak acuh. "Intinya, jangan sekali-kali bikin Lili terluka. Awas aja."
"Iya, awas aja." Eza turut mengancam.
"Ada Rasha," lanjut Raihan tak mau ketinggalan. "Lili dijailin waktu kecil aja sama Rasha dilawan anak bandelnya sampai babak belur, apalagi kalau lawannya di bawah dia kayak gini."
"Di bawah dia?" Theo mengerutkan keningnya. Dia sudah melihat Rasha dan wajahnya itu memang terlihat garang serta penuh perhitungan.
"Umurnya," balas Raihan. "Pokoknya hati-hati lo kalau mau deket sama Lili, banyak tamengnya."
"Siapa juga yang mau deket sama Lili?" Theo mendelik tak suka. Terus dipojokkan oleh tiga laki-laki yang lebih tua darinya ini jelas bukan sesuatu yang menyenangkan.
"Terus ngapain dia di sini?" tanya Eza heran.
"Kalau saya nggak ditahan, udah pasti langsung pulang," balas Theo cepat.
Eza mengacungkan jempolnya. "Dulu aja gue terus terang, meski doi belum bener-bener official. Ya, namanya perasaan. Nggak baik buat dipendam."
"Bener itu," balas Raihan setuju.
"Kalau Om-Om ngira saya suka sama Lili, jawabannya jelas nggak," jelas Theo agar tak ada lagi kesalahpahaman di mata tiga laki-laki di depannya ini. "Lili yang duluan deketin saya buat riset ceritanya itu. Yang ada, Lili yang suka sama saya."
"Idih, pede banget!"
"Ge-er-nya kurang-kurangin, tuh. Mana suka Lili sama model kayak lo."
Perkataan Eza dan Raihan membuat Theo sedikit sakit hati. Namun, dia diam saja.
"Kalau Lili suka sama kamu, saya nggak bakal izinin," cetus Yohan selanjutnya.
Seharusnya Theo tak merasakan apa-apa. Seharusnya Theo tak merasa kecewa dan sedih karena perkataan Yohan, namun dia tak punya daya untuk menolaknya. Ini perasaannya. Namun, tetap saja tidak terasa benar.
__ADS_1
"Saya juga nggak mau Lili suka sama saya," balas Theo akhirnya. Menolak semua rasa janggal dengan seraut wajah dingin dan tegas.
"Lah, kenapa?" Eza jadi bingung. "Gue kira lo suka sama Lili. Terus kenapa hari ini ke rumahnya? Jangan bilang ada tugas."
"Saya mau ngambil adik saya," jawab Theo singkat. "Saya nggak suka cewek ribet kayak Lili. Bikin susah aja."
Eza dan Raihan berpandangan dengan wajah terkejut yang nyata. Bagi mereka berdua, Lili adalah definisi perempuan manis yang bisa membuat jatuh cinta dalam satu kedipan mata.
Senyum Yohan tercipta lebar. "Bagus. Sebaiknya kalian jauh-jauh aja. Berkat kamu Lili pernah keluar malam dan sakit karena alerginya."
Hei, bukannya Lili sudah sepakat akan bertanggung jawab atas keputusannya malam itu? Mengapa Yohan seakan-akan menyalahkan Theo hari ini?
"Lili selalu ikutin saya buat riset ceritanya. Saya nggak pernah ajak Lili," tukas Theo tajam.
"Saya nggak suka kamu ada." Yohan berujar tak kalah tajam. "Hidup Lili udah baik-baik aja. Tolong ... tolong jangan masuk dan mengacaukan segalanya."
"Han," tegur Eza. "Lo kenapa? Kok serius gini?"
Theo dan Raihan sama bingungnya dengan sikap Yohan. Padahal, kemarin-kemarin Yohan tampak baik-baik saja dengan kehadiran Theo dan Theo senang karenanya.
Hari ini, Yohan berubah dan membuat Theo merasa ditendang untuk menjauh.
"Saya telah berpikir panjang untuk mengatakan itu." Yohan mengabaikan Eza dan Raihan beserta kebingungan mereka untuk menatap Yohan lurus-lurus. "Awalnya saya pikir kamu sama dengan saya, sama-sama ada karena menyukainya, karena membutuhkan kehadirannya. Namun, ternyata kamu berbeda."
Theo termenung, menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia ingin bersuara, namun lidahnya terasa kelu.
"Kamu hanya memanfaatkannya, saya bisa lihat wajah kamu menyimpan sesuatu yang bisa membahayakan Lili," lanjut Yohan serius. "Dan Lili tak butuh orang seperti kamu."
"Justru Lili yang memanfaatkan saya buat novelnya," balas Theo seraya mengepalkan tangannya kuat-kuat, menahan kesal karena dia terus disalahkan. "Atas dasar apa Om terus menyalahkan saya? Bukan saya yang mendekati Lili, tapi Lili yang mendekati saya."
"Ya, bagaimanapun," tukas Yohan santai. "Jangan terlibat lagi dengan Lili. Cukup kali ini aja, mengerti?"
"Tapi adik saya ...."
"Saya membiarkan adikmu, tapi nggak dengan kamu."
Theo tak pernah merasakan kehadirannya benar-benar tidak diinginkan, benar-benar ditolak sampai dia bertemu Yohan dan hari ini.
__ADS_1
***