Dari Korea

Dari Korea
WABBL - 20


__ADS_3

Tahu-tahu, seperti bukan kebetulan, seperti takdir yang memang sudah direncanakan sebelumnya, Theo keluar dari gerbang sekolah dengan selembar kertas HVS.


Keduanya berpandangan dengan mata membulat.


"Baru nyampe?" Theo yang lebih dulu bersuara. Pertanyaan bernada sarkas dan merendahkan.


"Lo mau jemput gue?" Lili malah bertanya dengan percaya diri.


"Nggak," balas Theo cepat. "Gue mau fotokopi di depan disuruh Pak Toto."


"Eh, ikut dong!" seru Lili, untuk setelahnya turut berjalan di samping Theo untuk berjalan menuju ke fotokopian di seberang jalan sana.


"Lo punya banyak tugas dari gue." Theo berkata begitu ketika sedang menunggu hasil fotokopian. "Tadi pagi ada tugas gambar pelajaran IPA, terus ini tugas Matematika."


"Pak Toto nggak masuk?" Perhatian Lili justru mengarah pada hal lain.


"Sampai istirahat kedua, kelas kita kosong. Kerjain tugas Pak Toyo."


"Kenapa?"


"Pak Toto sakit."


Lili tampak terkejut. "Gue sedih, tapi senang juga. Gimana dong?"


"Nanti gue kasih tau Pak Toto begitu."


"Heh, jangan gitu dong," tukas Lili tak percaya. "Lo cowok-cowok masa ember."


"Serah."


Lili menggigit bibirnya. "Gue masuknya gimana dong?"


"Masuk ke mana?"


"Ya, gerbang dong, Theo." Lili tak mengira Theo akan selemot ini.


"Ya, tinggal masuk aja, apa susahnya sih," tukas Theo jadi emosi.


"Gue nggak mau dapet cap merah lagi, Theo. Please bantuin gue," rengek Lili tiba-tiba, sampai menarik-narik kecil ujung lengan seragam Theo hingga yang punyanya menatap Lili dengan pandangan terganggu. "Anak kayak lo pasti punya jalan rahasia buat nggak telat."


"Kalau gitu, gue nggak akan pernah telat tiap harinya," balas Theo pedas. Langsung menurunkan bahu Lili, putus asa.


"Seriusan nggak ada, nih?" Lili bertanya sedih. "Gue bolos ajalah."


"Ya ampun, cap merah satu nggak akan jadi masalah," kata Theo enteng. Dia mengambil setumpuk yang terdiri atas lembaran-lembaran hasil fotokopi dan membayarnya.

__ADS_1


Lili masih cemberut seraya mengikuti langkah Theo ke sekolah. "Gue takut dihukum."


"Ada Pak Dodo di pos satpam," kata Theo memberitahu.


"Gue nggak nanya." Lili sudah terlanjur kesal.


"Artinya di belakang nggak ada siapa-siapa."


"Hah?" tanya Lili bingung.


Theo berhenti melangkah, jaraknya dua meter lagi menuju gerbang masuk sekolah. Theo menatap Lili. "Lo harus bayar jasa gue. Sini tas lo."


"Eh?"


"Mau gue culik sore?"


"Oh!" Lili cepat-cepat memberi Theo tasnya, dengan begitu Theo menyerahkan tumpukan lembaran HVS dari tangannya ke Lili. "Oh, jadi kita tukeran? Nanti lo lewat belakang, gue lewat depan gitu?"


"Nanti mereka curiga gue kabur kalau gitu." Theo memutarkan bola matanya dengan jengah. "Lo tungguin di sini. Gue mau lempar tas lo dulu ke gerbang belakang."


Tanpa memberi kesempatan Lili untuk mendebat lagi, Theo hilang dari pandangan Lili. Entah bagaimana cara laki-laki sampai ke gerbang belakang, namun tak lama menunggu, Theo sudah berjalan ke arahnya lagi.


"Udah?" tanya Lili tak percaya.


Buru-buru, Lili mengikutinya. Dia terus menunduk, menyembunyikan diri di balik badan tegap Theo.


Ada Pak Dodo di sana. Menatapnya dengan penuh curiga sesaat untuk setelahnya sibuk kembali mengobrol dengan satpam sekolah.


Ketika sadar telah sampai di depan kelasnya, Lili menatap Theo dengan tak percaya. "Lah? Kok gampang banget, ya?"


"Beruntung." Theo menjawab singkat.


Lili tersenyum lebar. Kemudian dia berjalan riang ke arah bangkunya. Kala itu, anak-anak kelas menatapnya heran. Sementara Theo dengan wajah datarnya menaruh tumpukan kertas HVS hasil fotokopi di atas meja guru di depan.


"Waduh, buset, jam sepuluh baru nyampe ke kelas lo?"


"Lo telat apa gimana, Li?"


"Aduh, udah gue absenin padahal."


"Tolong ya, jangan pada ngiri napa." Lili menjawab dengan nada sombong.


Anak-anak kelas seketika mencibirnya. Masih dengan senyum mengembang, Lili memperbaiki kaca mata bulatnya dan mengernyit saat sadar sesuatu.


Lili segera menoleh pada Theo. "Theo, tas gue mana?"

__ADS_1


"Deket lab IPA kelas dua belas. Tau kan? Nah, kayaknya ada di sekitar toga."


"Ngajak bercanda lo?" Lili melotot tak terima. "Ambilin sana."


"Sore--"


Lili menggeram, langsung berjalan cepat keluar kelasnya untuk mengambil tasnya sendiri sebab dia sudah tau Theo akan mengatakan apa untuk mengancamnya.


Melewati koridor-koridor kelas yang seolah tak ada habisnya, Lili berjalan menuju toga dekat lab IPA kelas dua belas. Jika membaca angka dua belas atau mendengarnya, Lili selalu teringat seseorang.


Kalau kamu bisa menebaknya, berarti kamu sudah satu paket dengan Lili.


Yap. Siapa lagi kalau bukan Jae?


Jantung Lili berdetak lebih cepat dari biasanya saat memikirkan kakak kelasnya itu. Kelas Jae baru saja Lili lewati dan ia langsung berbelok untuk melihat tasnya nyangkut di kayu yang memuat tanaman yang dibudidayakan secara hidroponik.


Lili langsung kesal. Theo sama sekali tidak hati-hati dengan tasnya. Padahal isinya ada bekal dan minum.


Lili mengambilnya tanpa menggerutu lagi. Lili mengeceknya sekilas, isinya masih baik-baik saja dan Lili bisa membuang napas lega karenanya.


Lili baru saja berbalik untuk kembali ke kelasnya saat dia menemukan Jae berjalan ke arahnya dengan kedua alis terangkat, bingung.


"Ngapain di sini?" Jae melihat warna dasi Lili yang berbeda dengan miliknya. "Dek?"


Aduh, dipanggil dedek. Kelepeque-kelepeque aku, jerit Lili kegirangan dalam hati.


"Eh? A-anu ...." Sama seperti saat dirinya kepergok Pak Dodo, Lili tak bisa berpikir sama sekali untuk menyuarakan alasan sebenarnya mengapa dirinya kini berada di sini.


Mengapa harus **** sekarang, Lili? Lili mengutuk diri dalam hati. Tangannya memegang kuat-kuat tali tasnya. Lili meringis.


"A-anu, Kak, anu ... anu ... anu ...."


Jae semakin menatapnya dengan bingung. Perlu diralat, bukan hanya bingung, Jae juga menatapnya aneh sehingga Lili ingin sekali pergi dari sini. "Kenapa?"


Kalau Lili jujur, sama saja dia menggali kuburannya sendiri di sini. Kalau dia berbohong, Lili tak punya alibi dan tak bisa memikirkan kebohongan untuk menjadi jawaban mengapa dirinya ada di sini.


"Lo telat?"


******. Lili memaki diri. Memejamkan matanya dengan senyum pahit.


"Kak, aku penggemar berat Kakak! Seriusan, dari kelas sepuluh aku udah menyerahkan hati ke Kakak! Setiap malam, aku selalu doain supaya Kakak jadi sutradara sukses karena aslian, film yang Kakak bikin selalu menyentuh hati aku. Kakak, please, aku emang tekat sekarang, tapi jangan bilang siapa-siapa," jelas Lili kelewat cepat dan sempat membuat Jae kebingungan. Secara, Jae tidak tahu sebel


Lili menyatukan kedua tangannya dengan wajah memelas. "Tolong lepasin aku kali ini, pliiiiissssssssss."


Setela agak lama terima karena berpikir keras, Jae berdeham. "Gue udah berjanji."

__ADS_1


__ADS_2