
Masa ospek sudah selesai satu bulan yang lalu.
Hati-hati berikutnya adalah hari di mana Raihan harus beraktifitas seperti seorang pelajar dengan jadwal padat dan buku tebal di pangkuan tiap kali dirinya berpergian. Menjadi mahasiswa fakultas hukum rupanya tak sesimpel yang ia kira sebelumnya.
Jika ia kira, materi yang harus ia pelajari hanya perlu dihafal saja, rupanya banyak sekali tugas portofolio yang mengharuskan dirinya menjungkirbalikkan otaknya untuk mendapatkan nilai yang bagus.
Setiap hari, Raihan harus membuka buku, membaca kamus, menghafalkan pasal-pasal serta menanyakan pendapat pada kakak tingkat yang baik hati. Jika tak sempat, Raihan bahkan menanyakan pendapat pada tukang bakso langganannya di depan semua SMA yang tak jauh dari kampusnya.
Seperti hari ini.
Setiap hari Selasa, jadwal kuliah Raihan memang tak terlalu padat, hanya sampai jam dua siang. Karenanya waktu jam empat sore--karena harus selesaikan diskusi kelompok untuk minggu depan, dia sudah berada di luar. Terbebas dari kewajiban menuntut ilmu.
Pulang dari kampus, Raihan selalu ingin yang pedas dan segar. Jawabannya tak lain dan tak bukan, tentu semangkuk bakso dan satu gelas teh manis penuh es.
Sudah kuliah begini, Raihan jadi berpikir. Bahwa tak seharusnya dia memberatkan ibunya untuk mencukupi kebutuhannya sehari-hari. Setidaknya, karena Raihan belum bisa menghasilkan sendiri, dia akan menghemat uang makan dengan membeli makanan yang agak ramah di kantong. Ibunya sekarang jarang masak di rumah karena sibuk mengurus butik, belum lagi baru-baru ini ada Ily, sehingga perhatian Rima agak tersita padanya.
Raihan tak merasa iri pada Ily, dirinya saja sudah puas mendapatkan perhatian dari Rima sejak ia dilahirkan, bahkan dalam kandungan.
Jadi, Raihan dan Rima jarang sekali makan bersama di rumah dengan makanan rumahan buatan sendiri. Keduanya sama-sama membeli dari luar dengan waktu yang berbeda.
Raihan selalu punya jam tujuh, sementara Rima datang jam enam sore untuk setelahnya istirahat dan fokus untuk merancang desain baju baru. Raihan tentu tak tega untuk menginterupsinya hobi ibunya yang menghasilkan uang itu hanya untuk dimasakan makan malam.
Lagi pula, di luar juga banyak makanan enak. Contohnya, Bakso Pak Somad.
Biarpun murah, tetapi perut tetap terisi dan puas.
Pak Somad, nama penjual bakso langganannya, menghampirinya dengan senyum khas bapak-bapak yang sedia melayani anaknya dengan sayang. Pak Somad sudah hafal wajah Raihan karena laki-laki itu sudah dua Minggu berturut-turut berlangganan di kedainya. Keduanya sudah berkenalan dan pernah mengobrol sampai malam saat tak ada pelanggan lain.
Waktu itu Raihan sedang stress karena tugas, kemudian Pak Somad menghiburnya dengan alasan kadarnya.
"Bapak kasih tau aja, ya, tugas hari ini kalau nggak bisa selesai, ya bisa pagi-pagi besoknya. Yang penting jangan terlalu larut-larut pikirin satu tugas sampai malem. Tidur aja yang cukup. Kalau tidur cukup, besoknya pasti fit dan tugasnya bisa selesai."
Begitu kata Pak Somad.
"Simple, kan?" Pak Somad menambahkan saat itu. "Lagian, nih, ya, tugas itu mau selesai atau nggak, ujung-ujungnya cuma dilihat doang. Jarang banget ada yang dibaca, kecuali kalau pelajarannya bersifat eksakta. Kalau essai kayak gini, cuma curahin pendapat dan ide, ya kemungkinan besar cuma dibaca."
Raihan sengat merasa lega setelah mendengarnya.
"Lagian kamu mahasiswa baru, pasti diberi keringanan dulu tentang deadline. Kan kalau maksa, nggak baik juga buat kesehatan. Dosen juga pasti mengerti, apalagi untuk orang yang pekerja keras kayak kamu. Bapak perhatiin dari kemarin-kemarin, kamu tu nugas mulu beres makan."
"Mantap, Pak!" balas Raihan waktu itu. "Terimakasih atas siraman nasihatnya!"
"O gampang itu, beli lagi aja teh manisnya."
"Hahahaha."
Dengan begitu, keduanya seperti punya ikatan yang kuat.
Pada jam empat sore, pelanggan di kedainya memang tak begitu padat. Mungkin rata-ratanya dapat dihitung, sehingga Pak Somad dapat menguraikan ada dua puluh orang perharinya yang datang pada saat sore hari.
Tempat yang strategis dan pelayanan prima dengan sajian enak membuat Bakso Pak Somad amat terkenal. Bahkan punya IG yang followers-nya lebih banyak daripada punya Raihan.
"Mau pesen apa, Han?" Pak Somad bertanya dengan ramah, membawa buku kecil untuk mencatatkan pesanan pelanggannya.
Raihan tersenyum tipis. "Kayak biasa aja, Pak."
"Oke. Ditunggu, ya," kata Pak Somad dengan senyum kebapakan yang kental.
Raihan mengangguk kecil, kemudian membuka bukunya untuk mengerjakan beberapa soal yang belum sempat dia isi. Dua menit, Raihan membacanya sekilas untuk setelahnya mengisinya dengan hasil pemikirannya yang lumayan menyita waktu.
Sejurus kemudian, soal yang tersisa itu sudah Raihan selesaikan. Pada akhirnya, tak ada lagi kewajiban untuk Raihan selesaikan. Mungkin, hari ini Raihan langsung pulang saja tak masalah.
Raihan melihat jam tangannya. Jam empat lewat lima puluh, jika diperkirakan begitu saja, mungkin Raihan akan sampai di rumah paling telat jam lima. Ibu pastinya belum pulang ke rumah, Raihan juga tak suka berdiam di rumah sendirian.
Selama ini, saat sekolah, ia selalu main keluyuran ke mana pun itu asal dirinya ada di rumah sebelum jam tujuh atau ibu akan memberinya hukuman.
Raihan benci rumah yang sepi, benci saat ia sendirian di rumah, apalagi jika sedang mati lampu dan segalanya menjadi gulita.
Seolah sewaktu-waktu akan ada makhluk yang menculik Raihan untuk pergi dari dunia yang indah ini. Jelas, Raihan tak mau itu terjadi.
__ADS_1
Memikirkan pulang, Raihan memilih untuk membuka ponselnya. Dia membuka aplikasi chat dan mencari kontak yang setidaknya bisa ia ajak keluar untuk habiskan waktu satu jam.
Duduk diam di sini jelas adalah pilihan buruk karena banyak pelanggan Pak Somad yang membuat Raihan tak nyaman karena teriakannya saat sedang mengobrol.
Meski benci kesepian, bukan berarti Raihan suka keramaian yang gaduh.
Bagi Raihan, dia hanya butuh satu orang untuk menutupi bencinya pada sepi, takutnya pada hening.
"GILA, ENAK!"
Seruan nyaring itu tak bisa Raihan tangkis untuk masuk dalam gendang telinganya dan membuat tubuhnya tersentak kaget, kemudian secara impulsif menolehkan kepalanya pada sumber suara.
Di meja tengah sana, terdapat dua anak SMA yang mencicipi bakso Pak Somad. Yang satu tampak biasa saja dan hanya tersenyum saat merasakan kenikmatan kuah baksonya, namun satu yang lainnya justru bereaksi berlebihan dengan mata melotot dan teriakan nyaring berikutnya.
"INI ENAK SEKALI, NA!"
Anak-anak itu perempuan. Keduanya cantik. Itu yang Raihan tangkap sewaktu melihatnya. Keduanya terlihat seperti turunan cina karena matanya yang agak sipit dan kulit yang amat kontras dengan kebanyakan pelanggan di sini.
"Shut, kamu berisik banget. Itu ganggu orang, tau!"
"Habisnya ini enak sekali, Yoona."
"Bisa nggak lebaynya dikecilin dikit. Malu bangsa, nih."
"Ish! Jahat!"
Didengar dari logatnya bicara, keduanya seperti orang Korea yang nyasar ke Jakarta. Raihan tak memikirkan banyak karena setelahnya, pesanannya datang ke atas meja. Salah satu pelayan dari Bakso Pak Somad mengantarkannya dengan senyum ramah seperti biasa.
"Mangga, dile'et, bos," katanya mempersilahkan Raihan untuk makan. Namanya Siti, orang Sunda yang kental dan merupakan anak kedua dari Pak Somad yang baru saja lulus SMP. Kini, sudah menjadi murid SMA yang taat dan berbakti pada orang tua setiap pulang sekolah.
Anaknya sopan dan ramah. Membuatnya makin cantik dengan kulit sawo matang khas Indonesia.
Siti juga sudah kenalan dengan Raihan dan beberapa kali mengobrol. Kadang, Siti membawa PR Matematikanya yang tak bisa ia selesaikan sendiri. Jika kurang dan memungkinkan, Raihan juga akan membantunya.
"Hatur nuhun," balas Raihan dengan Bahasa Sunda yang ia pelajari sedikit-sedikit.
"Sip."
Raihan memang sudah lapar, karenanya cepat sekali untuknya membuat mangkuk baksonya habis dan es teh manis dalam gelasnya hanya tinggal setengah.
Perutnya sudah mulai terisi penuh dan Raihan agak malas untuk bergerak. Raihan meneguk tegukan es teh manis terakhirnya dan mengela napas lega seraya menyenderkan punggungnya ke tembok bangunan Bakso Pak Somad.
Raihan menutup matanya, ingin merelaksasikan pikiran seraya badannya untuk sesaat. Angin sore yang lembut menambah kesenangan Raihan sore ini.
"Oh, gue lupa mau numpang main," cetus Raihan teringat sesuatu. Segera, ia mengambil ponselnya untuk melihat-lihat kontak yang bisa dihubungi.
Sejak masuk kampus, Raihan belum merasa punya teman satu hati dan tujuan. Mungkin jika atau semester berlalu, Raihan bisa memilikinya. Karena jujur saja, lebih bertambahnya umur, rasa ingin sendiri dan selektif dalam berteman menjadi setingkat lebih tinggi.
Kontaknya kebanyakan adalah anak SMA-nya dulu. Dari mereka juga lebih banyak yang sudah berjuang di jalan yang sama dengan Raihan, sehingga bisa dipastikan mereka sibuk kini. Hanya beberapa yang senggang mungkin, namun Raihan tak mau mengambil resiko jika ia gagal mendapatkan teman main sekarang.
Raihan beralih pada deretan anak cewek ambisius yang ada di sekolah tetangga dulu. Raihan mendapatkan kontak mereka dari grup siswa-siswi berprestasi saat akan melaksanakan OSN. Berpikir sesaat, Raihan akhirnya memutuskan untuk tak menghubungi mereka.
Bukan hanya diceramahi habis-habisan karena diajak main, pastinya mereka lebih memilih untuk belajar sendiri untuk dapatkan lebih banyak penghargaan.
Raihan terus menyentuh layar ponselnya, menggerakkan layar ke daftar kontak di bawah, kemudian membaca tiga nama yang memungkinkan untuk dihubungi saat tiba-tiba ibunya memanggil nomor ponselnya.
Sesaat, kening Raihan mengernyit. Sebab jarang sekali ibu meneleponnya, biasanya ibu memiliki pesan singkat untuk digunakan.
Tak berpikir banyak lagi, Raihan menjawabnya.
"Iya, bu?"
"Lagi di mana?"
"Lagi di tempat makan bakso. Kenapa emang, Bu?"
"Udah selesai kan kuliahnya?"
"Iya."
__ADS_1
Ibu terdiam. Raihan menunggu, namun tak kunjung mendapatkan kepastian dari sana. "Kenapa, bu?" Akhirnya ia bertanya lagi.
"Ini... bisa ke butik?"
Raihan menuliskan bibir. Rasanya lelah bodi dan hati kalau harus membatu ibunya melayani para pelanggan di butik, namun Raihan tentu tak mau jadi anak tak berbakti selama hidupnya pada ibu.
"Bisa, bu."
"Oh, yaudah. Ibu tunggu kalau gitu."
"Iya, bu."
"Hati-hati, Han!"
"Iya, bu."
Sambungan telepon diputus oleh ibu. Meski masih bingung, Raihan tetap bangkit dari duduknya untuk membayar bakso dan es teh manisnya. Setelahnya, ia keluar dari kedai dan menghirup udara segar sore hari dengan hati lapang.
Entah mengapa, matahari yang hendak tenggelam di ujung jalan sana terlihat amat cantik dan Raihan tak mau melewatkannya hingga ia mengangkat ponselnya.
Kemudian membuka kamera dan hendak mengabadikan foto sunset itu saat tiba-tiba ada seseorang yang menghampirinya. Jadilah, foto orang itu terambil secara tak sengaja dengan layar belakang sunset yang elok.
Persis seperti foto Instagram yang banyak diburu orang.
Raihan mengernyit, menurunkan ponselnya ke sisi badan dan menatap orang yang menghampirinya kini ada di depannya. Wajahnya tampak familiar dan ah... ini adalah salah satu anak SMA yang tadi makan bakso di tengah-tengah kedai. Ah, tepatnya anak yang berteriak lebay saat mencicipi bakso Pak Somad.
Siswi tersebut tampak malu-malu dan Raihan semakin bingung dibuatnya.
"Mau apa, ya?" Akhirnya Raihan memutuskan untuk bertanya karena tak tahan akan keheningan yang disebabkan kecanggungan ini.
"Em..." Siswi itu gugup, tak berani menatap Raihan tepat di mata dan akhirnya berjinjit-jinjit tak jelas di depan Raihan. "Anu... anu..."
Raihan hampir saja memutar bola matanya karena ingin cepat-cepat pergi, sebab ia sama sekali tak kenal dengan siswi ini. Namun, tentu Raihan tak mau dicap jelek bahkan oleh orang yang belum ia kenali dengan baik.
Sebab Rima selalu mengajarkan, ciptakan kesan pertama yang baik dan orang itu akan mengingatnya selamanya.
"Iya, kenapa, dek?" tanya Raihan lembut.
"Anu, kak... anu..."
"Iya......?"
"Itu.... aduh.... kak.... em....." Siswi itu sangat kikuk dan tampak tak jelas. "Anu..."
Raihan mengerjap, tak kuasa menahan bingung. "Kenapa, ya? Kamu mau apa? Apa nggak salah orang?"
"Nggak, ih... anu..." Kedua tangan siswi yang sedari tadi di belakang itu kini ke depan, menyerahkan sebatang cokelat ke hadapan Raihan. "Ini."
Alis Raihan terangkat. "Hah?"
"Ini buat kakak, ih, ambil aja," cicit siswi yang belum Raihan tau namanya itu, seolah sangat ketakutan dan sedari tadi wajahnya menunduk hingga Raihan tak bisa dengan jelas melihat wajahnya. "Please. Kak, ambil cepet."
Dengan bingung yang masih bercekol di kepalanya, Raihan mengambil cokelat itu. "Maka..." Siswi itu sudah pergi, sebelum Raihan selesaikan mengucapkan, "...sih."
Sepeninggalnya, Raihan menatap batang cokelat itu dan baru sadar jika di bawahnya terdapat sticky note berwarna kuning yang digulung-gulung sampai menjadi amat kecil.
Penasaran, Raihan mengambil dan membukanya hingga terdapat deretan kata yang tulisannya amat kecil, namun rapi seperti ketikan dalam komputer yang selanjutnya ia baca.
Hai, kak. Aku pengagum kakak, hehehe. Aku suka liatin kakak sejak anterin Yoona makan bakso di kedai Pak Somad.
Soalnya kakak keren banget, ganteng lagi kayak aktor drama Korea.
Awalnya, aku nggak tertarik buat coba bakso, tapi hari ini aku melakukannya. Sekalian untuk lihat kakak juga, hehe
Dan rasanya enak banget! Aku senang, tambah senang lagi waktu kakak ikut noleh ke aku^^^
Aaaaa! Jadi, aku putusin buat kasih cokelat sama surat ini sekarang aja.
—Lee Joehee
__ADS_1
Senyum Raihan terkembang kecil, kemudian memasukkan cokelatnya dalam saku celana, sementara sticky note manis itu dalam tasnya, menjadi arsipnya tersendiri.
Kemudian segera melaju pergi ke butik ibunya untuk penuhi panggilan ibunya tercinta.