
"Lemah lo." Tahu-tahu, Sari duduk di sampingnya dan menyodorkan sebuah botol berisi air mineral padanya. "Nih, minum."
Luhan menoleh, dia tersenyum tipis mendapati kehadiran Sari yang tak disangka-sangka ini. Kemudian, Luhan menerima botol air mineral dari Sari tanpa mendebat.
"Cie, perhatian." Luhan menatap Sari penuh arti dengan senyuman lembut yang biasa ia pakai untuk meluluhkan kaum hawa. Entah kenapa, ada lesatan pikiran di mana Luhan ingin melihat Sari jatuh pesona juga padanya. "Makasih ya."
"Gue juga sebenarnya takut, sih. Awalnya malah gue nggak mau banget. Tapi ternyata seru banget." Sari bercerita begitu saja tanpa membalas tatapan Luhan. Dia membuang napas panjang dengan kecewa. "Sayang, lo nggak bisa menikmati ini."
"Sayang?" Kedua alis Luhan kontan terangkat.
"Apa, sih?" tanya Sari tak suka. Mengapa di saat seperti ini Luhan masih bercanda?
Luhan menggaruk tengkuknya yang tak gatal, entah kenapa jadi gugup sendiri. Biasanya kan cewek-cewek kalau dibercandain secara manis begitu akan salting lucu gitu, tapi Sari beda. Reaksinya yang datar dan biasa aja, malah bisa dikatakan tidak suka, membuat Luhan jadi malu sendiri.
"Itu, anu, em, maksud gue tadi lo bilang sayang sama gue," jelas Luhan gugup, malah dia sendiri yang salah tingkah.
"Apa lo emang sebaperan ini?" tanya Sari tak mengerti. Menatap Luhan lurus-lurus, kemudian memutarkan bola matanya saat Luhan tak kunjung membalas.
Akhirnya, Sari bangkit meninggalkan Luhan di tempatnya. Tak terima ditinggal sendirian, Luhan langsung berdiri.
"Heh, mau ke mana? Tungguin!" seru Luhan seraya menyejajarkan langkahnya dengan Sari.
Sari melangkah menuju pohon kelapa untuk bersandar, Luhan mengikuti. Sari pindah ke dekat teman-teman ceweknya untuk foto-foto, Luhan ngikutin. Sampai Satu membentuk pasir menjadi benteng istana dan bentuk-bentuk lain, Luhan masih setia di sekitarnya dengan botol air mineral di tangannya.
"Ngikutin mulu." Sari berdecak merasa terganggu saat bahkan dirinya cuek dengan keberadaan Luhan. Sari menatap Luhan dengan tatapan meremehkan. Mereka kini duduk bersampingan di bibir pantai, menikmati sapuan ombak kembali di ujung kaki telanjang mereka. "Temen-temen lo pada ke mana?"
"Ya, namanya juga temen laknat. Mereka masih seru-seruan lah di sana." Luhan berdecak tak begitu peduli lagi. "Kalau lo sendiri?"
Sari menyunggingkan senyum tipis. Dia memeluk lututnya sambil menarik napas pendek. "Gue lebih suka sendiri."
"Kenapa?"
Kedua bahu Sari terangkat. "Nggak ada alasan. Suka aja."
"Oh, gitu." Luhan mengangguk-angguk. "Padahal kalau ada temen, pasti lebih seru."
"Nggak, tuh." Sari membalas cepat. "Temen cuma bikin kita susah."
Kening Luhan mengerut tak suka saat mendengar jawaban Sari yang sangat-sangat terdengar salah di telinganya. "Lah? Kok lo bisa ngomong gitu, sih?"
"Misalnya kayak lo sekarang." Sari menatap Luhan dengan datar, namun nada suaranya tajam hingga terasa bisa merobek hati. "Lo sakit dan ngikutin gue ke mana-mana. Itu udah ngerepotin, lo tau nggak?"
__ADS_1
Luhan berdecak tak percaya. Kadang, suara hati dan suara lidah memang bisa berkebalikan. "Kalau ngerepotin, kenapa lo masih peduli?"
"Karena gue kasian sama lo. Nggak ada yang peduli sama lo sekarang." Sari menjelaskan, membela dirinya dan masih berpendirian sama. "Duduk sendirian, mual-mual, kelihatan sedih. Lo ganggu pemandangan gue, Han."
"Entah kenapa, gue baper, Ri." Luhan tersenyum lebar dengan wajah bahagia. "Coba pegang dada gue deh, deg-degan asli."
Buag! Sari meninju bahu Luhan hingga tubuh laki-laki itu oleng ke samping kanan.
"Aw!" Luhan menahan dirinya agar tak terjatuh dengan siku kanannya. Tak sulit untuknya kembali duduk dengan tegak. Ujungnya, Luhan menatap Sari dengan mata tak suka. "Jahat banget sih lo."
"Nggak ada bosennya apa lo Jadi playboy?" tanya Sari balas tak suka. "Semua cewek disenyumin, semua cewek dimodusin, semua cewek disayangin, semua cewek disukain."
Luhan menatap Sari dengan takjub. Tak percaya. Speechless. "Lo ... cemburu?"
Sari balas menatapnya dengan takjub, tak percaya dan speechless. Mata Sari mengerjap-ngerjap berkali-kali.
"Gue nggak tau harus bilang apa tentang kepercayaan diri-an lo yang udah melebar ke mana-mana." Sari menggeleng-gelengkan kepalanya, seperti baru saja ia menyaksikan kambing yang bersuara seperti sapi. Sari hanya bisa tertawa hambar. "Ha ha ha ha ha ha."
"Padahal gue cuma tanya aja." Luhan menjawab santai, tetapi terdengar sangat percaya diri. "Bukannya gue terlalu pede atau ge-er, tapi gue penasaran."
"Penasaran?" Sari jadi kebingungan.
"..."
"Sari, are you okay?" tanya Luhan, kini giliran dirinya yang kebingungan. Sari diam saja dan membuatnya curiga serta terkejut. "So ... it's true? Selama ini lo memendam rasa ke gue, tapi diungkapkan dengan sok nggak suka dan sok jutek? Aw, how cute."
"Ck." Saru memutar bola matanya dengan jengah. Kemudian menengadahkan tangannya tanpa menatap mata Luhan langsung. Sari lelah juga menghadapi Luhan yang bentukkannya seperti ini. "Minta air, dong."
Luhan mengerjap-ngerjapkan matanya dengan wajah polos. "Eh, tapi ini bekas gue."
"Nggak apa-apa, dong." Sari menatap Luhan dengan heran. Kenapa anak itu malah mempersalahkan air minum itu bekas siapa? Padahal kan itu sebenarnya bekas Sari sebelum Luhan meminumnya juga.
Luhan meringis, agak ragu-ragu untuk menjelaskan, "Nanti kalau lo minum, jadinya kita ciuman secara tidak—"
Byuurrrrr.
Sari langsung mengambil botol air mineral itu, membukanya, kemudian mengguyurkan seluruh isinya ke atas kepala Luhan. Air itu mengalir, membahasi wajah Luhan hingga membuat mata laki-laki itu memejam secara refleks, kemudian sampai membasahi bajunya.
"What the hell r u doin'?" tanya Luhan tak terima setelah dia mengusap wajahnya agar titik-titik air-air itu hilang dari wajahnya.
"Biar lo sadar. Nggak mimpi terus. Nggak ngomong nggak masuk akal lagi. Nggak main-main lagi." Sari menjelaskannya dengan wajah bosan dan serius. "Dunia ini bukan sesuatu yang bisa terus-terusan lo main-mainin semau lo, sesuka lo. Harus ada saat-saat di mana lo dewasa dan berpikir matang. Selama ini ... lo selalu kekanak-kanakan."
__ADS_1
"..."
Selanjutnya, Sari berlalu pergi dari keberadaan Luhan. Luhan tak menyusulnya karena sekarang dia lagi speechless lagi.
Lo selalu kekanak-kanakan. Kata-kata itu terngiang-ngiang di kepala Luhan pada detik-detik selanjutnya yang berlalu.
"ALOHA BABY LUHAN!" Suara Lingga yang melengking langsung menyadarkan Luhan dari pikirannya. Lingga langsung merangkul bahu Luhan dengan erat. "Maaf ya, Ayah nyusulnya telat ... eh? Kok kamu basah?"
Luhan masih terdiam. Tak peduli bahwa Langit dan Lethan juga sudah ada di sana, menatapnya dengan bingung dan heran.
Waktu Sari bilang 'Dunia ini bukan sesuatu yang bisa terus-terusan lo main-mainin semau lo, sesuka lo', wajahnya yang serius itu tampak cantik dengan sapuan angin lembut pantai yang menerbangkan poni rambutnya.
Apa selama ini, bercandanya Luhan tampak seburuk itu untuk Sari?
"Woi, lo kenapa, Baby?" suara Lingga langsung menyadarkan Luhan karena laki-laki itu juga turut mencubit pipinya.
Luhan menatap Lingga tak suka. "Ck. Berisik, Dog."
"Pig." Lingga membalas tak mau kalah.
"Han, lo kenapa basah-basahan gini?" tanya Lethan kemudian, saat Luhan bangkit dari duduknya dan membuat Lethan melihat dengan jelas rambut serta baju atasnya basah secara janggal.
Luhan hanya melengos. Mana mungkin dia bilang kalau basah ini disebabkan oleh guyuran dari anggota Ketua Kelas?
"Basah-basahan?" Langit tiba-tiba tersenyum cerah di wajahnya yang seperti telah mendapatkan sebuah pencerahan. "Kenapa kita nggak nyebut aja ke pantai sana? Buruan, gue video-in pasti bagus banget, dah."
"LET'S GO!" seru Luhan langsung semangat. Anak itu berlari kencang menuju laut dan membentangkan tangannya seperti dirinya adalah laki-laki paling bahagia di dunia.
"Buset, tadi kayak marah banget, kayak murung banget, sekarang kesetanan jadi yang paling semangat." Lingga menggeleng-gelengkan kepalanya dengan heran seraya mengatur kameranya untuk bersiap merekam.
"Ck. Ck. Ck. Ck. Nggak ada orang selain dia yang ajaib di sini." Lethan turut menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berdecak berkali-kali saat melihat Luhan.
Langit mengangguk-angguk juga melihat Luhan yang kini melompat-lompat kegirangan. "Ha ha ha ha. Iya. Gue setuju."
Luhan tak peduli perkataan serius Sari beberapa saat yang lalu. Dia percaya bahwa dunia adalah tempat bermain-main dan bersenang-senang dengan candaan-candaan yang membuat terus tertawa. Dunia tak perlu seserius itu dijalani untuk mendapatkan kebahagiaan.
Tujuan hidup itu untuk mencapai kebahagiaan, bukan?
Kenapa harus serius dan kaku menjalaninya jika bisa tertawa dan menganggap semuanya seremeh sebuah tawa?
***
__ADS_1