Dari Korea

Dari Korea
WABBL - 9


__ADS_3

Lili punya keyakinan yang bertambah tentang Theo yang merupakan Bad Boy. Sebab kemarin, laki-laki itu sama sekali tak masuk ke kelas dan untungnya tak ada guru yang masuk. Mungkin seharian itu Theo sibuk dengan dunia rahasianya seperti yang dibilang Gema, sementara Lili malah tidur di kelas tanpa dia sendiri sadari.


Gema juga ikutan tidur karena rupanya banyak anak kelas lainnya yang juga tertidur di jam kosong seharian itu.


Tiba hari ini, Lili tidak kesiangan karena Yohan mengantarnya. Namun, kursi di meja sebelahnya itu masih kosong. Lili melihat jam di dinding kelas, sudah jam tujuh lewat lima.


"Theo kesiangan lagi?" Lili bertanya heran pada Gema.


"Yah, dari kelas sepuluh juga begitu. Tiao hari, Li."


"Serius?"


"Lo nggak merhatiin emang?"


Lili mendelik jengah. "Kak Jae jauh-jauh-jauh lebih berhak buat diperhatiin daripada Theo. Theo siapa?"


"Tapi dia ganteng."


"Tapi Bad Boy."


"Tapi lo jadiin riset."


"Tapi seenaknya, nggak mau bergaul di kelas dan super bodoh amat. Gue juga jadi anggap dia nggak ada selama ini." Lili tertawa kecil, merasa agak bersalah. "Sampai ide gila lo bikin gue bertekad buat nguntilin dia buat tahu rahasia kehidupannya."


Gema baru saja hendak menjawab saat Theo tahu-tahu masuk ke kelas, kehadirannya disusuk Bu Sukma yang akan mengajar Bahasa Indonesia. Guru yang sudah berumur kepala empat itu tersenyum menyapa.


"Selamat pagi, Bu!"


"Selamat Pagi, anak-anak." Bu Sukma balas menyapa ramah. "Oke, tanpa basa-basi lagu. Buka Bab 6, kita lanjutkan pelajaran yang semester satu tak sempat dibahas."


"Baik, Bu."


Selama pembelajaran, Lili memerhatikan Theo yang duduk sendirian di meja sebelahnya--jumlah murid di kelas ini ganjil dan Theo menjadi selalu sendiri dalam satu mejanya. Meja paling pojok dan paling belakang yang segala kegiatan Theo terhalangi oleh badan anak-anak depannya.


Namun, yang Lili temukan adalah Theo yang tertidur selama Bu Sukma berbicara; menerangkan materi. Lili menipiskan bibirnya, ingin sekali menegur Theo.


Theo seharusnya tidak tidur selama pembelajaran jika ingin pintar. Lili juga tau, satu-satunya orang yang selalu diremedial setiap ada evaluasi adalah Theo.


Lili jadi kasian padanya.


Terlalu larut memikirkannya, Lili tak menyangka bahwa mata hitam yang berdiri tajam dan dingin itu akan terbuka kelopaknya, memergoki Lili yang tengah menatapnya lurus-lurus.

__ADS_1


Kening Theo mengernyit samar ketika dia balas menatap Lili.


Lili menarik napas terkejut, kepalanya langsung berpaling ke depan. Dengan gugup, selama pelajaran itu, Lili tak pernah berhenti memikirkan kemungkinan-kemungkinan Theo akan menyerangnya atau marah karena terus diperhatikan oleh Lili.


Sumpah, Lili tak pernah bayangkan kalau berurusan dengan Theo akan terasa semenegangkan ini.


***


"Bu, Lili mau bikin tentang cerita Bad Boy, dong. Ibu waktu muda ada temen yang Bad Boy gitu, nggak?" Lili bertanya ketika keluarganya selesai makan malam dan kini keempatnya berkumpul di depan televisi, di atas sofa ruangan keluarga.


Luhan asyik bermain dengan Luvi--anjing kecil yang merupakan hadiah ulang tahun keduanya dari Yohan yang baru saja datang tadi sore--, Yohan dengan ponselnya yang pastinya menyangkut pekerjaan, sementara Lili dan Ily fokus menonton TV dengan wadah popcorn di atas meja.


Ily menoleh saat Lili bertanya begitu. "Hm, bentar. Biar ibu pikir-pikir dulu."


Lili menunggu dengan antusias. "Kalau ada, pasti mempermudah Lili buat nulis, hehehe."


"Hm, temen ibu waktu SD sampai SMA nggak jauh-jauh dari Om Elvan sama Om Eza, sih. Jadi ... Oh! Ada!" seru Ily dengan mata membulat ingat. "Juna. Iya. Om Juna, suaminya Tante Tiffany yang sekarang tinggal di Korea. Sayang banget, kamu belum ketemu, ya."


Lili mengerucutkan bibirnya. "Iya, kangen Om Elvan."


"Lah, kok jadi kangen Om Elvan?" Ily bertanya heran.


"Soalnya Om Elvan sekalinya beliin buku itu banyak. Pokoknya berjasa banget buat masa kecil Lili. Kalau nggak ada Om Elvan, mana bisa ayah atau Kak Yaya jadi rajin beliin Lili buku?"


Lili tertawa polos. "Eh, Ibu ada fotonya nggak?"


"Ya ampun, Lili. Dia Bad Boy, dong. Masa ibu punya fotonya? Deketin aja Ibu nggak berani. Lagian Om Juna itu sekolahnya beda sama Ibu." Ily menjelaskan dengan sedikit trauma karena masa lalu.


"Lah? Kalau beda sekolah kok Ibu bisa kenal?"


"Nggak kenal sih, cuma tau aja waktu SMA." Ily menjawab singkat. "Kalau sekarang baru kenal."


"Terus, kok bisa sekarang kenal?"


Ily menipiskan bibirnya. "Kamu inget Tante Tiffany, kan?"


Lili mengangguk. Lili sudah tahu betul cerita percintaan kedua orang tuanya karena cerita itu ia jadikan cerita di Wetfed. "Orang yang suka sama Ayah waktu SMA."


"Nah, Tante Tiffany itu punya tunangan--"


"Masih SMA tapi udah ada tunangan?" Lili menutup mulutnya dengan mata melotot terkejut.

__ADS_1


"Iya, gitu deh, latar belakangnya karena bisnis," balas Ily cepat. "Tunangannya ini Om Juna."


"Eh, bahas apa nih?" Yohan ingin bergabung saat telah selesai dengan urusan bisnisnya. "Ikut dong."


"Bahas Juna," jawab Ily.


"Bahan buat bikin novel lagi?" Yohan menatap Lili dengan semangat.


"Iya, Yah." Lili mengangguk dengan senyuman lebar. Di mana lagi dia menemukan Ayah paling pengertian di dunia ini selain Yohan?


"Tau nggak?" Yohan memulai ceritanya. "Ayah pernah dipukulin sama Om Juna gara-gara Tante Tiffany."


"Woah," tukas Lili kagum. "Berarti Om Juna bener-bener Bad Boy, ya? Om Juna pernah narkoba nggak, Yah?"


Yohan menggeleng kecil. "Kalau soal itu Ayah nggak tau. Tapi Om Juna bau rokok waktu dia pukulin Ayah."


Lili mengangguk-angguk. "Terus?"


"Sekarang kayaknya dia udah tobat, iya nggak, sih?" tanya Yohan pada Ily.


"Nggak tau pasti juga, terakhir ketemu waktu minta resep antibiotik jerawat itu. Sampai sekarang nggak kontekan lagi, nomornya kehapus," balas Ily sedih. Dia gimana ya di sana?"


"Kalau masih ada ibu, aku juga mau ke Korea lagi," tukas Yohan lemah. "Sekarang aku udah nyaman di sini. Sama keluarga, hehehe."


Ily tersenyum tipis, bahagia.


"Di kelas Lili juga ada Bad Boy," kata Lili bercerita lagi. "Lagi diperiksa sama Lili, apa bener dia Bad Boy atau nggak."


"Hati-hati, lho," pesan Yohan. "Dari namanya aja itu laki-laki buruk. Jangan sampai kena masalah."


"Tapi nggak apa-apa buat deketin atau sampai berteman." Ily menambahkan. "Siapa tau dia berubah kayak Juna juga. Tapi inget, jangan juga ngorek-ngorek sumber masalah. Bahaya."


"Oh, tentu. Lagian temen Lili yang Bad Boy itu nggak galak banget, cuma matanya itu sih agak serem. Gampang lah buat Lili." Lili tersenyum penuh percaya diri. "Lili udah pro soal menguntit tanpa ketahuan atau tanpa menimbulkan masalah. Hehehe!"


Mata Yohan melotot. "Jadi, selama ini Lili suka menguntit?"


Lili langsung gegalapan, salah ucapan. "Bukan, Yah! Bukan gitu maksudnya!"


Yohan dan Ily kompak menatapnya bingung. "Terus gimana dong?"


"Jelasin, Lili."

__ADS_1


"Ah, pokoknya gitu deh, Lili mau tidur aja, ya!" Lili buru-buru bangkit berdiri dan mencium kening Luhan yang sedari tadi fokus bermain dengan Luvi. "Dadah, Luhan! Selamat malam semuanya!"


***


__ADS_2