
"Wah, kamu sekolah di SMP Pelita?" tanya Lili semangat, pada Yalya yang tengah memainkan ponselnya untuk membalas chat-chat yang masuk.
"Iya, Kak," balas Yalya singkat.
"Katanya, banyak cowok gantengnya, ya?" Lili bertanya penasaran. "Temen satu bangkuku kan alumni sana. Aku liat foto bersama kelasnya dia, gila cowok-cowoknya bening banget!"
"Iya, banyak," jawab Yalya seraya mengangguk. "Saking banyaknya, aku nggak bisa milih! Huaaaa."
Mata Lili melotot melihat ponselnya Yalya dan sederet kontak yang foto profilnya pada super tampan. "Gemes-gemes banget ini adek-adek. Kamu ada sepuluh, Ya? Serius?"
Kepala Yalya mengangguk-angguk lesu. "Setiap hari aku meleleh Kak, sama mereka. Ada yang Kakak kelas, setiap hari suka selamat pagi, dek, sambil senyum malaikat gitu T_T, terus yang satu kelas tiap hari gimbaling mulu. Kesel sih, tapi seneng juga dalam hati. Aku harus gimana, Kayak?"
"Nikmatin aja dong, rame banget kayaknya."
Wajah Yalya langsung datar. "Rame darimananya? Ini masalah hati, Kak! Huaaaa!"
"Dasar bocah," komentar Rasha pedas, seraya mengambil buah stroberi dari meja. Mengunyahnya dengan wajah datar. "Itu tuh cuma cinta monyet, tau nggak? Nanti waktu kuliahan, nggak ada sama sekali efeknya."
"Ih, Kak Rasha nggak bisa apa dukung aku?" Yalya bertanya kecewa. "Lagi dilema nih, masa harus pilih antara si romantis dan si humoris? Nggak bisa, akitu diginiin, nggak bisa, huaaaa."
Rasanya, sepanjang malam, Lili akan terus mendengarkan curhatan Yalya. Sementara Rasha hanya diam mendengarkan. Sampai akhirnya Yalya mengambil topik baru.
"Kak, kok bisa dapet yang bening gitu?" tanya Yalya semangat.
Kening Lili mengerut. "Bening gitu, apa maksudnya?"
"Itu, Kak Theo," jawab Yalya seraya menaik-naikkan alisnya dengan senyum penuh arti.
__ADS_1
"Oh." Lili paham, karenanya wajahnya langsung jutek. "Bening sih bening, tapi mulut kayak beling. Tajem banget."
"Ya, terus apa? Itu pesonanya, Kak!" Yalya ingin sekali berkat kasar, namun menahannya kala sadar bahwa Lili ini lebih tua darinya. "Justru cowok dingin-dingin gitu, aslinya super perhatian, Kak!"
"Perhatian dari mananya?" Lili tertawa hambar. "Yang ada aku dibabuin sampai ****** sama dia! Dia itu King Bullying tau di sekolahnya!"
"Hah, King Bullying? Lo dibully, Li?" tanya Rasha, indra keadilan dalam dirinya langsung terpancing. "Biar gue pites anaknya."
Lili menahan kepalanya Rasha. "Jangan, Kak. Begitu-begitu dia aset berharga aku."
Wajah Rasha langsung kebingungan. Begitupula dengan Yalya.
"Dia itu objek riset buat novel aku yang semoga aja bisa terbit tahun ini," jelas Lili, membuat wajah Rasha maupun Yalya sama-sama menatapnya paham.
Dua perempuan itu sudah sangat hafal pada cita-cita Lili. Pada bagaimana perjuangannya dan tekadnya untuk menjadi seorang penulis yang memiliki buku cetaknya.
"Kalau ada yang gangguin bilang, Li, biar gue sikat," tambah Rasha dengan senyuman lebar yang tampak bisa diandalkan.
***
Lili tak paham mengapa Theo kelihatan lebih-lebih pendiam dari biasanya sejak datang ke rumah dan mereka ke sekolah bersama-sama.
"Lo marah gara-gara kemarin gue tahan?"
"Lo diapain sama ayah gue?"
"Lo kesel karena dijailin sama Luhan, ya? Soalnya kemarin itu anak ngaku, dia coret-coret sepatu lo pake spidol waktu lo ngobrol sama ayah."
__ADS_1
"Oke, gue minta maaf deh kalau ada yang salah kemarin, gue nggak sadar."
"Yo, lo kenapa sih?"
"Yo, kalau gue ada salah, please, kita peace aja, oke?"
"Yo, hei!"
"Oke, gue nyerah. Oke, oke. Terserah lo deh, Yo. Toh, urusan gue udah selesai juga tentang riset kehidupan lo. Tinggal gue feedback lo nanti."
Namun, semua perkataan Lili tak ada yang dijawabnya sampai mereka terpisah karena Lili duduk di kursinya dan Theo pergi keluar kelas entah ke mana.
"Selamat ultah, ya!" seru Gema seraya memberi sebuah balpen pada Lili. "Maaf gue lupa. Waktu gue liat akun fesbuk dan ada pemberitahuan kalau lo ulang tahun kemarin, gue bener-bener, Li. Sorry."
Lili tersenyum penuh haru. "Ya, nggak apa-apa. Gue aja lupa kemarin lagi ultah, sampai keluarga ikut rayakan dan kasih surprise."
"Banyak kado, dong?"
"Nggaklah. Cuma keluarga sahabat ayah sama ibu aja yang diundang. Plus Theo sama Titi dan mereka nggak ngasih kado," balas Lili dengan tawa kecil. Dia melihat balpen dengan lolipop di atasnya dari Gema. "Thanks ya, Gem. Ini lucu banget."
"Yoi."
"Oke, anak-anak, masuk semuanya sekarang! Kita mulai pelajarannya!"
Baru saja Lili memasuki balpen dari Gema ke dalam kotak balpennya, Pak Toto tahu-tahu sudah masuk dengan semangatnya yang sama sekali tidak menular.
"Buset itu Pak Toto rajin amat, beuh!"
__ADS_1
***