Dari Korea

Dari Korea
Dari Korea 2 60


__ADS_3

Juna tak berani menatap ayahnya waktu makan malam bersama saat ini. Seperti biasa, hanya ada dentingan sendok dan suara kunyahan yang samar yang terdengar di meja besar nan mewah milik keluarga Kim.


Sudah dua hari sejak pemakaman Kim Yongjun, kakak ayahnya, dilangsungkan di tempat asalnya, Korea. Namun, Kim Sungjun belum mengatakan apa-apa pada Juna atau menyuruh kawanan Bang Jefri untuk menuntaskan masalah.


Masih ada Yohan di luar sana.


Keluarga Juna juga sebenarnya telah melayat dan turut berduka cita, namun mereka tak melakukan apa-apa pada Yohan. Juna sangat bingung.


Juna tak bisa memaafkan orang yang telah mengelabui saudaranya sendiri hanya untuk segunung uang. Orang tersebut tentu harus membayarnya. Bukan mati begitu saja.


Waktu terjadi saat di mana ayah Juna mengejar pembuktian perkataan pada kakaknya, tiba-tiba Kim Yongjun dikabarkan memesan tiket pesawat untuk kabur. Ayah Juna yang mendengar itu lantas tak bisa diam saja, ia segera menyusul dan menangkap Yongjun di pemeriksaan bagasi.


Kim Sungjun ingin marah habis-habisan, pada saudaranya yang berani menipu dirinya sendiri. Tak lupa, ada beberapa rekan kerjanya yang turut mengikuti Kim Sungjun. Termasuk Juna. Dia juga menyaksikan bagaimana bebalnya pamannya.


Namun, rupanya Kim Yongjun sangat terkejut atas kedatangannya. Dia berjalan terseok-seok untuk mengindari Kim Sungjun, sampai akhirnya terkulai lemas ke lantai.


Sangat mengejutkan hal berikutnya terjadi.


Kim Yongjun meninggal karena serangan jantungnya.


Dengan begitu, masalah ayah Juna dan kakaknya itu belum selesai ataupun belum dimulai sama sekali. Kematian Yongjun jelas menjadi guncangan bagi Sungjun hingga dia tak bisa berpikir jernih ke depannya.


Jika mengambil kembali hartanya pada istri Kim Yongjun, rasanya sangat tidak mungkin karena istrinya itu tak punya kaitan apapun dengan Kim Yongjun. Begitupula dengan ayahnya. Kim Sungjun pikir, jika ia mengangkat kembali masalahnya saat berada di rumah duka, akan sangat sensitif dan tidak manusiawi.


Kim Sungjun pernah berada dalam satu rumah di mana dia dan Kim Yongjun berbagi tawa, berbagi cerita dan bahkan berbagi duka. Entah itu saat Kim Sungjun berhasil mengajak cewek yang dia taksir untuk jalan-jalan waktu natal dan Kim Yongjun mengikutinya diam-diam untuk mencegah Kim Sungjun berbuat yang tidak-tidak pada ceweknya.


Ayah Kim bersaudara itu jelas menentang hubungan tubuh sebelum menikah. Mereka anak Presdir dari sebuah perusahaan makanan yang terkenal. Harus ada etika untuk kehidupannya.


Dan Kim Yongjun ada untuk menjaga adiknya, Kim Sungjun. Sebaliknya, Kim Sungjun juga ada untuk menjaganya kakaknya, Kim Yongjun.


Seperti saat Kim Yongjun kesulitan memahami aljabar untuk tes masuk perguruan tingginya dan Kim Sungjun rela mati-matian menahan kantuk untuk membuat Kim Yongjun paham atas materi yang belum ia kuasai sepenuhnya meski sudah bimbel atau ikut kelas biasa.


Layaknya saudara, mereka juga pernah bermusuhan.


Dari kecil, Kim Sungjun tak pernah suka pedas. Namun, beda dengan dirinya, saudaranya itu sangat suka dengan makanan pedas. Bahkan sangat gila pedasnya hingga membuat Sungjun pernah berpikir Yongjun itu anak setan.


Bagaimana bisa satu anak sepuluh habiskan dua mangkok teopokki super pedas dalam waktu lima belas menit?


Yongjun memang gila pedas, namun Sungjun tak pernah mengira bahwa Yongjun benar-benar anak setan yang menyisipkan tiga sendok wasabi digundukan nasinya. Awalnya Sungjun kira itu kue beras varian terbaru rasa teh hijau, namun kala ia menyuapkannya, Sungjun pingsan.


Sungjun dirawat di rumah sakit karenanya dan Yongjun sangat menyesali perbuatannya hingga mengaku saat Sungjun setengah sadar. Berkat pengakuannya, Sungjun langsung sadar dan mengetok kepala Yongjun keras-keras.


Yongjun tak terima dipukul begitu dan mereka berdua akhirnya tak saling menyapa hingga satu bulan.


Sementara kasus Yongjun dimulai ketika mereka masih sangat kecil. Belum sekolah dan hanya bermain di rumah. Yongjun suka sekali Transformers, beda dengan Sungjun yang lebih menyukai Hulk.


Yongjun dibelikan Transformers dan malah keasyikan untuk menyerang Sungjun dengan mainannya tersebut. Sungjun yang tak begitu suka diganggu begitu justru membalas dengan lebih berutal.


Hingga Yongjun memar-memar dan karenanya mereka tak saling menyapa selama satu minggu penuh.


Mereka seperti saudara pada umumnya. Pernah bertengkar, pernah juga saling mendukung.


Itu yang terjadi sekarang.


Sungjun harusnya hanya tak menyapa Yongjun tiga hari saja. Namun, kini ia harus melakukan selamanya. Sungjun tak menangis, namun hatinya sangat remuk dan kesedihan menyesakinya.


"Ayah," tegur Juna akhirnya, memberanikan diri.


Ayah yang agak melamunkan kenangannya bersama sang kakak harus terpaksa sadar kembali untuk menatap wajah anaknya. "Kenapa, Juna?"


"Dua hari."


"Hah?"


"Ayah nggak bicara udah selama hari. Ayah sampai kapan mau begini? Aku dan yang lainnya menunggu perintah ayah. Meski Paman Yongjun sudah meninggal, masih ada Yohan di sana. Mereka bisa saja punya rencana lain untuk menyerang kita. Atau Yohan punya dendam karena kematian ayahnya."

__ADS_1


Sungjun tertawa atas pemikiran anaknya yang sudah kelewat berorientasi pada masa depan. "Pikiran kamu itu bagus, tapi kamu harus ingat. Yongjun itu masih kakak ayah. Selamanya akan begitu. Meski kami berselisih, kami akan berdamai juga akhirnya."


Juna memejamkan matanya, tak menyangka ayahnya akan sesantai ini.


Sungjun meneguk air dalam gelasnya untuk kemudian menipiskan bibirnya. "Sayangnya, sekarang kita harus berdamai selamanya."


Mata Juna membulat terkejut. "Ayah nggak akan melakukan apa-apa lagi?"


"Buat apa? Semuanya udah selesai." Sungjun menepuk pundak Juna dengan bangga. "Ayah udah bicara sama Yohan dan Ibunya. Semuanya udah selesai. Kamu nggak perlu khawatir lagi."


"Kok bisa begitu?"


"Kenapa?"


"Ayah, kakak ayah itu udah berkhianat."


"Kamu nggak paham ikatan saudara itu bagaimana. Ayah sudah benar-benar berdamai dengan Yongjun, Yohan dan istrinya, kita hanya perlu melanjutkan kehidupan dengan damai saja." Sungjun tersenyum lebar. "Oke?"


Juna terdiam, masih tak mengerti jalan pikiran ayahnya. Namun, ia tak membantah lagi. Jika ayahnya sudah begini, maka menentangnya adalah pintu masuk neraka.


Melihat anaknya, Sungjun tersenyum bangga. Tak ada orang yang tahu bahwa Yongjun mengambil uangnya tanpa berkoordinasi dengan baik dengan dirinya sendiri adalah untuk mendirikan pusat rehabilitasi anak pecandu narkoba, namun rupanya partner yang dipilih Yongjun berkhianat hingga uang itu ludes tak bersisa.


Yongjun yang mau terlihat kalah, jelas menyembunyikan fakta dan memberikan penjelasan bohong pada Sungjun.


Atas semua itu, Sungjun tertawa pada kakaknya yang masih sekompetitif dulu.


***


"Gue udah bilang ke ayah. Lo bisa bebas mulai hari ini."


Elvan yang diberi berita sebahagia itu langsung tersenyum lebar dan entah kenapa, Juna melihat wajah Elvan jadi bercahaya. Hari ini Elvan dipulangkan dari rumah sakit dan kini sedang diantarkan ke rumahnya dengan mobil pribadi Juna.


Awalnya, Juna bilang akan ada sesuatu yang harus disampaikan dengan memaksa Elvan satu mobil dengannya. Elvan mulanya tak enak, karena bagaimanapun, Juna sekarang tingkatannya adalah bos dari bosnya.


Agak sungkan sebenarnya, namun Elvan menurut tanpa curiga apa-apa. Justru, dia berpikir akan dapat misi lagi untuk kembali menangkap Yohan atau hukuman karena membiarkan Yohan kabur.


Juna sudah menjelaskan tentang Kim Yongjun serta kaitannya dengan ayahnya. Kim Yongjun tak bisa mengembalikan uang Sungjun, namun ayah Juna itu memaafkannya begitu saja dan memilih untuk berdamai selamanya.


Memang, tak semua salah Kim Yongjun, apalagi setelah mendengar bahwa bos dari tempat ayahnya bekerja dulu adalah sudah meninggal beberapa hari yang lalu, Elvan merasa sedih dan kecewa.


Elvan jadi teringat Yohan. Bagaimana kabarnya dia hari ini?


Tak ada yang jahat atau yang baik di dunia ini. Semuanya berjalan seperti takdirnya sendiri-sendiri. Bahagia adalah sesuatu yang terjadi dan pastinya dianggap berbeda waktunya juga momennya, tergantung orangnya.


Maka, Elvan akan berdamai dengan segalanya kali ini.


Lepas dari kewajiban yang menurutnya agak kotor ini membuat batu berat dan besar di punggungnya luruh. Elvan bisa bernapas lega dan menjalani hidupnya dengan normal kembali.


"Makasih atas pengabdian lo," tambah Juna, nadanya masih dingin dan angkuh seperti dulu. Lima tahun berlalu, Juna tak berubah dan hal itu membuat Elvan mengulas senyum di bibirnya, merasa senang.


"Oke, siap, bos. Terimakasih!" Elvan berseru senang. Bahkan sampai hormat dengan senyum lebar di wajahnya yang konyol.


Juna tertawa geli, tak habis pikir ada orang seperti Elvan di dunia ini.


Sebenarnya, keputusan itu dikeluarkan setelah Juna memohon-mohon pada ayahnya untuk melepaskan Elvan sebab urusannya sudah selesai. Buat apa juga Elvan membuang usianya di dunia kotor hanya untuk membuat perusahaan ayah Juna terus berjaya.


Juna tak mau hidup temannya sia-sia.


"Maka, lanjutin hidup yang bener," titah Juna tegas.


"Iya, pastinya. Gue akan hidup bener-bener kali ini. Lima tahun ini, gue banyak dapat pengalaman yang jadi pedoman gue buat menjalankan hari-hari selanjutnya.... Makasih udah jadi temen gue dan bantuin gue," balas Elvan tanpa malu-malu.


Karakternya yang biasanya tertutup dan gampang bercanda membuat sisi tulus serta seriusnya kini terdengar dan terlihat tidak nyata. Juna perlu beberapa saat untuk akhirnya mengangguk.


"Sama-sama."

__ADS_1


"Gimana sama Tiff?" tanya Elvan, tiba-tiba mengangkat topik lain yang jelas-jelas sangat masih sensitif untuk Juna karena setelah mendengar pertanyaannya, wajah tenang dan singin Juna berubah menjadi wajah super terkejut.


Seperti masih sangat mengingatnya, masih sangat mencintai pemilik nama yang sudah lama tak ia temui.


Elvan tersenyum penuh arti melihatnya. "Kalau lo lupa, Ily Masih kontekan tau sama Tiffany. Udah lima tahun lo nggak nanya tentang dia. Udah lupa dan ada yang baru sekarang?"


Juna membuang napas kecil, melihat ke jendela dengan raut wajah sedih yang berusaha ia tutupi dengan rapi. "Dia juga mungkin udah punya yang lebih membahagiakan. Itu hidupnya sih, pilihannya, gue nggak bisa larang-larang lagi."


"Kalau misalnya dia belum ada gandengan gimana?"


Karena tebakan Elvan yang kurang masuk akal, Juna tertawa. "Dia cantik begitu masa nggak ada yang tertarik lima tahun ini?"


"Gue ganteng begini nggak ada gandengan, tuh," balas Elvan dengan tawa super percaya dirinya.


"Ngaco lo." Juna menukas dingin. "Nih, udah nyampe. Buruan turun."


"Judes amat nih pengawal." Elvan menatap halaman rumah neneknya yang begitu dia rindukan. Setiap malam, setiap teringat, Elvan harus menahan diri untuk tak kabur untuk memastikan ibu dan neneknya masih sehat dan bahagia. Sekarang, Elvan sudah sangat tak tahan untuk memeluk dua wanita yang dia sayang.


Namun, begitu teringat Juna masih ada di sebelahnya, Elvan berbalik lagi untuk melihat Juna.


"Apa lagi? Barang-barang lo dianter besok, sekarang pulang aja," balas Juna agak ketus. Sifatnya memang begini ketika sedang peduli pada seseorang. Juna ingin Elvan segera bertemu keluarannya kembali.


"Lo ... nggak mau mampir gitu," kata Elvan memberi saran, lebih tepatnya mengajak.


Juna mengangkat bahu. "Gue sibuk."


"Sebagai tanda penyerahan gue kembali, ayo," ajak Elvan dengan nada memaksa.


"Nggak!"


"Heh, kalau dulu lo pale acara pengambilan gue, sekarang harusnya ada acara penyerahan gue!"


"Nggak!"


"Ayo!"


"Pak, tolongin, dong!" seru Juna kepada supir pribadinya dengan wajah memelas saat Elvan mulai menarik paksa lengannya setelah membuka pintu mobil di sisinya.


"Eh, Tuan--"


"Jangan ikut campur, Pak. Nanti saja bikin pingsan bapak kalau nyentuh Juna," ancam Elvan serius dan itu membuat Pak Supir menciut hingga tak dapat melawan.


"Heh, Bapak mau saya pecat?!" Juna membentak murka.


Pak Supri jadi bimbang. Antara menyelamatkan bosnya agar tidak dipecat hingga harus tersiksa oleh Elvan, atau menyelamatkan dirinya untuk dipecat oleh bosnya.


"Heh, nggak boleh gitu sama orang tua!" Elvan berseru tak kalah murka. Namun, kemudian wajahnya kembali manis saat melihat Pak Supir itu. "Bapak tenang aja nggak usah takut dipecat, nanti Juna saya jinakkin."


Elvan heran mengapa Juna sangat susah diajak. Padahal ia ingin mengucapkan terimakasih dengan layak, dengan setidaknya mengajak Juna sarapan di rumahnya karena ia yakin ibu memasak sesuatu setiap pagi.


Tak seperti apa yang terjadi di rumah Juna. Sarapan anak orang kaya itu tak jauh dari roti dan sereal. Tentu, harusnya Juna merasakan nasi hangat untuk sarapannya.


"Harus gue paksa, ya, lo?" Elvan tersenyum penuh siasat.


"Woi!" Juna melotot.


Sayangnya, tenaga Elvan lebih besar dan membuat Juna terpaksa terseret keluar dari mobilnya dalam satu tarikan. Hal itu membuat Elvan agak tak seimbang dan keduanya jadi terjatuh dengan posisi yang membuat siapapun yang melihatnya akan salah paham.


Mata Juna dan Elvan sama-sama membulat terkejut dan panik. Belum sempat memisahkan diri, satu orang lebih dulu melihatnya. 


Bersamaan dengan jatuhnya mereka hingga membuat tumpukan tubuh tak senonoh, ibu yang membawa satu lidi untuk menyapu halaman pagi ini terlihat, menjadi saksi bagaimana posisi Elvan dan Juna kini tampak. Matanya membulat melihat Elvan untuk pertama kalinya setelah sekian lama.


"ELVAN NGAPAIN KAMU MELENCENG DI DEPAN RUMAH?!"


****

__ADS_1


**oke semuanya, Dari Korea 2 akan tamat di part 65 + epilog


so, enjoy the reading**^^


__ADS_2