Dari Korea

Dari Korea
LSF - 19


__ADS_3

"Jadi, lo mau menyerah?" tanya Lethan saat Luhan curhat tentang pertemuannya dengan Ayah Disa kemarin yang berujung tak baik.


Luhan tertawa hambar. Dia menatap Lethan dengan sorot tak percaya dan tak suka karena dirinya diremehkan seperti barusan. "Nggak lah. Masa gitu aja nyerah. Cemen banget."


"Wah, gue takjub sama tekad lo, Bos." Lethan tak bisa menahan dirinya untuk tak bertepuk tangan.


"Bokapnya mantan TNI gila aja. Gue bayanginya aja ngeri, Han." Lingga turut menimpali dari tempat duduknya. Posisinya yang berada tepat di samping Luhan selalu membuat telinganya mendengar apa yang diceritakan cowok Korea itu pada Lethan. Soalnya suaranya itu emang gede banget gitu, Sari aja selalu terganggu karena dia berada tepat di belakang Luhan. Sementara orang yang duduk di depan Luhan, untuk info saja, orang itu kerap kali keluar tiap kali Luhan masuk kelas.


Ya, terganggu dan nggak nyaman karena Luhan.


"Gue nggak tau harus ngomong apa lagi." Langit mau tak mau ikut menyahut karena jujur saja, cerita Luhan kali ini benar-benar ekstrim. Dia melihat bagai birunya kaki Luhan beberapa saat yang lalu dan Luhan bilang dia tak akan menyerah.


Kalau Langit jadi Luhan, sudah pasti Langit akan mengadu pada ibunya meski lewat telepon karena mereka terpisah jarak dan membawa kasus kekerasan ini pada pihak yang berwenang.


"Ck ck ck ck ck. Kayak nggak kenal Luhan Kim si Ganteng si Pemberani aja lo." Luhan menyahuti perkataan Langit dengan santai. "Udah, gue mau jemput ayang bebeb Disa dulu. Bye!"


Lethan, Langit dan Lingga kontan memutar bola mata masing-masing karena tak habis pikir dengan kelakuan Luhan.


Luhan tak peduli dengan reaksi ketiga teman-temannya itu dan memakai tasnya ketika semua buku-buku serta alat tulisnya dimasukkan kembali dalam tempatnya. Sebelum benar-benar pergi, Luhan menatap ketiga temannya dengan tatapan tajam dan serius.


"Eh, lo pada jangan kayak kemarin lagi, ya." Luhan memperingati. Sebab terakhir kalinya Lingga, Langit dan Lethan meledeknya saat dengan Disa, Disa menatapnya agak aneh dan Luhan tak suka dengan itu. "Awas lo pada. Gue jadiin ikan pepes dah ke bah Dukun."


***


Senyum Luhan otomatis tercipta saat melihat Disa sudah berdiri cantik di sebelah motornya yang terparkir rapi. Segera, Luhan mempercepat langkahnya dan berdiri di hadapan Disa.


Ketika Disa mendongak, Luhan baru sadar ada yang berbeda dari wajah perempuan itu. Kening Luhan kontak mengerut samar. Menatap Disa dengan pandangan tak mengerti.


"Kok murung?" tanya Luhan kemudian.


Disa hanya diam untuk beberapa saat. Perempuan yang terpaut satu tahun ajaran sekolah dengan Luhan itu sibuk menaut-nautkan jari-jari tangannya dengan kepala sedikit menunduk dan tatapan mata yang tak berani membalas tatapan Luhan.


Untuk beberapa saat itu, Luhan hanya menunggu. Memberi jeda untuk Disa memikirkan untuk mengatakan atau melakukan sesuatu.


"Aku merasa bersalah." Disa mengatakannya pada akhirnya. Perlahan, matanya berani menatap lurus-lurus pada mata kecokelatan milik Luhan. "Tapi, bodohnya aku juga senang karena Kakak masih aja deketin aku. Mau senyum ke aku. Dan bahkan ramah banget sama aku."


Atas kata-kata yang terdengar manis bagi Luhan itu, senyum Luhan tercipta lebar.


"Ya, gimana ya." Luhan berkata dengan santai dan renyah, menatap Disa dengan lembut dan lurus-lurus—seolah hanya ada Disa dalam dunianya. "Masa aku nyerah gitu aja? Kamu terlalu berharga buat nggak aku perjuangkan lebih keras lagi, Disa."

__ADS_1


Disa menunduk kecil. Bahagia sekali. "Temen-temen aku dulu juga pada takut ke aku setelah ketemu Ayah aku."


Disa membuang napasnya yang berat, kemudian mendongak untuk menatap Luhan lagi. "Selain pengen ketemu siapa yang suka sama aku, orang yang aku suka, Ayah aku juga pengen liat orang-orang yang jadi temen aku."


Luhan hanya mendengarkan. Dia paham. Bahwa satu-satunya yang harus dia lakukan adalah diam.


"Bukannya aku mau sombong atau apa. Tapi, Kakak tau keluarga aku itu punya ya ... dibilang asetnya lumayan banyak lah ya." Disa menjelaskan dengan suara pelan. Entah malu, entah gugup, entah bagaimanapun itu, Luhan tak bisa memahaminya. "Berkat itu, Ayah juga ingin menyeleksi siapa yang jadi temen aku. Hingga ujungnya, Ayah tolak semuanya dan bikin aku nggak ada temen. Bahkan aku harus pindah sekolah berkali-kali karena Ayah pikir orang-orang di sekolah dulu-dulu aku itu orang-orang nggak baik alias berpengaruh buruk buat aku. Padahal, aku sendiri yang ngeyel dengan terus nakal karena aku kesel ... aku kesel sama Ayah, Kak."


Ketika melihat wajah Disa yang hendak menangis dan sangat bersedih, Luhan mengangkat tangannya. Menaruhnya di atas bahu kanan Disa dan meremasnya, menguatkannya—memberi gadis itu energi dan menegaskan bahwa Luhan akan ada di sampingnya.


Kali ini, Disa menarik napasnya dengan berat. "Kadang, aku pengen Ayah hilang aja."


"Heh, jangan begitu." Mata Luhan langsung membulat. Kedua tangannya langsung dipakai untuk mencengkram kedua bahu Disa dan menatap mata gadis itu dengan segenap rasa. "Nggak baik. Kalau Tuhan bener-bener hilangin Ayah kamu gimana, coba?"


"Ya nggak apa-apa." Disa membalas santai, saking putus asa dan bersedihnya ia dalam menghadapi kenyataan ini. "Aku bisa bahagia. Aku bisa kayak anak-anak yang lainnya. Aku bisa punya banyak temen. Aku juga bisa punya pacar!"


"Tapi ... tetap aja. Apa yang kamu bilang tentang pengen hilangin Ayah kamu itu salah." Luhan memberi pengertian sebisanya, seperti yang dia tahu. Bahwa apapun kekurangannya, keluarga akan selalu menjadi tempat 'pulang' terbaik bagi setiap insan. "Itu nggak baik. Kamu mau dikutuk jadi batu kayak Malin Kundang karena durhaka ke orang tua?"


Disa segera menggeleng cepat.


"Nah, makanya." Luhan mengangguk, menatap Disa dengan lembut seperti mau mengajak anak kecil untuk jangan bermain-main dengan makanan. "Jangan begitu lagi. Oke?"


"Aku juga mau sama Disa aja." Luhan tidak terkejut lagi dengan perkataan Disa. Disa memang tipe yang pemalu, namun dia bisa sangat berani dan lucu jika keadaan telah memaksa.


Disa tersenyum amat lebar. Dia ingin begini saja selamanya. Tak apa. Disa rela. Luhan yang sadar akan hal itu membiarkan dirinya dan Disa saling bertatapan tanpa mengatakan apa-apa.


Cahya sore yang lembut, beberapa anak yang berlalu lalang, pepohonan yang menari karena angin lembut dan ketenangan yang tercipta membuat keduanya larut dalam pikiran masing-masing.


Kadang, tak perlu ada suara untuk mendeskripsikan rasa cinta. Hanya perlu sepi dan waktu, maka itu akan cukup untuk mengisi ruang hampa di hati.


Luhan tersenyum segaris ketika segenap waktu terlalu berlalu. "Sekarang, kita pulang aja. Udah mulai mau malem. Ayah kamu pasti khawatir." Perkataannya membuat wajah Disa sedikit meredup, tetapi Luhan mengabaikannya.


Laki-laki itu berjalan ke arah motornya dan mengambil helm untuk diberikan pada Disa. "Yuk."


"Iya, Kak."


***


Ayah Disa sudah berdiri tegak di depan gerbang rumah besarnya saat Luhan dan Disa sampai di depannya. Luhan sudah menangkap keberadaan Ayah Disa dan jantungnya secara otomatis berpacu luar biasa cepat karenanya. Namun, Luhan menekan dan menguatkan diri bahwa dia bisa berhadapan dengan Ayah Disa sekali lagi.

__ADS_1


Disa juga sebenarnya merasa sangat was-was dan inginnya Luhan langsung kabur saja daripada harus dilihat Ayahnya dengan tajam seperti saat ini. Disa sendiri heran mengapa Ayahnya bisa berada di luar seperti ini. Tak seperti biasanya.


Waktu Disa mengembalikan helm-nya pada Luhan, perempuan itu baru sadar bahwa langit sudah menggelap. Matanya membulat. Disa sadar sesuatu. Ayahnya tak mungkin berada di luar, menunggunya, jika bukan karena Disa tak pulang tepat waktu.


Disa ingin sekali menyuruh Luhan langsung berbalik pergi karena tak mau hal buruk terjadi, saat Luhan kini telah turun dari motornya dan menghadapi Ayahnya. Dengan pasrah, Disa mengikuti langkah Luhan.


Luhan tersenyum lebar pada Ayah Disa. Laki-laki itu membungkuk sedikit sebelum bicara. "Sore, Om. Sa—"


Plak! Ayah Disa langsung menampar pipi Luhan, membuat kepala Luhan langsung berpaling ke satu sisi. Rasanya sangat sakit seperti dipikul raket badminton.


Mata Disa membulat. Dengan perasaan campur aduk, ia berjalan cepat hendak mendekati Luhan, namun Ayahnya dengan gerakan cepat menarik tangannya untuk disembunyikan di belakang tubuh tegap dan lebarnya.


"Dasar anak tak tahu malu! Udah saya bilang kemarin. Kamu itu tidak layak bersama Disa." Ayah Disa meledak pada Luhan. Matanya menyorot dan suka dan penuh rasa marah. "Hari ini kamu membantah perkataan saya dan bawa Disa sampai larut begini?!"


"Ayah!" Disa mencoba untuk memberontak di belakang sana. Mencoba untuk melepas cekalan Ayah dari tangannya, tetapi hasilnya nihil. Disa mulai menangis. "Disa yang mau! Disa yang tahan Kak Luhan biar pulangnya tekat karena Disa marah sama Ayah!"


Kening Ayah Disa mengerut, tetapi laki-laki itu tak membalas Disa. Tenggorokannya tercekat dan lidahnya terasa kelu.


"Disa pengen Ayah hilang aja!" seru Disa, akhirnya meluapkan apa-apa yang selama ini dipendamnya. "Disa pengen bahagia dengan punya banyak teman, mau baik atau buruk pengaruhnya buat Disa, Disa nggak peduli karena Disa yang memilihnya. Disa pengen kehidupannya yang baru, bukan kehidupan yang segalanya diatur sesuka Ayah."


Ayah Disa sangat terkejut. Namun, amarahnya lebih besar dari rasa itu hingga akhirnya Ayah Disa membuang napas lelah dan berbalik untuk menghadap Disa empat mata.


Disa meneguk ludahnya. Tak berani menatap ayahnya meski barusan sudah merealisasikan kemarahan dan kekesalannya dengan berani tanpa berpikir panjang.


"Kayaknya kamu capek, Disa." Ayah berkata lembut dan tanpa bisa Disa memberontak lagi, Ayahnya membukakan gerbang dan berniat untuk membuat Disa masuk ke dalamnya. "Kamu harus masuk sekarang."


"Nggak!" Disa menahan dirinya untuk tetap di tempatnya. Disa memberanikan diri lagi. Disa menatap Luhan yang kini sebagian wajahnya memerah, mungkin besok akan biru atau lebih parah. Matanya berkaca-kaca, tak kuasa menahan pedih. "Sebelum Ayah minta maaf karena tampar Kak Luhan."


"Disa, aku nggak apa-apa." Luhan tersenyum lembut. Sangat tulus. Tatapannya selembut sutra dan air mata Disa semakin meleleh karenanya. "Ayah kamu nggak—"


"Nggak, Kak! Ayah salah! Salah banget!" potong Disa berapi-api.


"Sudah berani melawan kamu, Disa? Sepertinya kamu harus pindah sekolah lagi." Kening Ayah mengernyit tajam. Tanpa menahan Disa lebih lama di luar, Ayah mendorong tubuh Disa untuk masuk. "Ayo, masuk."


Dan menutup gerbang dengan kuat-kuat.


"Ayah! AAAAAAA!" seru Disa tak terima. Selanjutnya, anak itu menangis hebat. Terdengar memilukan di telinga siapapun yang mendengarnya.


Setelah selesai dengan Disa, Ayah Disa berlatih pada Luhan. Masih dengan tatapan tajam penuh amarahnya ia menatap Luhan. "Dan kamu, kalau sampai kamu muncul lagi, saya dor kepala kamu."

__ADS_1


***


__ADS_2