Dari Korea

Dari Korea
Dari Korea 2 25


__ADS_3

Jika saja hujan tidak datang tiba-tiba seperti doi yang selalu bertingkah tiba-tiba, Ily pasti sudah berada di rumah saat ini.


Terpaksa, karena hujannya lebat dan Ily tak membawa payung, dirinya harus terjebak di cafe Hujan, tempat di mana Eza menyalurkan bakatnya sebagai gitaris dan penulis lagu.


Kenapa Ily bisa ada di sini? Karena dia selesai menceritakan apa yang Elvan ceritakan kemarin malam pada Eza. Maunya, Ily bercerita lewat ponsel sana, namun Eza tak punya banyak waktu luang karena mulai menjadi pengisi musik di sejumlah tempat nongkrong yang sengaja dia isi sekaligus dalam satu hari.


Jadi, tiap lima jam sekali, Eza ganti tempat untuk menyumbangkan melodi serta suara merdunya. Ily inginnya memaki Eza dan meledeknya atau menasehatinya untuk jangan terlalu lelah bekerja.


Namun, Ily takut nantinya perkataannya itu memacu mundurnya asa tinggi yang dipunya Eza. Biarlah semangatnya kini membara, mungkin nanti di masa depan Eza akan mendapat balasan setimpal.


Reaksi Eza saat mendengar ceritanya tak begitu memuaskan. Laki-laki itu hanya manggut-manggut dan berkata ingin memukul Elvan jika ketemu karena masih juga menyimpan dendam atas keputusan temannya yang sepihak itu.


Ily membalasnya dengan sewot. Memaki kalau Eza itu tak punya perasaan dan empati. Rasanya ingin menjambak rambutnya jika tak ingat ia berada di tempat umum yang lumayan berakibat jual dia berulah.


Jendela besar yang ada di pinggirnya menjadi satu-satunya objek penglihatan Ily sekarang. Dia sudah bosen lihat Eza main gitar dan melihatnya hanya akan membuat bibirnya makin melengkung ke bawah.


Rintik-rintik hujan yang menghiasi kaca jendela membuat Ily tersenyum tipis, karena setidaknya itu lebih Indah dari--


"Ily, yo, what's up?"


Kekaguman Ily pada rintik hujan yang menghiasi jendela harus terhenti sebab ada sebuah suara yang menyelinap di telinganya. Semula, Ily ingin tetap menatap jendela dan menganggap panggilan itu hanya delusi yang tiba-tiba tercipta.


Namun, hatinya justru menolak. Kepalanya langsung tertoleh dan senyumnya lekas berkembang saat melihat Tiffany duduk di depannya. Perempuan itu memakai sweater peach dengan jeans yang cocok dengan warna kulitnya yang kuning langsat. Rambutnya hanya dicepol biasa dan jelas, itu artinya Tiffany datang ke sini untuk bersantai.


Tak lama kemudian, Tiffany mengeluarkan tas kotak berisi MacBook hitam dan membukanya ketika mulutnya berkata. "Jawab, Ly. Gue nyapa."


Ily dan Tiffany baru bertemu tiga hari setelah kelulusan. Tiga hari itu pula mereka tak saling bertukar pesan seperti biasanya. Mereka memang jadi dekat, tapi tak sedekat itu untuk selalu bertukar kabar atau curhat panjang sampai larut malam.


Bagi Ily, punya teman lagi mungkin hanya akan menambah kesedihannya jika mereka akan bersiap suatu hari nanti. Jika bisa, ia akan menolak untuk tetap duduk di sini saat ini.


Namun, lagi-lagi hujan menginterupsi segalanya.


"Oh," balas Ily segera tersadar. "Yo, Tiff. Gue baik-baik aja. Lo gimana?"


Tiffany mendesah berat. "Nggak baik-baik aja, Ly." Mata Tiffany melotot dramatis dan tangannya bergerak-gerak ke atas seperti ingin mencakar sesuatu. "Gue ditekan supaya bisa masuk kedokteran UNPAD, Ly. Tiap hari ini soal, tiap hari dimarahin, tiap hari diawasin, hadeuuuh, nggak ada waktunya buat nonton Lee Min Ho dan kawan-kawannya. Sedih, Ly. Tiap hari harus ke sini, soalnya nyaman banget. Deket rumah lagi."


"Namanya juga tabungan masa depan, Tiff. Harus semangat. Harus rela berkorban."


Tiffany menatap Ily seolah yang dikatakan Ily sama dengan menyuruhnya untuk semangat dan rela berkorban untuk Perang Dunia ke-III. Tiffany dengan jelas menolak gagasan Ily karena sebenarnya, passion Tiffany bukan di bidang kedokteran. Yah, meski dia jurusan IPA, Tiffany lebih tertarik mendalami Hubungan Internasional.


Namun, bagaimana lagi, kedua orang tuanya pasti sudah mencoret Tiffany dari Kartu Keluarga seandainya dia nekad untuk pindah alias lintas jurusan.


"Ya kali, Ly," tukas Tiffany meremehkan. "Gue sama sekali nggak tertarik obat-obatan. Apalagi bedah-bedahan. Males banget."


"Tapi lo jago obatin orang," balas Ily tak mau kalah.

__ADS_1


"Yah, itu beda cerita." Tiffany mengeluarkan kaca mata dari tempatnya, mulai berselancar di sebuah aplikasi yang isinya beribu soal yang berhubungan dengan kedokteran dan tes masuk UNPAD.


"Sama aja dong, Tiff. Beda cerita dari mana." Ily mengerutkan keningnya.


"Ya, gue obatin yang ringan-ringan aja. Kayak kegores, kejedot," balas Tiffany agak malas, sebab nyatanya Ily lebih lemot daripada yang dia kira. "Nggak sampai harus rebek sana robek sini perut orang paket pinset, pisau bedah, jarum anestesi dan kawanannya. Males lah gue."


"Ye, dipahami dulu, PDKT dulu dong istilahnya. Baru bilang kagak suka."


"Ye... emangnya perasaan dalam konteks romantis," decak Tiffany geli.


"Coba dulu napa. Emang baru berapa lama lo mendalami ilmu kedokteran?" tanya Ily penasaran.


Mata Tiffany melirik ke atas, tampak berpikir untuk menghitung hari sejak dia diperintahkan untuk masuk jurusan kedokteran. "Baru seminggu, sih."


"Nah, itu tuh," tukas Ily seraya menjentikkan jarinya. "Harusnya sebulan lo mendalami, baru bisa bilang gitu. Gimana sih."


Tiffany menipiskan bibirnya, kemudian memandang Ily dengan mata menyipit. "Lo sendiri mau ke mana?"


"UI."


"Akuntansi?" Tiffany memakai kaca matanya dan membuatnya terkesan rajin serta pintar. Jika biasanya Tiffany terlihat ceria dan elegan, kini tampak stress dan agak tertekan.


Ily merasa kasihan, namun apapun itu, Tiffany tetap melakukan hal yang benar. Seperti sebuah pepatah yang mengatakan, berakit-rakit dahulu berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.


"Itu pilihan ortu?"


Ily menggeleng, membuat Tiffany langsung melotot tak percaya. "Bukan. Pilihan gue."


"Lah, anju, enak." Tiffany langsung berkata seperti itu.


"Justru gue bingung." Ily menyandarkan tubuhnya seraya mengela napas panjang. Terlihat agak putus asa dan tak semangat. "Orang tua gue nggak tekenin gue jadi apa-apa, jadi gue juga bingung harus jadi apa. Sementara gue nggak mau jadi apa-apa. Maksud gue, sekarang ini gue cukup gini aja gitu. Gue yang kayak gini udah bahagia dan ortu nggak apa-apa dengan gue yang kayak gini."


"Lah, sue, aneh." Tiffany menyeruput  ice americano-nya yang baru saja datang setelah sebelumnya ia pesan tadi sejak pertama masuk. Pahit dan manis yang menyenangkan segera menyapa tenggorokannya dan membuatnya lebih mood. "Justru gue akan seneng banget jadi lo. Bebas menentukan pilihan dan senang banget saat menjalaninya."


"Tiap orang beda-beda, Tiff," balas Ily tak suka.


"Iya, iya."


"Sekarang gue juga bingung. Tapi untungnya ada sedikit keinginan untuk masuk Sastra Inggris." Ily menambahkan ceritanya.


"Oh iya, kenapa deh mau masuk ke sana?" tanya Tiffany heran. "Kalau mau mending pendidikannya aja. Lebih terjamin aja sih menurut gue."


"Temen gue gitu." Ily tersenyum tipis. Mengingatnya justru membuat hatinya terasa sakit.


"Nggak ada pendirian banget lo." Tiffany memakinya tanpa filter. "Ikut-ikutan orang."

__ADS_1


"Iya, aduuh. Gue juga sedih untuk diri gue sendiri." Ily cemberut. Memalingkan wajahnya ke jendela, seperti hendak menangis karena matanya sedikit berkata-kata.


"Eh, maksud gue bukan gitu, Ly." Tiffany jadi salah tingkah, merasa tak enak dan bersalah. "Gue nggak bilang keputisan lo itu jelek, lho, Ly. Jalan hidup lo yang sekarang udah benar."


"Iya, nggak apa-apa, gue paham, kok."


Ketika Tiffany hendak berkata lagi, Eza lebih dulu datang dan membuat perhatian Ily teralih.


"Ly, ayo pulang," ajak Eza langsung.


Ily menoleh cepat pada jendela, langsung tersenyum saat rintik hujan besar yang sebelumnya turun kini perlahan mengecil dan hanya menyisakan rintik hujan kecil yang indah.


"Eh, ujannya udah agak berhenti," kata Ily yang terdengar sesenang itu.


"Gue telpon pawang hujan barusan soalnya," balas Eza bercanda.


"Haha. Galucu." Ily mengejek Eza, kemudian beralih pada Tiffany dengan senyum kecil. "Tiff, duluan, ya."


"Yoi. Bye." Tiffany mengangguk. "Hati-hati."


Ily dan Eza akhirnya berjalan keluar cafe Hujan. Rintik hujan kecil tak membuat keduanya basah saat menyeberang untuk memberhentikan sebuah taksi.


Di dalam taksi, Eza menoleh pada Ily. "Langsung pulang, Ly?"


"Iyalah, ngapain lagi," balas Ily Tampa membalas tatapan Eza. Tangannya sibuk mengetik di ponselnya, saling bertukar pesan dengan seseorang.


Eza hanya mendengus melihatnya. Rasanya hidup makin sepi karena Elvan sudah pindah dan Ily akan sibuk kuliah ke depannya. Eza harus siap bertahan sendiri. Sebab tak ada teman yang benar-benar membuatnya menjadi diri sendiri saat bersama.


Eza punya beberapa teman, namun tak bisa merasa sesenang saat dengan Elvan atau Ily.


"Chat-an sama siapa deh?" tanya Eza, gatal untuk tak bertanya.


"Raihan," balas Ily cepat.


Eza berdecak. "Yohan gimana?"


Pertanyaan itu membuat tangan Ily berhenti mengetik dan perlahan menatap Eza dengan mata menyipit. "Dia hubungi lo?"


Eza menggeleng dengan wajah bingung. "Ngapain juga dia hubungi gue? Yang ada gue yang tanya gitu ke lo."


"Yohan telepon gue satu kali hanya untuk memutus hubungan. Dia nggak mau dihubungi lagi selama lima tahun. Gue juga nggak tau harus gimana, tapi rasanya gue harus coba buat lupain dia."


Eza terkejut. Dia tak pernah mendengar lagi kabar Yohan sejak tiga Minggu yang lalu. Kemudian, kini kabarnya dia akan menghilang saja dari kehidupan Ily, mungkin juga dirinya.


Eza mengela napas panjang seraya menyandarkan tubuhnya yang lelah. Semakin hari, semakin banyak yang pergi. Eza makin merasa kosong, merasa hilang asa.

__ADS_1


__ADS_2