
Lisin menjadi pusat perhatian.
Semua orang baik itu pemegang saham, karyawan dan tamu undangan melihat kearah Lisin yang baru saja datang.
Perkataan Lisin jelas membuat semua orang bertanya-tanya tentang siapa pihak lain dan mengapa mengatakan sedemikian rupa.
Apakah dia dan Ningsih saling mengenal? jika mengenal lalu apa hubungan diantara keduanya.
Melihat dari penampilannya jelas pihak lain bukan orang biasa terutama jam tangan yang ada pada lengan kirinya, juga stelan tersebut jelas tidak murah.
Kembali pada wajah tampan dan gaya rambutnya yang tersisir, jelas sangat sempurna seolah di pahat tanpa kekurangan sedikitpun.
Semua laki-laki yang ada di dalam aula hanya bisa rendah hati di depan pihak lain. Apalagi wanita, mereka semua merasa sangat panas, jika demi laki-laki seperti ini mereka rela untuk melakukan apapun.
Diantara semua orang yang kagum hanya satu orang yang melihat kedatangan Lisin dengan kesal, dia adalah Nengah.
Saat Nengah mendengar perkataan pihak lain dirinya sangat marah, dan setelah melihat pihak lain sangat tampan hingga tidak dapat di bandingkan dengan dirinya sendiri. Nengah menjadi kesal dan frustasi, mengapa Tuhan membuat mahluk sempurna seperti dia.
Sungguh tidak adil...
"Siapa kamu?..." Nengah bertanya, dan pertanyaan tersebut menyadarkan setiap orang dari lamunan.
"Siapa aku?..." Lisin tidak menjawab melainkan melangkah secara perlahan.
Lisin melihat Nengah dengan dingin, dirinya mulai memahami siapa pihak lain.
Lisin mengingat sahabatnya Mimin yang mengatakan jika dirinya di pecat setelah menyinggung Nengah.
Kemudian tentang masalah bunga, sangat jelas jika Nengah mengejar Ningsih yang sudah menjadi miliknya.
Apakah Lisin bisa mentoleransi hal tersebut, hanya dengan membuat sahabatnya keluar dari pekerjaannya membuat Lisin kesal, apalagi mendekati Ningsih bukanlah itu sama dengan tidak menganggap dirinya dengan serius.
"Bukannya kamu tadi bilang jika Ningsih berbohong... bagaimana jika Ningsih tidak berbohong?" Lisin berdiri tepat di depan Nengah dan mengambil pusat perhatian.
Nengah terdiam...
"Itu karena Dia milikku..." Suasana menjadi hening, Bahkan hembusan nafas dan detak jantung dapat di dengar.
Siapa Ningsih? dia adalah presiden PT. Angkasa, dan siapa pemuda yang mengaku jika Ningsih adalah miliknya. Apakah pemuda itu orang besar? dan apakah bisa sebanding dengan Ningsih?
"Karena bunga ini sudah terbuang maka aku akan mengambilnya..." Lisin mengambil setangkai bunga mawar yang tersusun pada rangkaian bunga yang ada di tempat sampah.
Jelas bunga tersebut milik Nengah yang di letakan di tempat sampah, Agar dirinya tidak malu di depan semua orang.
Tindakan Lisin di lihat oleh semua orang, dan Lisin tidak memperdulikan hal tersebut, saat ini Lisin menghampiri Ningsih dengan setangkai bunga mawar di tangannya, berniat memberikannya kepada Ningsih.
"Bunga ini aku pungut dari tempat sampah, namun aku tulus memberikan bunga ini untukmu, bunga ini tidak bersalah walau di letakan di tempat sampah, bunga ini tidak di hargai oleh apapun walau layu di makanan waktu, jangan salahkan bunga yang tidak bersalah ini namun salahkan aku, karena aku tidak pernah ada untukmu" Lisin memberikan setangkai bunga mawar kepada Ningsih.
__ADS_1
Diam... Semua orang terdiam, untuk beberapa orang yang sangat menyukai sastra hanya bisa menganggu dan merasa senang karena bisa mendengar lahirnya sebuah puisi yang cukup menyentuh.
Hanya jomblo yang tidak akan tersentuh.
Terutama untuk seorang istri yang merindukan kasih sayang dari suami mereka, karena dalam sebuah rumah tangga yang cukup lama, akan ada perubahan yang cukup signifikan dari pada awal pernikahan.
Beberapa orang yang datang dengan pasangan mereka saling menatap dengan sangat bahagia. Namun tidak untuk jomblo karena datang sendirian.
Untuk seorang istri, mereka hanya diam di rumah saja seperti memasak, mengurus anak dan bersih-bersih, tanpa mendapatkan lagi kasih sayang dari suami mereka seperti dulu, karena kesibukan pekerjaan dan memudarnya kasih sayang seiring berjalannya waktu.
Jelas seorang istri menginginkan lagi momen kebahagiaan dengan suami mereka seperti saat-saat mereka pertama kali bertemu, dan kini setelah berumah tangga kasih sayang dari suami mereka berkurang.
Untuk seorang suami hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri karena terlalu sibuk dalam pekerjaan tanpa memikirkan lagi untuk memberikan kasih sayang dan keinginan istri mereka. karena menghabiskan waktunya hanya untuk pekerjaan.
Sekarang melihat lagi kebelakang, di karenakan pekerjaan yang padat mereka tidak bersyukur karena memiliki istri yang sejak lama bersama diri mereka. mendukung pilihan mereka walau hanya sebatas perkataan.
Para suami sangat menyesal kenapa diri mereka berubah, mereka merasa jika dirinya seharusnya menyisihkan waktu mereka untuk memikirkan istri mereka lagi.
Beberapa orang yang memiliki pasangan merasa bersyukur karena mendengarkan sebuah puisi yang begitu berharga. dan membuat mereka tersadar betapa pentingnya seorang istri.
Sedangkan untuk jomblo yang mendengar puisi tersebut hanya bisa menatap dinding karena tidak memiliki pasangan.
Para jomblo bingung, mereka menyesal kepada siapa, ingin memberikan kasih sayang kepada siapa, apa lagi mendapatkan kasih sayang dari siapa.
Sekarang para jomblo tidak punya pasangan sebagai tempat untuk memberikan kasih sayang mereka, dan siapa yang akan memberi mereka kasih sayang sebagai gantinya.
Ku menangis...
Apa lagi puisi tersebut, Ningsih tidak berharap jika Lisin akan membuat sebuah puisi yang menyentuh hingga membuat dirinya tidak bisa berkata-kata.
Ningsih mengingat kembali kenangan masa lalu di mana dia bekerja siang dan malam untuk PT. Angkasa yang menjadi milik Lisin, namun Lisin bersama wanita lain, sebenarnya Ningsih juga menginginkan Lisin seutuhnya.
Siapa wanita yang tidak ingin bersama dengan orang yang dirinya cintai, menghabiskan waktu bersama, setiap hari bersama.
Ningsih tidak akan mengekang sebuah hubungan.
Ningsih sekarang sangat senang, jika malam ini bukan acara akbar dirinya akan memeluk Lisin sambil menangis bahagia.
"Kamu... siapa kamu berani sekali merusak acara besar..." Ayahnya Nengah sangat marah, anaknya berupaya semaksimal mungkin untuk mendapatkan Ningsih, namun orang yang tidak di kenal merusak segalanya.
Jika dirinya tidak marah, maka orang lain mengatakan dirinya buta, siapa yang tidak ingin anaknya bahagia terutama bisa memiliki keindahan seperti Ningsih.
"Ehm..." Ningsih batuk sambil mengatur suaranya.
"Baiklah, akan aku perkenalkan kepada kalian semua... dia adalah Lisin, Pemilik PT. Angkasa itu berarti pemilik dari PT. Island Concepts Indonesia Tbk"
Sulit di percaya namun, beberapa orang lebih memilih percaya karena itu perkataan Ningsih.
Beberapa pemegang saham langsung bersaing untuk menyapa dan menyanjung Lisin, dan membuat Lisin kewalahan.
__ADS_1
"Sangat muda dan sukses..."
"Keduanya pasangan dari surga..."
"Puisi yang bagus..."
"Benar, Puisi sebelumnya membuka pandanganku terhadap istriku..."
Melihat semua orang yang menyanjung Lisin, bagaimana Nengah dan Ayahnya bisa tinggal diam.
"Bohong... ini pasti setingan..." Nengah berkata dengan lantang.
Bagaimana dirinya bisa diam saja melihat pujaan hatinya, yaitu Ningsih di miliki oleh orang lain.
Nengah setiap malam berfantasi tentang Ningsih, baik di atas, di bawah, dari depan, dari belakang ataupun berputar.
Sekarang fantasinya di hancurkan oleh orang yang tidak di kenalnya, apakah pihak lain tidak tau jika selama ini Nengah menghabiskan begitu banyak sabun sambil berfantasi.
Sudah menghabiskan banyak uang untuk membeli sabun, namun berakhir dengan kegagalan. bagaimana Nengah tidak marah.
"Benar pasti ini sebuah setingan... untuk mempermalukan anakku yang tampan" Ayahnya Nengah lebih marah dari pada Nengah sendiri.
Sebelumnya, Ayahnya nengah sudah berfantasi tentang menjadi orang kaya yang berdiri di puncak dunia bisnis.
Dalam khayalan tersebut dirinya berada tempat tinggi dan sekarang dirinya jatuh, bagaimana Ayahnya Nengah bisa tinggal diam.
Di saat beberapa orang bingung, karena perkataan Ayahnya Nengah ada benarnya. beberapa orang berkata sebaliknya.
"Aku bisa menjaminnya..."
"Aku juga..."
"Aku juga..."
Beberapa orang membenarkan jika Lisin adalah pemilik PT. Angkasa. Orang-orang ini adalah bagian dari keluarga Irawan yang memiliki pengaruh di bidang saham.
Tentu saja dirinya tau tentang Lisin.
Lisin sedikit terkejut dengan kemunculan orang-orang ini namun kembali tenang saat melihat Ningsih yang tersenyum.
Begitu ya... jadi orang-orang ini sengaja Ningsih undang agar datang sebagai tamu berbaur dengan yang lain.
Lisin hanya bisa mengangguk karena di kejutkan lagi oleh pengaturan yang di lakukan Ningsih.
Dengan adanya orang-orang yang memiliki pengaruh di bidang hukum saham, banyak orang semakin percaya jika Lisin benar-benar pemilik PT. Angkasa.
"Baiklah semuanya tolong diam..."
Mendengar perkataan Lisin semua orang terdiam termasuk Nengah dan Ayahnya yang malu.
__ADS_1
"Kalian berdua, sepertinya sudah menyadari siapa diriku..." Lisin berkata dengan dingin sambil melihat kearah Nengah dan juga Ayahnya.
Bersambung...