
Keesokan harinya...
Lisin bangun pagi-pagi tidak ada yang menemaninya, melakukan apapun sendiri, menjalani aktivitas sendiri, apakah ini yang di rasakan oleh kaum jomblo.
Lisin masih ingat dengan jelas kejadian semalam, di mana seorang pembunuh menyelinap ke kamarnya. Sepertinya di masa depan kehidupannya yang damai akan memiliki banyak gangguan.
Karena esok lusa dirinya harus menghadiri tantangan menantu keluarga irawan, Lisin dengan terpaksa harus menghadirinya.
Dengan menggunakan taksi tujuannya langsung ke bandara internasional Soekarno-Hatta mengambil penerbangan dengan tujuan pulau Bali.
.....
Wolf, karena dirinya melakukan penerbangan di malam hari setelah meninggalkan perumahan komplek pondok indah. dirinya telah tiba di bali lebih awal.
Setelah tiba dirinya langsung membuat pertemuan dengan Majikan yang menyewanya untuk membunuh Lisin.
Nengah dan ayahnya sedikit bingung, mengapa pembunuh bayaran Wolf ingin melakukan pertemuan. biasanya pembunuh bayaran akan mengirimkan foto targetnya yang sudah terbunuh sebagai bukti. kemudian sisanya tinggal mentransfer sisa uang yang telah di sepakati.
"Ayah... Apakah kita akan ke sana?..." Nengah bertanya kepada ayahnya.
"Tentu saja, mungkin saja tuan Wolf memiliki kejutan untuk kita, atau dia membawa Lisin laknat hidup-hidup..." Ayahnya Nengah tersenyum dingin.
"Jika tuan Wolf benar-benar menangkap Lisin laknat, kita harus menyiksanya terlebih dahulu..." Nengah tersenyum kejam.
"Benar kita harus menyiksanya..."
"Kalau begitu kita tidak boleh menunda lagi, kemana tempat pertemuan di lakukan?..." Nengah bertanya.
"Tuan Wolf mengatakan, tempat tersebut cukup jauh dari keramaian, juga tidak menyebutkan tepatnya di mana..."
"Hahaha... Tempat seperti itu sangat cocok untuk melakukan pembunuhan, penyiksaan dan lain sebagainya..." Nengah berkata dengan dingin.
"Lisin ini... harus mati secara tragis... setelah itu Aku akan menculik Ningsih lalu memaksanya hahaha..." Nengah menambahkan.
"Putraku, kamu tidak bagi-bagi dengan ayahmu yang baik ini nak?..." Siapa yang tidak ingin melakukannya dengan wanita yang lebih mudah, terutama jenis keindahan yang cukup langkah.
"Ayah, harap tenang dan jangan khawatir, Anakmu ini sangat berbakti kepada orang tua. Setelah anakmu ini melakukannya ayah bisa meminjamnya untuk ayah nikmati..." Nengah berkata dengan yakin.
"Hahaha... bagus... ini baru anak yang berbakti kepada orang tua..." Ayahnya Nengah tersenyum dari telinga ke telinga.
Sungguh pasangan Ayah dan Anak yang solid, di bawah hantaman apapun mereka akan selalu bersama, bahkan kematian keduanya di tentukan untuk bersama.
__ADS_1
Dengan cepat Nengah dan Ayahnya pergi menggunakan mobil pribadi dan tujuannya akan menjadi akhir untuk keduanya.
Sebuah tempat yang cukup jauh dari keramaian, memiliki akses jalan bebatuan dan tidak banyak di kunjungi seseorang.
Nengah dan ayahnya turun dari mobil dengan semangat, dalam perjalanan keduanya memikirkan banyak metode untuk menyiksa Lisin.
Saat keduanya memasuki sebuah rumah yang terbengkalai. sebuah bayangan bergerak dengan cepat lalu memberikan pukulan pada bagian tengkuk belakang keduanya.
"Ahhh..."
"Ayah... Ahhh..."
Nengah terkejut saat sesuatu yang begitu cepat akan membuat Ayahnya terjatuh, selang beberapa waktu dirinya sendiri tidak dapat menahan kesadaran dirinya, karena sesuatu memukul bagian tengkuk belakang dirinya.
Ketika keduanya tersadar, mereka dapat merasakan kedua kaki dan tangannya terikat dengan sebuah kursi yang mereka duduki.
"Apa yang terjadi...."
"Mengapa kita terikat..."
"Ayah... tolong Nengah, Apakah tuan Wolf akan membunuh kita?..."
"Itu tidak mungkin... tuan Wolf adalah pembunuh bayaran yang tidak akan menjadi pisau terbalik..."
"Pasti ada sesuatu yang lain..."
Pertanyaan ini adalah hal yang paling mungkin namun sulit di percaya. jika ini perbuat Lisin itu berarti Wolf telah gagal menyelesaikan tugasnya dan Lisin melakukan balas dendam.
Keduanya terus berspekulasi hingga akhirnya mereka melihat seseorang yang di kenalnya.
"Tuan Wolf, Apakah kamu datang menyelamatkan kita?..." Nengah berkata dengan semangat.
"Bodoh... sangat jelas jika tuan Wolf menyuruh kita datang, itu berarti tuan Wolf yang menangkap kita..." Ayahnya Nengah berkata cemas.
Mengapa tuan Wolf bisa menjadi mata pisau terbalik? apakah pihak lain memberikan imbalan yang lebih besar? benar pasti seperti itu.
"Tuan Wolf... Sebagai pembunuh bayaran Kamu tidak konsisten, hanya karena orang lain memberikan tawaran yang lebih tinggi kamu menjadi mata pisau terbalik"
Wolf tidak menanggapi perkataan ayahnya Nengah dirinya secara perlahan mendekat kemudian memberikan pukul tepat di bagian wajahnya.
"Ahhhh...."
Ayahnya Nengah kesakitan, ini pertama kalinya ada seseorang yang memukul wajahnya dengan keras, bahkan darah segar keluar dari hidungnya.
__ADS_1
"Ayah..." Nengah yang melihat ayahnya di pukul menjadi tercengang kemudian ketakutan. jika ayahnya bisa terpukul bukankah dirinya akan di pukul juga.
"Sebelumnya, Aku harus berterima kasih kepada kalian... Karena kalian, aku bisa bertemu dengan seseorang yang mengajarkan aku tentang kesempatan kedua bahkan untuk seorang pembunuh bayaran sepertiku..."
"Di atas langit ada langit... ku pikir itu hanya sebuah kata-kata, namun sekarang aku mengerti jika ada orang kuat di atas diriku bahkan lebih mengerikan dari kata pembunuh..."
"Orang yang ingin kalian bunuh bisa membunuhku dengan mudah, apalagi membunuh kalian berdua..." Wolf menggelengkan kepala.
Keduanya terdiam, mereka tidak berharap jika Lisin akan mendapatkan pengakuan dari pembunuh bayaran Wolf.
"Tolong... lepaskan... tuan Wolf, Aku tidak ada sangkut pautnya dengan masalah ini, ini semua murni Perbuatan Ayahku, Bunuh saja dia dan bebaskanlah diriku..." Nengah menangis di tempat bahkan celana miliknya basah kuyup dengan air hangat.
Manusia akan ketakutan dihadapkan akan kematian, Jika Nengah binasa akan banyak penyesalan dalam hidupnya. itu karena dirinya jomblo dan menghabiskan masa hidupnya dengan bermain sabun, Sebelumnya dirinya memiliki fantasi dengan Ningsih namun sekarang dia melupakannya karena rasa takut yang luar biasa dan lebih memikirkan tentang sabun.
Walaupun keperjakaannya hilang dengan sabun itu karena sabun selalu ada di saat dirinya paling terpuruk. dirinya harus hidup untuk sabun dengan begitu dirinya bisa merasakan sabun lagi. tiada hari tanpa sabun tiada hidup tanpa sabun.
Hidup sabun...
Nengah harus tetap hidup demi sabun yang selalu ada untuk dirinya.
Wolf yang melihat Nengah ketakutan hanya bisa menggelengkan Kepala, Tentu saja Wolf tidak mengetahui isi pemikiran Nengah yang ingin hidup karena sabun.
"Anak tidak tau di untung... Apa ini yang di namakan Air susu di balas dengan air tuba?..." Dengan merintih kesakitan Ayahnya Nengah melihat dengan tajam.
Tidak pernah terpikirkan jika anaknya akan menjual ayah kandungnya hanya untuk hidupnya sendiri, Sebelumnya keduanya saling berbagi satu sama lain.
Bahkan ada rencana untuk berbagi di kala senang dan di kala susah, sekarang anak yang dianggap berbakti kepada orang tua memalingkan wajahnya begitu saja.
Menyesal, sangat menyesal... jika dirinya tau lebih awal Ayahnya Nengah akan membunuh putranya saat masih di dalam kandungan.
"Ayah, apakah kamu lupa saat di pesta ulang tahun perusahaan, kamu juga memalingkan wajahmu untukku..." Nengah masih ingat dengan jelas pesta perusahaan yang sangat memalukan itu.
"Demi saham perusahaan, kamu mengatakan jika putramu gila dan akan di masukan ke rumah sakit jiwa. Apakah kamu melupakannya..." Sambil menangis Nengah mengatakan unek-unek yang di milikinya.
"Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya... Kalian berdua ayah dan anak adalah sama, Tugasku adalah membunuh kalian berdua. Kuharap kalian tidak mengulangi kesalahan yang sama di kehidupan selanjutnya" Wolf mengeluarkan pisau besar.
"Tunggu..."
"Tolong kasihanilah..."
"Guk..."
"Glak..."
__ADS_1
Kedua kepala terbang dan jatuh ketanah dengan air mancur darah keluar kemana-mana. Wolf membungkus kedua kepala tersebut kemudian pergi meninggalkan tempat kejadian.
Bersambung...