
Di suatu tempat yang tidak terjamah oleh keberadaan dunia Luar seorang Pria tua berdiri dengan tegak dengan alis pedang dan ekspresi dingin.
Pria tua tersebut tidak bisa dianggap sebagai orang tua karena memiliki mata sejernih segelas air, tanpa kerutan sedikitpun hanya saja dirinya memiliki rambut berwarna putih.
Tempat tersebut adalah sebuah padepokan Perguruan Macan Putih tanpa sedikitpun material kemodernan. Jelas kehidupan di sini cukup terbelakang jika di bandingkan dengan dunia Luar.
Listrik tidak menjamah padepokan tersebut karena berada di hutan pedalaman dan jauh dari peradaban dunia luar, Telepon hanya bisa di gunakan di luar wilayah tersebut.
Pawana menghubungi pihak yang berada di luar wilayah padepokan Perguruan Macan putih, oleh sebab itu Murid lain harus secara manual menyampaikan pesanan tersebut kepada Pemimpin Perguruan.
Jika bocil - bocil jaman sekarang yang tidak lepas dari ponsel, internet dan Segala yang berhubungan dengan elektronik, Tinggal di sana pasti akan gila sebelum waktunya.
Padepokan tersebut dengan sengaja mengisolasi diri dari dunia luar karena aturan dari nenek moyang dan ajaran turun temurun, jadi jika ingin menonton Tiktok tempat tersebut bukan rekomendasi.
"Siapa Murid kita yang terluka?..." Pria tua itu bertanya dengan datar.
"Namanya Pawana dia sudah menjadi murid Perguruan macan putih dan mengikuti Perguruan kita lebih dari 20 tahun..." Seorang bawahan menjelaskan.
"Apakah ini perbuatan dari Perguruan tengkorak?..." Pria tua bertanya lagi.
"Sumber mengatakan jika pihak yang melukai Murid kita memiliki kanuragan juga... Kemungkinan besar dia dari Perguruan Tengkorak..." murid tertua menjelaskan lagi.
"Bedebah... Perguruan tengkorak ini memang mencari kematian, bahkan menggunakan cara tercela untuk merusak putriku... dan beberapa kali melukai murid - murid ku" Niat membunuh yang sangat kuat terpancar dengan sendirinya, sangat jelas jika kedua tangannya telah banyak berlumuran darah musuh - musuhnya.
"Sanjaya... Kamu harus mengurusnya" Pria tua berkata dengan kesal.
"Ya Guru..." Bawahan yang memiliki nama Sanjaya tersebut langsung pergi untuk melakukan tugasnya.
Pria tua itu pimpinan dari Perguruan Harimau Putih sekaligus seorang Guru bela diri, dan perseteruan dengan Perguruan tengkorak cukup panjang. oleh sebab itu dirinya sangat marah jika murid - muridnya mendapatkan serangan dari Perguruan tengkorak.
"Guru Mahesa..." Pria kekar dengan sopan menyapa.
"Gatra... Apakah kamu sudah mendapatkan kabar tentang orang yang Memperkosa Putriku..." Mahesa bertanya dengan datar.
"Guru Mahesa, Masalah ini bukan salah Lisin melainkan salah Perguruan tengkorak yang meracuni saudari Wulan..." Gatra berkeringat dingin di depan Mahesa.
Dua bulan ini dirinya memiliki tugas untuk menemukan dan membawa Lisin kedalam Padepokan namun dirinya tidak melakukannya karena merasa berhutang budi kepada Lisin, juga dirinya sudah mengabdi sebagai bawahannya.
"Sialan... Murid tidak memiliki Ahklak, Putriku diperkosa tapi kamu sebagai saudara seperguruan tidak membunuhnya melainkan membelahnya, Apakah kamu di suap?... katakan berapa banyak dia menyuap mu?..." Mahesa bertanya dengan kesal.
__ADS_1
"Guru, Ampunilah muridmu ini..." Gatra berlutut dengan tulus meminta maaf.
Sejak Mahesa mengetahui jika putrinya terkena racun afrodisiak Seribu tahun, dan keberadaan putrinya menghilang dari tanah Jawa, dirinya sangat marah ini sama halnya mengibarkan bendera perang.
Mahesa secara langsung mendatangi tempat Perguruan tengkorak untuk meminta penjelasan dan terjadilah perselisihan antara Dua perguruan.
Perselisihan antara Pejuang budidaya terutama pengguna Kanuragan memiliki sebuah aturan yaitu tidak boleh melibatkan pihak dari dunia luar, karena keberadaan dua Perguruan dan Pengguna Kanuragan sangat di rahasiakan dari dunia luar, hanya beberapa petinggi negara yang mengetahuinya.
Peperangan antara dua kubu mencapai titik akhir dimana keduanya melakukan gencatan senjata karena banyak korban yang di miliki diantara kedua kubu.
Pemimpin Perguruan Tengkorak membuat usulan damai dengan membuat kontrak pernikahan.
Tentu saja keputusan ini di tentang oleh Mahesa dengan mentah - mentah.
Mahesa memiliki dua putri, yang lebih tua cukup sulit di atur dan melakukan sesuka hatinya di dunia luar, sedangkan putri keduanya Wulan seperti permata di matanya. jadi tidak mungkin menggunakannya sebagai alat tawar menawar perdamaian antara dua Perguruan.
Mengetahui jika putrinya pulang membuat Mahesa sangat senang namun kesucian putrinya yang seperti permata baginya hilang di ambil oleh Laki - laki tidak bertanggung jawab. Bagaimana Mahesa tidak marah.
Mahesa kesulitan memutuskan sesuatu, di tambah pelaku pemerkosaan putrinya belum di tangkap andaikan dirinya bisa bertemu dengan pelakunya Mahesa akan meremasnya hidup - hidup.
"Ayah... Bisakah kamu tidak membicarakan tentang dia lagi, nasi sudah menjadi bubur dia tidak pernah ingat jika melakukannya denganku, mungkin dia memiliki selusin wanita lain di luar sana..." Wulan turun dari atas tangga dengan sikap acu tak acu.
Wulan mengatakan intuisinya sebagai seorang wanita tentang keberadaan Lisin. walaupun tidak sepenuhnya benar namun tidak sepenuhnya salah.
"Putriku... Apakah kamu baik - baik saja?... Apakah lelah, lapar, atau merasakan nyeri di bagian-" Sebelum Mahesa Menyelesaikan perkataannya Wulan memukul ayahnya yang lebay.
"Bang..."
Mahesa mengalami perubahan sikap 180 Derajat dari sikap yang sebelumnya pemarah. Saat ini sikapnya penuh kasih sayang dan seperti anak baik dan penurut, Jika orang yang tidak mengenalinya dengan baik pasti akan menganggapnya gila.
Gatra yang sudah terbiasa dengan perubahan sikap Gurunya, hanya bisa tersenyum kecut.
"Ayah... bisakah kamu menghilangkan sikap buruk mu ini?... pantas saja kakak lebih memilih untuk hidup di dunia luar dari pada tinggal di padepokan denganmu..." Wulan berkata dengan datar.
Walaupun pihak lain orang tuanya, namun sikap Mahesa terhadap dirinya sangat menjijikkan.
"Putriku... kamu tadi memukul yang kanan, yang kiri belum di pukul..." Jelas pukulan seperti itu tidak sakit untuk Mahesa melainkan menginginkan lebih.
"Baik, Aku tidak akan menyapa mu lagi mulai sekarang..." Wulan menambahkan dengan kesal.
"Tidakkkk..." Mahesa hanya bisa bersikap sedih.
__ADS_1
"Kak Gatra... Jangan menghubungi dia lagi..." Wulan mengingatkan Gatra kemudian pergi ke sebuah Puri besar berlantai kayu dan cukup tinggi.
"Guru... Adik bilang... Aku tidak perlu menemukan Lisin lagi..." Gatra berkata dengan senyuman, sebelum akhirnya mendapatkan sebuah pemukulan dari Mahesa.
"Murid tidak tahu diri... Kamu harus mengikuti perkataan gurumu..." Mahesa kembali lagi ke sikapnya yang pemarah.
Gatra hanya bisa menjadi samsak tinju dari Gurunya.
"Aaaaa..."
.....
Sedangkan itu di tempat lain, Lisin mengemudikan mobilnya dan pergi menuju ke alamat yang di katakan Dosen Mirna. tanpa mengetahui jika seseorang akan memburunya.
"Mungkinkah ini tempatnya?..." Lisin turun dari mobil lalu dengan cepat menuju kearah bangunan apartemen di salah satu komplek perumahan kota malang.
"Halo..." Suara malas terdengar dari sisi lain pihak penelpon.
"Dosen Mirna... Aku sudah sampai di depan apartemen milikmu..." Lisin menunggu didepan apartemen milik Dosen Mirna.
Tak lama waktu berselang, Wanita cantik yang sangat menggoda kaum jomblo keluar dengan cara berjalan yang cukup aneh.
"Lisin..."
"Ya, Dosen Mirna... Apakah masih sakit?..." Lisin bertanya dengan khawatir.
"Sedikit, Bukannya kamu membawakan sepatuku?... dan ini sepatumu, kamu bisa pulang hati - hati di jalan" Dosen Mirna langsung tutup poin.
"ini..."
Lisin sebenarnya ingin membantu menyembuhkan Punya Dosen Mirna yang bengkak hanya saja, Lisin merasa jika dosen Mirna berniat mengusir Lisin sesegera mungkin.
Karena pihak lain tidak menginginkannya Lisin tidak ingin memaksa Dosen Mirna.
"Sayang, Siapa dia?..." Seorang pria tampan dengan penampilan yang mewah terutama jam tangannya yang bermerek, datang dari arah pintu apartemen milik Mirna.
Sayang!!!...
Lisin seketika terdiam, Sebutan ini menghancurkan perasaan Lisin, apakah pihak lain kekasihnya?... Entah mengapa hati Lisin seperti tertusuk jarum.
Lisin sudah menganggap Dosen Mirna sebagai miliknya, tanpa mengetahui jika Dosen Mirna sudah menjadi milik seseorang.
__ADS_1
Lalu apa hubungan kita?...
Bersambung...