
Satu Minggu berlalu begitu saja.
Setelah Lisin mengembalikan seribu Banaspatih kepada pemiliknya, Perguruan tengkorak di pastikan berakhir tanpa meninggalkan jejak kehidupan.
Mahesa dan orang - orang Perguruan macan putih sudah memastikan, jika lebih dari seribu murid Perguruan tengkorak, tidak ada yang selamat termasuk Ki Bajang sendiri.
Sungguh kematian yang tidak dapat di jelaskan, berniat mencelakai orang lain tapi berakhir mencelakai diri mereka sendiri.
Pemandangan yang di suguhkan di Padepokan tengkorak iyalah ribuan mayat yang tergeletak tak bergerak dengan banyak kejanggalan, dengan Mahesa yang menjadi pemimpin semua orang yang ada di bawahnya. langsung mengambil alih Perguruan tengkorak dan menjadikan Perguruan macan putih menjadi satu - satunya Perguruan yang mendiami kawasan Lereng gunung Kawi.
Perguruan macan putih berhasil mengamankan ratusan wanita yang kurang beruntung, karena mereka menginginkan kipas angin namun berakhir di manfaat oleh Perguruan tengkorak yang melakukan praktek sesat hanya untuk memperdalam ilmu hitam mereka.
Dalam satu minggu ini Perguruan macan putih merayakan suka cita tidak hanya terlepas dari ancaman Perguruan Tengkorak, melainkan sebuah acara akbar yakni Penikahan Wulan dan Lisin.
Pernikahan tersebut tidak mengundang penghulu dari dunia luar ataupun menggunakan surat resmi dari kementerian negara.
Pernikahan tersebut hanya mengikuti adat yang di tetapkan oleh Perguruan macan putih dan Mahesa sendiri yang secara pribadi menikahkan putrinya dan di saksikan oleh ribuan orang - orang yang tinggal di Perguruan.
Lisin untuk kali pertama dirinya menikahi seorang wanita dan dia sangat cantik, hanya saja malam pengantin mereka sudah di bayar di muka, sekarang Wulan sudah mengandung anaknya jadi hanya menunggu Tujuh bulan lagi untuk Lisin manjadi seorang ayah.
"Lisin apakah kamu ingin pergi..." Pupil mata Wulan menunjukkan jejak kesedihan.
"Wulan apakah kamu ingin ikut denganku ke dunia luar?..." Tanya Lisin.
Wulan terdiam... Siapa yang tidak ingin dekat dengan suaminya, terutama di mana Plakor telah merajalela. Tentunya para Plakor lebih suka Laki - laki yang sudah beristri dari pada yang Jomblo.
Jelas Wulan ingin menghabiskan waktunya dengan Lisin namun dirinya tidak ingin egois karena Lisin memiliki kehidupan normal di dunia luar.
Entah mengapa Wulan merasa sedikit lucu dengan kehidupan yang dimilikinya.
Kapan pertama kali dirinya bertemu dengan Lisin?... Itu adalah saat dirinya kehilangan kesuciannya.
Benar... Saat itu dirinya sangat membenci Lisin karena merenggut kesuciannya tanpa permisi. Wulan pernah berpikir untuk membunuh Lisin namun tidak melakukannya.
Orang yang dirinya benci perlahan menjadi sangat penting di hatinya, juga karena Lisin Perguruan macan putih selamat dan berhasil menyelesaikan perselisihannya dengan Perguruan Tengkorak. lebih tepatnya menghancurkannya dan membasminya.
"Lisin mungkin jika aku sudah melahirkan... Aku akan ikut denganmu di dunia luar..." Wulan menjelaskan dengan enggan.
"Kita sudah menikah... Namun kamu tidak memiliki malam pernikahan... Apakah kamu tidak apa - apa?..." Wulan bertanya dengan hati - hati.
Lisin memahami apa yang di khawatirkan Wulan namun dirinya tidak terlalu mempermasalahkan masalah malam pernikahan.
"Mengapa kamu masih memikirkannya... Bukannya kita melakukannya di muka..." Lisin menjelaskan.
__ADS_1
"Memang benar kita melakukannya di muka... Hanya saja, Aku tidak merasakan apa - apa saat itu... Aku ingin merasakan dan menikmatinya dari pada menggunakan Afrodisiak..." Wulan berkata dengan cemberut.
"Waktu akan berlalu dan tujuh bulan tidak akan lama... Setelah kamu melakukan persalinan... Dan kamu kembali dengan normal... Kita bisa melakukannya..." Jelas Lisin.
"Um..." Wulan mendekat kemudian memberikan ciuman.
Lisin berpamitan kepada semua orang yang ada di perguruan macan putih, terutama Mahesa yang memiliki senyum cerah.
Keberadaan Lisin seperti sosok pahlawan yang telah kembali dari medan perang. di manapun Lisin berjalan banyak orang yang akan mendekatinya dan mengucapkan rasa terima kasih.
Setelah berpamitan kepada Mahesa, Sanjaya, Gatra, Wulan dan lainnya. Lisin langsung pergi meninggalkan Lereng gunung Kawi dan menuju ketempat di mana mobilnya di parkir.
Untung saja Sanjaya dan Gatra menugaskan seseorang untuk menjaganya, jika tidak akan hilang di bawa pergi pencuri.
Jalan raya kota malang tepatnya perbatasan yang berada di jalur kaki gunung Kawi, Nissan Skyline melaju dengan kencang.
Lisin ingat jika mendapatkan undangan pernikahan dari Sultan mungkin dirinya harus menyempatkan waktu untuk pulang ke kampung halamannya.
Dalam perjalanan ke bandara sebuah suara mengalihkan pemikiran Lisin tentang kampung halamannya.
(DING...)
(Tugas sistem terpicu, Tuan rumah harus membantu Siska yang memiliki masalah dengan adiknya: Ya/Tidak)
"Ya..."
Lisin langsung menghentikan mobilnya dan berpikir dengan keras.
Siapa Siska ini? mengapa sistem memberikan tugas untuk membantunya.
"Sistem siapa Siska apakah aku mengenalnya?..." Tanya Lisin.
(Sepertinya aliran darah yang menuju ke otak sedikit tersumbat sehingga tuan rumah kekurangan daya ingat)
"Sistem sialan... Baik aku harus bertemu dengannya..." Lisin sangat kesal, dirinya benar - benar tidak dapat mengingat Siska ini.
Saat Lisin turun dari mobilnya, dirinya melihat Wanita cantik yang sedang menunggu taksi.
Lisin yang melihat keindahan langsung tertarik namun tetap tidak mengingat siapa wanita itu. Apa lagi wanita itu mengenakan kacamata hitam besar. hal itu semakin membuatnya misterius.
Kamu harus ingat Lisin saat ini istri kamu sedang mengandung, jika kamu bermain dengan wanita lain maka kamu akan mendapatkan karma.
"Kaki itu... Pahanya juga... Sedikit familiar..." Lisin tidak ingat dengan wajah dan penampilan pihak lain, namun saat melihat paha menggoda yang bertebaran. Lisin langsung ingat sosok wanita yang dulu pernah menjadi pelanggan saat dirinya menjadi Ojol namun bukan Mbak Gisel.
"Siska ya..." Lisin langsung menghampiri Siska yang sedang menunggu taksi lewat.
__ADS_1
"Bos... Kamu ada di kota malang juga?..." Siska bertanya dengan sedikit kejutan.
Dirinya masih ingat sosok pemilik pusat pembelanjaan Benoa Square. sejak awal pertemuan mereka Siska menyangka jika Lisin tukang Ojol. namun tidak menyangka jika Lisin adalah bos pemilik pusat pembelanjaan tempat dirinya bekerja.
Saat itu dirinya terlibat dua insiden saat bersama Lisin, pertama mantan atasannya Pak Pasah dan Mas Paijo karyawan Seluler World.
"Hahaha... Paha mu melancarkan daya ingatanku..." Lisin tersenyum.
"Maksudnya Bos?..." Siska bertanya dengan bingung sambil melihat kakinya sendiri dengan malu.
"Tidak... Bukan apa - apa..." Lisin hanya bisa menyalahkan lidahnya yang tergelincir.
"Pahaku... Jelek ya Bos..." Tanya Siska.
"Paha mu anugrah Tuhan... Siapa yang mengatakannya jelek..." Tanya Lisin.
Lagian mengapa juga dalam penerbangan Siska menggunakan celana pendek dan ketat seperti itu, kan bahaya jika ketemu dengan penjahat kelamin. tapi tenang saja kan ada Lisin yang akan melindunginya dari ancaman penjahat kelamin.
"Terima kasih Bos... tentang ponsel yang sebelumnya..." Siska merasa bersyukur.
"Hanya ponsel tidak lebih..." ponsel itu juga kompensasi dari Sudra dan ponselnya sangat banyak, karena Siska tertarik dengan ponsel Oppo reno Enam mengapa tidak memberinya satu.
"Kamu pasti sedang menunggu taksi..." tanya Lisin.
Sudah tahu nanya...
"Saya temani kamu menunggu taksi ya... Belakangan ini banyak penjahat kelamin yang mengincar wanita tak berdosa seperti kamu... tentunya sebagai atasan kamu aku harus menjamin keselamatanmu" Lisin berdiri di samping Siska sambil melihat arah kanan dan arah kiri.
Diam... Siska sangat tersentuh melihat Lisin yang begitu perhatian, Sebagai seorang atasan yang rendah hati masih ingin menolong orang lain.
Apakah jika yang menunggu seorang pria Jomblo, Lisin akan membantunya juga? tentu saja Tidak.
"Terima kasih bos... Kan ada mobil, mengapa kita masih mencari taksi dan tidak mengantarkan langsung saja Bos..." Siska bertanya dengan bingung.
Diam... Lisin melihat mobil Nissan Skyline yang ada di depannya juga heran, iya... ya... Mengapa aku tidak berfikir ke sana.
"Ehm... Sebenarnya Aku tidak ingin kamu berfikir jika aku penjahat kelamin, yang ingin memakan mu saat aku menawarkan tumpangan, itu saja..." Lisin membuat alasan.
Siska sangat tersentuh dengan kebaikan hati atasannya, seorang bos seperti Lisin pasti banyak kesibukan. hanya demi dirinya atasannya meluangkan waktunya, bagaimana Siska tidak bahagia.
"Terima kasih bos... Ngomong - ngomong apakah benar - benar ada penjahat kelamin?..." Tanya Siska.
"Tentu saja penjahat kelamin bisa muncul kapan saja dan di mana saja, bahkan bisa juga berdiri di dekatmu dan berbicara denganmu... Untuk itu Sebagai atasan kamu, aku akan membantumu... Ayo masuk mobil..." Lisin tersenyum ambil membukakan pintu mobil.
Siska dengan bingung hanya bisa mengikuti saja, kemudian mobil Nissan Skyline melaju di jalan raya kota malang.
__ADS_1
Bersambung...