Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan

Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan
Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan Episode 117


__ADS_3


Pesawat udara melakukan penerbangan sebagaimana mestinya dan dalam penerbangan tersebut tanpa mengalami gangguan.


Bandara internasional Ngurah Rai. Lisin yang baru saja turun dari pesawat langsung menggunakan taksi dan pergi menuju ke Apartemen milik Ningsih.


Ningsih yang mendapat kabar kedatangan Lisin sangat bahagia, dalam satu minggu lebih dirinya sudah belajar memasak jadi dirinya ingin Lisin untuk menikmati masakan buatannya.


"Ini adalah hidangan yang baru saja aku pelajari..." Ningsih menjelaskan.


Lisin yang baru saja datang langsung di suruh untuk mencicipi makanan buatan Ningsih.


"J... jengkol!..." Lisin bertanya dengan cemas.


Lisin bisa memakan apa saja asalkan jangan yang satu ini, dirinya memiliki pengalaman buruk dimana dirinya tidak kuat dengan aroma yang di keluar dari jengkol.


"Benar... ini semur jengkol yang baru saja aku pelajari..." Ningsih berkata dengan penuh harapan agar Lisin bisa memakannya.


"Aku... Aku akan memakannya nanti..." Lisin menelan seteguk ludah.


Dirinya tidak takut dengan apapun yang ada di dunia ini asalkan jangan menyuruhnya memakan jengkol.


Ini bukan karena Lisin lemah terhadap jengkol, melainkan trauma yang luar biasa terhadap makanan yang satu ini.


"Kamu harus menghabiskannya..." Ningsih dengan semangat menyuruh Lisin untuk menghabiskan masakannya.


Keluarga Lisin tidak ada yang mengkonsumsi jenis Makanan yang satu ini, bukan tidak mampu membelinya melainkan faktor keturunan, mulai dari nenek moyang, ayah dan ibunya tidak satupun yang suka terhadap Jengkol.


"Apakah kamu tidak memasak yang lainnya..." Karena dirinya tidak suka dengan Jengkol, Lisin ingin mengalihkan Ningsih kemudian dirinya akan menyimpan Semur jengkol tersebut ke inventori sistem dan mengatakan jika dirinya telah menghabiskannya.


Hahaha... Aku benar-benar jenius...


"Sambal goreng..." Ningsih berkata dengan bersemangat.


"Baiklah aku akan memakan yang itu saja..." Lisin sangat senang menunggu Ningsih mengambilkan Sambal goreng.


"Ini dia Sambal gorengnya..." Ningsih meletakan Sambal goreng di depan Lisin.


"Ningsih... mengapa ada bau jengkol pada Sambal gorengnya..." Sebelum memakannya Lisin menghirup terlebih dahulu namun dirinya langsung ingin muntah.


Sial... bau jengkolnya lebih kuat...


"Ya karena, itu Sambal goreng jengkol..." Ningsih menjelaskan sambil tersenyum.


Diam... Lisin tidak bisa berkata-kata dirinya, hanya tidak ingin memakan jengkol tapi mengapa makanan yang lain jengkol juga.


"Aku akan memakannya nanti... Apakah kamu memasak yang lainnya..." Lisin berkata dengan tidak berdaya.


Dulu dirinya tidak sengaja memakan jengkol dan tidak bisa menghilangkan bau jengkol yang kuat. seperti bau mulut padahal sudah sikat gigi seribu kali. Ditambah jika dirinya buang air kencing maka aroma kamar mandi akan di penuhi dengan bau jengkol.


Kedua orang tuanya mengatakan jika penyakit ketidaksukaan terhadap Jengkol sudak ada sejak sebelum kemerdekaan Indonesia.


Jika Lisin terlalu lama mencium bau jengkol dirinya akan pingsan tak sadarkan diri karena tidak kuat dengan bau yang di miliki oleh jengkol, apa lagi memakannya.


"Ada... Balado jengkol..."

__ADS_1


"Juga Ada Gulai Jengkol..."


"Tumis Jengkol..."


"Dan masih banyak lagi olahan berbahan dasar jengkol..."


Diam... Lisin merasa tidak ingin hidup lagi, mengapa semuanya olahan berbahan dasar jengkol... Sial...


"Sistem... Apakah aku punya penyakit langkah?..." Lisin berharap jika Sistem akan memberikannya solusi.


(DING...)


(Tuan rumah tidak mengalami penyakit apapun)


"Lalu mengapa aku tidak suka dengan jengkol?..."


(itu semua karena pengaruh didikan orang tua)


(Sejak kecil tuan rumah menerima didikan agar tidak memakan jengkol)


"Sistem apakah tidak ada obat agar aku bisa makan jengkol dengan normal?"


(Tidak ada, tuan rumah hanya perlu bertahan dengan aroma jengkol maka akan bisa memakannya dengan normal)


Sial... Sistem tidak memberikan solusi, jika tau seperti ini aku tidak akan bertanya.


"Lisin... Mengapa kamu diam saja, aku dengan sengaja membuatkan masakan ini untukmu mengapa kamu tidak memakannya..." Ningsih Bertanya dengan sedih.


"Aku... akan memakannya..." Lisin tersenyum terpaksa.


Apa!!! menunggu... Apakah kamu ingin memastikan aku memakan setiap masakan jengkol ini?... Sial... apakah jika aku menikah nanti aku akan memakan jengkol setiap hari?...


Ningsih... aku tidak menyangka jika kamu akan menusukku dari belakang.


"Ningsih... Mengapa kamu memutuskan untuk memasak hidangan jengkol?..." Lisin bertanya dengan hati-hati.


"Aku bertemu dengan Yana dan bertanya, masakan apa yang di sukai oleh laki-laki... Yana menjawabnya Jengkol dan harus jengkol" Ningsih berkata dengan jujur.


Yana!... Polwan Yana!... Jadi itu dia, Sejak awal Yana ini selalu memberikanku masalah lihat saja aku akan membuat perhitungan dengannya.


"Ayo di makan..."


"Ok..."


Lisin tidak berdaya, Lisin ingin mengatakan jika dirinya tidak suka dengan jengkol, namun takut jika Ningsih akan salah paham dan Ningsih akan mengira jika masakannya tidak enak.


"Aku akan memakannya... Aaaaa..."


"Aaaa..."


Lisin membuka mulut sedangkan tangannya bergetar dengan kuat seolah tidak memiliki energi untuk mengangkat sendok makan.


"Um..." Lisin mengunyah dengan hati-hati seolah memakan sesuatu paling menjijikkan di dunia, tangan satunya menyentuh hidungnya agar tertutup.


"Glup..." Satu sendok pertama berhasil terselesaikan dengan lancar, rasanya mungkin enak bagi penggemar jengkol. namun tidak untuk Lisin.

__ADS_1


"Huaag..." Lisin merasa ingin muntah...


"Lisin kamu baik-baik saja?..." Ningsih berkata dengan dengan cemas apakah rasanya tidak enak? mengapa Lisin terlihat ingin muntah.


"Enak... Sangat enak..." Lisin dengan terpaksa mengakuinya.


"Benarkah?... Kalau begitu kamu harus menghabiskannya..." Ningsih tersenyum.


Menghabiskannya!...


Satu jam kemudian...


Lisin berhasil menghabiskan semua hidangan jengkol yang ada di atas meja makan.


Namun keadaan Lisin tidak terlihat baik-baik saja... Saat dirinya bersendawa nafas naga keluar dari mulutnya, namun itu bukan api melainkan bau jengkol yang sangat kuat, seketika Lisin pingsan di tempat.


Sial...


"Lisin... kamu tidak apa-apa?..." Ningsih berkata dengan khawatir.


Lisin tidak takut dengan apapun, tidak kalah dengan siapapun, selalu selamat dari segala macam bahaya, selalu menyelamatkan keindahan, selalu memenangkan squid game, sekarang pingsan dengan bau nafasnya sendiri.


Sungguh memalukan...


Waktu berlalu...


Lisin terbangun langsung pergi ke kamar mandi, kemudian menghabiskan semua pasta gigi yang ada di kamar mandi.


Walaupun tidak hilang setidaknya bau jengkol yang begitu menyengat perlahan berkurang.


"Halo..." Lisin menerima panggilan telepon dari nomor yang tidak di kenalnya.


"Baiklah aku akan datang..." Lisin kemudian menutup telepon.


Telepon tersebut dari Wolf yang ingin memberikan bingkisan tertentu. Setelah Lisin menerima alamat pertemuan dari Wolf, dirinya mematikan panggilan.


"Ningsih... aku akan pergi keluar dan aku akan meminjam mobil yang ada di bawah..." Lisin merapikan pakaian yang dikenakannya.


"Kamu bisa memakainya, Lisin nanti malam aku akan memasak jengkol lagi, jadi kamu harus datang..." Ningsih berkata dengan bahagia dirinya merasa seperti istri yang baik.


Masak jengkol lagi!... Sial Ningsih ini sepertinya ingin membunuhku, apakah dia punya dendam tertentu denganku.


"Ehmm... Bisakah kamu tidak memasak jengkol lagi..." Lisin menyarankan.


"Mengapa apakah masakan ku tidak enak?..." Ningsih berkata dengan sedih.


"Bukan seperti itu, Aku ingin kamu masak yang lain selain jengkol..." Lisin menambahkan.


"Oh... Seperti itu..." Ningsih mengangguk.


"Ingat jangan masak jengkol lagi..." Lisin menekankan kata jangan masak jengkol.


"Aku mengerti..."


Keduanya bertukar air liur kemudian berpisah, Lisin pergi dengan Pajero Sport milik Ningsih lalu dengan cepat menuju kearah utara dimana Wolf sedang menunggu dirinya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2