Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan

Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan
Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan Episode 73


__ADS_3

Danu memiliki gaya rambut sederhana dengan kemeja bergaris, juga dapat terlihat jika ada jam tangan pada lengan kirinya, untuk bagian bawah Danu mengenakan celana jeans dengan sepatu hitam.


Sedangkan Ratna memiliki rambut sebahu dengan pakaian Kasual sederhana yang memiliki warna hijau dongker. untuk bagian bawahnya celana pendek biasa yang sering di kenakan wanita cabai-cabaian.


Keduanya berjalan dengan tergesa-gesa dari arah hutan yang padat pepohonan menuju ke sebuah lahan kosong yang di penuhi beberapa mobil yang di tinggalkan.


"Banyak sekali mobilnya..." Ratna yang melihat sekeliling berkata dengan bingung.


Danu tidak memberikan tanggapan apapun atas perkataan Ratna.


Ratna terus bertanya-tanya, tempat apa ini... mengapa banyak mobil di sini, apakah tempat ini milik pemulung, sepertinya itu tidak mungkin karena banyak mobil yang terlihat cukup normal ada juga kunci mobil yang masih tertancap pada tempatnya.


Sangat jelas jika mobil-mobil tersebut tidak. rusak melainkan sengaja di tinggalkan dan tidak di urus dengan benar.


"Sayang... lenganku sakit..."


"Maaf..."


Danu yang dari tadi menarik lengan Ratna perlahan melepaskan cengkeraman tangannya.


"Sayang... lebih baik kita tunggu Anisa, bagaimana jika dia kenapa-napa?" Ratna merasa khawatir sambil melihat ke arah hutan yang sebelumnya telah dirinya lalui. Selain Anisa di sana ada juga Anjar yang mati dan Lisin yang baru saja di kenalnya karena kondisi mobilnya yang sama.


"Sudahlah Ratna jangan memikirkan mereka, kita saja belum aman. bagaimana jika orang jahat yang membunuh Anjar mengejar kita?" Mendengar perkataan pacarnya Ratna ketakutan.


"Untuk Lisin kita baru saja kenal dan itu pilihannya sendiri karena ingin menjadi umpan, kita juga tidak menyuruhnya" Danu memeluk Ratna agar kembali tenang.


"Dan Anisa, itu karena keputusannya sendiri untuk menunggu Lisin, lebih baik kita segera mencari pertolongan agar bisa membatu kita semua dari situasi ini, Semakin cepat kita meminta bantuan semakin cepat juga Anisa mendapatkan pertolongan"


"Sayang kamu benar..."


Keduanya berjalan menelusuri lahan kosong yang di penuhi oleh tumpukan mobil bekas. semakin jauh mereka menelusuri tempat tersebut semakin sulit menentukan arah karena banyaknya rumput gajah yang menjulang tinggi.


"Aneh... semua mobil ini memiliki keempat bannya yang bocor" Ratna berkata bingung karena semakin dirinya berjalan semakin banyak mobil di sana.


"Siapa yang tau, bisa saja kan ban akan kekurangan angin dengan sendirinya saat terlalu lama tidak di gunakan" Danu membuat alasan agar Ratna tenang.


Sambil memilah rerumputan yang tinggi keduanya menemukan sebuah rumah tua yang tidak layak huni. dapat terlihat juga jika ada asap hitam keluar melalui atap rumah tersebut.


"Syukurlah... sepertinya ada orang di dalam rumah itu..." Ratna sangat senang begitu juga Danu.


Tanpa memiliki kecurigaan keduanya mendatangi rumah tua tersebut.


"Permisi apakah ada orang?" Ratna Bertanya.


"Sial... bau sekali sepertinya ini rumah tidak layak huni..." Danu mengeluh sambil menutupi lubang hidungnya.


Setelah mendengar gerakan dari balik pintu kayu keduanya sangat senang, sepertinya rumah tua ini memiliki seorang penghuni. tapi kenapa dia membuat rumah di tempat terpencil seperti ini.


Keduanya salut dengan pemilik rumah karena menjauhkan diri dari keramaian, tidak ada tetangga untuk bersosialisasi. juga tidak ada sinyal mengingat tempatnya, apa lagi internet jelas tidak mungkin. untuk Wifi tetangga jelas tidak ada kerena tidak memiliki tetangga.


Jaman sekarang yang tidak memiliki kebutuhan internet tidak mungkin ada, kebanyakan orang sangat membutuhkan internet untuk segala umur.


Keduanya dapat melihat seseorang yang memiliki tubuh tinggi besar perlahan keluar dari pintu kayu, dan yang membuatnya aneh adalah sebuah topeng kemen rider menutupi wajahnya.


"Pak bisa tolong kami... di sana teman kami Mati di serang oleh seseorang yang tidak di kenal..." Ratna meminta bantuan orang bertopeng tersebut tanpa memiliki kecurigaan.


Saat Ratna melihat sesuatu melalui celah pintu dia dapat melihat jasad temannya yaitu Anjar yang sebelumnya mati terkena anak panah.


"Ah..." Ratna terdiam membeku, kakinya sangat lemas dan gemetar. dia ketakutan dengan pemikiran yang tidak dapat di jelaskan dengan kata-kata.


"Gulk..." Ratna menelan seteguk luda saat melihat kembali ke arah pria bertopeng tersebut.


Dia menolak pemikiran jika orang bertopeng kamen rider yang ada depannya saat ini adalah pelaku yang membunuh temannya.


Itu berarti tempat ini kediamannya dan dirinya berniat meminta pertolongan terhadap pelaku pembunuhan.


"Ratna mengapa kamu diam saja?..." Mendengar pertanyaan pacarnya Ratna mulai sadar jika dirinya meminta bantuan terhadap orang yang salah.


"Ahhh...." Sebelum Ratna dapat melarikan diri, sebuah parang menembus perutnya.


.....


Lisin yang menjadi pahlawan kesiangan berlari menelusuri jejak yang di tinggalkan oleh ketiga orang yang pergi ke arah selatan.

__ADS_1


"Anisa..." Lisin yang berlari di hentikan oleh Anisa yang bersembunyi di balik pepohonan.


"Kamu menungguku? Kemana dua temanmu yang lainnya" Lisin yang mendapatkan pelukan hangat dari Anisa bertanya.


Bukankah kalian pergi bertiga mengapa hanya menyisakan Anisa seorang.


"Ratna dan pacarnya Danu pergi lebih awal, mereka tidak mau menunggumu" Anisa berkata dengan jujur, kemudian raut wajahnya menunjukkan kebencian terhadap Danu.


"Aku mengerti... Lebih baik kita menyusul mereka jika tidak Kopet akan menyerang mereka berdua" Lisin berkata dengan serius.


"Baiklah... aku tau mereka berdua pergi kearah mana..." Anisa memimpin jalan.


Setelah beberapa perjalanan dengan mengikuti jejak dari rerumputan yang terinjak dan ranting pohon yang patah. Anisa yang berjalan di depan di tarik kebelakang oleh Lisin.


"Lisin... Ada apa?" Anisa bertanya dengan aneh.


"Jika kamu tetap melangkah Kakimu akan terluka..." Lisin membungkuk lalu menyingkirkan dedaunan yang menutupi sesuatu.


"Bukanya ini ranjau beruang... bagaimana bisa ada di sini, setahuku hutan ini tidak memiliki beruang..." Anisa merasa bersyukur di hentikan oleh Lisin sebelumnya, jika tidak kakinya akan cedera paling parah patah tulang.


"Craaak..." Lisin mengambil batu lalu melemparkannya terhadap ranjau beruang, seketika mekanisme penjepit berfungsi lalu mengeluarkan suara hantaman besi yang kuat.


Itu jenis ranjau yang biasa di gunakan pada film kopet. memiliki beberapa gerigi tajam dengan mekanisme menjepit yang kuat. jika kaki menginjaknya maka akan kesulitan untuk melepaskannya.


"Ranjau ini di pasang bukan untuk menangkap beruang melainkan menangkap manusia..." Lisin melihat jejak kaki yang melewati jalur ranjau beruang.


"ini... siapa orang yang memiliki niat jahat seperti ini..." Anisa tidak bisa membayangkan jika ranjau tersebut mengenai kakinya.


"Ini pasti ulah dari Kopet... Aku bertemu dengannya saat aku menjadi umpan dan sangat yakin jika yang membunuh Anjar adalah dia" Lisin mendengus dingin, dia sangat yakin jika kopet yang sebelumnya jatuh ke tebing belum mati.


Entah bagaimana kopet bisa menghilang dari tebing yang jelas kemampuan kopet yang tiba-tiba menghilang dan keluar dari mana saja tidak dapat di jelaskan secara logika.


Melihat kondisi dari ranjau beruang Lisin sangat yakin jika Ranjau ini telah ada di sini sejak lama. jadi syukurlah Ratna dan Danu tidak terkena ranjau beruang.


"Kopet!!!... maksudnya Kopet yang ada di film-film Horor gitu?" Anisa sangat terkejut, dirinya tidak menyangka jika ada kopet yang menghuni kaki gunung Arjuno.


Kemudian dia ingat jika banyak orang hilang di sekitar pegunungan Arjuno dia mulai yakin ini pasti ulah Kopet.


Anisa menjelaskan sambil berjalan mengikuti Lisin yang memimpin jalan.


Semua berawal saat ke empat dari mereka memutuskan untuk mensurvei sebuah desa yang akan di gunakan untuk tugas kuliah yaitu KKN (Kuliah Kerja Nyata)


Keempatnya awalnya bukanlah sebuah kelompok, Anisa kebetulan mencari kelompok dan dia dengan terpaksa ikut dengan kelompok Anjar.


Sedangkan Anjar awalnya tidak berkelompok dengan Anisa dan yang lainnya dan karena Anisa sang pujaan hatinya dia rela membentuk kelompok baru.


Untuk Ratna dan Danu, mereka berdua baru saja jadian kurang dari tiga hari, Ratna sendiri wanita murahan karena suka berganti pasangan.


Sedangkan Danu dia adalah mahasiswa pindahan dari Jawa Timur, namun Anisa tidak memahami tepatnya universitas mana. lalu keduanya secara kebetulan bergabung dengan Anisa dan Anjar.


Karena tidak memiliki tempat untuk melakukan tugas KKN, keempatnya yang hanya bisa menerima usulan dari Danu di mana ada desa yang cukup tepat di jadikan tempat untuk tugas KKN, dan Desa tersebut ada di kota Pasuruan Jawa Timur.


Anisa memilih untuk menggunakan perjalanan udara yaitu menggunakan pesawat udara. akan tetapi ketiga yang lain memilih untuk berkendara dengan mobil.


Selanjutnya Anisa juga menjelaskan jika alasan mengapa mobilnya bisa berakhir di jalur alternatif adalah arahan dari Danu.


Sebelum Lisin mengambil keputusan dia melihat Seorang pemuda yang berlari sambil memegang perutnya.


Pemuda tersebut adalah Danu dengan wajah ketakutan dia berlari menuju kearah Lisin dan juga Anisa. Darah segar dapat terlihat melalui celah jarinya yang memegang perutnya.


"Danu... kamu ke napa? di mana Ratna" Anisa bertanya dengan khawatir, walaupun dia membenci Danu karena kejadian sebelumnya setidaknya dia masih peduli dan khawatir dengan Ratna.


"Ratna!!!... dia... Seseorang yang memiliki topeng kamen Rider membunuhnya..." Danu berkata dengan nada menyesal dirinya merasa tidak berguna karena tidak bisa menyelamatkan pacarnya.


"Apa... tidak mungkin..." Anisa sangat sedih, tubuhnya bergetar ketakutan, belum lama ini Anjar mati saat memimpin jalan, sekarang Ratna mati.


Ini pasti ulah Kopet yang di bicarakan Lisin, seperti di dalam film Kopet sangat kuat tidak mengenal belas kasihan, membunuh hanya untuk kesenangan semata.


"Maaf... aku sebagai pacarnya tidak bisa menolongnya... Andai saja aku kuat dan memiliki keberanian" Danu berkata dengan penuh kesedihan.


"Apa yang harus kita lakukan?" Anisa bertanya lalu melihat ke arah Lisin yang sangat tenang.


"Plak... plak... plak..." Lisin bertepuk tangan.

__ADS_1


Danu dan Anisa merasa kebingungan saat melihat Lisin bertepuk tangan, bukannya jika ada seseorang yang mati kita harus bersedih mengapa Lisin bertepuk tangan seolah melihat keberhasilan sebuah pertunjukan.


"Sialan... bukannya berduka karena kita kehilangan seseorang mengapa kamu bertepuk tangan?" Danu tidak mengerti dengan tindakan Lisin yang jelas dia sedang marah terhadapnya.


"Iya... Lisin apakah karena kamu baru mengenal kita sehingga kamu tidak merasa sedih..." Anisa berkata tidak berdaya.


"Tidak, hanya saja aku salut dengan Aktingnya Danu..." Lisin berkata sambil menatap Danu dengan tajam.


"Apa yang kamu katakan... aku ini baru saja kehilangan orang yang sangat aku cintai, pacar aku sendiri mengapa kamu berpikir jika aku sedang berakting" Danu dengan gelisah berdiri sambil berkata dengan nada tinggi.


"Mari kita asumsikan seperti ini... Kamu adalah komplotan Kopet dan darah yang ada di pakaian mu bukan darah milikmu melainkan darah orang lain yaitu pacarmu Ratna"


"Apa!!!..."


Anisa sangat terkejut mendengarkan penjelasan Gila dari Lisin. mengapa Lisin berfikir jika Danu adalah komplotan dari Kopet, bukankah itu berarti Danu membunuh pacarnya sendiri.


"Brengsek... Mana mungkin aku menjadi komplotan kopet, aku kehilangan orang yang aku cintai mengapa kamu memfitnah diriku?" Danu membantah dengan panik.


Danu yang panik kemudian tersenyum, "Kamulah orang yang paling mencurigakan di antara kita semua, bisa saja kan kamu yang berkomplot dengan Kopet"


"Kamu sebelumnya ingin menjadi umpan bukankah itu terlihat aneh, jika itu aku jelas sangat takut berhadapan dengan kopet. sedangkan kamu dengan berani ingin mengahadapi kopet maka tidak salah lagi jika kamulah yang menjadi komplotan kopet dengan cara berpura-pura menjadi korban bersama dengan kami" Danu menyeringai.


"Kalian..." Anisa yang tidak bisa berkata-kata hanya bisa bingung terhadap perkataan keduanya.


Di satu sisi dia tidak percaya dengan Lisin namun bisa saja asumsi dari Lisin benar, di sisi lain perkataan Danu ada benarnya. dari semua orang hanya Lisin lah yang memiliki kecurigaan yang paling tinggi.


Dari awal kedatangannya Lisin tidak sekalipun menunjukkan kepanikan, ketakutan dan hanya menampilkan sifatnya yang datar. kemudian saat Anjar Mati Lisin tidak menunjukkan gejala bagaimana seseorang yang baru pertama kali melihat mayat, seolah Lisin sudah pernah melakukan pembunuhan. Sangat berbeda sekali dengan Danu yang dari awal sikapnya cukup normal.


Lisin tidak peduli dengan apa yang di pikirkan Anisa yang semakin gelisah. saat ini Lisin melihat sekeliling dan terdapat banyak sekali mobil bekas yang keempat rodanya bocor. Lisin sangat marah hanya memikirkan jumlah orang yang menjadi korban kopet dan Danu.


Melalui analisa dari sistem Lisin sangat jelas mengetahui jika Danu adalah komplotan dari kopet, kemudian memikirkan tentang ranjau beruang sebelumnya, jika Danu yang memimpin jalan maka tidaklah heran jika dia dapat menghindari jebakan beruang.


"Aku pernah membunuh seseorang namun aku bukan komplotan dari kopet" Lisin berkata dengan jujur.


"Kalau begitu buktikan jika kamu bukan komplotan kopet..." Danu menyeringai dari telinga ke telinga.


Lisin yang melihat Danu, sangat marah kemudian melihat ke arah Anisa seolah berkata jika dirinya tidak berbohong.


Hade... Sepertinya bicara tidak dapat menyelesaikan masalah, maka aku akan menyelesaikannya dengan tinju ku.


Lisin yang melihat tumpukan mobil dapat mengetahui jika kopet yang sebelumnya jatuh ke tebing sedang bersembunyi di sana dengan senjata berada di tangannya.


"Ingin buktikan?... Kalau begitu Terima ini"


Danu yang bingung dengan maksud perkataan Lisin langsung memiliki rahang bengkok dengan mulut mengeluarkan darah. tubuhnya berguling beberapa kali sampai menabrak mobil bekas yang ada di kejauhan.


Lisin memukulnya dengan sebagian kekuatan bukan kekuatan penuh, namun Danu berakhir sangat mengenaskan.


"Uhuk..." Danu beberapa kali batuk darah sambil gigi-giginya keluar seperti batu kecil yang berjatuhan. Tidak kuasa menahan rasa sakit yang kuat Danu pingsan seketika.


"Ahhh... Lisin mengapa kamu memukulnya" Anisa berteriak panik.


"Bukannya tadi dia memintaku untuk membuktikannya... kamu bisa mengerti setelah ini" setelah perkataan Lisin berkahir, Sebuah suara aneh datang dan itu cukup sedih dan panik.


"Ga... Ga... gaga... (kakak)... Arghhh..."


Kopet yang memiliki tubuh besar itu berlari menghampiri tubuh Danu yang tergeletak di tanah, suaranya sangat aneh dia tidak bisa berbicara bahasa manusia.


"Ge... A... Mu... munuh (Aku akan membunuhmu) Arghhhh..."


Kopet yang di penuhi amarah tersebut mengambil gergaji mesin tua yang entah dari mana ada di dekatnya lalu menghidupkannya.


"Eeeeeng...."


Kopet tersebut menatap Lisin dengan penuh kebencian di balik topeng kamen Ridernya.


"Sial... senjata legendaris Kopet lainya gergaji mesin, bagaimana dia bisa memilikinya" Tatapan Lisin menjadi lebih serius dari sebelumnya. sedangkan Anisa yang akhirnya percaya dengan perkataan Lisin ketakutan.


Bersambung...


*Akhirnya Wifi tetangga hidup.


*Kunjungi juga sambil menunggu Lisin Up lagi... Novel baru author SISTEM KERUGIAN

__ADS_1


__ADS_2