
Malam itu acara pesta perayaan perusahaan anak cabang PT. Angkasa berlangsung cukup gemilang.
Sebuah mobil taksi datang dari kejauhan dan berhenti di depan pintu masuk gedung yang melangsungkan acara perayaan.
Lisin turun dari mobil taksi dengan Luna berada di gendongannya. Dirinya melihat sekeliling dan dapat menemukan banyak mobil mewah terparkir memenuhi tempat parkiran.
Dapat di lihat Lebih dari selusin karangan bunga bertuliskan selamat untuk perusahaan anak cabang PT. Angkasa.
Seketika Lisin memahami jika perusahaan yang sedang melakukan pesta adalah perusahaan miliknya sendiri. entah mengapa Lisin menggeleng dengan perasaan lucu. Sepertinya perusahaan miliknya akan ada di mana - mana setiap kali dirinya pergi.
"Apa - apaan kamu, Supir taksi parkir mobil di sini..." Dari arah belakang sebuah mobil sedan berniat parkir mobil karena dirinya adalah tamu undangan tertentu.
Di manapun tempatnya dan apapun kondisinya, masalah akan menghampiri Lisin. Dengan Luna dalam gendongannya, Lisin mengerutkan kening dan melihat siapa pihak lain.
Pemuda tersebut sepertinya generasi kedua yang datang dengan pacarnya dengan niatan untuk menghadiri pesta perayaan.
"Penjaga, jangan melalaikan tugas kalian dong. supir taksi seperti dia mengapa parkir mobilnya di sini. kan mengganggu sekali. kamu urus dia dan usir dia, jika tidak aku akan bicara dengan atasan kalian. karena kalian lalai dalam melakukan tugas..." Kata pemuda tersebut dengan menghina.
"Maaf Pak..." Kata dua penjaga dengan ketakutan. jelas keduanya tidak ingin di pecat, belum lagi PT. Angkasa sangat murah hati dalam menggaji karyawan mereka. sekarang keduanya menatap Lisin dengan kebencian.
"Sayang kamu kamu luar biasa..." Kata wanita riasan tebal yang memeluk tangan kanannya.
"Iya, Dong... Orang kaya..."
"Sayang, Apa benar Ayah kamu kepala pelayanan di perusahaan cabang PT. Angkasa..." Kata wanita riasan tebal dengan menyanjung.
Tentunya kata - kata tersebut untuk mengungkapkan identitas anak orang kaya kepada Lisin dan juga Pacarnya adalah anak dari orang penting di perusahaan anak cabang PT. Angkasa.
"Ya, Begitulah..."
"Kalau begitu ayo cepat masuk, jangan turunkan level kamu ke tingkat supir taksi..." Wanita riasan tebal melirik Lisin dengan jijik.
"Dasar Riasan tebal..." Kata Luna dengan kesal setelah keduanya berjalan menjauh.
Jelas kata - kata Luna sangat pedas dan tidak perlu sopan untuk orang seperti dia.
__ADS_1
Luna mulai memahami, jika tidak semua orang itu baik, juga tidak semua orang itu penjahat. Ambil contoh yang paling tepat untuk saat ini. yaitu Lisin yang menggendong dirinya dan pasangan sebelumnya.
Luna yang awalnya tidak menyukai Lisin secara perlahan menganggap Lisin sebagai orang yang sangat baik, walaupun awalnya terkesan mencurigakan, namun Lisin tidak merendahkan orang lain. dan sangat baik kepada dirinya. juga tidak memiliki sifat sombong.
Setidaknya jika Luna mencari papa baru yang setia dengan Mamanya, maka akan mempertimbangkan sosok Lisin.
Berbeda dengan pasangan yang sebelumnya lewat, tidak hanya merendahkan orang lain tetapi juga memiliki kesombongan setinggi langit.
Menurut Luna, Mungkin Lisin hanya tukang Taksi yang penting dia banyak uang.
Dasar pemikiran anak kecil, mengapa kamu tidak berpikir jika banyak uang alangkah baiknya tidak jadi supir taksi.
Setelah kepergian pasangan tersebut, dua penjaga menghampiri Lisin dan berniat mengusirnya. Hanya saja kejadian klasik seperti ini terlalu membosankan.
"Pak, Bisa pindahkan mobil taksinya..." Kata kedua penjaga tersebut dengan sopan.
Demi tugas pekerjaannya, keduanya harus membuat sikap tegas dan mensejahterakan keamanan pintu masuk utama.
"Ehm... Kalian adalah seorang karyawan perusahaan Angkasa jadi kalian seharusnya mengenal pemilik perusahaan kan?..." Kata Lisin dengan santai, walaupun kesal karena kondisi klasik. maka Lisin harus mengenalkan dirinya sebagai pemilik perusahaan Angkasa.
Kedua penjaga keamanan saling menatap kemudian bertanya - tanya, siapa atasan mereka. Keduanya jelas belum pernah bertemu dengan Lisin dan tidak mengetahui jika Lisin adalah atasan mereka.
"Benar, Atasan kami kaya, tampan, baik, sederhana, tidak sombong..." Keduanya memuji Lisin secara sepihak.
Lisin dengan senang mengangguk berulangkali, cukup lama tidak ada yang memuji dirinya, jadi Lisin tersenyum dengan puas.
Luna yang ada di pelukannya merasa jijik melihat senyuman yang Lisin tunjukkan.
Lisin tidak memahami pemikiran penyihir kecil Luna, dirinya berniat memberikan uang kaget kepada kedua penjaga yang memujinya. hanya saja kebahagiaan Lisin harus sirna saat mendengarkan desas - desus berikutnya.
"Juga rumornya, Atasan kita adalah penjahat kelamin paling fenomenal. Saksi mata mengatakan jika dia sudah meniduri lebih dari seribu wanita mudah dan tentunya perawan..." Rumor tersebut seperti pisau bermata dua, di mana bisa menyenangkan juga bisa menyakitkan.
Siapa sih yang menyebarkan rumor jika dirinya penjahat kelamin? Nanggung banget sekalian saja Dukun cabul.
Pasti Ningsih yang melakukannya, awalnya dengan tujuan agar lebih banyak karyawan mengenali atasan mereka yaitu Lisin. Ningsih menggunakan desas - desus karena Lisin tidak pernah mengunjungi hampir semua perusahaan anak cabang PT. Angkasa. bahkan di perusahaan pusat juga tidak melakukannya.
Sungguh Bos perusahaan yang nyaman dan tak memiliki beban. dan tinggal menunggu uang dividen datang layaknya seorang yang sudah pensiun.
__ADS_1
Lisin menurunkan Luna lalu menggunakan tangannya untuk menutupi kedua telinga Luna.
"Juga, Atasan kami telah meniduri semua karyawan yang ada di perusahaan Pusat..." Kata keduanya dengan iri, siapa yang tidak mengetahui perusahaan pusat PT. Angkasa yang di penuhi oleh keindahan.
Diam... Lisin ingin muntah darah, mengapa Ningsih menyebarkan desah - desus yang tidak mendasar seperti ini.
Jika sekarang mungkin belum, entahlah jika di masa depan...
"Karyawan wanita yang ingin memasuki perusahaan pusat maka harus menyerahkan kesuciannya kepada atasan kami..." Penjaga keamanan menambahkan.
Lisin sangat lelah mendengarkannya. dirinya sangat menyesal bertanya kepada kedua penjaga keamanan.
"Sudah cukup jangan diteruskan lagi..." Kata Lisin dengan frustasi.
"Mengapa, Kita sudah menganggap atasan kami sebagian seorang idola dan masih ada seratus lagi desas - desus yang belum kami katakan" Kata penjaga keamanan dengan bersemangat.
Apakah semua karyawan perusahaan miliknya di penuhi oleh orang - orang cabul? Lisin menggeleng. Hanya saja Lisin mungkin lupa jika dirinya lebih dari kata cabul.
"Tidak baik, membicarakan tentang keburukan atasan kalian di belakangnya..." Kata Lisin mengingatkan.
"Membicarakan di belakangnya itu tidak masalah karena atasan kita tidak akan mengetahuinya..."
"Benar, kita tidak salah. yang salah adalah jika kita membicarakannya di depan atasan kami, Auto pecat hahaha..." Kedua penjaga keamanan tertawa.
Sepertinya kedua penjaga keamanan sudah tidak bisa diluruskan kembali.
"Apakah kalian memiliki foto atasan kalian?..." Tanya Lisin.
"Punya dong..." Kedua penjaga keamanan mengambil ponsel miliknya masing- masing dan membuka foto yang mereka terima setelah menjadi penjaga keamanan. dan saat melihat foto tersebut, keduanya saling menatap kemudian melihat wajah tampan Lisin berulang kali.
"Bro, Di kok mirip ya?..."
"Benar bro... Apakah mereka orang yang sama?..."
Keduanya terus memikirkan desah - desus yang pertama, dan Lisin terlihat tampan, juga sederhana. semakin berfikir tentang kemungkinan, jika pemuda tersebut memang atasannya.
"Boss..." Kata kedua penjaga keamanan dengan sangat menyedihkan.
__ADS_1
Tidak jadi mendapatkan uang kaget, dapatnya Auto pecat...
Bersambung...