Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan

Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan
Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan Episode 131


__ADS_3


Dalam ruang kelas tertentu yang cukup gelap Lisin sedang di peluk Oleh Dewi dengan begitu erat.


Lisin tidak berharap jika Dewi akan begitu ketakutan dengan kegelapan. Namun, mengingat kembali jika pihak lain hanya seorang gadis. Lisin hanya bisa mendesah.


Hanya saja Lisin tidak marah di peluh oleh keindahan Dewi, justru sebaliknya karena pihak lain menekan semangka lembut miliknya, Membuat Lisin keenakan.


Sial... Aku harus tenang... Lisin mengambil nafas dalam-dalam.


"Dewi... Kamu tidak apa-apa?..." Lisin yang melihat kebawah bertanya.


Dewi memiliki tinggi badan lebih rendah di bandingkan Lisin, jadi saat Lisin menatap pihak lain dirinya harus melihat sedikit kebawah. Lisin juga dapat mencium bau harum dari tubuh matang Dewi.


"Aku... Aku takut kegelapan..." Dewi memejamkan matanya sambil memeluk erat Lisin.


"Dewi... Apakah kamu membawa ponsel, kamu bisa menghidupkan flash kameranya..." Lisin berkata dengan membujuk.


"Oh... iya aku lupa..." Kedua mata Dewi berbinar karena tercerahkan atas perkataan Lisin.


Dewi dengan malu-malu melepaskan pelukan terhadap Lisin kemudian mengambil ponsel yang ada di sakunya, lalu menyalahkan flash kameranya.


"Hehe... Aku lupa jika Aku membawa ponsel..." Dewi tersenyum konyol, dan membuat Lisin sedikit terpukau dengan senyuman polosnya.


Lisin adalah pemuda yang baik, tidak mudah tergoda dengan bujuk rayuan setan. Dirinya tidak memanfaatkan gadis polos seperti Dewi.


Jika itu kaum jomblo pasti akan memanfaatkan momen terburuk dengan meraba-raba yang itu, sangat jelas tidak akan melewatkan kesempatan dalam kesempitan.


Untung saja Lisin adalah pemuda Jomblo yang patut untuk di apresiasi karena, memiliki jiwa nasionalisme, Budi pekerti, Berbudi luhur, Baik Hati dan tidak sombong. Pastinya tidak memanfaatkan ataupun merugikan kaum wanita.


Ya walaupun sedikit menjabat sebagai penjahat kelamin.


"Lisin... Bagaimana kita akan keluar dari sini, bukannya kita harus mengikuti pertunjukan?..." Sambil memegang ponsel yang bercahaya Dewi bertanya dengan panik.


Awalnya Dewi panik karena takut jika Lisin akan mencari kesempatan dalam kesempitan, untung saja dia laki-laki yang baik dan tidak merugikan dirinya. juga Lisin sangat berbeda dengan kebanyakan laki-laki yang pernah Mengejar dirinya. itu karena Lisin tidak menginginkan imbalan apapun.


Hal ini membuat sosok Lisin menjadi spesial di hati Dewi.


"Kita hancurkan saja pintu ini... Mengapa repot..." Lisin juga mengeluarkan ponselnya lalu menyalahkan flash kameranya sebagai penerangan.

__ADS_1


"Tidak, kamu tidak boleh merusak properti Universitas..." Dewi menghentikan Lisin yang berniat merusak engsel pintu.


"Jika kita tidak menghancurkan pintu bagaimana kita akan keluar?..." Lisin heran dengan pemikiran Dewi, Mengapa masih memikirkan properti universitas.


"Kita bisa keluar melalui jendela..." Dewi menyarankan, kemudian dengan semangat membuka Jendela yang terkunci dari dalam. Namun, saat melihat keluar jendela dirinya baru sadar jika tempat mereka berada saat ini, berada di lantai dua.


"Kita tidak bisa melakukannya..." Dewi berkata dengan tidak berdaya.


"Aaa... Lisin apa yang kamu lakukan..." Dewi berkata dengan panik, karena Lisin menggendongnya tanpa peringatan.


"Tentu saja keluar dari sini..." Lisin yang menggendong Dewi kemudian berdiri tepat di tepi jendela.


"Lisin jangan bercanda... Kakimu bisa patah jika melompat dari lantai dua..." Dewi berkata dengan panik.


"Aaaa..." Dewi memejamkan matanya.


"Kita sudah mendarat kamu bisa membuka kedua matamu..." Lisin berkata dengan santai.


Tentunya melompat dari ketinggian lantai dua bukan ancamam untuk Lisin, dan Lisin sudah melakukannya sambil menggendong Dewi.


"Apa!!!..." Dewi seolah tidak percaya namun saat dirinya melihat sekeliling kemudian melihat juga keatas. Akhirnya Dewi yakin jika sudah berada di bawah, Tapi bagaimana bisa? bukankah sebelumnya berada di atas.


"Lisin... Kita kan punya ponsel mengapa kita tidak menelpon petugas yang menjaga gedung universitas?..." Dewi berkata setelah mengingatnya.


"Mengapa kamu baru mengingatkan sekarang... Lupakan saja kita juga sudah berada di luar" Lisin menjawab dengan tertekan, entah mengapa dirinya melakukan sesuatu yang tidak berguna.


Lisin dan Dewi berjalan kearah tempat parkir mobil, sedangkan itu di ruangan sebelumnya di mana Lisin dan Dewi terjebak. Lampu yang di matikan perlahan menyalah kembali.


"Krak... Kruk..." Suara kunci pintu terbuka dan memperlihatkan seorang bapak-bapak yang menjadi penjaga gedung universitas.


"Aneh... Rasanya seperti ada orang yang meminta di bukaan pintu, mengapa tidak ada siapa-siapa ya..." Penjaga gedung memasuki ruangan untuk melihat sekeliling dan hanya menemukan kotak bekal makanan yang sudah kosong.


"Mungkin hanya perasaanku saja..." Penjaga gedung tersebut mengunci pintu kembali kemudian mematikan lampu dan pergi begitu saja.


Jika Lisin tau penjaga gedung universitas yang sebelumnya mengunci pintu, kembali lagi dirinya pasti akan menampol petugas tersebut agar tidak tuman.


"Lisin kemana kita akan pergi?..." Dewi bertanya dengan khawatir karena kurang dari 2 jam lagi, acara perpisahan akan di langsungkan.


Saat ini Lisin dan Dewi berada dalam mobil Nissan Skyline yang sedang melaju di jalanan kota malang.

__ADS_1


"Penampilan yang bagus akan mendukung kesuksesan peforma di atas panggung..." Lisin yang mengemudi berkata dengan senyuman.


Dewi sedikit bingung, namun setelah mobilnya berhenti, dirinya mulai sadar jika Lisin membawanya ke salah satu Mall mewah yang ada di kota malang.


"Ayo turun... kita sudah sampai..." Lisin turun lebih awal kemudian di susul oleh Dewi yang sedikit malu.


Di salah satu Mall tertentu yang ada di kota Malang, Lisin dan Dewi menelusuri kawasan tersebut untuk menemukan setelan busana yang bagus untuk Dewi.


"Lisin... Tidak perlu membeli busana baru kita bisa menyewa busana saja, kan hanya di perlukan untuk sekali tampil saja..." Dewi berkata dan mecoba untuk menghentikan Lisin yang sedang memilih busana untuk Dewi.


"Mas... Ada yang bisa di bantu..." Dua karyawan Mall mendatangi Lisin dan Dewi yang sedang kebingungan untuk memutuskan setelan busana untuk Dewi.


"Sudahlah Say... Dia pasti hanya melihat-lihat dan setelah tahu harganya berapa, dia pasti langsung membatalkan pembelian..." Karyawan Satunya sangat ramah sedangkan Karyawan lainnya sangat sombong.


"Mbak maksudnya apa ya?..." Lisin jelas sedikit tersinggung, dan merasa ada saja hal klasik setiap dirinya ingin membeli sesuatu.


"Mas... Udalah sangat umum kejadian seperti ini, lebih baik tanya dulu harganya sebelum memutuskan membeli... Jika setelah memilih dan bergonta-ganti busana ujung-ujungnya tidak jadi membeli, bukannya akan merugikan waktu kita yang berharga" Karyawan wanita tersebut menjelaskan dengan kesal.


Dirinya sudah bertahun-tahun menjadi karyawan Mall dan sudah sering bertemu dengan pelanggan seperti Lisin dan Dewi. Dan dirinya merasa kesal saja dengan pelanggan yang sudah memutuskan untuk membeli namun, setelah mengetahui harganya langsung membatalkannya.


Dari pada melayani pelanggan yang suka PHP-in Karyawan seperti dirinya. Lebih baik menggunakan waktunya yang berharga untuk membaca novel online favoritnya, tentang sistem kekayaan yang baru saja Update belum lama ini.


"Say... Tidak baik bilang begitu, Namanya juga pelanggan, entah memutuskan untuk membeli atau tidak kita tetap harus melayaninya" Karyawan wanita lainnya berkata dengan baik-baik.


Lisin mengangguk dengan perkataan karyawan wanita yang baik.


Dari sini Lisin memahami sumber masalahnya, memang benar jika banyak pelanggan yang akan membatalkan pembelian setelah mengetahui harganya. namun, tetap saja sebagai karyawan sudah menjadi tugas mereka untuk melayani pelanggan, walaupun pelanggan tersebut tidak jadi membeli.


"Lisin... Kita menyewa busana saja... pasti di tempat ini harganya mahal-mahal..." Dewi berusaha membujuk Lisin.


"Jadi bagaimana jika harganya mahal... Aku bisa langsung membeli seluruh Mall ini..." Lisin berkata dengan yakin.


"Apa!!!... Apa aku tidak salah dengar, Kamu pikir kamu Bos perusahaan yang ada Novel sistem kekayaan yang bisa membeli Mall di saat membeli busana?..." Karyawan wanita yang sombong langsung marah.


Dirinya belum lama ini membaca novel sistem kekayaan, di mana karakter utama sedang Berbelanja dengan karakter wanita, kemudian Membeli Mall saat berbelanja busana.


"Oh... Mana Atasan kalian aku akan membeli Mall ini seperti yang ada di Novel sistem kekayaan..." Lisin berkata dengan kesal, mengapa dirinya akan bertemu dengan hal Klasik seperti ini lagi sih, bikin bosan saja.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2