Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan

Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan
Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan Episode 153


__ADS_3


Suliwa menyeringai, saat dirinya melihat kemolekan tubuh Wulan yang sangat menggoda dirinya hanya bisa mengangguk dengan pelan.


Jika keduanya di pertemukan dalam kondisi yang berbeda, jelas Suliwa sangat ingin menikahi Wulan. walaupun tidak memilikinya setidaknya bisa mengambil kesuciannya itu akan memenuhi keinginan egoisnya.


Sebelumnya, saat dirinya melihat Wulan yang sedang berada di daratan pesisir pantai Blimbingsari, Suliwa tanpa sengaja bertemu dengan Wulan yang saat itu sedang menikmati kehidupan dunia luar di temani beberapa pengawal juga Gatra.


Suliwa yang kepincut langsung menggunakan pengikutnya untuk menangkap Wulan dengan memberikan racun Afrodisiak seribu tahun.


Sayangnya rencana tersebut harus gagal, Karena terjadi pertempuran cukup sengit hingga akhirnya Gatra yang menyelamatkan Wulan dari orang - orang yang dirinya kirim.


Gatra saat itu membawa Wulan yang tak sadarkan diri, lalu menyewa perahu nelayan yang ada di desa Blimbingsari, lalu pergi menyebrangi laut dan menuju ke pulau Bali untuk meminta pertolongan Mak Lam.


Kejadian tersebut membuat Mahesa murka karena Putrinya menghilang dan terjadilah peperangan antara dua Perguruan dan memakan korban jiwa.


Jika Mahesa tidak menerima kabar putrinya selamat, kemungkinan peperangan akan terus berlanjut sampai salah satu di antara kedua Perguruan berakhir.


Suliwa sedikit bingung, mengapa Wulan bisa selamat dari racun Afrodisiak seribu tahun. Mengingat racun tersebut tidak memiliki obat penawar, kemungkinan besar hanya satu yaitu racun afrodisiak seribu tahun tidak manjur.


Tidak mungkin juga, Wulan bercocok tanam dengan seorang laki - laki acak, terutama Gatra tidak mungkin jadi orang yang melakukannya karena Gatra memiliki bagian bawah terluka.


Apa lagi cara mengatasi racun afrodisiak seribu tahun harus bercocok tanam, hingga pengaruh racunnya menghilang. jelas tidak akan mungkin ada laki - laki yang sanggup melakukannya, bahkan dirinya yang hanya Lima menit harus rendah diri.


Wulan hanya mengabaikan tatapan Suliwa dangan kebencian di dalam hatinya, jika bukan karena pihak lain meracuni dirinya Wulan tidak akan pergi ke Bali, apa lagi kehilangan kesuciannya dengan orang yang tidak di kenalnya.


Malwageni yang melihat putranya Suliwa tertarik akan kecantikan Wulan perlahan tersenyum, jelas dirinya memahami keinginan putranya.


"Mahesa, mengapa kamu menginginkan jalur tantangan, mengingat Putraku Suliwa bisa menjadi menantu mu..." Walwageni mengelus jenggot putihnya.


"Benarkah?... Malwageni, apakah kamu lupa dengan apa yang putramu lakukan, jika bukan karena racun afrodisiak seribu tahun darinya-" Sebelum Mahesa yang kesal menyelesaikan perkataannya, Wulan menghentikannya.


"Ayah..." Wulan memanggil dengan dingin.


"Ehm... Baiklah, mari kita mulai tantangannya..." Mahesa menambahkan dengan kesal.


.....

__ADS_1


Sedangkan itu, Lisin memiliki kedua mata membulat jelas dirinya sangat marah setelah mendengar perkataannya Sanjaya.


Keguguran!!!


"Krak..."


Tekanan yang menakutkan terpancar dari dalam tubuh Lisin, niat membunuh yang kuat sangat menakutkan. Sanjaya dan Putranya Gatra tanpa daya melangkah kebelakang.


Lisin yang saat ini marah sangat menakutkan. aura pembunuhan ini, jelas bukan selusin orang yang mati di tangan Lisin. Sanjaya hanya bisa malu dan ketakutan apa lagi Gatra yang bodoh, karena Lisin tanpa sadar tidak dapat mengontrol niat membunuhnya.


"Tuan bisakah kamu tentang, Wulan belum keguguran..." Gatra menggertakan giginya sambil menahan tekanan dari Lisin.


"Katakan di mana tempat Padepokan macan putih berada?... di mana tantangan itu di adakan" Lisin berkata dengan dingin.


Lisin kehilangan jati dirinya jika menyangkut masalah amarah, Lisin tidak memiliki ikatan cinta dengan Wulan, dari ingatan pertemuan terakhir dengannya, jelas Wulan sangat membenci Lisin karena merenggut kesuciannya.


Lisin memaklumi keputusan Wulan, wanita manapun akan marah saat kesuciannya di ambil tanpa didasari suka sama suka. akan terdengar aneh jika seorang wanita sangat bahagia saat mengetahui dirinya diperkosa.


Tetap saja Lisin tidak ada niatan memperkosa Wulan saat itu, karena dirinya murni hanya ingin menyelamatkan kehidupan Wulan dari racun afrodisiak seribu tahun, karena Lisin sudah berjanji kepada Gatra.


Itu berarti janin yang ada di perut Wulan adalah anak pertama Lisin, walaupun belum dilahirkan di dunia setidaknya dirinya akan menjadi calon ayah, jika anak tersebut mati tanpa melihat ayahnya. bagaimana Lisin tidak marah.


"Lokasinya di balik bukit kedua bagian timur lereng gunung Kawi..." Sanjaya menjelaskan.


"Aku akan langsung ke sana..." Lisin membuka pintu mobil namun di hentikan oleh Sanjaya.


"Tuan Lisin... Lokasi Padepokan macan putih tidak memiliki akses jalan raya... Jika berkenan bisa di akses melalui jalan kaki dan jika ingin mencapainya dengan cepat bisa menggunakan Teknik Tapak angin..." Sanjaya menjelaskan.


Karena tidak memiliki akses jalan raya Lisin terdiam, dan saat mendengarkan penjelasan Sanjaya dirinya hanya mengangguk, pertama jarak tempuh setidaknya 10 kilometer dan jika berjalan kaki tidak mungkin akan sampai dengan cepat, belum lagi akses jalan bertebing curam, maka pilihan kedua Teknik Tapak angin.


"Paman bisa kamu perlihatkan, seperti apa Teknik Tapak angin itu" Lisin bertanya.


Sanjaya tersenyum kecut sepertinya Lisin ini benar - benar tidak memahami Teknik bela diri sama sekali.


Jika itu orang lain Sanjaya akan memarahinya, Teknik Tapak angin sangatlah sulit untuk di pelajari. pertama seseorang harus memiliki kanuragan, kedua melatihnya berulang - ulang, Sanjaya sendiri memerlukan 10 tahun pelatihan untuk bisa berlari di atas permukaan angin.


Sanjaya tidak tahu apakah Lisin bisa mempelajarinya dengan singkat atau tidak yang jelas dirinya hanya memberikan bimbingan.

__ADS_1


"Tuan Lisin... Tolong perhatikan, Teknik ini membutuhkan pengontrolan kanuragan yang seimbang di antara kedua telapak kaki..." Sanjaya menghembuskan nafas berulang - ulang untuk mengatur pernapasan.


"Angin pada dasarnya dapat berbentuk padat jika kita menginjaknya dengan tepat..." Sanjaya mengingatkan.


Dengan cepat sanjaya melompat kemudian menginjak batang bohong terdekat. kemudian dirinya berlari di atas permukaan udara, beberapa kali menginjak dedaunan, dan menginjak batang pohon. setelah lebih dari 50 meter Sanjaya kembali ke posisi awal.


Lisin mengangguk, apa yang di lihatnya hampir sama dengan adegan kejar - kejaran film laga kolosal Legenda Gunung Berapi. hanya saja kali ini bukan setingan karena tidak ada kawat pengait yang di gunakan sebagai penggantung tubuh, dan editing.


Lisin dengan cepat memahaminya setelah melakukan beberapa kali, dirinya dengan lancar berlari di atas permukaan angin.


"Paman Sanjaya... Gatra... Aku akan meninggalkan kalian berdua..." Lisin dengan cepat menginjak batang pohon kemudian berlari di atas angin dan menghilang di kejauhan.


Sanjaya terkejut, bagaimana pihak lain mengetahui namanya.


"Ayah mengapa kamu diam saja?..." Gatra bertanya dengan hati - hati, karena ayahnya pemarah.


"Tuanmu... Tidak dapat di jelaskan dengan kata - kata, Ayah membutuhkan waktu 10 tahun, sedangkan dia hanya beberapa kali langsung bisa memahami dan menggunakannya dengan sempurna, Dia bahkan tidak menggunakan teknik pernapasan seolah dia menggunakan kanuragan secara alami" Sanjaya menghela nafas.


"Entah dia berbakat atau ayah yang tidak berbakat, jika ayah menceritakan kepada Tuan Mahesa pasti dia akan mengatakan Ayah ini berbohong..." Senjaya menambahkan.


"Ayah... Bukan karena kamu tidak berbakat, tapi karena Ayah Bodoh, Tidak pintar... Kita sama Ayah, Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya..." Gatra berkata dengan jujur.


"Sialan... Putra kurang ajar... Orang tua sendiri di katakan bodoh, tidak pintar... Sini kamu..." Sanjaya malu dan marah kemudian memukuli putranya dengan kejam.


"Aaaaa..."


Gatra hanya bisa menerima nasibnya yang menyedihkan di pukuli sanjaya.


Di antara pepohonan Lisin seperti pendekar terbang menggunakan Teknik Tapak Angin berlari tanpa hambatan menginjak dedaunan seolah tubuhnya sangat ringan.


Kedua mata Lisin menyipit memfokuskan penglihatannya, kali ini agar dirinya lebih cepat sampai. Lisin menggunakan semua energi dalam yang di milikinya.


Dalam hatinya Lisin berharap jika kedatangan dirinya tidak terlambat dan hal terburuk tidak akan terjadi.


Jika sampai kandungan Wulan berakhir dengan keguguran, entah Perguruan mana yang melakukannya, Lisin bersumpah akan memusnahkanya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2