
Universitas Negeri Malang...
Lisin yang baru saja datang langsung mengunjungi Kantor Dosen Mirna namun tidak menemukan keberadaan wanita yang menghabiskan satu malam dengan dirinya tersebut.
Apakah Dosen Mirna tidak kembali ke kampus? entahlah mungkin saja, bentar aku harus menelponnya, Apakah dia baik - baik saja?
Lisin mengeluarkan ponselnya lalu menelpon Dosen Mirna.
"Hallo..." Suara lelah terdengar dari sisi lain panggilan.
"Dosen Mirna kamu baik - baik saja? Aku mengunjungi kantor namun kamu tidak ada. dosen lain bilang kamu tidak ada sejak tadi pagi..." Lisin berdiri di Koridor kampus lantai dua sambil melihat Trio wik wik berlarian mengelilingi lapangan yang ada di halaman depan kampus.
"Punya ku bengkak itu semua gara - gara kamu, Aku meminta cuti sekarang, mungkin dalam satu minggu kelas akan di liburkan. aku sudah menghubungi kepala kampus..." Dosen Mirna menjelaskan.
Bengkak!!! Lisin bingung itu bengkaknya tersengat lebah atau yang lainnya. namun tidak berani bertanya.
"Dosen Mirna, Aku meminta maaf dengan tulus, katakan di mana tempat kamu tinggal aku akan menjengukmu..." Lisin berkata dengan penyesalan.
"Tidak, Jangan menjengukku, hal seperti ini pasti akan sembuh dengan sendirian..." Disen Mirna menjelaskan dengan tergesa - gesa.
Jika Lisin datang ke kediamannya, bukannya dirinya cepat sembuh melainkan tambah parah jika keduanya melakukannya lagi.
"Dosen Mirna, kamu tidak boleh menolak kebaikan orang lain, lagian punyamu bengkak karena kesalahan ku..." Lisin berkata dengan sungguh - sungguh.
Dengan kekayaan pribadinya Lisin bisa membeli pil dari tokoh sistem dan menyembuhkan Dosen Mirna bukan kesulitan untuk Lisin.
Lisin sudah menganggap Mirna sebagai wanitanya juga, jadi sudah sewajarnya dirinya membantu Dosen Mirna.
"Kamu ingin melakukannya denganku lagi kan?..." Mirna bertenya dengan heran.
Apa yang Mirna rasakan cukup berat, awalnya hanya ingin membimbing mahasiswa Lisin kejalan yang benar, dirinya juga mengetahui tentang survei ketahanan seorang laki-laki, yang mana rata - rata hanya bertahan 5 menit namun dirinya tidak berharap bisa melakukannya hingga menjelang pagi.
Dosen Mirna sedikit bingung di sini, Apakah hasil survei tersebut salah ketik mengapa Lisin yang Jomblo bisa begitu tahan lama?
Apakah semua Jomblo seperti itu?
"Ini..." Lisin yang mendengarkan pertanyaan dari Dosen Mirna hanya bisa terdiam.
Dirinya hanya khawatir karena Dosen Mirna yang mengatakan jika miliknya membengkak dan tidak ada pembahasan tentang melakukannya lagi, mengapa dosen Mirna mengatakan demikian.
"Lisin, Aku tau apa yang kamu inginkan kita bisa melakukannya lagi lain kali..." Dosen Mirna langsung menutup telepon.
Lisin di buat tidak bisa berkata - kata karena dirinya sangat bingung dengan perkataan Dosen Mirna. Lisin menghela nafas Karena pihak lain tidak ingin dijenguk kemungkinan besar sakitnya tidak terlalu parah.
Lisin melihat Trio wik wik yang duduk kelelahan dipinggir lapangan, sepertinya ketiganya baru saja menyelesaikan hukuman mereka.
__ADS_1
Lisin adalah orang yang baik karena itu dirinya pergi ke mesin minuman kemudian membelikan beberapa minuman dingin untuk ketiganya.
Walaupun Lisin masih kesal tentang masalah semalam setidaknya dirinya tidak memiliki teman lain selain ketiganya.
"Aku tidak sengaja membeli banyak, kalian bisa mengambil beberapa..." Lisin berkata dengan datar.
"Bro Lisin kamu teman yang baik..." Brian langsung meneguk botol minuman.
"Hahaha... Sudah aku duga Bro Lisin orang yang pengertian..." Alim berkata dengan bersangat.
"Ummm... Segarnya..." Jo mengangguk puas.
Lisin melihat ketiganya dengan tidak berdaya kemudian meminum minuman juga.
"Jadi mengapa kalian bertiga di hukum..." Lisin bertanya dengan bingung.
"Ini semua gara - gara pasangan mesum sehingga kami di hukum..." Jo berkata dengan kesal.
"Benar, Aku berdoa agar kepunyaan sih pria tidak bisa berdiri lagi atau impoten..." Brian menyumpahkan Lisin yang ada di depannya.
"Aku juga, Aku berharap sih pria terkena penyakit sifilis..." Alim mendoakan Lisin juga.
Penyakit Sifilis atau penyakit raja singa, penyakit ini tentang infeksi kelamin karena terlalu sering bercocok tanam.
"Enggah..." Lisin yang meminum minuman langsung tersedak.
Sial... Ternyata benar kalian bukan teman sejati tetapi teman laknat, Masak teman sendiri di doahkan yang tidak - tidak, bagaimana jika terakabulkan.
"Lisin... Ada apa bro?..." Brian bertanya.
"Tidak apa - apa..." Lisin menggeleng sambil mengusap mulutnya yang belepotan air minum.
"Bagaimana pasangan mesum yang kamu katakan bisa membuat kalian berlari berkeliling lapangan?..." Lisin bertanya.
"Al-kisah, kami bertiga menyusul bro Lisin ke toilet yang ada di belakang kampus, hanya saja tidak bertemu dengan Bro Lisin..." Brian angkat bicara.
"Saat kami di dalam toilet pria kami bertiga mendengarkan suara teriakan dari pasangan mesum, Alim kamu tirukan suaranya..." Brian menatap Alim.
"Eh... Mengapa aku harus menirukanya..." Alim bertanya bingung.
"Sudahlah Teriak saja seperti wanita kenikmatan... Agar Bro Lisin percaya" Brian menjelaskan.
"Ok... Aku mengerti..." Alim mengangguk.
"Aaaaa..." Walaupun tidak semirip suara Dosen Mirna setidaknya Alim sudah berusaha keras menirukanya.
Lisin yang melihat ketiga temannya merasa ingin menampar mereka semua.
__ADS_1
Sial... Kalian tidak perlu meragakannya seperti itu juga.
"Jadi apakah kalian menangkap pasangan mesum itu?..." Lisin mengalihkan ketiganya.
"Pepatah mengatakan, penjahat lebih pintar dari pada polisi, Kita betiga layaknya detektif mencoba untuk menangkap tersangka, hanya saja mereka keburu pergi..." Kali ini Jo menjelaskan dengan kesal.
"Disinilah Dosen gemuk memergoki kita bertiga, untung saja aku pintar sehingga kita berhasil kabur dengan selamat" Brian menambahkan.
"Lalu saat di bawah pohon besar... Kita mendengarkan lagi teriakan dari pasangan mesum tersebut... Alim..." Brian melihat kearah Alim.
"Aaaaa..." Alim mulai terbiasa dengan profesi barunya.
"Hanya saja saat kita mendatanginya, pasangan mesum tersebut sudah menghilang... Intuisi detektif ku mengatakan mereka benar - benar Ada..." Brian menjelaskan dengan bangga seolah dirinya baru saja meciptakan penemuan yang luar biasa.
Intuisi detektif!!!...
"Berikutnya, Alim melihat mobil berwarna biru bergoyang ria... Alim..." Brian melihat kearah Alim.
"Tunggu dulu, Kamu tidak menyuruhku untuk bergoyangkan..." Alim berkata dengan kesal.
"Jika bukan kamu siapa lagi, kan kamu yang melihat mobilnya bergoyang..." Jo menambahkan.
"Ok... Aku mengerti..." Alim dengan tertekan berdiri kemudian bergoyang, naik, turun, kanan, kiri ok.
Lisin yang melihat kelakuan ketiganya bingung antara menangis atau tertawa. Di dalam mobil itu ada dirinya dan Dosen Mirna yang sedang bercocok tanam kenapa kalian menirukan goyangan mobilnya.
"Kira - kira seperti itu Bro Lisin... Kemudian, kami menelpon bro Lisin untuk memastikan jika di dalam mobil itu bukan bro Lisin..." Brian menambahkan.
"Berikutnya saat kami bertiga menonton drama musikal... Aku tidak sengaja melihat pencahayaan pada ruangan kelas kita. Dan aku melihat bayangan pasangan mesum yang sedang kuda - kudaan... Alim... Jo..." Brian berkata sambil melihat Alim dan Jo.
"Sialan kamu tidak menyuruh kita untuk meragakan bayangan kuda - kudaan kan... mengapa tidak kamu saja..." Kali ini Jo berteriak dengan marah.
"Sesan Jo... Sersan Alim..." Brian berkata dengan tegas.
"Siap 26..." Keduanya menjawab secara bersamaan.
"Agar Bro Lisin percaya dengan perkataan kita, maka kalian berdua harus menirukan bayangan tersebut, mengerti..." Perkataan Brian seperti menghipnotis keduanya.
"Siap 26..." Keduanya berdiri Alim bersiap membungkuk dan Jo berdiri di belakangnya.
"Stop... Stop... Kalian tidak harus meragakannya... karena aku percaya dengan perkataan kalian bertiga..." Lisin seperti ingin muntah darah saat melihat keduanya mengambil posisi kuda - kudaan.
Sial... Kalian berdua adalah laki - laki jangan membuat adegan seperti itu, mataku rusak hanya membayangkannya saja.
"Terima kasih Bro Lisin karena sudah percaya dengan perkataan kita bertiga..." Brian berkata dengan penuh rasa syukur.
"Terima kasih... Karena mau meluangkan waktu..." Alim menambahkan.
__ADS_1
"Benar, karena Bro Lisin kita bertiga bisa tetap tegar menjalani kehidupan ini..." Jo juga menambahkan.
Bersambung...