
Jalan raya kota Banyuwangi tidak seperti jalan raya di bali, jalanan di sini tidak padat kendaraan apa lagi kemacetan panjang ini adalah jalanan yang cukup sepi.
Lamborghini Melaju dengan pelan Lisin tidak berdaya karena Ratih yang duduk di sampingnya melarangnya untuk melaju dengan kencang.
"Dek Ratih bisa di tambah kecepatannya lagi... " Lisin yang melihat indikator kecepatan yang menunjukkan angka 20 km/jam tidak berdaya.
"Tidak boleh... Ratih takut kalo jalanya cepat, nanti bisa terjadi tabrakan, seperti di sinetron gitu mas... " Ratih menjelaskan kepada Lisin.
Sinetron... sinetron yang mana... hade... semua sinetron hanya akting yang diatur oleh sutradara, walaupun mobil jalanya pelan kalo alur ceritanya harus tabrakan ya tidak dapat di hindari, Ratih tolong kurangi nonton sinetron azab itu bisa merusak pemahaman hidup.
"Ya... ya... " Jika kamu naik taksi pasti supirnya menangis karena pesanan penumpangnya sedikit.
"TongTingTong... TongTingTong... " Lisin terkejut, benar juga ini kan nada panggilan ponsel baru.
Lisin Menggunakan tangan kanannya untuk menjawab sambil mengemudi.
"Berhenti Mas Lisin... " Lisin tanpa sadar langsung menepi kemudian menghentikan mobilnya.
"Dek Ratih ada apa... " Lisin mengesampingkan panggilan dan bertanya.
"Mas Lisin kalo mengemudi itu tidak boleh sambil menelpon nanti kenapa-kenapa di jalan gimana?" Ratih berkata dengan marah.
Sial... Jalanan di sini sepi tidak ada kendaraan lewat jika nabrak mungkin nyamuk yang menyebrang.
"Hallo... " Lisin dengan tidak berdaya
mengangkat panggilan.
"Lisin-sama kenapa anda tidak pulang?... Shizuka ingin membuat anak... " Panggilan tersebut dari shizuka untungnya Lisin tidak menggunakan Loudspeaker, jika iya mungkin Ratih akan salah paham.
"Saat ini aku di Jawa... kamu bisa tinggal di villa itu dan terserah kamu ingin melakukan apa... "
"Tapi Shizuka hanya ingin punya anak... apakah Shizuka boleh datang ke sana... " Sial... Shizuka ini isi otaknya hanya gituan mulu.
"Tidak bisa ini bisnis... " Lisin melihat ke arah Ratih yang menatapnya seperti pisau.
"Baiklah Lisin-sama... " Mematikan Ponsel Lisin menghela nafas.
"Mas Lisin siapa yang menelpon?" Ratih bertanya.
"Dia pacarku yang ada di bali... " Lisin menjawab dengan jujur, dia tidak ingin berbohong.
Bagus dengan ini Ratih pasti ilfil dengan ku karena aku sudah punya pacar, Bukan tidak ingin menjadikan Ratih sebagai wanitaku namun perasaanku terhadapnya seperti kakak adik saja.
"Oh... Pacar Mas Lisin... " Lisin terkejut melihat respon Ratih.
Eh... kenapa dia tidak marah... aneh padahal aku berharap jika Ratih akan marah lalu minta di anterin pulang.
"TongTingTong... " Sial siapa lagi yang nelpon...
"Hallo... "
"Bos apakah kamu tidak ingin lembur denganku?" Ningsih di sisi lain telpon menggoda Lisin, berharap jika Lisin akan tidur dengannya.
Ini lagi... Ningsih kenapa sekarang minta gituan besok-besok kan bisa.
"Ningsih... Saat ini aku pulang kampung jadi aku tidak bisa menemanimu Lembur... "
"Baiklah bos aku mengerti... " Lisin Langsung mematikan ponselnya.
"Mas Lisin Siapa lagi yang telpon... " Ratih yang sebelumnya diam bertanya.
"Ini pacar kedua ku... "
Bagus... dia pasti berpikir jika aku ini Playboy, Mana ada cewek yang masih ingin dekat jika cowoknya Seorang Playboy.
"Oh... pacar kedua Mas Lisin" Ratih berkata dengan datar.
__ADS_1
Sial... kenapa dia tidak marah mungkinkah aku yang salah mengerti.
Lisin langsung mengemudikan Lamborghini ingin menuju ke rumah sakit namun ponselnya berbunyi lagi.
"TongTingTong... " Lisin tidak berniat mengangkatnya dia hanya fokus mengemudi.
"Kenapa Mas Lisin tidak menjawabnya... " Ratih bertanya.
"Oh itu pasti telpon dari orang yang tidak penting... " Lisin dapat melihat jika Itu Nagisa yang menelpon.
"Tapi dia berulang kali menelpon, pasti ada hal yang penting, Mas Lisin fokus aja mengemudi aku bisa membantu menjawabnya... " Ratih berniat mengambil ponsel yang ada di saku Lisin.
Bagaimana Lisin Membiarkan Ratih berbicara dengan Nagisa, bisa terjadi perang Dunia ketiga ni. Lisin langsung menepi lagi dan menghentikan mobilnya.
"Kamu benar ini pasti penting jadi aku saja yang menjawabnya sendiri... " Lisin menghentikan tangan salju Ratih ketika hendak menyentuh Ponselnya.
"Hallo... "
"Lisin... kapan kamu akan mengajakku pergi keluar, Kamu punya hutang dua kali denganku... " Nagisa yang berkata di sisi lain penelpon mendengus dingin.
"Maaf... aku tidak bisa sekarang... lain kali saja" Lisin langsung mematikan ponselnya lalu menggunakan mode dari dering ke getar.
"Apakah itu pacar ketiganya Mas Lisin... " Ratih bertanya untuk yang kesekian kalinya.
"Yah... "
kenapa sih semuanya menelpon ku secara berurutan apakah mereka semua bersekongkol ya pasti seperti itu.
"Mas Lisin ponselnya bergetar... "
Lisin dengan terpaksa menjawab, Itu adalah panggilan dari Vita yang marah, Vita tau jika Lisin pulang tapi kenapa Lisin pulang ke Jawa tidak menemuinya, Lisin hanya bisa berjanji setelah semuanya selesai dia akan menemuinya.
"Mas Lisin Ponselnya... "
"Mas Lisin... "
Anri dan Migumi menelpon Lisin juga... Lisin bingung antara menangis atau tertawa, jadi dia menjelaskan ke mereka dengan mengatakan tidak bisa membuat kesepakatan bertemu.
Lisin mengangguk sebagai jawaban.
"Dek Ratih apa pendapat mu saat tau jika pacar Mas Lisin segudang?" Lisin bertanya dia ingin memastikan apakah Ratih menganggapnya seperti kakaknya atau yang lain.
"Ya... Ratih sedih, terkejut, kecewa, marah, kenapa Mas Lisin tidak menjadikan Ratih pacarnya Mas Lisin juga... "
"Engga... " untung Mobilnya berhenti di tepi jalan jika itu melaju di tengah jalan Lisin akan banting setir.
"Dek Ratih kenapa kamu berpikir seperti itu... Kita adik kakak aja tidak boleh lebih... " Lisin bingung melihat Ratih yang hendak menangis.
"Mas Lisin jahat... orang lain bisa menjadi pacar Mas Lisin kenapa Ratih yang sudah lebih dulu mengenal Mas Lisin tidak bisa menjadi pacar, apakah karena Keluarga Ratih miskin" Air mata mengalir di kedua sudut mata Ratih.
Sial... kenapa dengan gadis ini... Ya Tuhan aku kewalahan, apa yang harus ku lakukan agar dia tidak menangis lagi.
"Dek Ratih bisakah kamu berhenti menangis, Mas Lisin akan menjadi pacar Dek Ratih mulai sekarang... " Lisin tidak berdaya berjanji.
Ratih berhenti menangis sambil mengangguk lalu mengusap air matanya, kemudian dengan cepat mencium pipi halus Lisin.
Lisin tidak menyangka jika gadis polos di sebelahnya berinisiatif menciumnya.
"Mas Lisin apakah kita akan pergi ke hotel... " Ratih bertanya malu-malu.
"Enggah... " Sial... kenapa kamu berpikir jika orang berpacaran harus pergi ke hotel, bukannya kamu gadis desa yang polos siapa yang merusak mu Ratih.
"Belajar dari mana kamu Dek Ratih..." Lisin yang menenangkan dirinya bertanya.
"Bukannya di sinetron seperti itu setelah berpacaran terus kita tidur di hotel setelah Ratih hamil Mas Lisin harus bertanggung jawab... " Ratih menjawab dengan polosnya.
Sial... sinetron tidak berakhlak itu meracuni pikiran gadis polos, berapa banyak gadis seperti Ratih yang menjadi korban dari sinetron.
__ADS_1
"Sinetron apa yang ceritanya seperti itu... kamu pasti salah mengingatnya... " Lisin berusaha agar tidak pergi ke hotel dengan Ratih.
"judulnya jika tidak salah Little Mom, Dibintangi sama Mbak Natasha Dan Mas Al Ratih mengikuti serialnya baruu beberapa episode... "
Sial... apakah TV di rumah Ratih sudah bisa mengakses internet yang sudah menggunakan sistem android TV... Apakah ada orang lain yang mengajaknya menonton melalui smartphone.
"Di mana kamu melihatnya bukankah TV di rumahmu belum bisa mengakses internet ataukah kamu melihatnya melalui smartphone" Lisin harus menemukan dalang di balik rusaknya Ratih yang polos.
"Tetanggaku yang masa depannya suram akan mengajakku melihatnya setiap ada film baru... "
Ternyata dia yang meracuni pemikiran Ratih dasar ya... masa depan yang suram siapa dia.
"Dia sahabatku mantan istri juragan Suryo... Jika Ratih senggang Ratih bermain dengannya... "
"Begitu ya... Yang jelas kita belum bisa pergi ke hotel, kita bisa melangkah perlahan-lahan seperti... ah... kita tukar nomer ponsel dulu agar kita bisa berhubungan melalui panggilan telepon" Lisin mengeluarkan ponselnya berniat menyimpan nomor telepon Ratih.
"Mas Lisin Ratih tidak punya Ponsel, Papa... tidak mengijinkan Ratih punya ponsel... Maka dari itu Ratih mengandalkan Sahabat Ratih"
Paman aku mengagumimu tindakanmu sangat tepat, Ratih tidak boleh menggunakan smartphone jika tidak dia bisa melihat Film tante Anri dan tante Migumi.
"Mas Lisin gimana ini... Ratih tidak bisa menghubungi Mas Lisin melalui panggilan telepon... " Ratih hendak menangis.
"J-jangan menangis... Mas Lisin punya banyak Ponsel yang tidak si gunakan Ratih bisa memiliki salah satu... " Lisin memperlihatkan beberapa ponsel yang masih tersegel yang ada di mobilnya.
"Terimakasih Mas Lisin Ratih pilih yang ini saja... " Yang di pilih Ratih adalah Oppo Reno 6 5G yang sama dengan yang Lisin berikan terhadap Siska.
Lisin yang melihat Ratih dengan lihai menggunakan ponsel menyalahkan dirinya sendiri, Maaf paman Sepertinya aku telah merusak Ratih.
(DING...)
(Tugas sistem terpicu tuan rumah harus menghabiskan dana sistem sebesar 10 Milyar dalam waktu satu Jam)
Sial... aku senang mendapat tugas sistem tapi aku juga sedih, 10 Miliyar di gunakan untuk apa. jika aku tidak menghabiskannya maka saldo ku akan berkurang 10 Miliyar.
"Ratih kita pergi ke Dealer Mobil... bukannya menurutmu mobil ini cukup kecil, kita beli saja yang lebih besar" Lisin tersenyum melihat Ratih.
Jika Lisin menjemput Kedua orang tuanya dengan Lamborghini bagaimana orang tuanya naik mobil yang kursinya hanya ada dua. Lisin berniat membeli Mobil jenis SUV karena dia membutuhkan Mobil sangat besar, tentu saja harus mahal jika tidak bagaimana Lisin akan menyelesaikan tugas sistem.
Lamborghini melewati Rumah sakit yang seharusnya menjadi tempat pemberhentiannya.
Lamborghini berhenti di depan Dealer Mobil Banyuwangi... aku tidak tau apakah disini ada mobil dengan harga 10 Milyar.
"Apakah Mas Lisin Punya uang untuk menukar Mobil lamanya... " Ratih bertanya kaget.
"Punya sedikit... "
Di samping Dealer Mobil Banyuwangi Ada Showroom Mobil bekas dan saat seorang wanita dengan riasan tebal di sana melihat kedatangan Lamborghini dia langsung memanggil bosnya yang sekaligus pacarnya.
"Sayang apakah kamu ingin menyapa pelanggan super kaya pemilik Mobil Sport" wanita dengan riasan tebal menarik lengan pacarnya.
"Pelanggan Super kaya..." Lelaki itu merespon lambat kemudian bersemangat.
"Benar... dari tadi Showroom Mobil kita sepi, kita harus membuat pelanggan itu datang ke Showroom agar membeli mobil bekas, jika tidak mereka akan membeli mobil baru yang ada di Dealer sebelah" Pasangan tersebut langsung mendatangi Lamborghini yang baru saja datang, dan saat melihat Lisin keluar dari Lamborghini mereka berdua seperti melihat hantu.
"Lisin... " Pasangan tersebut secara bersamaan memanggil nama Lisin.
"Kalian... " Lisin bingung melihat wanita riasan tebal merasa tidak mengenalnya sedangkan Laki-laki ini nampak familiar.
"Kamu jadi sopir sekarang... Apa kamu ingin mengejar ku lagi" Wanita riasan Tebal itu berkata dengan Marah.
"Bro berapa lama jadi supir... " Laki-laki itu mengejek Lisin sambil tertawa.
Lisin mengerti sekarang...
"Kamu Rahayu Mantanku dan kamu Hasan pacar barunya sekaligus teman saat kita Sekolah kejuruan... " Lisin Tersenyum.
Hasan ini berbeda dengan teman sekampung Lisin keduanya hanya sama dalam nama.
__ADS_1
Lisin ingin muntah saat melihat riasan tebal Rahayu, Lisin merasa pasti buta jika dirinya memiliki perasaan terhadap wanita seperti ini selama 3 tahun, jika di bandingkan dengan yang ada di Foto Facebook Lisin percaya jika itu karena filter kamera.
Bersambung....