Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan

Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan
Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan Episode 64


__ADS_3

Setelah berpisah dengan Pesawat Lion Airline Boeing 747-400 Lisin mengendalikan parasut pergi ke Kuta bagian utara, terbawa angin kencang membuat parasut yang di kenakan Lisin semakin melambung tinggi.


Lisin tidak kehabisan akal dirinya mengambil beberapa uang receh yang ada di saku celana, kemudian menembakan dengan jemarinya membuat beberapa lubang pada kain parasut.


Saat berada di ketinggian Lisin mengitari beberapa bangunan tinggi seperti perhotelan, gedung perkantoran, pusat pembelanjaan dan lain sebagainya. namun Lisin tidak menemukan Apartemen sewaan dengan nama Deva Bali Apartment.


"Anda saya tilang karena melawan arus..." Seorang polwan cantik menilang seorang pengendara motor yang melakukan kesalahan pengambilan jalur satu arah.


"Di sana... di sana ada orang terbang dengan parasut" pengendara itu berkata sambil melihat ke atas.


"Kamu membohongi saya..." Polwan tersebut berkata dengan tatapan tajam.


"Beneran saya tidak berbohong..." Pengendara motor tersebut mengatakan sejujurnya tentang apa yang dirinya lihat.


"Sudahlah, itu trik lama tidak mempan... sekarang keluarkan SIM dan STNK" Polwan cantik tersebut adalah Yana yang saat ini di pindahkan menjadi polisi lalulintas.


Yana mendengar jika terjadi pembajakan pesawat udara namun kerena posisinya telah di pindahkan ke cabang dia tidak memiliki wewenang untuk ambil bagian.


"Beneran saya tidak berbohong..." Pengendara itu mengeluarkan SIM dan STNK, dia mengeluh bukan karena tidak ingin di tilang melainkan ingin memberi tahukan jika apa yang dirinya lihat bukanlah kebohongan.


Yana yang berniat mencatat nomor kendaraan di hentikan oleh sesuatu seperti bayangan besar, kemudian tanpa sadar dirinya melihat ke atas dan ternyata apa yang di katakan pengendara adalah kebenaran.


"Dia... bukannya itu Lisin, Brengsek... kenapa dia menggunakan parasut di tempat umum" Yana melupakan jika saat ini dirinya sedang melakukan penilangan.


"Awas saja... aku akan memberinya penangkapan, jika tidak kekesalanku tidak akan terselesaikan" Yana bukan membenci Lisin melainkan kesal saja saat bertemu dengannya.


"Mbak polwan... mengapa kamu pergi dengan motorku" Pengendara tersebut bertanya saat Yana memakai Helm dan menghidupkan Yamaha Nmax milik si pengendara.


"Pak... anda ingin saya tilang apa tidak?" mendengar perkataan polwan Yana si pengendara jelas menggeleng sebagai jawaban.


Siapa yang ingin kendaraannya di tilang belum lagi harus melakukan sidang. jika ada pilihan untuk tidak di tilang mengapa tidak menerimanya.


"Kalau begitu motornya saya pinjam dulu, kamu bisa mengambilnya nanti di kapolres kuta" Tanpa menunggu si pengendara mengiyakan Yana membawa Yamaha Nmax ke arah utara di mana itu melawan jalur searah.


Si pemilik kendaraan Yamaha Nmax ingin menangis tanpa air mata, jika tau seperti ini lebih baik di tilang saja motornya. Dirinya melawan arus searah terkena tilang polisi, lalu saat polisi melawan jalur searah siapa yang akan menilangnya.


Yana dengan hati-hati mengemudikan kendaraannya sambil mengejar Lisin yang menggunakan Parasut terbang di kejauhan.


"Sial... apartemennya yang mana?" Lisin kebingungan mencari lokasi dari Ningsih, keberadaan parasut menarik perhatian banyak orang. kemudian Lisin melihat timer waktu menunjukkan sisa waktu 10 menit.


"Itu dia..." Tidak jauh dari sana sebuah bangunan bertingkat dan itu terlihat menakjubkan, Deva Bali Apartment Tertulis cukup besar di bagian depan Pintu masuk.


Lisin menggunakan energi batin untuk mengendalikan angin di sekitarnya. setelah cukup dekat dengan bangunan apartemen, Lisin ingat jika Apartemen Ningsih berada di lantai 3 dengan nomor Apartemen 18.


Lisin tidak mungkin jika masuk melalui prosedur normal karena itu akan memakan waktu, apa lagi penjaga Apartemen akan mempersulit dirinya. jadi Lisin lebih memilih untuk melakukan cara ekstrem yaitu menerobos melalui jendela kaca lantai tiga.


"Craaaang!..." Suara pecahan kaca.


.....


Deva Bali Apartment.


Di salah satu Apartemen di lantai 3 terdapat sepasang kekasih yang berbahagia sedang asik olahraga ranjang.


"Mimi sedang enak-enaknya kenapa Pipi mencabutnya" Seorang wanita riasan tebal bertanya ke seorang pria yang kecapean.


"Mimi... Pipi sudah keluar, dan itunya sudah lemas kita berhenti dulu aja gimana" Si pria bertanya dengan rasa bersalah.


"Apa... Berhenti, Pipi baru 2 menit kenapa udah keluar, Mantan-mantan Mimi rata-rata 5 menitan kenapa Pipi tidak bisa" Wanita riasan tebal berkata dengan nada tinggi seolah tidak puas dengan kinerja ranjang pacarnya.


"Mimi... tolong jangan salahkan Pipi, saat ini Pipi kecapean saja karena banyak kerjaan di kantor" Si pria tidak berdaya dengan pacar barunya yang selalu meminta olahraga ranjang di setiap ada kesempatan.


"Apa... kecapean, Pipi tidak kebanyakan bermain Sabun kan?" Tanya wanita riasan tebal.


"Mana mungkin Pipi melakukan hal seperti itu..." Si pria menjawab dengan berkeringat dingin. semua seperti apa yang di tebak pacarnya, karena sejak remaja hingga dewasa keseringan bermain sabun, sekarang saat melakukan olahraga ranjang membuat waktu permainannya di bawah rata-rata.


"Kalau begitu Pipi lanjutkan lagi, jika tidak kita putus..." Wanita riasan tebal mengancam.


"Ini..." Pria tersebut tidak berdaya, apa yang harus aku lakukan jika punyaku sudah mengecil. Pria tersebut tidak kehabisan akal, dia langsung membayangkan jika Pacarnya adalah salah satu artis jav favoritnya.


Apakah ini aneh saat pria tersebut melakukan dengan pacarnya dia tidak bergairah, namun saat mengingat artis Jav favoritnya hal itu membuatnya bersemangat, dan punyanya yang seukuran jari kelingking dengan cepat menjadi keras.


"Mini... Pipi akan memasukannya lagi" Si pria bertekad.


"Ayo datang Pipi" Sebelum si pria memasukkannya sebuah suara keras mengejutkannya.

__ADS_1


"Craaaang!..." Suara pecahan kaca.


Seorang pemuda tidak di kenal masuk melalui jendela dan itu membuat sepasang kekasih yang berbahagia itu terkejut.


"Ahhhh..." Si wanita riasan tebal berteriak kesakitan.


"Siapa kamu..." Si pria bertanya ke arah Lisin.


"Saya... Iklan yang kebetulan lewat, kalian bisa meneruskan kesenangan kalian. saya akan pergi dulu" Lisin melihat sekeliling dan merasa jika dirinya salah ruangan, melepaskan parasut yang ada di punggungnya.


"Hati-hati bro..." Si pria melihat kepergian Lisin tidak berdaya.


"Bro apa kamu tau Apartemen nomor 18" Lisin berhenti kemudian bertanya.


"Oh... kamu lurus saja kemudian belok kanan, Apartemen nomor 18 ada di paling ujung" Si pria menjelaskan apa yang dirinya ketahui.


"Terima kasih bro... " Lisin tidak menunda lagi dan langsung bergegas ke Apartemen nomor 18.


Si pria menghela nafas kemudian melihat Pacarnya yang kejang-kejang seperti ada yang salah dengan wanita riasan tebal.


"Mimi... kamu tidak apa-apa?" Si pria bertanya dengan khawatir.


"A... Apanya... yang baik-baik saja" Wanita riasan tebal, berkata patah-patah.


"Kenapa Mimi... seperti orang sakit Epilepsi" Si pria bertanya dengan bingung.


Penyakit epilepsi atau ayan merupakan kondisi yang dapat menjadikan seseorang mengalami kejang secara berulang.


"Itu salah... Pipi... Tolong cabut Pi... rasanya sakit" Wanita riasan tebal memohon.


"Sakit..." Si pria jelas bingung, sebelumnya di cabut marah sekarang di colokin lagi disuruh cabut, yang benar yang mana. kemudian Si pria melihat kebawa dan ternyata dia salah lubang.


"Maaf Mi... Pipi tidak sengaja" Si pria ketakutan.


"Tidak ada Mimi Pipi lagi sekarang kita putus..." Wanita riasan tebal berkata dengan marah.


"Tidakkkkkk..." Pria itu sangat membenci Lisin jika bukan Iklan dari Lisin pasti tidak akan salah lubang apa lagi putus dengan pacarnya.


.....


Di dalam ruangan Apartemen, Lisin dapat melihat kotak besi dengan pipa yang terhubung ke tabung karbon monoksida dengan Timer waktu kurang dari satu menit.


Lisin dengan kejam langsung menghancurkan timer waktu dan memotong pipa penghubung dengan katana miliknya. kemudian Lisin menghancurkan pengunci yang menutup kotak tersebut.


"Ningsih... kamu baik-baik saja?" Lisin bertanya dengan panik, sedangkan Ningsih yang melihat jika orang yang menyelamatkannya Lisin sangat senang.


"Lisin..." Ningsih bergegas ke pelukan Lisin sambil menangis, setelah lebih dari 5 menit keduanya berpisah.


Setelah melihat Ningsih tenang, Lisin memberikan dua Pil dan satu keterampilan bertarung. itu semua sama dengan apa yang Lisin berikan kepada Vita dan Ratih.


.....


Yana memarkirkan motor Yamaha Nmax di depan Deva Bali Apartment, setelah menunjukan lencana kepolisian, penjaga dan pengurus Apartemen sangat senang.


Suara pecahnya kaca jendela membuat semua orang yang mendiami Apartemen sangat panik, setelah kedatangan Polwan Yana semuanya kembali tenang. pasti penjahat yang menerobos Apartemen akan segera tertangkap.


"Lisin keluar kamu..."


Yana menerobos Apartemen yang memiliki jendela kaca yang pecah, bukannya bertemu dengan Lisin melainkan bertemu dengan sepasang kekasih yang sebelumnya salah colok lubang.


"Tunjukan tanda pengenal kalian..." Yana adalah tipe orang yang membenci perbuatan tidak senonoh seperti asusila apa lagi jika tanpa di dasari ikatan pernikahan.


Karena keduanya belum memiliki ikatan pernikahan, Yana dengan kebencian langsung menangkap kedua pelaku guna menjalani pemeriksaan lebih lanjut.


"Tolong... saya di perkosa"


Wanita riasan tebal menangis tersedu-sedu, dirinya mengaku sebagai korban pemerkosaan jelas dia berbohong kepada polwan Yana.


"Kamu..."


Si pria sangat marah bukannya kita baru saja pacaran dan berakhir dengan olahraga ranjang, Si pria tertekan dan marah dia lebih kesal dengan wanita riasan tebal dari pada gangguan iklan Lisin sebelumnya.


"Cukup... jelaskan nanti di kantor polisi" Yana memborgol kedua tersangka.


"Wiuuu... Wiuuu..." suara sirene polisi datang dan memasuki Deva Bali Apartment.

__ADS_1


"Kakek..." Yana sangat terkejut saat melihat kakeknya memasuki Apartemen..


"Yana... kenapa kamu ada di sini dan siapa yang kamu tangkap" Jenderal tua sedikit tidak senang dengan cucunya, bukannya menjaga ketertiban lalulintas melainkan pergi ke tempat seperti ini.


"Tentu saja... untuk menangkap Si brengsek Lisin" Yana berkata acu tak acu.


"Kamu juga mengenal Lisin..." Jenderal tua bertanya dengan heran karena tidak berharap jika cucunya yang membenci laki-laki mengenal seorang pria.


"Hahaha..." Mengingat pria tersebut adalah Lisin Jenderal tua sangat bahagia, jika cucunya bisa menikah dengan Lisin jelas Keluarga Jenderal tua akan naik ke ketinggian baru.


"Kenapa kakek tertawa... Yana sebelumnya melihat jika Lisin terbang dengan parasut dan berakhir dengan menerobos masuk ke Apartemen ini jadi Yana ingin menangkapnya" Yana menjelaskan dengan jujur.


"Menangkapnya... kamu tidak boleh menangkapnya, dia seorang pahlawan nasional sekarang" Jenderal tua melihat sekeliling namun tidak menemukan keberadaan Lisin. melainkan melihat sepasang kekasih yang begitu menyedihkan dan mengerti apa yang mereka berdua lakukan.


"Pahlawan nasional... bagaimana bisa" Yana sedikit iri, untuk bisa di panggil sebagai pahlawan nasional mereka harus berjasa besar untuk bangsa dan negara.


Jenderal tua jelas sudah menerima penjelasan rinci dari Materai dan beberapa penumpang pesawat Lion Airline Boeing 747-400.


Jenderal tua tidak berharap jika Lisin adalah salah satu penumpang dari pesawat yang mengalami pembajakan. walaupun semua terorisme sudah tiada setidaknya semua penumpang selamat apa lagi kedua pilot yang mengalami luka tembak hanya perlu melakukan operasi bagian perut. Bagaimana jenderal tua tidak bahagia dengan situasi ini.


Jenderal tua kemudian sangat marah saat mengetahui jika di atas pesawat terdapat sebuah Bom belum lagi dalang di balik pembajakan pesawat adalah Jack Smith pemimpin terorisme KKB papua.


Setelah mendengarkan penjelasan lebih lanjut Jenderal tua tersenyum dari telinga ke telinga, itu karena Lisin melepas Bom yang ada di atas kabin pesawat kemudian meledakkan kearah Jack. walaupun tidak ada saksi mata yang melihat bagaimana Lisin melakukannya, namun jenderal tua percaya jika itu perbuatan Lisin.


Sekarang mengetahui jika Ningsih yang juga teman cucunya dalam bahaya Jenderal tua langsung turun tangan datang ke lokasi tanpa menunda waktu.


"Apa... Ningsih dalam bahaya" Yana berteriak panik setelah mendengar penjelasan mengapa Lisin menggunakan parasut untuk menyelamatkan Ningsih.


"Kemana kamu pergi..." Melihat Yana yang terburu-buru pergi Jenderal tua bertanya.


"Tentu saja Apartemen nomor 18" Tanpa melihat ke belakang Yana pergi.


"Kalian tangkap mereka yang berbuat tindak Asusila ini..." Jenderal tua melihat pasangan itu dengan tatapan jijik.


"Baik..." polisi langsung meringkus pasangan tersebut.


Pasangan tersebut tidak berdaya, ini semua karena seseorang yang menerobos jendela apartemen sebelumnya, jika bukan karena dia siapa lagi.


Memang benar melakukan tindakan olahraga ranjang tanpa ikatan pernikahan adalah salah, namun mengapa Dia yang merusak kebahagiaan orang lain di katakan pahlawan nasional, sedangkan mereka berdua yang sekedar bermain 2 menit tertangkap polisi, hidup memang tidak adil.


.....


"Ningsih kamu tidak apa-apa?" Yana yang menerobos masuk bertanya.


"Yana... Aku baik-baik saja, Lisin menyelamatkanku lagi" Ningsih berkata sambil tersenyum.


"Kamu... kamu... kenapa kamu telanjang" Dari arah kamar mandi Lisin keluar tanpa mengenakan sehelai pakaian.


"Ahhhh... kenapa kamu ada di sini?" Lisin langsung menutupi bagian bawah yang tidak dapat tertutup sepenuhnya dengan kedua tangannya.


Karena terburu-buru Lisin pergi ke kamar mandi tanpa membawa handuk ataupun pakaian ganti. kemudian saat keluar dirinya tidak berharap ada Yana di sana. Lisin langsung berlari kearah kamar mandi kemudian mengambil pakaian di inventori sistem.


"Ningsih, mengapa kamu tidak mengusirnya...." Yana menatap tajam ke arah Ningsih, sepertinya otak temannya telah di racun oleh Lisin.


"Sudahlah... Dia kan hanya mandi kenapa mempermasalahkannya" Ningsih berkata dengan tidak peduli dan itu membuat Yana heran.


Ningsih apa kamu masih temanku yang lama ataukah alien yang mengambil alih, bukannya kita sama-sama pembenci laki-laki kenapa kamu membela Lisin.


Kemudian Lisin pergi ke kantor polisi bersama jenderal tua untuk menjelaskan kepada reporter, bagaimana Lisin akan menerima wawancara reporter yang maha benar. jelas keputusan tersebut langsung di tolak.


Lisin memilih Materai untuk melakukan jumpa pers karena dia juga pahlawan, Jenderal tua tidak berdaya hanya bisa menyetujuinya.


Berita utama baik koran, majalah, internet, ataupun televisi. semuanya menyiarkan Materai yang tertawa dan menceritakan tentang pembajakan pesawat udara tanpa menjelaskan keberadaan Lisin.


Semua penumpang juga sepakat tidak mengatakan tentang kepahlawanan Lisin. walaupun Lisin tidak menjadi pahlawan publik namun dia sudah menjadi pahlawan di hati semua penumpang. Jenderal tua memberi Lisin Lencana pahlawan nasional, awalnya Lisin berniat menolaknya namun karena Jenderal tua memaksanya, Lisin mau tidak mau menerimanya.


Menjelang malam, Lisin pergi menggunakan Taksi dan berhenti di sebuah gedung berkelas di mana Pesta Amal di adakan. Lisin yang berpakaian biasa di hentikan penjaga keamanan untuk melakukan pemeriksaan surat undangan.


"Pak... surat undangannya pak" tanya penjaga.


"Saya... tidak memiliki surat undangan" Lisin berkata dengan jujur.


"Kamu Lisin kan... Pesta Amal ini hanya untuk para Bos perusahaan bukan untuk karyawan seperti kamu" Sebuah suara mengejutkan Lisin yang di hentikan penjaga.


"Kamu... " Bagaimana Lisin tidak mengenalinya, Dia adalah bos lamanya Ricard dengan tubuh gemuknya. sebelum memiliki sistem Lisin bekerja di bidang perbengkelan sebagai seorang budak perusahaan selama 3 tahun.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2