Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan

Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan
Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan Episode 57


__ADS_3

Sayup-sayup angin berhembus, dinginnya angin malam merasuk tidak dirasakan oleh mereka, Brian dan Jo tidak pernah berharap akan bertemu dengan seorang dukun yang sedang melakukan praktisi di sebuah kuburan.


Brian yang membeku kebingungan dan tertekan, apakah dia harus melanjutkan ataukah dia mengakhiri siaran langsung. Apa lagi Jo dia menyalahkan Brian, andai saja sebelumnya tidak mengikuti kemauan Brian, dia tidak akan bertemu dengan seorang dukun.


"Siapa kalian..." Dukun itu bertanya saat tangan kanannya meletakkan Keris. Dukun yang sebelumnya dalam posisi duduk bersila mencoba untuk berdiri.


"Aku tanya siapa kalian..." Suara dukun tersebut sedikit berat, di tambah tempatnya yang begitu gelap tidak dapat mengenali penampilannya.


Karena adanya bulan menggantung di langit, cahaya mulai menerangi penampilan dukun tersebut. Tubuhnya gemuk seperti obesitas, rambutnya gimbal seperti Master Limbat. matanya sipit sedangkan kantung matanya menghitam juga jenggot lebat menggantung.


"Cepat katakan siapa kalian dan apa yang kalian lakukan malam-malam begini di kuburan" Dukun itu bertanya sekali lagi.


"Sial... ini dukun beneran..."


"Yang di atas apa kamu pikir ini sinetron... "


"Hi... takut aku... Bagaimana jika aku nanti di santet sama dukun"


"Ya benar bagaimana jika aku nanti di guna-guna"


"Yang di atas kamu laki-laki kan mana ada seorang wanita yang mengguna-guna kamu"


"Jadi dukun itu beneran ada, kupikir itu setingan yang ada di sinetron aja... "


Rentetan komentar membanjiri platform siaran langsung dan itu meningkat menjadi 10 ribu pemirsa, siaran langsung Pencari Setan menjadi paling populer, sebagai siaran langsung tengah malam.


"Mbah... mbah dukun sendiri ngapain malam-malam sendirian di kuburan" Brian mencoba berkomunikasi dengan dukun tersebut tanpa mematikan siaran langsung.


"Kalian ini... di tanya malahan nanya balik, aku santet tau rasa kamu..." si Dukun yang merasa di permainan menjadi marah.


"Jangan... jangan mbah" Jo ketakutan.


"Iya... Mbah jangan santet kita berdua... kita berdua jomblo dan belum merasakan begituan jadi jangan di santet Mbah" keduanya dengan ketakutan mendekat.


"Kalau begitu katakan mengapa kalian kesini?"


"Mbah... bukannya Dukun dapat menerawang seseorang, kenapa masih bertanya?" Jo memberanikan diri untuk berbicara.


"Mungkinkah Mbah seseorang Dukun gadungan?" Brian menambahkan.


"Bedebah... kalian sangat ingin di santet sama Mbah ya... Mbah bukan dukun gadungan, Mbah hanya terlalu malas untuk menerawang seorang jomblo seperti kalian" Dukun itu berkata.


"Mbah dukun... kita berdua sedang mencari jangkrik dan berakhir di tempat ini... " Jawab Brian dan berbohong.


"Beneran ni hanya mencari jangkrik?" Dukun itu bertanya dengan curiga.


"Benar Mbah kita berdua mencari jangkrik varian baru" Jo tidak berharap jika Brian akan berbohong, karena sudah berbohong dia harus membenarkan agar Mbah dukun menjadi yakin.


"Baiklah Mbah percaya dengan kalian karena menurut penerawangan dari Mbah, kalian berdua sedang mencari Jangkrik. jangan tanya mengapa Mbah tau kalian mencari jangkrik, karena Mbah seorang dukun jadi Mbah bisa melakukan penerawangan"


Sial... Dukun ini sangat tidak tau malu, sebelumnya bertanya alasan kami datang ke kuburan. sekarang mengatakan jika dia melakukan penerawangan, apa Dukun ini tidak tau jika kami membuat kebohongan.


"Hahaha... Dukun gadungan ya... "


"Awokwkwk... Sial aku kebelet pipis melihat dukun di bohongi oleh Host Pencari Setan"


"Awalnya aku ketakutan sampai membangunkan mamaku untuk menemani ku melihat Pencari Setan. sekarang mamaku tertawa tidak dapat berhenti"


"Sial... bukanya merinding, kenapa aku tertawa"


.....


Kembali ke kuburan bagian lain di mana Alim berjalan mengikuti Lisin.


"Lisin tolong jangan berjalan terlalu cepat, Nanti jika aku ketinggian gimana" Keluh Alim.


"Ya... ya..." Lisin tidak berdaya memperlambat langkah kakinya.


Lisin dan Alim dalam perjalanan menyusul Brian dan Jo, mereka melalui pohon-pohon pisang dan semak-semak di sekitarnya. saat Melalui tempat tersebut Lisin melihat sosok berwajah membusuk, dengan kain putih lusuh membungkus seluruh tubuhnya.


"Lisin... kamu melihat apa?" Alim yang melihat Lisin termenung bertanya.


"Bukan apa-apa ayo jalan..." Lisin mengabaikan sosok kasat mata tersebut dengan terus berjalan.


Sialan... ni manusia sepertinya bisa melihat diriku yang tampan, namun kenapa dia tidak menyapa atau takut lah setidaknya. Sosok itu melompati-lompat karena kakinya terikat.


Aku goda ah...


Lisin dapat melihat jika sosok itu mengikuti dirinya, awalnya Lisin masih bisa bersabar namun melihat kegigihan sosok tersebut yang berniat menakutinya membuat Lisin jengkel.


"Lisin apa kamu mencium bau busuk..." Alim bertanya sambil menggunakan tangan kanan menutupi hidungnya.


"Dikit... "Jawab Lisin, kemudian Alim melihat ada sesuatu di belakang Lisin.


"Po... pocong..." Alim yang melihat sosok menyeramkan secara langsung, tidak kuasa ketakutan. dia berlari seperti pelari tingkat nasional, pergi meninggalkan Lisin demi memenangkan kejuaraan.


"Sialan Cong... pocong kenapa kamu menakutin Alim" Lisin yang melihat Alim Ngacir melarikan diri tidak berdaya, lalu menatap tajam ke arah sosok pocong yang ada di balik pohon pisang.


"Manusia kamu tidak takut denganku..." Pocong itu bertanya dengan heran.


"Tidak... Kenapa kamu tidak pergi ke alam selanjutnya?... daripada kamu kerjaannya menakuti orang lain" Lisin bertanya.


"Ini kesalahan manusia yang saat memakamkan ku mereka tidak membuka tali pocong yang ku punya jadi aku tidak bisa masuk ke alam selanjutnya" pocong itu berkata dengan kesal.


"Cong... kamu tidak ingin pergi ke alam selanjutnya, agar arwah mu menjadi tenang?"

__ADS_1


"Ya ingin lah... selama aku menjadi pocong, tidak ada niatan aku menakut-nakuti manusia, aku hanya ingin meminta bantuan mereka, eh bukannya di bantuin, manusia yang bertemu dengan ku akan Ngacir" Keluh si pocong.


"Benar juga... lalu kenapa kamu tidak meminta bantuan orang pintar?"


"Sudah ku lakukan, bukannya di bantuin malahan menawarkan pekerjaan"


"Pekerjaan... emang pocong juga bekerja?" Lisin berkata dengan bingung.


"Banyak manusia yang membutuhkan jasa pocong, seperti menjaga rumah makan dan banyak tempat usaha lainya"


"Emang... kerjanya ngapain di tempat-tempat usaha?"


"Tidak susah sih... hanya di suruh meludahi hidangan pelanggan" Pocong itu menjawab dengan jujur. "Aku sudah melakukan pekerjaan meludah bertahun-tahun, sekarang aku sudah pensiun dan menjadikan tempat ini sebagai rumahku"


"Selama kamu bekerja di tempat-tempat usaha kamu mendapatkan gaji apa dan berapa?" Lisin seperti reporter mewawancarai si pocong.


"Sebenarnya, aku hanya meminta satu hal yaitu agar membantu ku melepaskan tali pocong. namun aku tidak pernah tahu jika ada batasan waktu, Ikatan pocong harus di buka sebelum kematian 7 hari, karena aku bersenang-senang dengan pekerjaan meludah aku jadi lupa meminta orang yang memperkerjakan ku untuk melepaskan tali pocong"


"Jadi itu sebabnya kamu sekarang menjadi pocong?"


"Ya begitulah..."


Lisin mulai mengerti tentang kehidupan perpocongan dan ternyata cukup rumit, tanpa memperdulikan nasib si pocong Lisin melanjutkan pencarian terhadap Brian dan Jo.


.....


Dukun itu menatap Brian dan juga Jo, lalu tatapan matanya menuju ke arah Ponsel yang sedang menyala karena siaran langsung.


"Kalian merekam ku..."


"Tidak Mbah.. sebenarnya mencari jangkrik adalah tugas mata kuliah perjangkrikan dan itu harus di rekam saat penangkapan jangkrik guna sebagai dokumenter perjangkrikan" Brian dengan cepat mencari alasan.


"Jadi begitu... tetap saja kalian merekam ku, Cepat matikan kamera ponsel kalian..." Dukun Itu melotot dengan tajam.


"Baiklah Mbah... " Brian berniat mematikan siaran langsung.


"Tolong jangan matikan siaran langsungnya... "


"Benar... Aku sudah jatuh cinta dengan Chanel Pencari Setan..."


"Benar... Host belum mewawancarai si dukun..."


"Jangan di matikan, Aku ingin menjadi takut saat melihat hantu... "


"Tolong wawancara saja dengan si dukun setelah itu matikan"


"Benar... "


Brian yang melihat banyaknya rentetan komentar menjadi tertekan, sekarang banyak orang yang melihat siaran langsungnya kenapa dia harus mematikannya.


"Dokumenter... tidak, kalian pikir aku bodoh" Dukun itu menggeleng.


Brian tidak dapat melakukan apa-apa, Dengan terpaksa dia mematikan siaran langsung yang ada di platform Youtube.


"Mbah... kalau begitu kita berdua pergi dulu ya..." Saat keduanya hendak pergi mbah dukun menghentikannya.


"Siapa yang suruh kalian pulang... Karena kalian mengacaukan ritual yang Mbah lakukan maka kalian harus membeli jimat anti jomblo dari Mbah"


"Jimat anti Jomblo" Keduanya berkata dengan bersamaan.


Brian dan Jo saling menatap, siapa di antara mereka yang ingin jomblo selamanya, tidak ada. bahkan kucing jantan yang jomblo akan rela berlari kejar-kejaran demi bisa berhubungan dengan kucing betina.


Minat Brian dan Jo terhadap Jimat anti jomblo sangat kuat, "Mbah, Apakah dengan jimat anti jomblo kita berdua akan mendapatkan pacar dangan cepat? " Jo bertanya dengan bersemangat.


"Apakah bisa mendapatkan pacar yang sudah menjadi milik orang lain, seperti pasutri mungkin. Aku ingin merasakan NTR atau pertikungan" Kedua mata Brian bersinar, dia pernah merasakan rasa sakit saat terkena NTR atau ke tikung dari teman baiknya. sekarang rasa ingin membalas dendamnya bergejolak.


Mendengar pertanyaan dari kedua orang di depannya Dukun tersebut tertawa di dalam hati.


"Mbah dukun... berapa harga jimat ini, Jangan mahal ya... jika mahal lebih baik beli online, yang gratis ongkir" Jo berkata pelan.


"Tenang saja... Mbah kasih harga murah, udah termasuk pajak PPN. Harganya Satu juta tiap jimat, Murah kan?" Ternyata Dukun rajin bayar pajak juga ya.


"Satu Juta... Mbah mahal banget, di lapak online tidak sampai segitu harganya, Mbah mau menipu kita ya... Ingat dosa Mbah"


Sialan... kalian berdua, Saya di ceramahin ingat dosa, kalian emang tidak berdosa, bermain sabun tiap hari.


"Baiklah 900 ribu..." Dukun tersebut tidak berdaya menurunkan harga.


"Kami tidak punya uang sebanyak itu..."


"800 ribu..."


Keduanya menggeleng sebagai jawaban.


"700 ribu..."


Menggeleng lagi sebagai jawaban.


"600 ribu sajalah..."


Masih menggeleng.


"500 ribu... Sial... berapa yang kalian punya" Dukun itu tidak kuasa berteriak.


"Kami berdua hanya punya 100 ribu Mbah..."

__ADS_1


Sial miskin sekali kalian berdua jika aku tidak menjualnya aku melewatkan dua pelanggan, 100 ribu per orang tidak masalah. bahan bikin jimat juga tidak sampai 5 ribu masih untung lah.


"Baiklah 100 ribu per orang..." Brian dan Jo menggeleng lagi.


"Kenapa lagi, bukanya kalian punya uang 100 ribu, jadi 100 ribu per jimat" si Dukun merasa jika dirinya berada di kios pasar dan sedang berhadapan dengan Ibu-ibu yang suka menawar harga.


"Maksud kami, 100 ribu dapat dua jimat... ya Mbah..."


Sial... ibu-ibu rumah tangga kalah dengan kalian berdua jika dalam hal tawar menawar mau bagaimana lagi yang penting dagangan laku.


Dari harga 1 juta menjadi harga 50 ribu siapa yang tidak menginginkan kemampuan tawar menawar seperti ini. jika Lisin tahu pasti iri dia.


"Ini jimat anti jomblo untuk kalian... mana uangnya" Dukun itu menyerahkan dua jimat sambil meminta pembayaran.


Sebelum Brian dan Jo patungan uang untuk membayar Jimat, Sebuah suara mengejutkan ketiga orang tersebut.


"Tidak Sah..."


Dari semak-semak dekat pohon pisang, seorang pemuda Tampan mendekat. Brian dan Jo sangat tidak senang dengan kedatangan pemuda tersebut karena telah mengganggu situasi sakral jual beli jimat anti jomblo.


"Lisin... kenapa kamu sendirian di mana Alim?" Jo yang tertekan bertanya.


"Dia kembali dulu ke mobil... " jawab Lisin.


"Tu kan apa aku bilang pasti Alim si penakut itu kembali duluan... " Brian berkata dengan kemenangan karena dugaannya sedikit benar.


"Kalian berdua kenal dengan dia... " Dukun itu melihat Lisin dengan tidak senang.


"Kami datang berempat Mbah... yang satu lagi kemabali ke mobil duluan" Jelas si Brian.


"Kamu... kenapa kamu bilang 'Tidak Sah' Apa kamu pikir kita sedang melakukan Akad nikah?" Dukun itu berkata dengan kesal, jika Lisin tidak datang pasti 2 barang dagangannya akan laku.


"Oh itu... karena uang belum di serahkan maka jual beli belum bisa di katakan terjual, apa lagi tidak ada nota bukti jual beli"


"Kamu..." Mbah dukun itu marah.


"Lisin kenapa kamu menghentikan kita membeli Jimat anti jomblo, jangan bilang kamu tidak ingin kita memiliki seorang pacar"


"Benar... kamu enak pernah melakukan gituan dengan wanita beneran, sedangkan kita hanya melakukannya dengan wanita khayalan dan saat khayalan menjadi kenyataan ternyata itu sabun"


Hadeh... kalian ini terlalu lama menjomblo jadi tidak paham jika sedang tertipu.


"Apa kalian pikir jika kalian membeli jimat atau apalah itu, kalian bakal mendapatkan pacar atau kalian bisa melakukan tikung menikung" Lisin berjalan dengan santai mendekati ketiganya lalu melihat sekeliling dan hanya bisa tersenyum.


"Maksud kamu jimat ini bohongan?" Jo bertanya.


"Bedebah... kamu memfitnah Jimat sakti milikku. Apa kamu tau seberapa sulit membuat satu jimat ini?" Dukun dan Lisin saling berhadapan seolah keduanya berdiri di atas ring tinju. sedangkan Brian dan Jo berjalan menjauh kebelakang.


"Kau tau... Jimat ini ku sempurnakan dengan pertapaan selama 40 hari 40 malam tanpa makan dan minum, juga tidak tidur apa lagi bermain Ponsel" Dukun itu berkata dengan keras.


"Kamu Jomblo juga kan... " Diam.


Baik Brian dan Jo tidak dapat mengerti bagaimana Lisin bisa begitu yakin mengatakan jika Dukun tersebut Jomblo. namun melihat reaksi dari Mbah dukun Sepertinya perkataan Lisin benar.


"Ba... Bagaimana kamu tau jika aku Jomblo, jangan bilang jika kamu Dukun sejati" Dukun itu berlutut.


Brian dan Jo terkejut melihat Pengakuan Dukun tersebut. Sial... Kamu aja masih Jomblo menjual Jimat anti Jomblo, untung saja ada Bro Lisin jika tidak kami akan rugi.


"Aku sudah menjomblo sejak masa remaja hingga sekarang dan dengan sengaja belajar ilmu perdukunan agar tidak menjomblo lagi"


"Aku sudah mempraktikkan semua yang ku pelajari dari website perdukunan dan tidak ada hasilnya"


"Sedangkan jimat yang akan aku jual bukan hasil dari pertapaan melainkan beberapa bahan yang mudah di dapat di dapur dan di bungkus dengan kain hitam"


Mendengarkan penjelasan dari Dukun tersebut Lisin tidak berdaya, Saat pertama kali bertemu dengan Dukun ini Lisin menggunakan sistem dan mengetahui jika Dukun ini adalah Dukun gadungan.


"Tunggu dulu... kenapa kamu mengatakan semuanya kepadaku, aku kan tidak bertanya"


"Tuan tolong angkat aku menjadi murid mu, aku sudah belajar perdukunan namun tidak ada yang namanya keberhasilan, selama ini aku hanya menipu beberapa pelanggan" Dukun gadungan berkata dengan jujur.


"Aku tidak mengambil seorang murid" Lisin melihat ke pohon pisang di mana sosok pocong melihat dari kejauhan.


Pocong itu mengerti apa yang di maksud oleh Lisin seketika pocong tersebut berdiri di depan Dukun gadungan.


"Po... Pocong..." Tanpa melihat ke belakang Dukun tersebut ngacir dengan cepat terkadang akan tersandung gundukan kuburan, dan berlari lagi.


"Lisin kenapa dukun itu berkata pocong... " Brian dan Jo bertanya dengan ketakutan.


"Karena ada Pocong di sini... apa kalian ingin melihat mereka yang tidak terlihat?" Lisin bertanya sambil tersenyum.


"Tidak... tidak... "


Siaran langsung berlanjut, Para pemirsa yang tidak puas karena tidak mewawancarai dukun sebelumnya. namun dengan cepat senang kembali karena Pencari Setan kembali online dengan Lisin menjadi pemegang kamera.


Host sombong Brian dan Jo eksis di depan kamera ponsel, Lisin yang berkomunikasi dengan Pocong, kuntilanak dan Gendruwo mendapatkan penampakan yang sangat jelas di depan kamera hal itu membuat pemirsa takut, menjerit dan bersemangat.


Untuk pertama kalinya siaran langsung mengambil tema misteri penampakan menjadi trending di puncak platform youtube, bahkan ahli photography dan perfilman mengaku jika penampakan dalam siaran langsung Pencari Setan adalah nyata tanpa adanya rekayasa atau efek khusus.


Kembali ke pintu masuk desa Alim seorang diri di dalam mobil Nissan Skyline, ketakutan menunggu kembalinya Teman-temannya.


"Brian, Jo dan Lisin kapan kalian kembali..."


Bersambung...


*Mampir juga di Novel Baru Author yang berjudul,

__ADS_1


"Gadis Polos Zahra" terima kasih.


__ADS_2