
Di dalam kamar Apartemen.
Lisin merapikan posisi Wang Xia yang tidak sadarkan diri. Juga tidak lupa merapikan selimut yang memiliki sedikit bercak darah agar tidak kedinginan.
Lisin ingin membersihkan Joni agung yang masih menjulang, tetapi kamar mandinya ada di ruangan lain. Dia dengan mengendap - endap menuju ke kamar mandi. Melihat pintu kamar milik Tante Hana membuat Lisin menghela nafas, ini sudah tengah malam. Pastinya tante Hana sudah tidur, tentang siapa yang mengintip sebelumnya, mungkin hanya perasaan Lisin saja.
Dia berjalan beberapa meter dan menemukan kamar mandi. Karena Apartemen itu bukan elite dan terbilang cukup kecil, itu hanya memiliki satu kamar mandi. Lisin langsung pergi ke kamar mandi tanpa penundaan lagi.
"Krak..."
Sementara Lisin membuka pintu di kamar mandi, dia melihat pantat yang cantik dan wajah yang cantik. Betapa indahnya pemandangan ini! Kulit wanita ini seterang batu giok putih terbaik dan matanya bersinar seperti bintang di langit.
Wanita cantik ini tidak lain adalah Tante Hana.
Setelah hampir ketahuan mengintip, Wang Hana memutuskan untuk ke kamar mandi karena ingin membuang air kecil. Tidak lupa dia memainkan tangannya untuk memuaskan keinginannya yang tertunda.
Dia juga lupa mengunci pintu kamar mandi. Siapa sangka Lisin akan membuka pintu kamar tanpa mengatakan apapun.
Sambil melihat Lisin membuka pintu kamar mandi, kecantikan itu tiba - tiba mengubah wajahnya dan sepertinya dia sangat malu, karena masih tertangkap menggunakan tangannya untuk memuaskan keinginan biologisnya.
"Kamu, mengapa kamu masuk?..." Wang Hana meledak marah dan bertanya kepada Lisin dengan marah sambil menatapnya.
Dia tidak percaya Lisin akan pergi ke kamar mandi di saat dia berada didalamnya. Ditambah Lisin masih memiliki Joni agung yang menjulang tinggi. Apakah Lisin ini ingin meledeknya dirinya karena katahuan menggunakan tangannya sendiri.
"Maaf, Aku tidak tahu kamu ada di dalam. Kalau begitu aku akan pergi..." Lisin yang polos berniat pergi.
Di dalam kamar ternyata ada Tante Hana sedang memainkan jarinya. Sangat berbeda dengan laki - laki yang wajib menggunakan sabun agar lebih afdol.
Walaupun Lisin sudah berbalik tetap saja pikirannya yang polos tidak bisa melupakan sosok Tante Hana.
Wajahnya yang cantik dan kulitnya yang halus seperti sebuah mahakarya tanpa cacat. Dadanya yang menggoda, pinggulnya dan lekuk tubuhnya yang sempurna, yang memancarkan aura wanita dewasa.
Wang Hana memiliki wajah yang bagus dan tubuh yang panas. Dia adalah kecantikan kelas tinggi ini. Sangat berbeda dengan keponakannya yang kurang matang. Keduanya memiliki daya tarik tersendiri.
Sayang sekali, Wang Hana memiliki sifat pemarah dan membenci seorang pria. Apakah wanita ini akan melajang seumur hidupnya?
"Tunggu dulu..." Wang Hana menghentikan Lisin yang berniat kembali.
"Apa lagi?..." Tanya Lisin dengan kesal.
__ADS_1
"Mengapa milikmu masih bisa berdiri padahal kalian baru saja melakukannya?..." Tanya Wang Hana dengan rasa ingin tahu.
"Ini..." Lisin membalikkan badan dan memperlihatkan Joni agung kearah Wang Hana.
"Aku memiliki penyakit, di mana jika berdiri tidak akan bisa tidur jika tidak memuaskan bagian bawahku..." Lisin berhenti sejenak dengan melihat wajah Wang Hana yang memerah.
"Saat ini, punyaku belum puas dan beginilah kondisinya..." Kata Lisin dengan tidak berdaya.
"Jadi seperti itu..." Wang Hana mengangguk berulang kali. Dia seperti ayam mematuk.
Tanpa sadar tangan putih saljunya menyentuh Joni agung. Rasanya cukup luar biasa, itu berdenyut dan cukup keras. Dia masih bisa melihat cairan basah dan sedikit lengket juga ada sedikit noda darah. Jelas darah tersebut milik keponakannya.
"Tante Hana, sampai kapan kamu akan menggosoknya?..." Tentu saja Lisin keenakan, hanya saja dia menginginkan lebih tetapi tidak berani meminta bantuan.
Wang Hana panik, dia secara tidak sengaja menggosokkan tangannya sendiri saat menyentuh Joni agung.
"Siapa yang menggosoknya?..." Tanya Tante Hana dengan dingin.
"Aku hanya kasihan kepadamu karena terlihat seperti kesulitan, aku hanya ingin membantumu..." Karena sedikit kesal Wang Hana semakin mencekik Joni agung dengan tangannya.
"Aaaaa..." Lisin merintih, dia tidak sakit sama sekali tetapi rasanya sangat luar biasa. Padahal hanya tangannya saja, bagaimana jika lembah rahasia miliknya?
"Diam, aku akan membantumu mengecilkan milikmu ini. Jangan bilang kepada Xia Xia, Mengerti?..." Kata Wang Hana dengan nada seperti mengancam.
"Aaaaaa..."
Padahal hanya siraman air semata, tetapi Lisin tersentak dengan kejutan di matanya. Setelah Joni agung dimandikan hingga bersih, Itu masih tetap menjulang.
"Gulp..."
Wang Hana menelan ludahnya sendiri, Dia berusaha menggeluarkan cairan putih kental yang biasanya dimiliki oleh kaum laki - laki. Tetapi hingga tangannya pegal, Joni Agung tetap bertahan tanpa beban.
Itu tidak memiliki tanda - tanda akan menyusut. tetapi semakin besar, dan kuat lebih dari sebelumnya.
"Chuuuu..."
Wang Hana menggunakan bibirnya untuk mencium Joni agung tanpa dia sadari. Dia berada si dalam pengaruh afrodisiak hal itu membuatnya menjadi bergerak tanpa sadar.
Lisin hanya bisa diam saja saat Wang Hana menggunakan mulutnya. Berawal dari ciuman biasa mulai menggunakan lidah dan kemudian menghisap Joni agung secara penuh. Wang Hana menggerakkan lehernya maju dan mundur, tidak hanya itu Dia juga berusaha sebaik mungkin untuk membuat Lisin keenakan.
Lisin merintih, jelas Joni agung siap meledak kapan saja. Rasanya sangat luar biasa, pantas saja untuk sebagian orang lebih suka pasangannya menggunakan lidahnya untuk kesenangan saja.
__ADS_1
Lisin tidak tahan lagi, hisapan Wang Hana cukup luar biasa. Lisin tidak akan lama lagi akan meledak.
"Tante Hana..."
"Gluupppp..."
"Buuzzzz..."
Lisin yang keluar menekan Kepala Tante Hana. Agar Joni agung semakin masuk kedalam dan mengeluarkan semua isinya.
"Hueeeekkk..." Tante Hana ingin memuntahkannya tetapi dia memilih untuk meminumnya.
"Glup..."
Wang Hana sangat yakin, jika Joni agung akan lemah karena hisapan yang dia lakukan. Padahal dia belum pernah menggunakan mulutnya kepada mantan pacarnya dan dengan Lisin adalah kali pertamanya untuk Wang Hana.
"Apa!..."
Shock!
Wang Hana tidak dapat mempercayai kedua matanya, dia sangat yakin jika cairan putih yang dia minum sangat banyak. Tetapi mengapa tidak menyusut juga.
"Tante Hana, Akhiri Saja. Aku tidak ingin mempersulit kamu lagi..." Yang Lisin butuhkan adalah Lembah rahasia, bukan hisapan.
Setidaknya kondisinya akan normal jika joni agung terpuaskan.
Melihat Joni agung yang masih berdiri dengan kokoh, membuat Wang Hana semakin kesal dan frustasi. Dia dengan perlahan berdiri, melepaskan pakaiannya secara penuh di depan Lisin.
"Jangan salah paham, aku sudah mengatakan untuk membantumu dan aku tidak ingin setengah - setengah dalam membantu seseorang yang membutuhkan..." Kata Wang Hana dengan malu.
Wang Hana berbalik badan dengan memperlihatkan pantatnya yang putih salju tanpa bintik atau lainnya. Dia sedikit membungkuk dan membelakangi Lisin yang bingung.
Lisin dapat melihat Lembah rahasia milik Wang Hana. Itu memiliki bulu yang cukup lebat, Lisin benar - benar tidak habis pikir. Awalnya dia ingin berhenti dan akan membeli Penawar Afrodisiak, tetapi apa yang ada didepannya sulit untuk di tolak.
"Mengapa kamu diam saja? Cepat masukan gunakan tubuh ini untuk membuat milikmu menyusut..." Wang Hana berteriak. Dia mengambil posisi yang sangat memalukan, tetapi Lisin hanya melihatnya saja.
Apakah pria ini buta?
"Aku mengerti..." Lisin mengangguk.
Tidak ada jalan untuk kembali. Dia hanya bisa menggunakan tubuh Wang Hana dengan sepuasnya. Kamar mandi itu mengalami guncangan yang luar biasa.
__ADS_1
Bersambung...