
Lisin berkata dengan dingin sambil melihat Nengah dan ayahnya, di bawah tatapan semua orang.
"Ningsih, Berapa besar saham yang aku miliki..." Lisin bertanya kepada Ningsih.
"PT. Angkasa mengakuisisi PT. Island Concepts Indonesia Tbk. dan menjadi pemegang saham utama dengan 73%" Ningsih sudah siap dengan pertanyaan tersebut.
"Lalu berapa besar saham di miliki, keduanya..." Lisin menunjuk kearah Nengah dan ayahnya.
"Mereka berdua memiliki saham 0,3%"
"Untuk pemegang saham yang lain, Karena Aku menjadi pemegang saham utama yaitu 73% Maka dari itu Aku akan mengeluarkan keduanya dari daftar kepemilikan saham PT. Island Concepts Indonesia Tbk, Apakah ada yang keberatan..." Lisin melihat orang-orang yang memegang saham.
Semua pemegang saham tidak ada yang menolak, mereka tau jika nasib Nengah dan ayahnya tidak dapat ditolong lagi. beberapa orang yang memiliki saham tidak ingin menjadi mereka berdua selanjutnya.
Mereka semuanya hanya hanya bisa menyetujui perkataan Lisin.
Tentu saja saham keduanya yang hanya 0,3% akan di cairkan dalam bentuk deposit karena jumlah uang yang begitu besar jadi harus memerlukan jangka waktu tertentu.
Dengan dikeluarkannya Nengah dan ayahnya dari daftar kepemilikan saham PT. Island Concepts Indonesia Tbk, Lisin memiliki saham sebesar 73,3% Dan dia memiliki keputusan yang tidak dapat di tentang.
"Bapak Lisin, tolong jangan Keluarkan Aku dari daftar saham... Anakku buta dia memiliki penyakit kegilaan, aku akan membawanya kerumah sakit jiwa" Ayahnya Nengah memohon dengan sungguh-sungguh.
Manusia akan melakukan segalanya hanya untuk mencapai ketinggian, dan setelah mencapai ketinggian bagaimana mereka bisa menerima begitu saja jika jatuh.
"Ayah... kamu!..." Nengah tidak percaya, demi sebuah saham ayahnya rela mengatakan jika anaknya sendiri gila.
Selama ini ayahnya begitu baik kepada dirinya, apapun permintaannya akan dituruti, bahkan jika dirinya membuat kesalahan ayahnya akan melindungi dan membela dirinya.
"Diam kamu..." Ayahnya Nengah berteriak dengan kesal.
Jika saja putranya yang sedikit narsis ini tidak mengejar Ningsih yang sudah menjadi milik pemegang saham utama, PT. Angkasa Dirinya pasti tidak akan di keluarkan dari daftar saham.
Sekarang jika dirinya keluar dari PT. Island Concepts Indonesia Tbk. kemana dirinya akan membeli saham yang menguntungkan. jika membuat perusahaan sendiri apakah akan sesukses perusahaan lamanya, bagaimana jika gagal dan mengalami kebangkrutan. bukankah itu sama dengan membakar uang.
Ayahnya Nengah hanya bisa menjilat kepada pihak lain agar dirinya tidak di keluarkan dari kepemilikan saham.
semua orang yang melihat pasangan ayah dan anak hanya bisa menggelengkan kepala.
Mereka semua menyadari apa yang dirasakan Ayahnya Nengah karena sama-sama menjadi pemegang saham. bayangkan saja jika posisi yang begitu nyaman secara tiba-tiba menghilang, bagaimana mereka bisa tinggal diam.
"Apakah kamu pikir, kalian aku keluarkan dari daftar saham karena anakmu mendekati Ningsih?..." Lisin terdiam sebentar sambil melihat sekelilingnya.
__ADS_1
"Tentu tidak hanya itu, satu tahun yang lalu temanku yang bekerja di bagian keamanan yang ada di cabang jakarta, dipecat oleh kalian karena temanku menghentikan anakmu dari perbuatan pelecehan terhadap karyawan wanita" Lisin mengatakan kebenaran terhadap Ayahnya Nengah di bawah tatapan semua orang.
"Bukannya menyalahkan dan memberikan hukuman kepada anakmu sendiri, kamu menutup mata demi anakmu..." Lisin melihat Ayahnya Nengah dengan dingin.
Ayahnya Nengah hanya bisa terdiam karena dia mengetahui juga kejadian tersebut, itu karena dialah yang memecat Mimin temannya Lisin bukan Nengah sendiri.
Dalam satu tahun yang lalu Sebagai seorang ayah dirinya malu karena anaknya berbuat pelecehan dan itu terpampang jelas pada rekaman CCTV perusahaan. dan penjaga keamanan itu tidak bersalah, Ayahnya Nengah demi melindungi anaknya dirinya memilih untuk memecat penjaga keamanan tersebut lalu menghapus bukti rekaman.
Itu sudah dirinya sembunyikan serapat mungkin namun, serapat apapun bangkai di sembunyikan pasti akan tercium juga.
"Kalian bisa meningkatkan tempat ini..." Lisin berkata dengan dingin.
Di bawah tatapan semua orang, baik itu pemegang saham, karyawan dan tamu undangan dapat melihat Nengah dan ayahnya pergi meninggalkan aula pesta.
Pesta perayaan berlanjut kembali setelah insiden sebelumnya, Lisin berbasa-basi dengan begitu banyak orang. Lisin terlalu malas melakukan ini semua namun Ningsih memaksanya.
Lisin berpamitan lalu mengambil waktu berduaan bersama dengan Ningsih. pergi ke lantai atas.
Keduanya memasuki sebuah ruangan kantor yang memiliki gorden di bagian jendela kaca.
"Bos..." Ningsih berkata.
"Masih, memanggilku bos lagi..." Lisin tersenyum.
"Lisin..." Ningsih berkata dengan malu.
"Ningsih... maukah kamu menikah denganku?..." Lisin berkata dengan tulus.
"Aku tidak membawa apapun seperti cincin namun aku berjanji akan membelikannya secepat mungkin..." Lisin menambahkan.
Seperti biasa Lisin bukanlah orang yang romantis, bahkan cincin tidak di bawahnya saat melakukan pengakuan lamaran.
Lisin awalnya tidak berpikir jika akan melakukan pengakuan kepada Ningsih karena dirinya memiliki banyak wanita.
Namun Lisin orang yang bertanggung jawab jadi dirinya akan menikahi semua wanita yang menjadi miliknya.
Ningsih tidak bisa berkata-kata, Dirinya sangat bahagia Ningsih mengingat kembali kenangan lama saat bertemu dengan Lisin.
Seperti ditolongnya dari sekawanan pengganggu, menyelamatkannya dari mantan atasannya, menyelamatkannya dari Jebakan mematikan ulah dari terorisme.
Lisin melepaskan jas yang dikenakannya dan memperlihatkan kemeja putih yang terbalut dengan rompi hitam, Lisin menggulung ujung lengan kemejanya. gaya rambutnya yang tersisir membuatnya semakin tampan dari pada tidak tertata seperti sebelumnya.
Jam tangan yang ada di lengan kirinya semakin membuatnya mempesona, Lisin menatap kembali Ningsih yang mengenakan gaun tipis dengan gaya rambutnya yang sedikit terikat.
__ADS_1
"Kamu dulu pernah berkata kita bisa melakukannya di kantor, Memainkan peran atasan dan bawahan. namun hingga kini kita tidak bisa melakukannya..." Lisin berkata dengan perlahan.
Lisin menarik pinggang Ningsih agar mendekat, kemudian melangkah kebelakang, bersandar pada sebuah meja dengan bunga mawar di atasnya.
"Aku..." Ningsih entah kenapa menjadi gugup, dirinya tidak berharap jika Lisin akan melamarnya.
Di luar jendela ada sebuah pencahayaan yang terang karena banyak lampung menghiasi perkotaan. Dan gorden beterbangan seolah ikut bersorak untuk keduanya.
Ningsih yang merasakan kedua tangan besar Lisin pada pinggangnya tanpa sadar menggerakkan tangannya berniat menyentuh wajah Lisin yang begitu dekat.
Keduanya berciuman dengan segenap perasaan yang dimilikinya.
Malam ini perusahaan tersebut bergoyang sedangkan semua orang yang menghadiri pesta berhamburan menyelamatkan diri.
.....
Di sebuah tempat tertentu Nengah dan ayahnya duduk berdiam dengan seorang pria paru bayah di depannya.
"Tuan Wolf Ini adalah uang muka jika kamu bisa membunuhnya maka sisanya akan langsung di transfer..."
Di atas meja ada koper berisikan tumpukan uang, dangan foto Lisin di atasnya.
"Semuanya sudah beres..." Pembunuh bayaran itu memiliki kode nama Wolf dirinya adalah buronan internasional yang tidak pernah gagal dalam menjalankan setiap aksinya.
"Kerja sama bahagia..."
"Kerja sama bahagia..."
Wolf berdiri kemudian pergi meninggalkan tempat tersebut.
Nengah dan ayahnya juga perlahan pergi menggunakan mobilnya.
"Ayah... siapa dia?..." Nengah bertanya.
"Dia... pembunuh bayaran paling kejam di dunia... Tidak mudah menghubunginya, Ayah sudah melakukan segalanya untuk membuat Lisin menyesal..."
Hahaha...
Keduanya tertawa di dalam hati..
Bersambung...
__ADS_1
*Untuk bagian Lisin yang melakukan pengakuan di larangan untuk baper apa lagi yang jomblo harap amarahnya di tahan.