Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan

Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan
Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan Episode 134


__ADS_3


Sebelum Lisin menghubungi kepala kampus, dirinya masih mengemudikan mobil Nissan Skyline bersama dengan Dewi melajukan mobilnya di jalan raya kota malang.


Bertepatan malam minggu yang padat, Banyak kendaraan berlalu lalang membuat beberapa kemacetan di jalan raya kota malang.


"Sepertinya kita akan terlambat..." Lisin memutar arah mobilnya kemudian mengambil arah lain.


Setelah melalui jalan memutar, Lisin dan Dewi terlambat saat mendengarkan acara perpisahan yang sudah berlangsung.


Memarkirkan mobilnya Lisin dengan terburu - buru berjalan cepat sambil menarik tangan Dewi. Lisin yang terburu-buru tidak sengaja menabrak seseorang yang ada di depannya.


"Auw... Punya mata lihat-lihat dong..." Pihak lain adalah seorang wanita cantik dan saat Lisin melihat dia dirinya merasakan hal yang familiar.


"Lisin..."


"Kinar..."


Wanita tersebut adalah Kinar yang bersama dengan ketiga temannya, Nana, Lili dan Ririn.


"Kinar... kamu tidak apa-apa?..." Lisin bertanya dengan rasa bersalah, entah kenapa dirinya saat ini sering merasakan hal yang cukup klasik.


"Aku tidak apa - apa, Dewi... Kamu bersama dengan Lisin..." Kinar melihat Tangan Lisin yang memegang tangan Dewi, entah kenapa dirinya sedikit merasakan rasa kecewa.


"Um... Aku membantu Lisin dengan menjadi partner dalam melakukan pertunjukan malam ini..." Seperti biasa Dewi akan menjelaskan dengan datar.


"Oh... Begitu, Aku tidak berharap jika seorang Dewi akan melakukan pertunjukan di atas panggung..." Kinar bersama dengan ketiga temannya di buat tidak berdaya saat mengetahui hal tersebut.


Walaupun mereka tidak dekat setidaknya Kinar mengenal si kulkas Dewi dan Dewi juga seperti itu dirinya juga mengenal Kinar.


"Tunggu dulu, Kalian berdua akan menjadi perwakilan yang akan memberikan pertunjukan, mengapa kalian berpenampilan seperti ini..." Nana bertanya dengan bingung.


"Benar, rasanya akan aneh jika kalian berpenampilan seperti ini..." Ririn menambahkan, sedangkan Lili mengangguk.


Kinar menatap Lisin dan Dewi dengan aneh, juga seolah ada sesuatu yang aneh di antara keduanya, itu terlihat sangat mencurigakan.


"Apakah berpenampilan seperti ini salah?" Dewi bertanya.


"Tidak salah, hanya saja tidak pada tempatnya... Apa lagi kamu Dewi, kamu harus memiliki sedikit riasan, kamu bisa mengenakan busana punyaku yang ada di mobil... Dan Lisin kamu tidak boleh mengintip wanita yang sedang merias..." Kinar berkata dengan menatap tajam.


"Ok..." Lisin meninggalkan mereka semua dengan tidak berdaya.


"Baiklah teman-teman... Saatnya membuat Dewi Glowing..." Nana berkata dengan bersemangat.


Jika wanita tidak membawa alat perias maka akan ketinggalan dan terlihat kuno. Kinar dan teman-temannya langsung mengeksekusi Dewi yang tidak pernah merias diri.


.....


Lisin yang menunggu tepat di halaman depan kampus, mendengar panggilan dari pembawa acara yang menyebutkan tentang perwakilan dari fakultas kedokteran.


"Sial... Bukankah itu giliran ku?..."


Lisin mengeluarkan ponselnya dan langsung menghubungi kepala kampus untuk menggeser jadwal panggung.


"Sepertinya aku harus mengganti apa yang aku kenakan..." Lisin memiliki mengganti pakaian melalui kamar mandi kampus, tentu saja Lisin menyimpan banyak setelan pakaian dalam inventori sistemnya.

__ADS_1


Waktu berlalu Lisin yang menunggu dapat melihat Wanita cantik yang cetar membahana, busana putih dengan sempurna membungkus tubuh gioknya, Matanya yang sebening kristal memancarkan pesona yang tidak ada hentinya.


Lisin sedikit bingung dengan wanita yang merias dirinya begitu indah datang mendekatinya, Apakah kita saling kenal?


"Kinar... Mana Dewi bukannya bersama dengan kalian..." Lisin tidak menanggapi wanita cantik yang ada di depannya melainkan menatap kearah Kinar dan ketiga temannya, yang berjalan di belakang keindahan.


Kinar merasa ingin menampar Lisin di tempat, Jika itu pria lain pasti kan menanyakan siapa wanita cantik ini? Sedangkan Lisin bukannya bertanya tentang wanita cantik di depannya melainkan menanyakan Dewi yang kusut sebelumya.


"Lisin... Buka matamu baik-baik, Yang ada di depanmu ini adalah Dewi... Kamu pikir siapa lagi..." Kinar berkata dengan kesal.


"Kamu, Dewi..." Lisin sangat terkejut.


Bagaimana tidak! Apakah wanita cantik ini yang memeluk dirinya saat di ruangan gelap sebelumnya? yang memiliki ekspresi dingin? yang memiliki masalah dengan keluarganya?


Dibandingkan dengan Dewi seblumnya, jelas Dewi yang sekarang sangatlah Glowing. walaupun Dewi yang lama sudah cantik namun yang sekarang seperti madu tercampur dengan gula, yang awalnya manis semakin manis.


Kecantikan Dewi saat ini bukan karena bedak tebal 1cm karena riasannya tidak tebal sama sekali. Sedangkan gaya rambutnya tidak perlu di pertanyakan lagi, jelas pihak lain seperti karya seni.


"Lisin... Apakah kamu lupa dengan ku?..." Dewi bertanya dengan bingung.


"Maaf... Aku... Aku tidak bisa membedakan mu, Karena kamu sangat cantik..." Lisin berkata dengan jujur.


"Benarkah..." Dewi bertanya dengan wajah merona.


Kinar dan ketiga temannya sangat tertekan, mengapa keduanya saling merayu di depan dirinya dan Ketiga temannya.


Kinar hanya mengingat kejadian ini dan menunggu waktu pembalasan. Dia harus menemukan Lisin untuk meminta imbalan.


"Bisakah kalian berhenti bermesraan!... Apakah kalian ingin tampil atau ingin pergi ke hotel..." Sungguh pertanyaan Pamungkas hingga membuat Lisin tidak bisa berkata-kata.


"Hem... Kalian tunggu saja panggilan dari pembawa acara..." Kinar memiliki saham pada universitas Negeri Malang, Hanya dengan perintahnya penanggung jawab di balik acara perpisahan tidak akan berani menolak perintahnya.


.....


"Naik..."


"Naik..."


"Naik..."


Kembali pada Rehan yang mengundang Dosen Mirna untuk tampil di atas panggung, Rehan sangat percaya diri namun dirinya hanya bisa tersenyum kecut di saat pihak lain tidak menanggapi undangan dirinya.


"Semuanya harap tenang... Karena Dosen Mirna tidak bisa tampil di atas panggung, tolong dengarkan nyanyian soloku yang akan membawakan lagu Mungkin Nanti dari Noah..." Rehan berkata dengan percaya diri.


"Rehan..."


"Rehan..."


"Rehan..."


Para Mahasiswi fanatik ini jelas korban dari gombalan Rehan dan itu membuat Rehan sangat puas dengan hasil ini.


Suara gitar menjadi intro dalam sebuah lagu, Rehan secara perlahan memulai nyanyiannya.


"Dan mungkin bila nanti kita kan bertemu lagi... Satu pintaku jangan kau coba tanyakan kembali... Rasa yang kutinggal mati... Seperti hari kemarin saat semua disini..."

__ADS_1


"Saat aku berkata... Mungkin yang terakhir kalinya... Sudahlah lepaskan semua... Kuyakin inilah waktunya"


Walaupun tidak seperti penyanyi aslinya, semua mahasiswi tidak peduli, selama itu nyayian tentang cinta itu membuat mereka bersemangat.


Nyanyian Rehan berlanjut...


"Mungkin saja kau bukan yang dulu lagi... Mungkin saja rasa itu telah pergi... Dan mungkin bila nanti kita kan bertemu lagi... Satu pintaku jangan kau coba tanyakan kembali..."


"Rasa yang kutinggal mati... Seperti hari kemarin saat semua disini... Dan mungkin bila nanti kita kan bertemu lagi... Satu pintaku jangan kau coba tanyakan kembali... Rasa yang kutinggal mati... Seperti hari kemarin saat semua disini"


Sampai akhir dari lagu tersebut, banyak mahasiswi yang berteriak...


"Rehan..."


"Rehan..."


"Rehan..."


"Kalian luar biasa... Terima kasih, Untuk lagu yang berikutnya-" Sebelum Rehan melanjutkan perkataannya, Pembawa acara langsung memotongnya.


"Terima kasih untuk Mahasiswa Rehan atas penampilannya... Sekarang mari kita sambut, Perwakilan dari fakultas Kedokteran... Waktu dan tempat di persilakan" Pembawa acara baru saja mendapatkan pengaturan dari Kinar dan dirinya tidak berani menolak.


Jika Kinar tidak menyurunya. pembawa acara terlalu malas, dan lebih mendukung penampilan Rehan. Karena itu sudah perintah mau bagaiman lagi.


Rehan sangat marah, suasana sangat mendukung, banyak mahasiswi yang menyoraki penampilan dirinya, sekarang saat dirinya berniat memainkan lagu yang kedua pembawa acara menyuruhnya untuk berhenti.


"Tidak... Kak rehan harus nyanyi lagi..."


"Tidak adil... penampilan Kak rehan sangat bagus, mengapa harus menggantinya dengan perwakilan dari fakultas kedokteran"


"Benar tidak adil..."


Rehan hanya bisa turun panggung dengan kesal, namun melihat reaksi para penonton dirinya sangat puas, Rehan melambaikan tangannya sambil turun dari atas panggung.


Akan tetapi, penerangan dari semua penjuru langsung di matikan, dan membuat semua orang kebingungan.


"Apa yang terjadi kenapa semua penerangan di matikan?..."


"Sepertinya kepala kampus punya acara kejutan..."


"Tapi kenapa pembawa acara mengatakan perwakilan dari fakultas kedokteran..."


"Entahlah... Padahal aku ingin mendengar lagu romantis dari kak Rehan lagi..."


"Kita lihat dulu jika kurang bagus dari penampilan kak Rehan, maka kita harus membuatnya turun dari panggung..."


Beberapa mahasiswi sangat kesal, siapa juga yang ingin melihat penampilan tidak jelas dari perwakilan fakultas kedokteran.


Sampai salah satu lampu sorot di nyalahkan tidak ada yang bisa bersuara lagi.


Lampu sorot tersebut menerangi sepasang pemuda tampan dan wanita cantik yang berpegangan tangan .


Tentunya Pasangan tersebut adalah Lisin dan Dewi.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2