
Lisin dengan bersemangat mengemudikan mobil miliknya untuk mencari penginapan atau Hotel terdekat. Dalam perjalanan Pertanyaan Risma berikutnya menggema lagi.
"Mas, Apakah kita akan melakukannya sekarang?..." Tanya Risma dengan malu.
Lisin yang bahagia menjadi kesal, tentu saja harus sekarang jika tidak sekarang, kapan lagi? Besok?
Jika kita melakukannya besok maka Joni Agung akan mengendalikan Lisin sepenuhnya bukan Lisin yang mengendalikan sebaliknya.
Jika Joni agung lepas kendali dan Lisin hanya bisa menuruti kemauannya maka siapapun wanita yang berada di dekat Lisin akan menjadi korban pemaksaan. Jika itu benar - benar wanita maka Lisin merasa lega, bagaimana jika orang tersebut Mbak Gisel dengan tongkat sakti miliknya? Membayangkan saja membuat Lisin ingin muntah.
"Ehm... Bukannya semakin cepat semakin baik?..." Tanya Lisin.
"Ok..." Risma mengangguk menandakan jika dirinya siap menjadi wanita sesungguhnya.
Mendengar jawaban Risma, Lisin langsung menuju hotel tanpa penundaan lagi.
Lisin memesan kamar terbaik terutama propertinya juga harus kokoh. Pihak Hotel Kokoon Banyuwangi memiliki persiapan yang matang dan Lisin sangat puas. Kamar hotel di desain khusus hanya untuk Lisin.
Kamar tersebut di rancang langsung bukan oleh arsitek terkenal, tetapi tukang bangunan yang menangani pembangunan jalan raya. karena kamar tersebut di desain khusus untuk mencegah atau bisa bertahan dari guncang 10 skala richter.
Sungguh pihak hotel pengertian yang belajar dari pengalaman, sepertinya semua perhotelan harus belajar dari hotel yang satu ini.
"Ayo masuk..." Kata Lisin mengajak Risma yang gugup.
Di dalam kamar hotel, Lisin duduk di atas kasur empuk, dan Melihat Risma yang berdiri dengan sedikit gemetar.
"Ehm... Mungkin saat pertama kali kamu akan merasakan rasa sakit, namun yakinlah aku yang sedikit memiliki pengalaman ini akan berusaha selembut mungkin..." Kata Lisin dengan niatan membuat Risma yang gugup agar tenang.
"Um..." Risma mengangguk pelan.
"Sekarang kamu pergi mandi dan hapus semua riasan yang kamu miliki..." Kata Lisin dengan sopan.
Risma mulai memahami jika riasan miliknya memang tidak bagus, tapi mau bagaimana lagi dirinya hanya bisa merias seadanya. Risma hanya ingin menggunakan riasan tersebut untuk membuat dirinya tampak dewasa sebelum waktunya, hal tersebut Risma lakukan agar pembeli tidak menganggap dirinya terlalu muda.
Waktu berlalu, setelah mandi dan menghilangkan semua riasan miliknya, Risma memiliki penampilan layaknya kecantikan alami. di bandingkan dengan riasan sebelumnya jelas lebih cantik tanpa menggunakan riasan.
Belum lagi kulit saljunya dan juga rambut panjang tersebut sangat sempurna.
"Kamu bisa melepaskan haduk yang membalut tubuhmu..." Kata Lisin dengan tidak sabar.
"Ok..."
Setelah melepaskan handuk tersebut, Risma dengan kedua tangannya menutupi semangka yang berkembang dengan tangan kiri. dan tangan kanannya menutupi bagian bawah yang sedikit memiliki rambut yang baru saja tumbuh.
Sekarang penampilan Risma seperti berlian yang baru saja tercuci setelah jatuh kedalam kotoran. Walaupun tergolong muda setidaknya tubuh tersebut cukup matang dan jikapun di makan pasti akan sangat enak.
"Kamu sangat cantik tanpa make - up dan sebisa mungkin tidak perlu melakukan riasan jika kamu tidak pandai melakukannya..." Lisin mengangguk.
__ADS_1
"Sekarang kemarilah..." Kata Lisin melambaikan tangannya.
Akhirnya - Akhirnya, setelah perjuangan yang sangat sulit malam ini bisa bergoyang juga. Lisin tersenyum dengan sangat puas.
(DING...)
Diam... Lisin memiliki firasat buruk saat mendengarkan suara sistem. Jelas sistem memiliki kebencian kepada dirinya, mungkin dendam mendalam.
(Selamat tuan rumah telah menyelesaikan tugas sistem yang mana harus melindungi kesucian Sindi dan Jihan dari penjahat kelamin)
(Mendapatkan 25 Poin sistem)
(Mendapatkan Uang 1 Miliyar)
(Mendapatkan 1 Lotre)
Lisin merasa lega karena pemberitahuan tersebut bukan tugas terpicu apa lagi mencegahnya untuk tidak merusak Risma.
Lisin mengangguk puas dengan keputusan sistem, akhirnya sistem jahat menjadi baik.
"Sistem Kamu adalah yang terbaik" Lisin tertawa dalam hati.
(Terima kasih atas pujian tuan rumah)
(Karena ujian tuan rumah membuat sistem sangat senang maka sistem akan memberikan tugas lainnya apakah tuan rumah menerimanya: Ya/Tidak)
"Ya..." Jawab Lisin dengan bersemangat.
(Tugas sistem terpicu tuan rumah harus melindungi kesucian Risma dari Penjahat kelamin)
(Selamat karena sudah menerima tugas tambahan dari sistem)
Diam... Lisin ingin menangis tanpa air mata, hanya gara - gara memuji sistem dirinya mendapatkan tugas lainnya.
Sial... Sial... Mengapa selalu seperti ini, di saat kesenangan ada di depan mata mengapa selalu ada yang menghalangi.
Sistem, mulai sekarang kita tidak teman lagi.
Lisin yang melihat Risma yang tanpa busana berdiri di depannya, tidak lagi terlihat bahagia seperti sebelumnya.
Lisin tanpa daya jatuh terlentang di atas kasur, jika tahu akan mendapatkan tugas tambahan Lisin tidak akan memuji sistem.
Sial...
"Mas... Kamu tidak apa - apa?..." Tanya Risma yang khawatir mendekati Lisin.
Melihat tubuh telanjang Risma, Lisin hanya bisa mendesah. Salah apa yang aku lakukan selama ini sehingga harus menjalani siksaan seperti ini.
Sepertinya hanya Ratih yang dapat membuat Lisin bercocok tanam dengan tenang tanpa gangguan.
__ADS_1
Jika Sistem masih menggangunya lagi maka Lisin lebih baik kehilangan Sistem.
"Aku tidak apa - apa?..." Jawab Lisin sambil kembali duduk secara perlahan.
"Apakah kamu sakit, mengapa mengenakan jaket tebal..." Tanya Risma.
"Aku tidak sakit sama sekali, Lebih baik kamu kembali kenakan pakaian milikmu..." Kata Lisin dengan datar.
Kenakan pakaian!!!
Kali ini Risma bingung, mengapa harus mengenakan kembali pakaian miliknya, bukanya tadi bilang lebih cepat lebih baik.
"Apakah kita tidak jadi melakukannya?..." Tanya Risma dengan gugup.
Risma merasa sedih, pihak lain sudah membayar 1 Milyar, mengapa tidak jadi Melakukannya.
"Tidak, Apa - apa dan tidak ada masalah, hanya saja aku tidak akan mengambil keuntungan dari seorang gadis yang sedangan membutuhkan seperti kamu..." Kata Lisin tersenyum kecut.
Sial... Semuanya gara - gara Sistem yang tidak jelas.
Lisin pikir Sistem sangat baik bahkan sudah seperti saudara atau keluarga, namun tidak menyangka jika sistem adalah musuh di dalam selimut.
"Mas... Kamu baik sekali hiks... hiks..." Risma seketika menangis.
Lisin yang kesal dengan cepat menjadi cemas saat melihat Risma yang menangis.
Sial... Mengapa kamu menangis kan belum di masukan, seharusnya aku yang menangis.
"Cup... cup... Bisakah kamu berhenti menangis..." Lisin menenangkan Tangisan Risma dengan memeluk tubuh telanjangnya.
"Aku... Hiks... Aku sangat senang bertemu dengan mu, Aku pikir aku sudah tidak memiliki siapapun lagi yang baik kepada diriku..."
"Menjual keperawanan ku demi membayar hutang adalah satu - satunya pilihan yang harus aku ambil, tentu saja aku takut karena tidak memiliki pengalaman..." Risma menjelaskan sambil menangis di dalam pelukan Lisin.
Di mana - mana gadis perawan tidak memiliki pengalaman, jika memiliki pengalaman bukan perawan lagi tapi janda basah.
"Boleh tahu namamu..." Tanya Risma.
"Lisin..."
"Mas Lisin... Terima kasih... Terima kasih... Kamu laki - laki terbaik yang pernah aku temui..." Untuk pertama kalinya Lisin melihat senyuman Risma yang polos dan hangat.
Dari sini Lisin menyadari sesuatu yang berharga, bahagia tidak harus terpuaskan dengan cara bercocok tanam. Jika Lisin memaksa Risma mungkin dia akan kehilangan senyumannya yang tulus.
"Namaku Risma... Terima kasih telah baik denganku..." Kata Risma dengan tersenyum.
Baik sih baik, tapi bagaimana dengan Joni Agung? Sudah menunggu harapan yang tidak pasti, eh di kasih PHP terus.
Sementara itu semua penghuni hotel di ungsikan karena prediksi gempa dari Pihak Hotel. hanya saja gempa tersebut tidak kunjung muncul bahkan hingga menjelang pagi.
__ADS_1
Bersambung...