
Lisin yang memasuki Villa nya sendiri sangat terkejut, bagaimana tidak 3 kecantikan yang mengaku sebagai tamunya adalah wanita-wanita Laknat.
Lisin yang kesal melihat ke arah Shizuka yang tersenyum sebagai tanggapan.
Shizuka... aku sangat percaya dengan ketulusan mu ingin mengandung anakku namun apa? Ternyata kamu menusukku dari belakang, dengan membiarkan mereka bertiga tinggal di Villa ku kamu telah mengkhianati aku.
"Kalian... Sepertinya aku salah tempat" Lisin berbalik badan terus berjalan ke pintu tempat sebelumnya masuk.
"Ehhhh..." Migumi yang belepotan beberapa krim kue di bibirnya langsung melompat kemudian memeluk Lisin dari belakang.
"Jangan... pergi, Lisin-sama bukannya ini Villa kamu kenapa kamu pergi?" Migumi berkata dengan bingung.
"Tidak... ini bukan Villa ku, kamu salah orang, aku bukan Lisin... aku mahasiswa yang kebetulan lewat" Lisin menjelaskan dengan panik.
"Eh... jadi kamu bukan Lisin-sama?" Migumi berkata dengan sedih lalu melepaskan pelukannya.
Syukurlah dia bodoh... aku memang pintar, aku pura-pura saja jadi orang lain.
"Kalau begitu permisi..." Lisin dengan bahagia akan berjalan keluar.
Baik Anri atau Asami keduanya menggelengkan kepala, sedangkan Shizuka membenarkan situasinya.
"Migumi-san... ini memang Lisin-sama, pemilik dari Villa ini aku sebagai budaknya tidak salah mengenalinya" Shizuka berkata dengan serius.
Seketika langkah kaki Lisin berhenti lalu menatap ke arah Shizuka.
Sial... Shizuka, apa sebegitu bencinya kamu kepadaku hingga kamu terus menerus menusukku dari belakang, mengapa kamu tidak mendukung tindakanku, apa kamu ingin aku pecat sebagai budak ku?
"Lisin-sama kenapa kamu berbohong..." Migumi yang imut seperti akan menangis kapan saja.
"Baiklah... baiklah aku Lisin. jadi mengapa kalian bertiga ada di Villaku..." Lisin bertanya tidak berdaya.
Lisin mampir ke Villa nya sendiri guna berpamitan kepada Shizuka agar Shizuka tidak perlu mencarinya, setidaknya karena Lisin adalah tuan barunya, Lisin berniat membuat Shizuka untuk tinggal saja di Villa.
Akan tetapi Lisin tidak berharap jika ada Trio Laknat mendiami Villa nya selama dia tidak tinggal di sini.
"Migumi ingin minta jatah..." Migumi berkata dengan jemarinya membentuk kode, jemari kiri membentuk lingkaran sedangkan telunjuk jemari kanan keluar masuk pada lingkaran tersebut.
Lisin tidak berdaya mengabaikan migumi kemudian menatap ke arah Anri seolah menanyakan hal yang sama.
"Aku tidak sama dengan Migumi yang hanya memikirkan kepuasannya sendiri, Aku tinggal di sini murni untuk berkunjung" Anri berkata sambil merapikan kaca mata merahnya.
"Anri-chan... kamu penghianat, bukannya berkunjung ke sini adalah ide darimu" Migumi menggembungkan kedua pipinya saat tidak puas dengan perkataan Anri.
"Apakah benar begitu..." Lisin bertanya.
"Sedikit, setidaknya kamu bisa menghargai kedatangan kami dengan memberikan kami layanan khusus" Anri tersenyum ekstasi.
Sial... kalian pikir ini Villa apa rumah bordir dan diriku kamu anggap sebagai gigolo, tentu saja aku akan menolaknya.
"Tidak akan... dan kamu Asami, kenapa kamu ada di sini juga? kamu tidak memiliki ide yang sama dengan mereka berdua kan" Lisin bertanya dengan datar.
"Tentu saja tidak bukannya kamu akan menyembuhkan aku dan sekarang sudah hampir satu bulan" Asami yang melakukan duduk bersilang perlahan berjalan lalu duduk tegak di sebuah tikar berbulu.
"Sebagai tanda Terima kasih, aku membuatkan kamu segelas teh..." Di atas tikar telah tersedia nampan dengan segelas teh yang masih hangat di atasnya, entah kebetulan atau tidak ini terasa cukup aneh apakah Asami tau jika hari ini Lisin akan mengunjungi Villa.
Lisin menatap segelas teh hangat itu dengan curiga, jika itu orang lain pasti akan langsung meminumnya namun tidak dengan Lisin.
Lisin yang menggunakan analisa dari sistem dapat mengetahui jika segelas teh tersebut telah tercampur dengan racun afrodisiak.
Sial... Untung saja aku punya sistem jika tidak bisa Berakhir 5 hari 5 malam dengan kalian semuanya.
"Ehm... Ehm... Uhk... maaf sepertinya aku harus menolaknya karena aku sedang mengalami radang tenggorokan" Lisin beralasan dengan memegang tenggorokannya.
"Ara... ara... kenapa kebetulan sekali, teh yang aku buat sangat cocok untuk mengobati sakit radang tenggorokan" Sudut mulut Asami terangkat.
Sial... Jika aku menuruti kalian aku akan mati muda.
"Asami, apa kamu pikir aku tidak tau jika di dalam gelas teh tersebut tercampur racun afrodisiak" Lisin menggelengkan kepala.
Asami yang tersenyum menjadi beku, dia tidak berharap jika Lisin dapat melihatnya.
"Kalian semua, mulai hari ini aku tidak akan melakukan itu dengan kalian, kamu juga Shizuka"
"Tunggu dulu aku kan belum melakukannya dengan mu..." Asami mengeluh.
"Sama aja..." jawab Lisin.
Sedangkan Shizuka kebingungan bukannya dia harus mengandung anak, kenapa Lisin tidak ingin melakukan itu dengannya, lalu bagian dirinya agar cepat memiliki anak.
Melihat semua orang bersedih Lisin menambahkan, "Maksudnya seperti ini, um... aku sekarang kan seorang mahasiswa, sebagai seorang mahasiswa yang sehat, aku tidak boleh melakukan hal gituan mengerti"
Hahaha... aku sangat pintar dengan membuat alasan ini. jelas mereka semua akan mengerti.
"Lisin-sama... Sampai kapan?" Migumi yang mengangkat tangannya bertanya.
__ADS_1
"Sampai... oh ya kita akan melakukannya ketika tanggal merah saja gimana" Hehehe... Lisin di lawan.
"Kalau begitu kita bisa melakukannya setiap hari karena dalam kalender milik Migumi semua hari adalah tanggal merah" Migumi berkata dengan penuh kemenangan.
Sial... mengapa seperti ini.
"Ehm... Aku akan merubahnya, Kita melakukannya di setiap akhir bulan saja, Karena sekarang awal bulan maka kita melakukannya dalam waktu 1 bulan lagi" Bikin kesal aja untung saja aku pintar.
"Eeeh... ini tidak adil"
"Lisin-kun tolong rubah aturan menjadi seminggu sekali..."
"Tidak..."
"Dua minggu sekali..."
"Tidak..."
"Sudahlah keputusan sudah bulat, kalian harus menerimanya mengerti, Dan Asami jangan gunakan trik tercela ini lagi... Baiklah sekarang aku akan menyembuhkan kamu"
Setelah Lisin memperlakukan Asami dengan memberikan energi batin miliknya. Lisin meninggalkan Villa lalu pergi ke Bandara Ngurah Rai.
Dalam penerbangan 2 jam Lisin sampai di kota Malang kemudian mengendarai Nissan Skyline GTR biru miliknya di jalan raya.
Tanpa sadar waktu menjelang sore jadi Lisin pergi ke Universitas Negeri Malang karena ada mata kuliah sore.
"Bro Lisin ku pikir kamu tidak akan masuk kuliah di hari pertama mu..." Alim, Jo dan Brian bertemu dengan Lisin tepat di pintu masuk universitas.
"Aku adalah Mahasiswa yang baik jadi aku harus menjadi pelajar yang teladan"
"Lisin... Kamu tau mata kuliah adalah hal yang paling kita tunggu" Melihat ketiganya bersemangat jelas Lisin bingung.
Syukurlah walaupun mereka bertiga orang yang sedikit mesum setidaknya mereka mahasiswa yang bekerja keras.
"Mengapa kalian sangat bersemangat?"
"Itu karena Dosen kita sangat cantik, kamu pasti akan ngiler seperti kita bertiga jika melihat Dosen Mirna" Jo berkata dengan bangga.
"Benar... Dosen Mirna selalu muncul di mimpiku..." Brian memiliki mata berbinar.
"Aist... Kalian di larangan berpikir yang tidak-tidak terhadap Dosen Mirna" Alim berkata sambil mengacaukan khayalan Jo dan Brian.
Lisin sangat penasaran dengan Dosen Mirna, secantik apa dia hingga membuat ketiga temannya sangat tergila-gila seperti orang yang fanatik.
"Kamu tidak apa-apa?" Dia adalah wanita yang cantik dengan kaca mata besar namun tidak ada senyuman atau kesedihan di wajahnya, itu terlihat datar tanpa ekspresi.
Lisin langsung membantu mengambil beberapa buku yang berjatuhan di lantai, Mahasiswi tersebut tidak mengucapkan rasa terimakasih melainkan langsung pergi.
"Siapa dia?" Tanya Lisin kepada Alim, Jo dan Brian.
"Dia... Salah satu mahasiswi di sini namun beda fakultas dengan kita, dia selalu mendapatkan peringkat pertama dan tidak ada yang bisa mengunggulinya Dia juga salah satu keindahan kampus namun tidak pernah tersenyum, Anak-anak menyebutnya sebagai kulkas" Alim berkata dengan tidak berdaya.
"Kulkas..." Lisin bingung, kulkas dua pintu apa satu pintu.
Lisin duduk di bagian belakang bersama ketiganya, di dalam ruang kelas ada kurang lebih 15 mahasiswa dan mahasiswi, Lisin yang duduk dapat melihat kedatangan Dosen cantik dan rasanya sedikit familiar.
Dia bukanya wanita cantik yang aku temui saat insiden kepala kampus tersedak di restoran.
"Sepertinya ada mahasiswa baru di sini" Dosen Mirna menatap Lisin kemudian memulai melakukan Absensi.
Para mahasiswa saling bersorak dengan semangat tinggi dalam menjawab pangilan Dosen cantik Mirna.
Lebih dari 1 jam lamanya mata kuliah berlalu, Lisin yang bosan hanya bisa tertidur. bagaimana tidak semua pengetahuan universitas telah dirinya kuasai jadi saat mendengarkan penjelasan Dosen Mirna itu terasa seperti sebuah dongeng penghantar tidur.
"Woi... Lisin bagun" Alim yang duduk di dekatnya menggunakan siku bagian luar untuk membangunkan Lisin dari tidurnya.
"Apakah kelas sudah selesai..." Lisin yang masih merasakan rasa kantuk yang kuat perlahan terbangun.
Saat kedua matanya terbuka Lisin melihat Dosen Mirna dengan tatapan tajam berdiri di depan Lisin.
"Dosen Mirna mengapa Anda menatapku seperti itu..." Lisin menatap balik seolah tidak takut dengan apapun.
"Mahasiswa Lisin... maju ke depan dan kerjaan soal yang ada di papan tulis" Dosen Mirna memerintahkan.
Alim, Jo, Brian dan semua mahasiswa yang ada di sana sangat kagum dengan kelakuan Lisin, Dosen Mirna di kenal juga sebagai Dosen Killer dan Lisin yang baru saja masuk kuliah langsung Membuat masalah.
"Baiklah..." tidak butuh waktu lama untuk Lisin menyelesaikan semua soal di papan tulis dengan nilai sempurna.
"Semuanya benar..." Dosen Mirna mengakuinya dengan frustasi.
Sejak kejadian terakhir kali dia merasa malu karena kalah dengan orang lain yang lebih mudah dan dia tidak berharap jika orang tersebut adalah salah satu anak didiknya.
Di tambah saat dirinya menerangkan mata kuliah Mahasiswa tersebut bukannya mendengarkan melainkan tertidur. apakah cara dirinya menerangkan seperti orang yang membacakan dongeng pengantar tidur.
Sekarang Dosen Mirna dengan sengaja memberikan soal tersulit di papan tulis namun siapa yang berharap jika mahasiswa Lisin bisa menyelesaikan tugas tersebut tanpa kesulitan.
__ADS_1
"Teeet... Teeet... Teeet..." Dosen Mirna semakin tertekan saat mata kuliah berakhir.
"Sampai jumpa lagi di pertemuan selanjutnya..." Dosen Mirna menutup kelas lalu pergi lebih awal.
Di luar kelas...
"Bro Lisin aku tidak berharap jika kamu sangat pintar..." Alim berkata.
"Benar... sepertinya kita kembaran yang terpisahkan" Saut Brian memotong Pembicaraan.
"Cih... apanya yang kembaran sangat jelas kalian berdua seperti gula dan garam..." Jo berkata dengan membuat imajinasi Brian sirna.
Lisin dengan terpaksa tidur di asrama sambil mendengarkan dengkuran dari ketiganya yang membentuk alunan musik jaranan.
.....
Pagi hari selanjutnya, Lisin terseret oleh Jo, Brian dan Alim.
"Aku tidak berharap jika kalian sangat bersemangat dalam olahraga..." Lisin bertanya dengan aneh.
"Hahaha... setelah kejadian siaran langsung pencari setan kami bertiga memutuskan untuk melakukan olahraga secara teratur" Brian mengakui.
Lisin merasa bersyukur sepertinya ketiga teman barunya sudah melakukan kehidupan sehat, tanpa kecanduan dengan porno dan sabun. sekarang mereka beralih dengan kehidupan yang sehat.
"Lisin sebenarnya kami bertiga bertemu dengan belahan jiwa kami..." Alim berkata sambil melihat ke arah lapangan basket.
"Belahan jiwa kalian..." Lisin mengikuti sudut pandang dari ketiganya lalu melihat 4 gadis cantik yang menjadi Cheerleader.
"Aku suka Nana dari fakultas hukum karena dadanya yang kecil..." Alim berkata dengan jujur.
"Aku suka Lili dari fakultas ekonomi karena kakinya yang panjang..." Jo berkata dengan air liur menetes.
"Aku suka Ririn dari fakultas sastra karena Pantatnya yang besar..." Brian berkata sambil terpana.
Sial... kalian memiliki fetish yang aneh.
"Lisin... kamu harus membantu kami bertiga agar cepat jadian dengan belahan jiwa kami" Jo berkata sedangkan Alim dan Brian mengangguk.
Kalian yang jatuh cinta kenapa aku yang harus membantu kalian jadian.
"Kalau yang terakhir siapa dia?" Lisin berkata sambil menunjuk gadis Cheerleader yang terakhir dan dia paling cantik di antara ketiganya.
"Dia... Kinar dari fakultas sastra, jika dia... aku hanya bisa menyerah karena dia anak orang kaya. Orang tuanya punya saham di Universitas Negeri Malang" Alim berkata tidak berdaya.
Saat Lisin melihat Kinar berbalik badan dia mulai mengingat gadis yang dia temui saat pertama kali dirinya datang ke kota malang, lalu mengalami insiden balap liar, di kejar polisi, di tilang polisi.
Jadi itu dia... ku pikir hanya nama mereka yang sama ternyata dia orang yang sama.
"Gimana bro kamu kan sudah punya pacar, bantu kita agar tidak menjomblo terus..." Brian memohon.
"Baiklah apa kamu bisa bermain basket?" Lisin bertanya kepada ketiganya.
"Sedikit bro... "
"Kalau begitu... kalian bertiga berpura-pura bermain basket dan tunjukan keahlian kalian agar membuat gadis pujaan hati kalian luluh" Lisin menyarankan.
"Ide yang bagus... "
"Sepemikiran... tapi kita tidak terlalu pandai bermain basket"
"Lakukan dulu saja, urusan gagal mah belakang aja..."
"Ayo kita lakukan..."
Brian, Jo, dan Alim ketiganya langsung beraksi dengan melakukan beberapa lemparan namun tidak ada yang masuk ke dalam keranjang. sedang Lisin tidak berdaya menonton dari luar kotak.
Saat Brian berniat melakukan lemparan 3 poin dari bagian tengah kotak, seseorang mengambil bolanya dari belakang.
"Kalian tidak pantas bermain basket..."
Lima orang dengan tinggi di atas rata-rata hampir 2 meter berdiri dengan di pemimpin pemuda sedikit tampan sambil memegang bola basket yang sebelumnya dia ambil dari Brian.
"Serahkan bola kami..." Brian berkata dengan kesal.
"Apa bola kalian... Lapangan ini hanya di gunakan oleh tim resmi seperti kita, bukan para cecunguk seperti kalian, ambilah jika kalian bisa" Pemuda itu melemparkan bola basket ke temannya lalu beralih ke temannya yang lain, Baik Jo, Alim dan Brian di permainkan oleh mereka.
Melihat perseteruan di antara mereka banyak orang mulai berdatangan untuk melihatnya. Kinar dan ketiga temannya yang melakukan latihan Cheerleader tidak berharap melihat tim basket resmi dan anak-anak aneh memperebutkan bola basket.
"Kembalikan..." Jo, Alim dan Brian kesulitan saat berniat merebut bola dari tim basket resmi.
"Jika hanya ini kemampuan kalian, lebih baik tidak bermain bola basket... karena bola basket adalah olahraga untuk mereka yang memiliki tinggi badan di atas rata-rata" Kelima tim basket resmi tertawa keras.
"Mengapa kita tidak melakukan pertandingan bola basket..." Lisin berjalan lalu berdiri di depan Jo, Alim dan Brian sambil menatap kelima anggota tim basket resmi.
Bersambung...
__ADS_1