Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan

Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan
Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan Episode 149


__ADS_3


Dosen Mirna yang berada di dalam mobil membungkuk dan saat Jo berniat membuka pintu Mobil dirinya di hentikan oleh Lisin.


"Ehm... sebenarnya kalian belum bisa bertemu dengannya sekarang..." Lisin menarik Jo kebelakang kemudian Lisin berdiri di hadapan ketiganya dengan membelakangi mobil.


Ketiganya sedikit bingung dengan tindakan Lisin, jika itu mereka bertiga pasti akan dengan sombongnya memamerkan belahan jiwa yang mereka miliki, mengapa Lisin tidak melakukannya?


Apakah kekasihnya sangat jelek sehingga malu mempertemukannya dengan ketiga temannya? atau mungkin terlalu cantik sehingga ingin menyimpannya untuk dirinya sendiri.


"Bro Lisin apakah kakak ipar sedang sakit? karena kalian baru saja melakukannya semalam..." Jo bertanya.


"Itu salah satunya... dan dia sangat pemalu dan tidak ingin melihat orang lain selain diriku..." Lisin membuat kebohongan.


"Oh seperti itu..." Ketiganya mengangguk.


"Bro Lisin... Kita bertiga sudah berpengalaman tentang masalah seperti ini... Kamu harus membawanya ke rumah sakit..." Brian berkata dengan bangga.


Lebih berpengalaman!... Lisin hanya bisa tertawa di dalam hati, dirinya terlalu malas untuk menjelaskan berapa banyak pengalaman ranjang dirinya dengan wanita.


"Baiklah aku harus pergi..." Lisin berniat membuka pintu mobil namun di hentikan lagi.


"Bro Lisin... Dia bukan mahasisw pemilik sepatu sebelumnya kan?..." Ketiganya melihat Lisin dengan tajam.


Ketiganya hanya bisa memikirkan hal tersebut, sebelumnya dirinya dilarang untuk menemukan pemilik sepatu, dan mendapatkan tausiah dari Lisin.


Jika Lisin menggunakan sepatu tersebut untuk mengancam pihak bersangkutan dan berakhir di hotel, bagaimana ketiganya tidak kesal. dirinya yang menderita karena mendapatkan hukuman tapi Lisin yang mendapatkan enaknya.


"Tentu saja tidak..." Walaupun dugaan keduanya sedikit benar, Lisin harus menyangkalnya.


"Syukurlah... Ternyata Bro Lisin tidak mengkhianati kita..." Alim menepuk dadanya.


"Hati - hati di jalan bro... Salam buat kakak ipar..." Ketiganya melihat mobil Nissan Skyline GTR melaju ke jalan raya kota Malang.


Lisin menghentikan dosen Mirna di depan Apartemen miliknya. Kemudian pergi setelah berpamitan.


Setelah mengantarkan Dosen Mirna pulang Lisin langsung pergi dan memilih untuk kembali ke asrama Universitas. namun dalam perjalanan Lisin kembali mengingat jika kelas di liburkan dalam satu minggu ke depan.


"Tunggu dulu, Aku kan mahasiswa khusus, mengapa juga aku pergi ke kampus lagi, lebih baik aku mengurus penyelesaian tugas sistem..." Lisin mengambil arah lain dan tanpa sadar melalui jalur yang akan menuju ke bandara penerbangan.


Lisin berhenti karena ada seorang kakek - kakek jatuh di depan mobilnya.


"Ahhh... tolong... sakit..." teriak kakek tua tersebut.


Lisin tidak percaya dengan apa yang terjadi di depannya. dalam jarak 100 meter sebelumnya, dirinya sudah melihat jika seorang kakek - kakek berniat menyebrang.


Lisin tanpa sadar menghentikan mobilnya dan memilih untuk menunggu kakek tersebut menyebrang. yang membuat Lisin bingung, Kakek tersebut jelas tidak tertabrak. jadi mengapa jatuh di depan mobilnya dan berteriak kesakitan.


"Sial... Ada aja masalah..." Lisin berkata dengan kesal.

__ADS_1


Jika orang lain melihat kejadian ini pasti akan mengira dirinyalah yang menabrak kakek tersebut, dan pasti harus bertanggung jawab dan harus mengganti kerugian. ini bukan masalah uang hanya saja tentang siapa yang benar dan siapa yang salah.


Apakah modus kejahatan baru?


Lisin melihat sekelilingnya dan tidak menemukan tentang keberadaan orang lain, hanya satu kemungkinan yaitu pihak lain dengan sengaja menunggu dirinya dan membuat kecelakaan seperti sinetron ikan terbang.


Lisin keluar dari mobilnya dan menghampiri kakek yang kesakitan tersebut.


"Kakek!... Kamu tidak apa - apa?..." Tanya Lisin.


Lisin jelas berpura - pura baik, karena banyak kejanggalan dalam kejadian ini, jadi Lisin menggunakan ilmu perdukunan yang menggunakan analisa sistem.


(DING...)


(Pindai selesai)


(Nama: Sanjaya)


(Keahlian: Pejuang Budidaya, pengguna kanuragan)


Lisin terdiam... Siapa lagi yang dirinya singgung, apakah dia orang suruhan Vito seperti sebelumnya.


Sanjaya yang berpura - pura menjadi kakek tua yang sedang terjatuh sangat frustasi. Setelah mendapatkan tugas dari Pemimpin Perguruan, dirinya langsung mencari keberadaan pengguna kanuragan yang melumpuhkan Pawana dan ternyata sedang asik bergoyang di salah satu hotel yang ada di kota Malang.


Setelah menemukan target dan menunggu semalaman di dekat Hotel hingga menjelang pagi. Akhirnya dirinya bisa melihat pihak lain yang menyiksa dirinya semalaman.


Itu karena pihak lain sedang asik bersenang - senang, di saat dirinya menunggu di dekat hotel. Sanjaya harus bertahan dari guncangan dan harus muntah karena mual juga pusing karena hotel bergoyang.


Berikutnya dirinya mendahului Mobil milik pihak lain dan akhirnya kesempatan datang, saat dirinya berniat membuat kecelakaan tidak sengaja seperti adegan sinetron, pihak lain berhenti sambil menunggunya untuk menyebrang.


Sialan...


Sanjaya hanya bisa berpura - pura keseleo di depan mobil milik pihak lain.


"Ah... Kakiku keseleo nak..." Sanjaya membuat alasan.


Tujuannya adalah agar dirinya bisa satu mobil dengan target, hanya saja Lisin sudah mengetahui identitas pihak lain.


"Aku bisa pengobatan kek..." Lisin memiliki senyuman cerah, namun dalam hatinya tertawa dengan kejam. dirinya bukan berniat menyembuhkan melainkan berniat melumpuhkan pihak lain.


"Nak... Jangan di sembuhkan dulu, bantu kakek kedalam mobil... dan hantarkan kakek pulang terlebih dahulu..." Sanjaya membuat alasan sambil merintih kesakitan.


Lisin bisa saja mengungkapkan identitas pihak lain namun tidak melakukannya, dirinya berniat untuk mengkonfirmasi tujuan dari pihak lain.


Apakah di belakangnya adalah orang yang sama? ataukah musuh baru sadang menunggu dirinya.


Dengan capat Lisin membawa Sanjaya yang melakukan penyamaran dan membawanya pergi.


"Kakek rumahnya di mana?..." Lisin bertanya.

__ADS_1


Dari kaca spion Lisin melihat kerutan pihak lain yang cukup menyakinkan untuk ukuran pria tua, juga beberapa rambut putih dan juga rambut alis miliknya. jika Lisin tidak menggunakan analisa sistem, pasti akan percaya jika pihak lain benar - benar tua.


"Perbatasan kota Malang, dengan kota Blitar, dekat kaki gunung Kawi..." Sanjaya menjelaskan.


Lokasi tersebut cukup dekat dengan kediaman Perguruan Macan Putih namun berada di tempat yang cukup tersembunyi.


"Gunung Kawi?..." Lisin mulai mengingat tetang keberadaan gunung Kawi namun tidak menemukan sesuatu yang aneh, hanya saja di sana terkenal akan hal mistis.


Apakah pihak lain dengan sengaja memimpin Lisin untuk menuju ke sana?


Apakah ada sesuatu yang berbahaya yang sedang menunggu Lisin di sana?


Jawabannya hanya bisa di ketahui setelah dirinya membuka mulut pihak lain dengan paksa.


"Kakek mengapa kamu bisa berada di sini sedangkan Perbatasan kota Malang, dengan kota Blitar cukup jauh dari sini..." Lisin bertanya tanpa membuat pihak lain mencurigai dirinya.


"Sebenarnya kakek pelupa nak, jadinya tersesat sampai berakhir di sini..." Sanjaya menjelaskan dengan tertekan.


Jika orang normal maka akan ketakutan saat menabrak seseorang atau pun kecelakaan di tengah jalan, memang benar dirinya tidak tertabrak secara langsung, setidaknya harus punya rasa tanggung jawab terhadap kakek tua yang sedang kesakitan.


"Oh... Jadi kakek pelupa ya... Kakek Satu di tambah satu ada berapa?..." Lisin bertanya.


"Dua... nak memangnya sudah berubah jawabnya..." Sanjaya duduk di belakang ingin mencekik pemuda yang ada di depannya, mengapa juga bertanya pelajaran anak Paud.


"Jawabannya salah kakek..." Lisin menyalahkan.


"Salah!!!..." Sanjaya di buat bingung.


"Kakek kan pelupa... berarti jawabannya tidak tahu karena lupa... mengapa kakek menjawabnya..." Lisin sedikit tersenyum.


"Iya... kakek lupa..." Sanjaya ingin menampar pihak lain di tempat.


"Itu baru benar..." Lisin menambahkan.


Sialan...


Lelah, hari ini Sanjaya sangat lelah, andaikan saja waktu bisa di putar, Sanjaya tidak ingin jadi kakek tua, lebih baik jadi Mbak Gisel agar bisa menggoda pihak lain lalu membunuhnya dengan tongkat miliknya.


"Nak... Sebenarnya kakek punya cucu perempuan... karena kamu sangat baik... kakek tidak masalah menikahkan kalian berdua..." Sanjaya menggoda.


"Benarkah... bisa di jelaskan lagi..." Sebagai penjahat kelamin sejati Lisin merasa tertantang.


"Cucu kakek sudah di pisahkan dari ibunya sejak usia satu bulan, ayahnya tidak jelas karena ibunya saat itu mengandung di luar pernikahan..." mendengar narasi dari pria tua, Lisin sangat tertarik.


"Hanya saja dia tidak bisa membaca apa lagi menulis karena dia tidak pernah mengenyam pendidikan sejak dini... Apakah kamu tertarik nak menikah dengan cucu kakek?..." Sanjaya menggoda sambil tertawa di dalam hati.


Lisin terdiam dan membayangkan keindahan yang sangat polos, mungkin gadis tersebut hidup di kedalam hutan sehingga tidak bisa membaca apa lagi menulis, sedangkan kondisi keluarga terutama ayahnya yang tidak jelas Lisin tidak peduli, selama pihak lain berlubang mengapa mengabaikannya.


"Kakek... Saya menerima..." Di hadapkan dengan gadis polos dalam khayalannya, Jiwa penjahat kelamin Lisin meronta - ronta, dirinya bahkan lupa tentang siapa sebenarnya pihak lain.

__ADS_1


Sanjaya yang menyamar sebagai kakek tua hanya bisa tersenyum misterius.


Bersambung...


__ADS_2