
Lisin memikirkan sebuah rencana untuk memberi Ginuk pelajaran yang berarti. Menjadi matre ada batasan, menjadi sombong juga akan ada batasnya.
Jika orang kaya menjadi sombong itu hal biasa. jika orang miskin menjadi sombong adalah hal yang sangat luar biasa.
"Jadi kalian kebingungan untuk memanggil montir mobil?... karena ponsel kalian tidak memiliki daya baterai" Tanya Lisin.
Biasanya mobil sekelas Avanza juga memiliki charger USB. Mungkinkah tidak bisa di gunakan?
"Seperti itulah Mas Lisin... Apakah mas Lisin memiliki ponsel agar kami bisa meminta bantuan seseorang?..." Kata Sindi dengan ekspresi malu di wajahnya.
Mengapa kalian tidak meminta yang lainnya seperti membantu menggantikan ban mobil yang bocor. Apakah Sindi ini lupa jika Lisin ahli di bidang otomotif!
"Sayangnya, Aku tidak membawa ponselku karena seseorang mengambilnya..." Kata Lisin dengan jujur, Jelas ponselnya ada pada Wulan yang kecanduan melakukan foto selfie.
Jika Lisin menawarkan diri untuk menggantikan ban mobil, pasti Ginuk akan mengatakan jika Lisin sedang mencari perhatian. Entahlah semuanya sangat merepotkan.
"Bilang saja kamu tidak punya ponsel..." Kata Ginuk meremehkan.
Semuanya akan serba salah di depan wanita matre. Bilang tidak membawa ponsel di katakan tidak punya ponsel. pasti jika bilang punya ditanya kok cuman satu?
"Ginuk... Mas Lisin tidak membawa, bukannya tidak punya..." Sindi menegur.
"Bagiku terdengar sama saja Sindi... Sepertinya kita bertemu dengan orang yang salah..." Jelas Ginuk mulai kesal, mengapa Sindi ini selalu membela orang miskin seperti Lisin.
Apakah Lisin miskin? Jelas tidak, Jika Lisin miskin maka tidak ada orang kaya di dunia. Apakah orang kaya harus menunjukkan kekayaannya di depan umum?
Sepertinya kebalikan dari itu semua, seperti Ginuk yang menunjukkan kekayaannya yang tidak seberapa di depan Lisin.
"Mungkin aku tidak membawa ponselku, tapi aku punya ponsel lainya hanya saja karena saku celanaku tidak muat aku melemparkannya ditepi jalan..." Lisin mulai menyusun rencana untuk memberikan Ginuk pelajaran.
"Melemparkan ditepi jalan! jika bukan ponsel rusak apa lagi..." Ginuk ini memang mencari masalah.
Sindi tidak peduli dengan Ginuk, dirinya langsung menatap Lisin dengan penuh harapan. "Mas Lisin, apakah ponselnya masih bisa di gunakan?"
__ADS_1
"Mungkin, karena ponselnya belum pernah aku gunakan... Bentar akan aku mengambilnya lagi..." Lisin hanya membuat kebohongan.
Setelah Lisin berjalan beberapa meter dari mobil tersebut, dirinya membungkuk di antara rerumputan lalu mengeluarkan dusbook ponsel dari Inventori sistem.
Tentunya ponsel tersebut ponsel baru yang Lisin dapatkan dari kompensasi yang di berikan Sudra. itu adalah Oppo reno 6 yang sudah 5G.
"Sindi, Kamu bisa memilikinya... Dari pada Aku meletakkannya ditepi jalan karena tidak digunakan" Lisin memberikan Sindi dusbook ponsel Oppo yang masih tersegel dan belum dibuka seolah baru di dapatkan dari toko ponsel.
Sindi menerimanya begitu saja, awalnya dia pikir itu hanya dusbook ponsel murah yang tidak layak di katakan, tapi mengapa terlihat baru?
"Oppo reno 6..." Ketiganya langsung tersentak secara bersama-sama.
Sindi membalik dusbook untuk menemukan apakah di dalamnya ada isinya? hanya saja beratnya mengatakan ada isinya. belum lagi saat berniat membukanya, mengapa masih tersegel. bukannya ponsel ini diletakkan ditepi jalan!
Ketiganya jelas gadis yang pada dasarnya suka berfoto selfie, dan kamera jahat ponsel Oppo tidak perlu dipertanyakan lagi. gadis mana yang tidak tergiur dengan ponsel seperti itu? belum lagi yang ada di tangan Sindi adalah produk terbaru yang baru saja lauching dua bulan lalu.
Keterkejutan di mata Jihan tidak jauh berbeda dengan Sindi, walaupun Jihan mengetahui dari Keviralan Lisin yang memiliki Lamborghini edisi terbatas, Saat ini Jihan tidak dapat merespon dengan normal.
Yang lebih sakit hati karena iri dan juga sangat menyesal adalah Ginuk, dirinya sudah mencemooh Lisin karena berjalan kaki.
Sungguh wanita yang tidak dapat di mengerti, apakah di dunia ini ada wanita yang seperti ini?
Apa lagi saat Lisin mengatakan tidak membawa ponsel, Ginuk semakin yakin jika Lisin orang miskin. Namun siapa yang menduga jika ponsel yang diidamkannya di letakan di tepi jalan oleh pria yang dirinya anggap miskin. Apakah pria miskin akan melakukannya? tentunya tidak.
Kamera jahat dari ponsel Oppo di tambah riasan tebal miliknya, sungguh pasangan yang sempurna, atau bahkan menentang surga.
Ginuk hanya memiliki ponsel murah dan kamera jahatnya terlalu natural sehingga performanya tidak sebagus dan secantik hasil foto ponsel Oppo.
Di tambah ponsel tersebut produk baru, Ginuk beberapa kali memimpikannya. Dalam mimpinya Ginuk hanya sekali menggunakannya untuk foto selfie, dan hasilnya akan menampilkan nilai penuh kecantikannya yang palsu.
Cantik kok palsu...
"Mas Lisin... Sindi tidak bisa menerimanya..." Walaupun enggan melewatkannya jelas Sindi sangat suka dengan ponsel tersebut.
"Ambil saja, Dari pada di gunakan sebagai penahan kaki meja..." Kata Lisin dengan santai.
__ADS_1
Diam... Ketiganya terdiam, apakah sifat seperti ini adalah orang miskin? Jelas tidak. harga ponsel di tangan Sindi setidaknya 8 jutaan, dan Lisin menggunakannya begitu semena - mena.
Ginuk tidak kuat menahan tekanan batin, perasaan matre yang di milikinya hancur berkeping - keping. Sebagai gadis Matre sejati, mengapa dirinya menyinggung pria kaya seperti Lisin.
Menyesal... Sangat menyesal, dari awal jelas Sindi dan Lisin tidak terlalu akrab, tapi mengapa Lisin memberikan ponsel baru begitu saja.
Ginuk juga punya pacar kaya yang kurang tampan dan mengapa tidak seperti Lisin, giliran dirinya meminta di belikan tas mahal dan ponsel mahal tidak satupun kesampaian.
Setiap pacarnya di mintain sesuatu contohnya seperti pulsa Hp saja bilangnya nanti, nanti dan nanti. Tapi jika minta jatah pacar langsung berangkat, sebenarnya pacarnya kaya apa tidak sih?
Lihat saja Sindi yang bukan pacarnya bisa mendapatkan ponsel mahal begitu mudah, mengapa dirinya tidak seperti itu. Hidup memang tidak adil.
"Baiklah aku akan menerimanya..." Sindi dengan suasana hati yang bahagia, Langsung unboxing ponsel Oppo tersebut.
Setelah menghidupkan dan menggunakan nomor kartu miliknya yang di pindahkan, Sindi dengan cepat menghubungi kenalan montir mobil yang dirinya ketahui.
Ginuk tidak lagi bersuara, bahkan kentut saja dirinya tidak berani. andaikan tidak berani bernafas mungkin dunia akan sangat indah tanpa dirinya.
"Tidak bisa... Semua Montir mobil bisa datang nanti sore, sedangkan kita sudah memesan Vila... jika kita tidak datang tepat waktu orang lain akan menempatinya..." Sindi berkata dengan putus asa.
"Sindi mengapa kamu tidak menelpon kakakmu Sultan, bukannya dia membuka cabang di kota Banyuwangi..." Jihan yang dari awal terdiam langsung mengusulkan.
Suaranya begitu jernih bahkan harimau lapar akan tertidur jika mendengarkan bisikan - bisikan dari Jihan, Lisin si penjahat kelamin ingin pingsan di tempat. itu karena suara Jihan memiliki keunikan tersendiri.
"Benar juga... Tunggu dulu! kan ada Mas Lisin..." Teringat tentang Sultan jelas Sindi ingat Jika Lisin juga bisa mengganti ban mobil.
"Mas Lisin... Tolong bantuannya ya..." Sindi tersenyum konyol, dirinya merasa bodoh tidak meminta bantuan Lisin.
"Tidak masalah..." Tidak butuh waktu lama untuk Lisin mengganti ban serep mobil avanza.
Jihan tidak bisa mengalihkan tatapan matanya saat melihat Lisin beraktivitas, bahkan sedikit keringan menambahkan nilai lebih untuk semua pria yang bekerja keras.
Mengapa Lisin yang berkeringat dapat mencuri perhatian keindahan Jihan, sedangkan Jomblo yang bermandikan keringat tanpa sebab akan tetap sendirian.
Sungguh wanita yang buta...
__ADS_1
Bersambung...