Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan

Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan
Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan Episode 142


__ADS_3


Di saat semua mahasiswa dan mahasiswi mengikuti bimbingan belajar, Fakultas kedokteran tidak memiliki kelas selama satu minggu kedepan.


Lisin dan Trio wik wik pindah ke halaman kantin dan mentraktir ketiga temannya yang laknat sepuasnya.


"Kalian bertiga bercerita cukup banyak, namun tidak menyebutkan bagaimana kalian bisa di hukum..." Lisin bertanya sambil melihat temannya makan dengan lahap.


"Benar juga, ceritanya tidak berhenti di sana... Setelah itu kami bertiga berniat memergoki pasangan mesum tersebut, hanya saja pihak lain memiliki pintu kemana saja. jadi saat kita bertiga datang keruangan tersebut, tidak ada seorang pun di sana..." Brian berkata lagi.


"Benar..." Alim mengangguk setuju.


"Kami bertiga, menemukan sepatu seorang wanita... dan pastinya sepatu ini milik wanita dari pasangan mesum tersebut..." Jo menambahkan.


"Sepatu!..." Sial... itu pasti sepatu milik Dosen Mirna yang ketinggalan.


"Alim ayo..." Brian dan Jo melihat kearah Alim.


"Sialan kalian berdua, apakah kamu menyuruhku untuk menjadi sepatu..." Alim berkata dengan kesal, entah kenapa dirinya terus mendapatkan naskah dan dialognya tidak mengenakan.


"Siapa juga yang menyuruhmu menjadi sepatu wanita, maksudnya ambil sepatunya di dalam tasku..." Brian berkata dengan katawa kecil.


"Oh... Seperti itu..." Alim langsung mengambil sepatu dari tas bawaan milik Brian.


Lisin dapat melihat sepatu milik Dosen Mirna di atas meja dan tidak salah lagi karena bentuknya sama persis.


"Setelahnya, kami kepergok lagi oleh dosen gemuk dan kita sudah menjelaskan secara jujur. namun beliau tidak percaya dan menganggap perkataan kita bertiga hanya kebohongan..." Jo menambahkan.


"Benar, Bukannya menghargai jasa detektif kita, eh... Kitanya yang di hukuman..." Brian menambahkan.


Hahaha... Bagus jika kalian bertiga di hukuman, jika bisa kalian di hukuman dengan sesuatu yang lebih berat.


"Jadi, akan kalian apakan sepatu ini..." Lisin bertanya.


"Tentu saja kita harus menemukan pemilik sepatu ini..." Ketiganya berkata dengan bersamaan.


"Apakah kalian pikir, ini sepatu kaca milik Cinderella?..." Lisin bertanya lagi.


"Anggap saja seperti itu..." jawab Brian.


"Benar, pemiliknya pasti salah satu wanita yang ada di kampus..." Jo menambahkan.


Lisin terdiam sejenak sambil melihat ketiganya, kemudian menggeleng.


"Aku tidak ikutan, kalian saja yang mencarinya..." Lisin di buat tidak berdaya lagi.

__ADS_1


Mengapa dirinya harus menemukan pemiliknya yang jelas - jelas, sepatu tersebut milik Dosen Mirna.


"Tidak Asik Kamu bro... Kamu seorang yang bisa kami andalkan, tolong lah jangan seperti itu..." Brian membujuk.


"Benar, Karena pasangan mesum tersebut kita bertiga menerima hukuman dari dosen gemuk..." Jo menambahkan.


Hahaha... itu sih salah kalian sendiri... Detektif gadungan.


"Bro Lisin, Kamu adalah panutan kami..." Alim menambahkan.


Ketiganya menunggu jawaban dari Lisin...


"Hem... Apakah kalian bertiga tahu jika yang kalian lakukan ini salah... Apa yang kalian lakukan itu mengganggu urusan pribadi orang lain, bagaimana jika kalian berada pada posisi mereka..." Atas pernyataan Lisin ketiganya terdiam.


"Entah itu mereka melakukan hal mesum atau tidak, semua itu bukan urusan kalian, apakah kalian mendapatkan imbalan dari mengganggu kehidupan orang lain?..."


"Atau juga, kalian akan mendapatkan piagam penghargaan setelah menemukan pasangan mesum tersebut?... Pada dasarnya kalian bertiga hanya mengikuti keegoisan kalian masing - masing..."


"Kalian tidak melakukan hal salah, melainkan mengatur dan mengurus masalah orang lain adalah hal yang salah... jika itu kalian dan pasangan kalian yang sedang enak - enaknya terganggu pasti akan kesal juga kan..."


Ketiganya langsung terdiam saat itu juga.


"Mungkinkah kalian ingin pamer kepada orang lain karena kalian berhasil menangkap pasangan mesum?... Melakukan sesuatu yang merugikan orang lain dan kalian bangga?..."


"Entah, Pasangan mesum melakukannya di toilet, di bawah pohon, di dalam mobil, di dalam kelas, di pesawat, di bulan atau di dalam kuburan, itu semuanya tidak ada hubungannya dengan kalian..."


"Apakah kalian bertiga sudah melakukan hal benar, sehingga bisa membenarkan kesalahan orang lain?..."


Diam... Ketiganya tidak berani bersuara.


"Apakah kalian melihat dengan mata kalian sendiri jika mereka melakukan hal yang mesum?... Sebelum kalian mencampuri urusan pribadi orang lain kalian harus bercermin..."


"Kalian adalah mahasiswa, tugas kalian adalah belajar bukan menemukan pasangan mesum..."


Yang berbicara bukannya mahasiswa juga, dan dialah yang melakukan hal mesum, apa lagi dengan Dosennya sendiri, Dirinya sendiri memiliki perkataan tidak sesuai dengan prilaku. berniat membenarkan ketiganya.


Sungguh ceramah yang luar biasa, rasanya seperti tiga orang baik dan tidak bersalah, berniat melakukan hal baik. namun mendapatkan tausyiah dari orang yang tidak baik sama sekali.


Lisin berhenti sejenak kemudian mengambil minuman karena tenggorokannya kering.


"Jadi, apakah kalian masih ingin mencampuri urusan pribadi orang lain..." Lisin bertanya.


"Tidak jadi dah..." Brian menunduk.


"Kita belum melakukan hal yang benar, namun ingin membenarkan masalah orang lain..." Alim berkata dengan sedih.

__ADS_1


"Kita mahasiswa, lebih baik kita belajar dengan giat..." Jo juga menunduk.


Ceritanya ingin menagkap orang mesum namun berakhir dengan mendapatkan ceramah no jutsu dari orang mesum itu sendiri, siapa lagi jika bukan Lisin.


"Bro Lisin... Kamu saja yang menyimpan sepatu ini, kita bertiga akan belajar sungguh - sungguh mulai sekarang..." Ketiganya berdiri kemudian pergi, menyisahkan Lisin seorang diri.


"Bro Lisin terima kasih pembelajarannya..." Ketiganya menambahkan dari kejauhan.


Lisin mengambil sepatu milik dosen Mirna kemudian pergi ketempat parkir, lalu menggunakan Mobil Nissan Skyline dan pergi keluar kampus.


"Hallo..." Suara malas terdengar dari sisi lain penelpon.


"Dosen Mirna aku membawakan sepatu milikmu..." Lisin melakukan panggilan sambil mengemudi.


"Alamatnya Jalan raya..." Dosen Mirna, mengatakan alamatnya kemudian dirinya menyesalinya.


"Aku akan mengantarkannya sekarang..." Lisin langsung melajukan mobilnya dengan cepat, pergi menuju ke alamat yang Dosen Mirna katakan.


.....


Sedangkan itu di rumah sakit umum rumah sakit tertentu seorang pria berkumis terlentang dengan balutan kain perban di sekujur tubuhnya.


"Paman... Kamu tidak apa - apa?..." Vito menjenguk Pawana dengan keheranan di matanya.


Kondisi Pawana hampir sama dengan kondisi dirinya satu bulan yang lalu, hanya saja Pawana sedikit beruntung karena tidak memiliki telur menetas.


"Apanya yang baik - baik saja, ini semua gara - gara kamu karena tidak mengatakan jika pihak lain pengguna kanuragan juga..." Pawana berkata dengan kesal.


"Pawana, jangan salahkan putraku tersayang, bilang saja kamu tidak bisa mengurus Orang dusun itu..." Wanita gemuk membengkak selaku ibu Vito berkata dengan kesal.


"Kamu, juga... Ambilkan aku ponsel..." Pawana yang menyedihkan berteriak dengan marah.


Walaupun mereka memiliki ikatan saudara, jika dirinya dalam kondisi sehat kedua ibu dan anak ini pasti akan di remas - remas terutama wanita gemuk seperti bakso ini.


Keduanya ketakutan melihat ekspresi mengerikan Pawana, sangat Jelas Pawana bukan orang biasa, jika Pihak lain menyimpan dendam, keduanya bisa dalam masalah.


Mengikuti perkataan Pawana, Vito yang ketakutan membantu Pawana untuk memanggil seseorang yang tidak di ketahui.


Vito sangat terkejut, Mengingat Pawana yang bisa menghancurkan batu dengan pukulannya dan bisa berakhir seperti ini karena Lisin. itu berarti Lisin ini Lebih kuat dari Pawana.


Vito bergidik karena tidak mati di tangan Lisin saat itu, tetapi kehilangan bagian bawahnya, Dirinya mulai tertekan karena pihak lain sangat kuat, bagaimana dirinya akan membalas perbuatan Lisin.


"Paman, apakah kita tidak bisa memberi Lisin ini pelajaran?..." Vito bertanya dengan hati - hati.


"Hem... Keponakan, Perguruan Paman cukup dalam dan tersembunyi dari dunia luar, walaupun paman hanya murid yang tidak layak di sebutkan di depan pemimpin Perguruan... Setidaknya dengan melukai pamanmu ini, itu sama dengan menyinggung Perguruan yang ada di belakang paman..." Pawana tersenyum dengan kejam.

__ADS_1


Vito dan ibunya yang seperti bakso juga tersenyum, Mereka sangat puas menjadi antagonis karena ada harapan untuk melakukan pembalasan.


Bersambung...


__ADS_2