
Lereng gunung Kawi di mana Perguruan Macan Putih sedang mengadakan tantangan, antar perwakilan dari dua Perguruan.
Tantangan untuk menentukan Perguruan mana yang harus mendiami lereng gunung Kawi sepenuhnya.
Yang menang berkuasa dan yang kalah harus meninggalkan pegunungan. Suliwa menjadi perwakilan Perguruan Tengkorak dan melangkah dengan perlahan di bawah tatapan murid - murid bela diri Perguruan Macan Putih.
Suliwa menjadi seperti jenius bangga dirinya memandang rendah murid - murid Perguruan Macan Putih yang ada di sekeliling panggung yang dirinya pijak.
"Nona Wulan pasti akan mengalahkannya..."
"Benar... Perguruan Tengkorak ini memang mencari kematian..."
"Aku sangat yakin jika Suliwa ini akan kalah dalam tiga nafas..."
"Perguruan Macan Putih tak terkalahkan..."
Beberapa Murid memuji dan mendukung Wulan secara sepihak, karena lokasi bertempat di Padepokan Macan Putih, Keberadaan Suliwa hanya bisa terabaikan.
"Hmmm..."
Suliwa jelas marah karena dia tidak di hargai, dari awal dirinya tahu situasinya akan seperti ini namun dirinya mengabaikannya, setelah Suliwa memenangkan tantangan. Hal pertama yang dirinya akan lakukan adalah mengusir semua orang yang ada di sini.
Suliwa menunggu kedatangan Wulan di atas panggung dengan tersenyum.
"Wulan... Sepertinya kamu sedikit pucat... Apakah kamu sakit..." Mahesa bertanya dengan khawatir, dan saat dirinya ingin menarik lengan Wulan untuk melihat denyut nadinya, Wulan dengan cemas menariknya.
"Ayah, bisakah kamu tidak menyentuh ku... Wulan tidak memiliki masalah dan Wulan pasti akan memenangkan tantangan..." Wulan langsung membuat alasan.
"Kalau begitu pergilah..." Mahesa berfikir, sepertinya dirinya terlalu memikirkan sesuatu yang tidak penting.
"Um..."
Wulan berdiri tegak dengan pakaian longgar berwarna putih, dua selendang Putih menggantung di antara pinggangnya.
Dirinya berdiri secara berseberangan dengan Suliwa menggunakan posisi kuda - kuda bela diri begitu juga dengan Wulan melakukan hal yang sama.
"Gyak..."
"Klak..."
"Pluk..."
Pertarungan di mulai, keduanya saling bertukar beberapa keterampilan seni bela diri, dan saling memberikan yang terbaik.
Hanya saja dalam jalanya pertarungan Wulan terus menerus Menghindari semua jenis pemukulan dari Suliwa dan kebanyakan yang Wulan lakukan adalah bertahan dari pada melakukan serangan balik.
Suliwa mengendalikan energi kanuragan dengan sempurna bahkan setiap pemukulannya mengandung daya ledakan yang tinggi.
"Wulan... Ada apa dengannya... mengapa dia tidak bisa menggunakan kanuragan dengan stabil..." Mahesa berkata dengan heran.
Dalam penglihatannya jelas putrinya sedang tersudut di bandingkan dengan Suliwa yang terus - menerus melakukan serangan yang cukup mematikan.
"Hahaha... Mahesa, Sepertinya sebagai orang tua kamu kecolongan akan sesuatu... Bahkan anakmu hamil saja kamu tidak menyadarinya..." Malwageni langsung mengutarakan pendapatnya tentang pertarungan yang sedang berlangsung.
Sebagai pihak lawan jelas Malwageni akan memantau pergerakan Wulan lebih akurat dari pada Mahesa yang melihat pertarungan secara keseluruhan.
__ADS_1
Apa yang Malwageni lihat tentang Wulan yaitu, memiliki vitalitas energi yang naik turun, juga terus menghindari serangan. terutama saat Suliwa menyerang pada bagian perut.
Energi Kanuragan yang di miliki Wulan tidak stabil seolah terganggu akan sesuatu, Jika di lihat kembali dengan cermat energi kanuragan terkumpul pada bagian perut dan kemudian besar hanya janin yang bisa mempengaruhinya, untuk itulah Wulan tidak dapat mengontrol kanuragan dengan benar.
"Apa!!!..."
Mahesa langsung berdiri karena terkejut dirinya memang merasakan hal yang janggal pada tubuh putrinya terutama pada bagian perut, juga beberapa hari yang lalu Mahesa melihat wulan yang sering muntah - muntah pada pagi hari.
"Mahesa, Lebih baik akui saja kekalahan mu dan pergi meninggalkan gunung Kawi... Aku yakin kamu tidak memiliki pewaris lain yang bisa mengalahkan putraku Suliwa..." Malwageni menambahkan.
Mahesa tertekan, antara senang dan kesal. Pertama dirinya senang karena Perguruan Macan Putih memiliki pewaris untuk generasi selanjutnya. Tentang masalah Ayah dari janin yang ada di perut putrinya, Mahesa akan menemukan Lisin bagaimanapun caranya untuk bertanggung jawab karena telah menghamili putrinya.
Sedangkan yang kedua, Mahesa marah karena tidak memiliki pewaris lain selain kedua putrinya, andaikan saja putrinya yang pertama tidak meninggalkan Padepokan pasti akan menggantikan Wulan secara langsung.
Hal berikutnya, Jelas Wulan tidak memiliki kesempatan untuk memenangkan tantangan karena dirinya tidak berada dalam kondisi puncaknya. Ditambah Jika menyerah Perguruan Macan Putih harus meninggalkan Lereng gunung Kawi yang sudah dirinya jaga dari generasi ke generasi.
Mahesa sangat tertekan saat mengambil keputusan yang sulit.
Amanat kakek buyut juga tidak boleh meninggalkan Lereng gunung Kawi apapun kondisinya. Jikapun terus melanjutkan tidak hanya Wulan mengalami kekalahan, juga akan mengalami keguguran.
"Hentikan Tantangan..." Mahesa berteriak hanya saja Suliwa tidak mendengarkannya melainkan menggunakan Pukulan energi yang kuat di saat Wulan lengah karena teriakan ayahnya.
"Tercela..." Mahesa semakin marah saat Suliwa mengarahkan pukulan tersebut ke perut putrinya.
"Apakah aku akan membiarkanmu menghentikan Putraku untuk membuat putrimu keguguran?..." Saat Mahesa akan turun secara pribadi, Malwageni menghalanginya.
Suliwa sendiri juga membuat dugaan jika Wulan telah hamil, untuk itu dirinya harus menggugurkan kandungan tersebut. Jelas Suliwa sangat marah, Wulan yang tidak bisa dirinya milik juga Suliwa tidak dapat mengambil kesuciannya, dan berakhir di tangan orang lain.
Di tambah kemungkinan besar mereka melakukannya saat Wulan terkenal racun Afrodisiak. ini seperti Suliwa yang memasak ikan bakar sudah terkena bau amis dan asap, namun orang lain yang memakannya.
"Woosss..."
"Krakk..."
"Ahhhhh..."
Suara teriakan kesakitan menggema mengejutkan semua orang yang melihatnya, hanya saja teriakan tersebut tidak datang dari Wulan melainkan dari Suliwa.
Seorang pemuda datang dari kejauhan menggunakan Teknik tapak angin secara langsung menendang wajah tampan Suliwa.
Pemuda tersebut adalah Lisin.
Jika itu tendangan orang biasa pasti tidak akan membuat Suliwa kesakitan. jelas tendangan tersebut menggunakan semua energi dalam yang Lisin miliki.
Seketika itu Suliwa hanyut oleh tekanan yang begitu besar, dan berakhir jatuh dari atas panggung.
Wulan yang terkejut kehilangan keseimbangan dan terlihat akan terjatuh, Jelas Lisin tidak akan membiarkannya dan langsung menangkapnya.
"Kamu tidak apa - apa, Kamu tidak boleh melakukan hal berat... Aku tidak ingin anak kita kenapa - napa..." Lisin yang menggendong Wulan langsung berjalan ke tempat Mahesa di bawah tatapan semua orang.
Anak Kita!!!
Jelas semua orang bertanya - tanya siapa pihak lain, dari pakaian yang di kenalannya jelas berasal dari dunia luar. saat mereka mendengarkan perkataan Lisin semua orang akhinya memahami jika Wulan sedang hamil dengannya
"Kuat... Sangat kuat..."
"Benar, bahkan Suliwa langsung terkapar..."
__ADS_1
"Dia memang pantas mendapatkan Nona Wulan..."
"Apa!!! Nona Wulan hamil..."
"Sepertinya..."
"Kapan membuatnya... Mengingat Nona Wulan sangat dingin..."
"Entahlah... Dia juga cukup tampan..."
Baik murid perempuan atau murid laki - laki semuanya langsung membicarakannya dengan bersemangat.
"Turunkan... Aku, Apa yang kamu lakukan... Jangan membuat aku malu di depan semua orang..." Wulan yang terkejut dengan kedatangan Lisin awalnya cukup hangat akan kepedulian yang Lisin lakukan.
Namun kembali marah mengingat Lisin menggendong dirinya di depan Semua orang termasuk Ayahnya.
"Tenang - tenang aku akan menurunkan mu..." Lisin langsung menurunkan Wulan.
"Kamu... Kamu... Siapa kamu berani sekali melukai anakku... Apakah kamu ingin mati?..." Malwageni berteriak dengan marah.
Lisin melihat kearah Malwageni kemudian melihat kearah Mahesa yang juga terkejut.
Tentunya Lisin menggunakan analisa sistem dan dapat memahami siapa kedua orang tua yang ada di depannya.
"Janin yang ada di dalam perut Wulan adalah anakku..." Lisin mengakui dengan tak bergeming di depan Keduanya.
Lisin sangat bersyukur dirinya tidak terlambat, jika tidak maka akan sirna harapan dirinya untuk memiliki seorang anak.
"Kamu..." Malwageni mengerutkan keningnya.
Malwageni melihat sosok Lisin dari atas hingga kebawah dan hanya satu dalam pikirannya, pihak lain dari dunia luar.
"Melukai anakku Suliwa maka kamu harus mati..." Dengan cepat energi dalam terkumpul pada permukaan tangannya lalu memukul Lisin.
Tapak tengkorak...
Apakah Lisin akan diam saja? tentu saja tidak.
Energi dalam juga terkumpul pada telapak tangan Lisin kemudian memukul balik Malwageni.
"Duarrr..."
Dua pukulan dengan dua energi dalam yang mengerikan berbenturan, tekanan yang di sebabkan dari dua pukulan tersebut, membuat tempat sekitarnya dalam kekacauan.
Mahesa sendiri hanya bisa melangkah kebelakang dengan terkejut, begitu juga Wulan dan semua orang di sekitarnya.
"Duarrrrr..."
Malwageni yang berniat membunuh Lisin langsung terpental seperti layang - layang yang terputus benangnya.
"Guak..."
Shock... Malwageni bersandar pada sebuah batu yang ada di belakangnya kemudian memuntahkan seteguk darah segar.
Bersambung...
*Tugas sistem tidak akan keluar sampai Ark Wulan berakhir, jika tidak suka skip aja Terima kasih.
__ADS_1