Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan

Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan
Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan Episode 249


__ADS_3


Lisin seperti dilahirkan kembali setelah melihat tubuh matang milik Mei Lan yang ada di depannya. Dari bawah kaki - kaki ramping dan putih salju mengenakan hak tinggi.


Naik keatas ada paha mulus yang sedikit berisi namun tidak gemuk. di antara kedua paha ada hutan yang terawat dengan rapi berbentuk segitiga sama sisi. diatasnya ada pinggang yang cukup lebar namun sempurna dari segi ukuran. Juga bagian perut yang rata tanpa lemak sedikitpun.


Naik lagi dua gunung kembar yang memiliki kismis pada masing - masing puncaknya. Kedua tangannya juga enak di pandang. mengikuti leher putih salju, kemudian wajahnya yang cantik dengan rambut panjang dengan sedikit gelombang pada setiap ujungnya.


Ekspresi malu yang Mei Lan tampilkan membuat siapapun yang melihatnya semakin bersemangat untuk melanggarnya.


Lisin tidak lagi mampu menahan kesabarannya, dia ingin melepaskan semua hasratnya. Jika memungkinkan dia ingin menghabiskan waktu yang dimilikinya hanya untuk mengagumi keindahan yang ada di depannya. Dengan perlahan Lisin melepaskan kemeja yang dia kenakan yang mana memiliki robekan dan bekas darah kering pada bagian bahunya.


"Mei Lan..."


"Tuan Li..."


Lisin menarik Mei Lan dalam pelukannya. tangannya tidak lupa untuk menjelajah lagi kedua gunung kembarnya. Berpacu dengan nafas berat keduanya berciuman. Dalam jalinan mesra dan kegugupan hati kecil Mei Lan. Keduanya tidak peduli lagi tentang apa yang ada di sekitarnya.


Kembali pada kenyamanan satu sama lain, Lisin membimbing Mei Lan keatas tempat tidur. Dia tidak lagi sopan terhadap Mei Lan. Dia menjadi ganas saat memainkan dan mengigit puncak gunung kembar.


Mei Lan tidak dapat menolaknya, karena Lisin sangat lihai dalam membimbing dan memberikan arahan tentang apa yang selanjutnya dilakukan. Dirinya bertanya - tanya, bukankah Lisin bilang belum berpengalaman. mengapa dia sangat hebat dalam menyenangkan dirinya. dan mengetahui semua titik yang membuat wanita akan sangat nyaman.


Mungkinkah Lisin malu dan tidak percaya diri untuk mengakuinya? Benar, mungkin seperti itu.


Apakah dia masih perjaka?


Mungkin!


"Mei Lan kamu harus kuat karena saat pertama akan sedikit menyakitkan..."


"Aku tidak masalah, aku pasti bisa bertahan dan menanggungnya..."


Mendengar ini saja membuat siapapun akan bahagia, apa lagi Lisin. Sayangnya sebelum Lisin melanjutkannya, Suara ponsel mengejutkan keduanya.


"Ting... tong... tung... teng..."


Sialan, siapa yang menelpon malam - malam begini. Lisin sangat marah, Joni agung belum tampil dalam pertunjukan, namun seseorang telah mengganggunya.


Abaikan saja!


"Tuan Li, ponsel kamu berbunyi!..."


Mei Lan, ini tidak tahu apa jika nanggung begini, mengapa mengingatkan tentang suara ponsel berbunyi.


"Abaikan saja. Itu pasti nomor tidak di kenal dari seseorang yang tidak punya pasangan..."


"Tapi tidak baik mengabaikannya..."


Mei Lan menjawab, dia juga tidak ingin di ganggu, hanya saja dia khawatir jika panggilan tersebut sangat penting.

__ADS_1


Lisin ingin menangis, siapa sih yang menghubungi ponselnya! Apakah dia tidak tahu jika malam ini dirinya sedang sibuk.


"Baiklah, aku akan mengangkatnya..."


Lisin turun dari atas ranjang meninggalkan sesuatu yang mubasir, dan memilih untuk merogoh ponsel yang ada di celananya.


"Ini..."


Lisin melihat layar ponsel dan menemukan nomor asing namun dia masih ingat tiga angka pada bagian nomor tersebut.


Zhang Fei!


Lisin ingat jika dirinya begitu juga Zhang Fei menambahkan nomor ponsel saat berada di tempat biro urusan sipil, dalam penandatanganan perkawinan tertulis. Walaupun hanya sesaat Lisin ingat dengan nomornya, Dirinya tidak menyangka jika Zhang Fei akan menyimpan nomor ponsel miliknya.


Mengapa Zhang Fei menelpon malam - malam seperti ini. mengetahui dari sifatnya dia tidak akan menghubungi Lisin walaupun di berikan imbalan uang. juga tidak mungkin dia kesepian di malam hari dan menginginkan agar Lisin menemaninya.


Semua alasan yang Lisin pikirkan tentang mengapa Zhang Fei menghubungi dirinya tidak ada yang cocok.


Tunggu dulu, mengapa aku harus bingung. Abaikan saja dia. Kita juga tidak menjalani pernikahan yang serius, belum lagi dalam jangka waktu Tiga bulan kita akan bercerai.


Pada dasarnya kita tidak mungkin bersama.


Lisin melihat kearah Mei Lan yang siap dilanggar di atas ranjang. Di saat ada yang pasti mengapa masih memikirkan yang belum pasti.


Lisin ingin mengabaikan panggilan dari Zhang Fei, namun mengapa hatinya mengatakan sebaliknya.


.....


Dalam perjalanan, dia melajukan mobilnya dengan keadaan kesal. Dia siap mengamuk kapan saja. Namun setelah di pikirkan lagi tidak mungkin dirinya cemburu dengan suaminya tersebut.


Keduanya tidak terikat pernikahan yang sebenarnya, mereka hanya menikah sebatas nama. bukan berarti keduanya harus menjalani kehidupan pernikahan yang seharusnya. Jika bukan karena persyaratan surat warisan keluarganya Zhang Fei tidak akan menikah dengan Lisin secara tertulis.


Zhang Fei tidak mungkin kembali ke Villa pribadinya dan melanjutkan untuk memasak. Dia membutuhkan sesuatu untuk menenangkan pikirannya yang kesal.


Tanpa dia sadari Zhang Fei mengunjungi Bar yang menjadi tempat dirinya bertemu dengan Lisin.


Setidaknya dia sekarang tidak bersama dengan Lisin. karena Lisin sedang bersama dengan Mei Lan.


Zhang Fei dengan cepat memasuki bar dan langsung memesan minuman beralkohol. satu gelas kecil tidak cukup menjadi dua gelas dan dua gelas tidak cukup menjadi tiga gelas. Zhang Fei seorang diri terus menerus meminum minuman beralkohol yang ada di depannya.


"Nona, Ini untuk anda..."


Bartender memberikan minuman baru kepada Zhang Fei, padahal dia tidak memesan minuman lagi.


"Nona pasti bingung, minuman ini di pesan untuk nona dari tuan yang ada di sana..."


Mengikuti petunjuk dari Bartender, Zhang Fei dapat melihat pemuda tampan dengan setelan mahal yang di kenalannya.


Pemuda tersebut juga mengangkat minuman yang ada di tangannya, yang menandakan dia ingin bersulang. Zhang Fei langsung meminumnya tanpa peduli tentang minuman apa yang dia minum.

__ADS_1


Tentu saja minuman tersebut tercampur afrodisiak yang kita tunggu - tunggu.


"Nona Zhang, aku tidak menyangka jika kita bisa bertemu secara kebetulan seperti ini. Terakhir kali kita membicarakan kesepakatan kerja sama namun tidak terselesaikan dengan benar..."


Pemuda tersebut tersenyum secara internal. Jelas dia sangat senang saat mengetahui jika CEO yang terkenal dingin sedang minum sendirian. Dia berjalan mendekati Zhang Fei yang sudah terlalu banyak minum.


"Song Ji, aku tidak ingin berbicara dengan siapapun. Lebih baik kamu menjauh dariku..."


Zhang Fei sangat tidak senang. Jika Lisin sudah membuatnya kesal maka kedatangan Song Ji membuatnya marah. Terakhir kali saat melakukan pertemuan di perusahaan, Song Ji ini berniat melecehkan dirinya.


Jika dirinya lengah saat itu maka akan berakhir tidur dengannya. entah mengapa saat ini bertemu dengannya lagi dan dalam situasi yang sangat buruk.


"Nona Zhang, Aku tahu saat itu telah melakukan kesalahan, namun aku ingin meminta maaf dengan tulus..."


Song Ji tersenyum dengan tulus, dia sangat yakin malam ini bisa meniduri Zhang Fei tanpa kegagalan.


"Kepalaku..."


Zhang Fei merasa dejavu dengan kondisinya, dia merasakan jika setelah meminum minuman dari Bartender yang di pesan langsung oleh Song Ji. membuat dirinya merasa panas.


Mungkinkah Afrodisiak seperti yang terakhir kali!


Zhang Fei langsung ketakutan, dia sudah sekali tidur dengan Lisin tanpa dirinya sadari. Jika dia tidur dengan Song Ji maka itu lebih buruk lagi.


"Nona Zhang, Kamu kurang sehat. Mari saya antar untuk istirahat..."


Zhang Fei ingin menolak namun dirinya kesulitan mengendalikan tubuhnya. Dia tidak bisa mengabaikan Song Ji yang membawanya ke Kamar Hotel yang ada di lantai atas.


Zhang Fei sekarang tergeletak tidak berdaya di atas ranjang hotel. Dia ingin pergi namun tubuhnya berkata lain. Sedangkan Song Ji tertawa dan terus tertawa saat melihat Zhang Fei. Dia memutuskan untuk pergi ke kamar mandi.


Tolong, Aku tidak menginginkan ini. Pikir Zhang Fei.


Dia tidak mungkin bisa melarikan diri lagi dari Song Ji seperti sebelumnya.


Zhang Fei yang putus asa tanpa sadar memikirkan Lisin yang saat ini bersama dengan wanita lain. Dia mengambil ponselnya dan langsung menekan nomor Lisin.


.....


Lisin yang saat ini bersama dengan Mei Lan sedang dalam situasi sulit mengingat Zhang Fei menghubungi dirinya.


"Tuan Li, mengapa kamu tidak mengangkatnya?..."


Mei Lan yang melihat Lisin terdiam berinisiatif bertanya.


"Ok, Aku akan mengangkatnya..."


Lisin tersenyum setidaknya dia akan mengatakan kepada Zhang Fei jika dirinya sedang sibuk bersama wanita lain.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2