
Jendral tua sangat bersemangat bagaimana tidak dalang di balik hilangnya orang-orang melewati jalur alternatif berhasil di hentikan, tidak tapi di bunuh.
Menurut penjelasan dari Lisin, Danu di bunuh oleh adiknya sendiri dengan gergaji mesin yang terduga sebagai rekan yang melakukan kejahatan, Sedangkan kopet sendiri berhasil di bunuh Lisin seorang diri.
Jendral tua langsung memobilisasikan ratusan pasukan khusus untuk mengamankan tempat kejadian perkara (TKP) yang bertempat di kaki gunung Arjuno yang di selimuti oleh rumput gajah yang menjulang tinggi.
Sangat di sesalkan jika banyak korban jiwa yang berakhir di tangan kedua pelaku, belum lagi untuk kopet yang memiliki kecanduan daging manusia (kanibalisme).
Tidak butuh waktu lama Jendral tua yang menggunakan Jet pribadi langsung menuju ke tempat kejadian dan cukup puas melihat kinerja pasukan khusus yang sudah mengamankan tempat kejadian terutama barang bukti dan dua jasad korban baru (Anjar dan Ratna) juga dua jasad pelaku (Danu dan Adiknya) yang kondisinya lebih mengerikan.
Jendral tua yang baru datang dapat melihat para Reporter di kejauhan yang terhalang oleh garis pembatas polisi.
Jendral tua sangat salut terhadap para reporter, sepertinya penciuman seorang reporter lebih tajam dari anjing militer.
Banyak hal yang di temukan oleh pasukan khusus, seperti ranjau beruang jika tidak ada peringatan dari Lisin banyak pasukan khusus yang akan terluka, lebih dari 25 buah ranjau beruang di temukan dalam kondisi normal.
Hal berikutnya adalah makam tulang belulang, entah berapa banyak korban yang di makan kopet setidaknya lebih dari 50 orang baik tua, mudah, wanita, Laki-laki dan juga Anak-anak, sungguh biadab.
Hal lainya selain begitu banyaknya mobil dan sepeda motor korban, banyak barang berharga dan tanda pengenal milik korban di temukan juga. Jendral tua yang tau jika Mobil sport Ferrari adalah milik Lisin langsung mengamankannya.
Hari ini Indonesia di hebohkan dengan penemuan lokasi persembunyian penjahat yaitu dua begal dan ratusan barang bukti tindak kejahatan.
Banyak keluarga korban yang histeris mengetahui jika keluarga mereka yang selama ini menghilang ternyata telah menjadi tulang belulang. kepolisian langsung mengupayakan proses otopsi guna menemukan bagian tubuh korban.
Kasus tersebut Trending di berbagai macam media sosial, televisi, koran dan lain sebagainya. dalam upaya meringankan beban keluarga korban pemerintah mencairkan dana 1 triliyun tidak hanya itu pemerintah juga melakukan penerimaan donasi sosial untuk keluarga korban.
Menjadi kasus paling brutal untuk orang hilang dalam sejarah yang ada di Indonesia, pemerintah dan kepolisian melakukan jumpa pers dengan meminta maaf sebesar-besarnya karena ketidakmampuan dalam mencegah terjadinya kejahatan.
Kepolisian yang di pimpin jendral tua merahasiakan tentang perbuatan Lisin atas permintaan dari Lisin sendiri dan korban yang selamat sejauh ini hanya Anisa seorang yang saat ini berada di kantor polisi untuk menjelaskan kronologi kejadian dengan merahasiakan keberadaan Lisin.
Lisin yang merasa berduka Langsung mendonasikan sebesar 1 Triliyun untuk keluarga korban.
Kembali ke kepolisian Saat ini Lisin mandi dan berganti pakaian melalu wc umum, karena baju sebelumnya ternodai dengan darah untungnya Lisin menyimpan banyak pakaian dalam inventori sistem.
Anisa yang berpisah dengan Lisin mengucapkan terima kasih sebagai perpisahan, walaupun enggan berpisah dengan Lisin Anisa berfikir jika dirinya akan bertemu dengan Lisin lagi.
(DING...)
(Tuan rumah telah menyelesaikan tugas sistem dengan mengalahkan Kopet)
(Mendapatkan 50 poin sistem)
(Mendapatkan Kartu keterampilan memasak)
Sial... mengapa keterampilan memasak mengapa tidak yang lainya.
Lisin yang tertekan menjadi bahagia saat melihat panel status dari sistem, karena sistem mencapai Level 3.
Nama: Amar Lisin
Level: 3 (8/400)
Pesona: 7
Keterampilan: Mekanik Super, Mengemudi Super, Seni Beladiri Kuno, Dukun Kuno, Master Pedang, Master Musik, Master Olahraga.
Inventori: keperluan tuan rumah
Tokoh: akses tingkat 2
Lotere: 3 kali
Saldo: Rp7.750.565.754.000
Dana: 0
Tugas: Membantu menyelesaikan masalah yang di miliki Robert yang ada di Los Angeles (belum selesai)
(DING...)
(Sistem mencapai Level 3)
(Beberapa keterampilan akan mengalami peningkatan apakah tuan rumah akan meningkatkan : Ya/Tidak)
"Hahaha... Ya... tentu saja"
Lisin sangat senang sekarang beberapa keterampilan yang di milikinya semakin meningkat, apalagi energi batinnya semakin meluap jika dia bertemu dengan Asami lagi maka Lisin dengan pasti dapat menyembuhkannya secara permanen.
Lisin yang sendirian mengendarai Mobil SUV tua keluar dari kantor polisi, di tepi jalan dia dapat melihat jika seorang gadis yang sangat bersedih berjalan di atas trotoar.
"Gadis ini sedikit familiar..."
Lisin bukan tipe pria yang akan miliki mata bersinar saat bertemu dengan gadis cantik. hanya saja entah kenapa dia merasa kasihan terhadap Gadis tersebut.
"Hey... butuh tumpangan?"
Mobil SUV tua secara perlahan berjalan di samping gadis cantik tersebut, Lisin yang menurunkan kaca mobilnya menawarkan tumpangan.
Gadis cantik itu melihat ke arah Lisin lalu dengan tidak peduli kembali berjalan dengan tatapan dingin.
__ADS_1
"Kulkas... Aku akan mengantarkan mu..." Lisin tidak tau namanya jadi dirinya hanya bisa memangil kulkas.
Mungkin gadis cantik yang begitu dingin itu lupa di mana dirinya bertemu dengan Lisin namun tidak dengan Lisin yang memiliki ingatan yang sangat kuat.
Gadis cantik dingin tersebut adalah gadis yang sebelumnya bertabrakan dengan Lisin saat berjalan di Koridor kampus dan Lisin saat itu ingin masuk ke dalam ruang kelas.
Lisin juga membantu gadis tersebut dengan mengambilkannya buku yang terjatuh, namun Gadis cantik dingin tersebut pergi tanpa mengucapkan maaf ataupun terima kasih.
Lisin tidak masalah di abaikan pihak lain... dirinya tidak dekat dengannya mengapa membantunya. Lisin yang mengemudikan Mobil SUV meninggalkan gadis cantik dingin tersebut.
"Bruk..."
Melihat melalui kaca spion gadis cantik tersebut jatuh dan tergeletak di trotoar Lisin langsung memutar kembali Mobilnya.
"Siapa... itu ada orang pingsan..."
"Benar... wow... cantik sekali..."
"Hahaha... sepertinya jika aku menciumnya dia pasti akan bangun..."
"Bro... aku saja yang menciumnya..."
"Sial... Enak saja, aku jomblo merana..."
"Kamu ngajak ribut aku duluan yang melihatnya..."
"Yang punya mata kamu saja?... Aku yang melihat duluan..."
Gadis cantik dingin itu pingsan tepat setelah Lisin pergi tidak jauh dan secara kebetulan di sana ada 3 jomblo akut yang berjalan di dekatnya.
Trio jomblo itu saling berdebat tentang siapa dulu yang melihat gadis pingsan tersebut, pertengkaran mulai memanas sekarang mereka bertiga saling pukul dan tendang.
"Karena di antara kita tidak ada yang mau mengalahkan ayo kita berkelahi di sana jangan mengganggu gadis ini"
"Setuju bro..."
"Aku juga..."
Ketiga orang tersebut pergi ke tempat lain tanpa memindahkan ataupun membantu gadis yang pingsan terlebih dahulu.
Lisin yang tidak mengetahui pertengkaran trio jomblo akut tersebut menghampiri gadis yang pingsan lalu membawanya masuk ke mobil SUV tua.
Di dalam mobil SUV tua, setelah Lisin melihat kondisi gadis cantik dingin tersebut Lisin bingung apakah harus menangis atau tertawa karena alasan mengapa gadis cantik dingin tersebut pingsan adalah karena lapar.
Di satu sisi gadis tersebut terlalu cuek dan tidak peduli dengan orang yang ada di sekelilingnya di sisi lain Lisin tanpa sengaja memindai informasi terhadap gadis cantik dingin tersebut.
Umur: 21
Nilai Kecantikan: 92
Keahlian: Menguasai hampir semua pengetahuan universitas (Mahasiswi peringkat pertama di semua mata pelajaran)
Kesukaan: 50
Catatan: Depresi karena neneknya meninggal dan ayahnya di penjara.
"Dewi... jadi itu namanya... sial teryata dia jenius hampir di segala bidang..." Lisin yang mengangguk lalu mendesah.
"Kasihan juga sepertinya kondisi keluarganya sedikit rumit..." Lisin langsung mengemudikan SUV tua guna mencari makanan untuk Dewi.
(DING...)
(Tugas sistem terpicu tuan rumah harus membantu menyelesaikan ketidak adilan yang menimpa keluarga Dewi, apakah tuan rumah menerima: Ya/tidak)
Lisin tidak berharap akhir-akhir ini sistemnya baik hati dan tidak sombong, Tugas membantu menyelesaikan masalah Robert di Los Angeles belum selesai, sekarang sudah dapat misi lagi sepertinya Lisin harus sering-sering memiliki keterlibatan masalah dengan orang lain agar sistem dengan murah hati memberinya misi.
"Terima..." Lisin merasa jika dirinya menolak tugas yang sistem berikan dirinya hanya menyia-nyiakan sumber daya sistem.
"Sepertinya masalah yang menimpa keluarga Dewi tidak sederhana..." Lisin yang pergi bersama Dewi yang pingsan tidak peduli dengan Trio jomblo akut yang memiliki luka lebam pada masing-masing wajahnya.
"Sial... Kemana gadis cantik yang pingsan itu pergi..."
"Benar... aku sangat yakin dia ada di sini..."
"Sial... aku sudah memenangkan perkelahian di antara kita bertiga, sekarang hadiahnya menghilang..."
"Sepertinya wajahku di pukul dengan sia-sia..."
"Ini gara-gara kamu... andai saja kamu tidak menyarankan untuk pindah tempat"
"Kamu juga seharusnya kita tidak perlu berkelahi kan kita bisa bergantian..."
"Benar juga..."
"Ahhh... mengapa kamu memukulku lagi..."
"Kamu tidak bilang dari awal..."
"Sial... mulai sekarang kita tidak Friend lagi..."
__ADS_1
"Ok..."
Trio jomblo akut yang sudah berteman sejak di dalam kandungan memutuskan pertemanan di antara ketiganya. jika ketiganya tau yang membawa pergi gadis pingsan sebelumnya adalah Lisin. pasti ketiganya akan muntah darah.
Ketiganya berkelahi demi menjadi yang pertama, sedangkan orang lain langsung ambil bagian tanpa melalui audisi, bagaimana ketiganya tidak marah.
Lisin yang sudah membeli beberapa burger dan minuman float dari KFC yang tidak jauh dari sana mulai membangunkan Dewi yang pingsan dengan memberikan energi batinnya.
"Di mana ini?!... Mobil ini?!"
Dewi yang bangun dari pingsannya sangat bingung kapan dirinya duduk di dalam mobil, bukannya dirinya kehilangan kesadaran saat berjalan di atas trotoar.
"Kamu..." tatapan Dewi kembali dingin saat melihat Lisin yang mengemudikan mobil.
"Kamu sudah bangun... sepertinya kamu lapar jadi aku memberikanmu makanan dan minuman" Lisin yang melihat Dewi tersadar langsung menawarkan apa yang sebelumnya dirinya beli.
"Tidak... Terima kasih... Turunkan aku di tepi jalan" Dewi menolak tawaran Lisin lalu menyuruh Lisin untuk menghentikan mobilnya.
"Keruuuuk..."
"Tuh... kan perut kamu berbunyi... makanlah... Aku sudah membelinya kamu tidak boleh menolaknya" Lisin berkata dengan senyuman ramah seperti om-om yang sedang merayu gadis sekolah.
"Tidak... bagaimana jika kamu meletakkan obat afrodisiak di dalamnya" Dewi berkata dengan datar.
"Enggah..." Lisin tersedak untung saja dirinya memiliki kemampuan mengemudi super jika tidak mobil SUV tua yang di kemudikannya akan menabrak trotoar.
"Jika aku orang jahat... aku sudah melakukan itu denganmu di belakang, percayalah makanan dan minuman itu tidak mengandung zat berbahaya apa lagi afrodisiak" Kedua alis Lisin terangkat, dirinya hanya berniat membantu namun di salah artikan.
Dewi tidak menjawab melainkan langsung menghabiskan 5 burger jumbo dan dua minuman Float.
Lisin bingung apakah semua wanita makan seperti ini, bahkan bagian dirinya di ambil juga.
"Maaf... aku menghabiskan semuanya" Dewi tidak seperti sebelumnya yang dingin, dia meminta maaf dengan sedikit malu.
"Tidak apa-apa... Makanan itu di beli untukmu..."
Sial... aku juga lapar...
"Dewi... namaku Dewi siapa namamu?" Dewi yang kembali dingin memperkenalkan dirinya sambil bertanya.
"Aku Lisin... sebelumnya kita bertabrakan saat di Koridor kampus, apa kamu ingat..." Lisin berkata sambil mengingatkan Dewi tentang kejadian sebelumnya.
"Aku ingat..."
"Dewi... Sebelumnya aku melihatmu keluar dari kantor polisi, apakah keluarga mu mendapat masalah?... tenang saja aku adalah orang yang bisa menjaga rahasia..." Lisin berkata dengan menyakinkan.
"Aku tidak masalah jika semua orang tau... Nenekku kemarin tertabrak motor saat pulang setelah membeli sayuran yang setiap pagi ada di sebrang jalan"
Lisin mendengarkan Dewi sambil mengemudikan mobil SUV.
"Jadi kamu ingin menuntut pelaku melalui kepolisian?" Lisin mulai berspekulasi jika Keluarga Dewi tidak bisa menuntut pelaku di karenakan pelaku orang berkuasa.
"Tidak..." Dewi menggeleng.
Tidak?!!!... Lisin semakin bingung mengapa keluarga Dewi tidak menuntut pelaku, juga menurut analisa sistem Ayahnya berakhir di penjarah.
"Keluargaku memutuskan untuk berdamai secara kekeluargaan di karena pelaku juga orang yang tidak punya seperti keluarga ku..." Dewi menjelaskan lebih lanjut.
Masuk akal jika memutuskan untuk berdamai lalu mengapa Dewi pergi ke kantor polisi.
"Keluargaku sudah mengikhlaskan kepergian Nenek... dan sepakat mendapatkan uang sebesar 1 juta dari keluarga pelaku di karenakan pelaku hanya punya uang sebesar itu"
Jadi seperti itu... lalu apa yang salah, karena kedua keluarga sudah berdamai, bagaimana Ayahnya Dewi bisa di penjara?
"Polisi yang menangani kasus kecelakaan Nenekku menuntut balik Ayahku... dan sekarang ayahku berada di balik jeruji"
"Apa!!!..."
Bagaimana bisa? bukannya pihak korban dan pihak pelaku sudah memutuskan untuk berdamai, jadi langkah selanjutnya harus mencabut berkas. mengapa polisi yang menangani kasus tersebut menuntut ayahnya Dewi.
"Polisi menyalahkan ayahku di karenakan menyetujui pernyataan damai dengan kompensasi 1 juta tanpa melalu pihak kepolisian" Dewi berhenti sejenak kemudian melanjutkan.
"Jika ayahku... melakukan perdamaian melalui pihak kepolisian, kepolisian akan menjatuhkan Tagihan 50 juta terhadap pelaku dan keluargaku akan mendapatkan uang 10% yaitu 5 juta"
"Polisi Sialan... Kematian seorang Nenek di buat kesempatan untuk mendapatkan uang..." Lisin tidak hanya bersimpati tapi sangat membenci polisi yang menangani kakus kematian neneknya Dewi.
"Polisi yang menangani kasus kematian nenekku juga akan menangani Jasa raharja agar keluarga ku mendapatkan uang, hanya saja keluarga ku mendapatkan uang sebesar 5 juta dari 50 juta yang seharusnya di terima" Dewi yang dingin tanpa sadar menjatuhkan air matanya.
"Sialan... ini tidak bisa di biarkan..." Tatapan Lisin menjadi tajam kemudian memutar arah mobil SUV tua yang di kendarainya.
"Mengapa kita kembali... kemana kamu membawaku pergi?!!!..." Dewi yang mengusap air matanya bertanya dengan bingung.
"Tentu saja mendapatkan keadilan..." Apa yang Lisin lakukan bukan karena tugas sistem, melainkan rasa keadilannya yang kuat.
Bersambung...
*Mampir juga Novel baru author yang berjudul "SISTEM KERUGIAN"
*Terimakasih.
__ADS_1