
Sanjaya harus mengakui jika lawannya sangat kuat, pantas saja Pawana tidak dapat mengalahkan lawan dan berakhir di ranjang rumah sakit.
Sekarang Sanjaya hanya bisa menggunakan teknik - teknik beladiri dari aliran Perguruan macan putih.
Menggunakan kedua kakinya Sanjaya mengambil posisi kuda - kuda bela diri, kakinya sedikit terbuka dengan pinggang sedikit di turunkan. kedua tangannya di silangkan untuk beberapa saat sebelum akhirnya menggerakkan ke depan.
Lisin melihat Sanjaya mulai mengerti, dengan tubuhnya sebagai tubuh bela diri kuno dirinya dengan spontan membentuk posisi kuda - kuda yang hampir sama dengan pihak lain.
Pada dasarnya kenangan teknik bela diri sangat banyak di miliki Lisin, namun Lisin belum pernah menggunakannya. dalam pertarungannya selama ini, selain menggunakan katana dirinya beberapa kali menggunakan tinju biasa.
"Gaya... Itu, Akui saja jika kamu tidak dari Perguruan tengkorak, dari mana kamu mempelajari posisi itu... Ataukah kamu dari Perguruan Lain?..." Setelah terkejut sebentar, Sanjaya langsung memahaminya jika lawannya dari Perguruan tertentu.
Hanya saja dirinya salah menarik kesimpulan karena Lisin bukan dari Perguruan manapun.
"Bagaimana jika aku tidak memiliki Perguruan di belakangku?..." Lisin menjelaskan dengan jujur.
"Bohong... Jelas kamu bisa menggunakan teknik kuda - kuda dengan sempurna, Sepertinya melumpuhkan dan menyiksamu akan membuatmu berkata dengan jujur..." Sanjaya berkata dengan yakin.
Dalam Bela diri Teknik kuda - kuda menjadi tumpuan untuk melakukan sikap pasang, teknik serangan, dan pembelaan diri. Teknik ini juga digunakan sebagai latihan dasar dalam Bela diri.
Keduanya secara diam saling menatap lalu dengan perlahan mendekati satu sama lain, Sanjaya memiliki kedua tangannya dalam sikap pasang tertutup, teknik ini menggunakan tangan kiri untuk bertahan, sedangkan tangan kanan untuk melakukan pukulan.
"Gyak..."
Berbeda dengan Sanjaya, Lisin mengambil sikap lain yaitu pola langkah untuk menghindari setiap pemukulan dari sanjaya.
"Duar..."
Pemukulan tersebut mengandung kekuatan energi dalam yang di salurkan pada setiap jalur meridian. Di hadapkan dangan lawannya yang sangat gesit Sanjaya sedikit kewalahan, belum lagi dirinya harus mengatur pernapasan jika tidak kanuragan yang ada di dalam tubuhnya akan tidak beraturan dan melukai diri sendiri.
"Duarrrr..."
Kali ini Lisin yang sangat mengejutkan Sanjaya mengeluarkan pemukulan dalam konsumsi energi dalam yang sangat besar. hanya saja sanjaya berhasil menghindarinya dan membuat pohon kelapa yang ada di belakang Sanjaya tumbang.
"Gyarrrr..."
Sanjaya melakukan lompatan kebelakang kemudian melihat pohon kelapa yang memiliki bagian bawahnya hancur berkeping - keping.
"Ehm... Sepertinya aku meremehkan mu..." Sanjaya meningkatkan ritme pertarungan, dan Lisin dengan santainya mengendalikan ritme pertarungan tersebut.
"Ini..." Pernafasan Sanjaya mulai berat karena dirinya terlalu memaksakan dirinya.
"Ahhhh..." Tendangan berikutnya, Sanjaya terlempar menghantam dan menghancurkan rumah tua.
"Duarrr..."
Rumah tua tersebut adalah milik salah satu warga desa yang mendiami kawasan kaki gunung Kawi, hanya saja tidak lagi di gunakan. sedangkan sapi yang ada di belakang rumah adalah milik warga yang kebetulan ada di sana, Sanjaya mengetahuinya saat turun gunung sebelumnya.
Sanjaya memiliki sudut mulutnya keluar darah segar, Dirinya harus mengakui jika pihak lain lebih unggul darinya.
__ADS_1
"Hati - hati, kamu akan melukai Calon istrimu..." Sanjaya melihat seekor sapi yang ketakutan berniat melarikan diri.
"Sialan... Sepertinya kamu sudah bosan untuk hidup..." Lisin melihat Sanjaya dengan kesal.
Dengan cepat keduanya bertukar selusin keterampilan bela diri, dan tanpa peduli dengan tempat yang ada di sekitarnya, kekuatan kanuragan menghancurkan beberapa tanah dan pepohonan.
Medan yang awalnya tenang dan asri menjadi tak dikenal lagi seolah dua tempat yang berbeda. Seekor sapi yang sebelumnya sedang makan rumput melarikan diri karena ketakutan.
"Guakkk..."
Sanjaya terlentang di atas permukaan tanah tidak dapat menggerakkan tubuhnya, Lisin berdiri di dekatnya dengan kaki kanannya di letakan di atas dada Sanjaya.
"Uhukk..."
Sanjaya seperti tertekan dengan gunung di atas tubuhnya, ini bukan karena Lisin sangat berat melainkan dia menggunakan energi dalam untuk menekan tubuh Sanjaya.
"Apakah Vito yang menyuruhmu?... Seperti Pawana sebelumnya..." Lisin bertanya dengan dingin.
"Guak..."
"Siapa Vito?... Perguruan Macan Putih tidak menerima pesanan siapapun selain Pemimpin Perguruan..." Sanjaya menjelaskan sambil mengeluarkan darah dari mulutnya.
Perguruan Macan Putih! rasanya pernah mendengarnya.
"Lalu mengapa kamu mengincar ku?" Lisin bertanya.
"Itu karena kamu melukai murid dari Perguruan Macan Putih..." Jawab Sanjaya.
"Penjelasan yang aku terima jika kamu melukainya tanpa sebab... Perguruan sangat mementingkan kehormatan, karena kamu melukainya itu berarti kamu menyinggung Perguruan di belakang Pawana..." Gigi - gigi Sanjaya berwarna merah karena darah memenuhi mulutnya.
Saat ini dirinya sedikit malu jika sampai mati di tangan pemuda awal Dua puluhan. namun mengingat pihak lain sangat kuat, bahkan lebih kuat dari semua pejuang budidaya yang selama ini dirinya lawan.
Dalam dunia bela diri tanah Jawa, yang kuat dihormati dan yang lemah di anggap sebagai semut. Dalam hati kecil Sanjaya dirinya sangat menghormati orang kuat seperti Lisin.
"Hade... Apanya demi kehormatan, apakah kamu tidak memiliki keluarga?..." Entah mengapa Lisin sedikit kesal dengan aturan kuno yang di miliki sebuah perguruan.
Kehormatan Apanya, apakah kamu mati kehormatan akan menghargaimu? atau kehormatan akan menjamin mu tidak masuk neraka? jelas tidak.
Jika Hidup dan mati di tentukan oleh kedua tangan kita sendiri, mengapa kamu memilih mati demi melindungi kehormatan, jelas Sanjaya ini hanya korban ketidaktahuan dan kesalahpahaman dari hasutan Pawana dan Akar semua masalah adalah Vito.
"Aku hanya memiliki putra yang sedikit bodoh... orang mengira dia tidak bisa menjadi kuat karena belum memasuki tahap penggunaan kanuragan, tubuhnya besar otaknya kecil walaupun seperti itu dia orang yang baik... Sepertinya aku terlalu ngelantur mengingat ajalku sudah dekat... Bunuh aku, mati di tanganmu aku tidak lagi memiliki penyesalan" Sanjaya tersenyum kecut sambil melihat langit membentang luas.
"Guak..."
"Tuan..." Dari kejauhan seorang pria kekar berlari dengan tergesa - gesa kemudian berlutut di depan Lisin.
"Tuan... Selamatkan hidupnya, kamu bisa membunuhku, selama kamu menyelamatkan hidupnya..." Pria kekar itu sangat familiar untuk Lisin.
"Anak bodoh... Lutut seorang laki - laki, tidak boleh menyentuh tanah dengan mudah... Tunggu dulu, mengapa kamu memanggilnya Tuan..." Sanjaya melihat kearah putranya yang berlutut di depan Lisin.
"Dia... Lisin ayah, Dialah orang yang menyelamatkan Wulan dengan memperkosanya..." Gatra menjelaskan.
__ADS_1
"Enggah..." Lisin muntah tanpa sebab, saat mendengarkan perkataan Gatra.
Lisin tidak berharap pihak lain yang datang dari kejauhan adalah Gatra. di tambah dunia begitu sempit karena Sanjaya ini ayahnya Gatra. Lisin hanya bisa menurunkan kakinya.
Hanya saja perkataan Gatra di awal sangat menyenangkan, kemudian menjadi pedang yang menusuk Lisin dari belakang.
Ternyata benar perkataan lebih tajam dari apapun.
Gatra ini sialan... sudah jelas aku penyelamatan keindahan, mengapa menambahkan pemerkosaan dibelakangnya, kan terdengar seperti pahlawan penjahat kelamin.
"Terima kasih Tuan... Telah mengampuni kehidupan ayahku..." Gatra bersyukur dengan bersemangat, kemudian membantu ayahnya duduk di atas tanah.
"Ambil ini... itu akan menyembuhkan lukanya..." Lisin melemparkan Pil penyembuhan kepada Gatra.
"Terima kasih Tuan..." Gatra dengan cepat menyuruh ayahnya untuk menelannya.
"Apakah kamu membuat ini sendiri?..." Sanjaya melihat kehalusan dari pil sangat terpukau.
Di bandingkan dengan pil yang dirinya beli dari Asosiasi Perguruan ini hanya bisa dikatakan sebagai harta.
"Aku tidak bisa menjawabnya..." Lisin mengabaikan pertanyaan pihak lain.
Sanjaya hanya bisa menggeleng kemudian menelan pil penyembuhan, lalu dirinya melakukan teknik pernapasan untuk menyerap kandungan obat dan memulihkan semua lukanya.
Sanjaya hanya bisa kagum dan kagum lagi, kali ini dirinya melihat Lisin dengan tatapan pemujaan. Putranya yang bodoh ini tidak salah mengakui Lisin sebagai Tuanya.
"Tuan Lisin... Maaf atas kesulitan yang kamu dapatkan..." Sanjaya berkata dengan tulus.
"Tidak masalah, Paman... Putramu bukan bodoh, hanya saja tidak pintar..." Lisin menanggapinya.
"Mengapa rasanya seperti sama saja Tuan..." Gatra berkata dengan bingung.
Tentu saja karena kamu bodoh...
"Gatra lupakan tentang itu... Lebih baik kamu membantuku menemukan Vito karena kesalahpahaman ini di sebabkan olehnya..." Lisin menjelaskan.
"Tuan Lisin... bisakah kamu serahkan Pawana dan keponakannya kepadaku, Jika aku tidak menghabisi keduanya aku tidak akan tenang..." Sanjaya mengajukan dirinya.
"Baiklah, Karena kesalahpahaman telah selesai aku akan pergi..." Lisin dengan cepat berpamitan.
"Tuan apakah kamu tidak mendatangi Padepokan Macam Putih?..." Jika bukan karena ancaman dari Mahesa dirinya tidak akan membuat masalah untuk Lisin.
"Tidak... Aku tidak ingin terikat dengan sesuatu seperti Perguruan..." Lisin langsung menolak.
Gatra tidak bisa berbuat apa - apa, karena Lisin sedikit susah di bujuk, belum lagi pihak lain adalah tuanya jadi dirinya tidak bisa memaksanya, atau menentang keputusan Lisin.
"Tuan... apakah kamu tidak ingin menemuinya lagi... Wulan dia hamil..." Gatra menambahkan.
Diam... Lisin yang berniat membuka pintu mobilnya terdiam membisu.
Bersambung...
__ADS_1