
Perjalanan dari Denpasar ke Gilimanuk memiliki jarak sekitar 130 kilometer Jika itu kendaran lain mungkin membutuhkan waktu 2 sampai 3 jam belum lagi jika hari-hari tertentu pasti akan membuat Jalan macet dan memakan tambahan waktu perjalanan.
Sedangkan Lisin dengan keterampilan mengemudi super di dukung dengan mobil sport Lamborghini, belum lagi tidak terlalu banyak kemacetan jalan, jadi Lisin menciptakan rekor perjalanan yaitu kurang dari satu jam.
Lamborghini melewati pemeriksaan pos polisi, yang ada di pelabuhan Gilimanuk, Lisin melakukan prosedur khusus di karenakan kendaraanya memiliki tempat khusus di mata petugas polisi.
"Selamat jalan pak... " polisi itu mengarahkan tangannya sedangkan peluit berada di mulutnya.
Lisin yang menyerahkan tiket ke polisi kemudian mengemudikan mobilnya ke dalam kapal Feri yang baru saja sandar, Sekarang Lisin dengan sabar menunggu Kapal yang dia tumpangi sandar ke pelabuhan Ketapang.
.....
"Pa... Anakmu tadi telepon dia saat ini dalam perjalanan pulang... " Di dalam bangsal rumah sakit, wanita paruh baya memberitahukan apa saja isi pembicaraan melalui telepon sebelumnya kepada si suami.
"Maksudnya... Lisin, Heeeh... Ini sudah 3 tahun apakah dia masih tidak ingin kuliah... " Bukan kesembuhannya sendiri yang di pikirkan, sebagai orang yang terbaring di ranjang rumah sakit, pria paruh baya berkumis ini masih memikirkan pendidikan anaknya.
"Pa... sudahlah jangan membahas kuliah lagi... anak kita kabur dari rumah mungkin terlalu terkekang, karena Papa selalu memaksanya untuk kuliah" Wanita paruh baya itu menegur si suami.
"Apa yang bisa ku lakukan sekarang dengan kakiku yang lumpuh... Bagaimana aku kerja agar dia bisa kuliah sekarang" Si suami hanya bisa mendesah.
"Jika Papa tidak memaksanya Kuliah setidaknya Lisin bisa mencari pekerjaan di Sekitar sini saja... Tidak harus merantau ke bali" Mendengar ini si suami terdiam.
"Teman-teman satu angkatan dengan Lisin yang sama-sama lulusan sekolah kejujuran semuanya kebanyakan menganggur jika pun kerja jadi kuli bangunan... Papa tidak ingin Lisin Menjadi Tukang bangunan seperti Papanya ini"
"Tapi kan dia bisa bekerja di bengkel punya keahlian Pa... "
"Keahlian apa... Maksud Mama seperti anaknya si Upen yang bisanya hanya tambal ban aja... Atau anaknya si Ipen yang kerja di bengkel orang china dan harus di suruh ke sana sini... Lisin anak satu-satunya kita Sebagai orang tua, Papa ingin dia sarjana dan mendapatkan pekerjaan yang mapan"
Wanita paruh baya menghadapi Kekeras kepalaan sang suami hanya bisa menggelengkan kepala.
"Mama tinggal dulu ya... untuk mengurus biaya rawat inap bulan ini... dan mengurus perpindahan ke bangsal VIP"
"VIP... Mama tidak menggunakan Uang itu kan... "
"Lisin sebelumnya mengirim uang ke rekening, jadi Mama harus menggunakan uang ini dulu, karena kesembuhan Papa lebih penting... "
"Mengirim uang... palingan cuman beberapa juta... "
Wanita paruh baya mendatangi Mesin ATM yang ada di depan rumah sakit, Tidak lama setelah itu Wanita paruh baya keluar dengan terkejut, dia mengetahui jumlah uang saldo yang ada di rekeningnya tidak sedikit.
"100 juta... ini... " Wanita paruh baya terkejut mengetahui jika anaknya mengirimnya uang sangat banyak... bahkan jika suaminya bekerja seumur hidupnya tidak akan pernah menghasilkan uang sebanyak ini.
Sekarang anaknya yang merantau tanpa kabar menghasilkan uang sebanyak 100 juta, jumlah ini tidak banyak orang yang bisa mendapatkannya.
Jika wanita paruh baya ini tau jika anaknya berniat mengirimkan uang sebanyak 1 Triliyun mungkin akan pingsan di tempat. berapa banyak uang receh untuk nominal 1 Triliyun? hanya mbak mbak pegawai indomaret yang tau.
"Pa... Lisin pa... Lisin... " Wanita paruh baya itu mengejutkan suaminya yang hendak tertidur.
Ma... Kenapa Mama mengganggu tidur Papa... dari tadi Papa susah sekali tidurnya... dan Sekarang setelah tertidur sebentar di bangunin, bilang saja sekalian agar Papa tidak perlu tidur.
"Ada apa Ma... kenapa? apakah ada genderuwo yang mengganggu Mama?... " si suami berkata dengan marah.
Jika itu Genderuwo yang mengganggu Istriku lihat saja akan ku tendang bagian bawahnya... tunggu dulu kakiku kan lumpuh... kenapa bingung kan ada tangan... pakai tinju juga bisa.
"Lisin mengirim uang 100 juta... "
"Apa... 100 juta... Mama pasti bercanda... " si suami terkejut, kerja apa di bali bisa mendapatkan uang sebanyak ini... agak mencurigakan, jika tidak nuyul pasti ngepet.
__ADS_1
"Pa... Lihat sendiri ini Struk ATM yang baru saja Mama tarik... " Bola mata si suami hampir keluar dari rongganya, Sial... ini beneran 100 juta.
Sial... untung saja aku tidak terkena serangan jantung, ini 100 juta beneran, ini uang dari nuyul apa ngepet aku harus klarifikasi ni biar tenang.
"Ma... Telpon lagi Si Lisin Papa harus mengklarifikasi uang ini dari mana... " Si suami berkata dengan tidak sabar.
Sungguh pasangan suami istri yang harmonis.
Setelah beberapa panggilan tidak terjawab akhirnya sisi lain menerima panggilan telepon tersebut.
"Hallo... " Lisin yang tertidur di Lamborghini terbangun kan lalu mengangkat ponselnya.
"Kamu anak durhaka... kenapa tidak pernah pulang apa kamu ingin menjadi bang Toyib?... " Lisin terkejut mendapatkan ocehan dari pihak lain.
Bang Toyib... siapa si ini... kok telpon marah-marah.
Karena belum bangun sepenuhnya Lisin tidak mengerti jika pihak lain adalah Ayahnya. "Maaf... ini salah sambung saya bukan Bang Toyib... "
"Dasar Anak durhaka... Dengan Orang tuanya sendiri tidak mengakui, di kutuk jadi batu baru tau rasa kamu" Lisin Mulai menyadari jika pihak lain adalah Ayahnya yang belum dia temui selama 3 tahun.
"Pa... Lisin minta maaf... Lisin tidak tau jika ini Papa... Papa baik-baik sajakan, udah pindah ke bangsal VIP belum?"
"Apa... Pindah ke bangsal VIP dengan uang haram mu itu... Lisin kamu harus tobat Nak sebelum kena Azab... "
"Engga... " Lisin muntah darah mendengar Papanya menyuruhnya untuk tobat.
"Lisin... Uang sebanyak ini pasti hasil kamu dari Nuyulkan... "
Sial... Sebenarnya yang durhaka Papa atau aku si... ya walaupun aku mendapatkan semua ini dari sistem namun semua yang ku dapatkan dari sistem adalah legal... Siapa juga yang menggunakan anak kecil untuk mencuri uang.
"Oh... iya ya... Bagaimana dengan Ngepet bisa juga kan kamu Malam-malam keliling nyari uang"
Sial... Ada aja ni yang di pikirkan Papa... Siapa juga yang jalan-jalan di tengah malam tanpa busana mencuri uang orang... juga siapa yang harus ku suruh untuk menjaga lilinnya... Seperti biasa Setelah 3 tahun Papa tidak pernah berubah, sepertinya aku menangis dengan sia-sia.
"Pa... Sebenarnya Lisin menghabiskan uang di pasar saham... dan sekarang uang itu telah meningkat nilainya, tidak hanya itu Lisin juga punya perusahaan kecil di Bali jadi semua uang yang Lisin kirimkan adalah Legal"
Alasan ini sudah Lisin persiapkan dari jauh-jauh hari, tidak mungkin Lisin mengatakan jika semua uang dia dapatkan karena sistem jadi dia terpaksa harus berbohong.
"Kalau begitu Papa akan tenang menggunakan uang ini... hahaha..." Tawa dapat terdengar dari sisi lain telepon.
"Papa... kamu harus pindah Ke bangsal VIP segera oke... ya sudah sebentar lagi kapalnya akan sandar setelah ini aku akan menjenguk Papa di rumah sakit" Setelah menutup panggilan Lisin mengemudikan Lamborghini keluar dari kapal Feri kemudian Lamborghini Melaju ke arah selatan.
Di Rumah sakit Blambangan, Banyuwangi.
Wanita paru baya menemani suaminya di bangsal rumah sakit... "Pa... Lisin kan sudah punya perusahaan ya walaupun kecil setidaknya dia sudah menghasilkan uang sendiri. Jika Lisin tidak perlu kuliah, Gimana pa... "
Mama ini emang cari masalah ya... justru karena dia sudah punya banyak uang dia harus melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, enak saja tidak perlu kuliah...
"Tidak bisa Lisin harus kuliah... " Wanita paru baya itu hanya bisa mendesah, bukan karena dia tidak ingin anaknya kuliah, hanya saja jika anaknya tidak mau kuliah gimana... Sebagai ibunya Dia harus mendukung pilihan Anaknya.
Tak butuh waktu lama Lamborghini parkir di depan rumah sakit Blambangan, Lisin yang langsung pergi menuju ke bangsal VIP tidak peduli dengan Orang-orang yang mengerumuni Lamborghini untuk di jadikan sebagai objek foto selfie.
Setelah menanyakan Bangsal VIP atas nama ayahnya, Lisin tanpa penundaan langsung menuju ke sana, "Ma... Pa... Lisin pulang... "
"Siapa kamu... Apa kamu cucuku yang telah lama menghilang... Ke marilah cu..." Di bangsal itu terdapat kakek tua bau tanah, setelah melihat nama yang tertera di ranjang Lisin memahami jika Pasien tua ini memiliki kesamaan nama dengan ayahnya.
"Engah... " Lisin hampir tersandung, dia langsung meninggalkan bangsal itu.
__ADS_1
Sial... mimpi apa semalam aku harus salah mengenali ke dua orang tuaku.
"Ma... Pa... Lisin pulang... " Kali ini Lisin tidak salah mengenalinya kedua orang yang ada di depannya.
"Siapa kamu... " Lisin yang mendengar pertanyaan ini ingin menangis tanpa air mata.
"Ini aku... Lisin Ma... Pa... " Lisin mengenalkan dirinya.
"Apakah kamu Lisin... kenapa tidak kurus... dan ini lebih tampan dari sebelumnya..." Wanita paru baya ini adalah ibu kandung Lisin.
"Dia adalah anak kita Ma... ya walaupun tidak setampan Papa... " Ayahnya Lisin yang berbaring di ranjang mengakui.
Apakah boleh reka ulang adegan aku ingin yang lebih mendramatisir... kenapa tidak seperti di sinetron-sinetron. Teganya kalian tidak mengenali anak kandung kalian.
"Ma... Pa... ini Lisin... Amar Lisin... Anak yang meninggalkan kalian 3 tahun yang lalu, Maaf jika keputusan ku sebelumnya egois... " Lisin mendekati ibunya sambil bersujud ingin mencium kakinya, namun di hentikan dengan pelukan hangat seorang ibu.
Setelah tangisan dari ibunya mereda Lisin mencium tangan ayahnya, dan cukup waktu berlalu reuni keluarga itu menjadi tenang.
"Pa... Lisin akan menyembuhkan kakimu... " Lisin berjanji.
"Tidak nak... Biarkan saja papamu ini Lumpuh... " Lisin terkejut dengan perkataan ayahnya.
Kok ada orang tua seperti ini... orang lain yang lumpuh ingin bisa berjalan lagi, sedangkan Papa... kenapa tidak ingin berjalan lagi.
"Kenapa Pa... " Lisin Bertanya dengan serius.
"Selama kamu berjanji ke Papa kamu akan kuliah, Papa tidak masalah menjalani perawatan lebih lanjut... " ayahnya tersenyum dengan kemenangan.
Kuliah lagi... Kuliah lagi... apa tidak ada hal lain di dalam kepala Papa, hade... sepertinya aku harus kuliah.
"Pa... Lisin Berjanji setelah Papa sembuh Lisin akan melanjutkan pendidikan Lisin... " Lisin berjanji dengan tulus.
"Hore... hahaha... Begitu dong kamu itu harus kuliah biar bisa jadi sarjana... " Pria paru baya berkumis itu seperti anak kecil yang saat ulang tahun mendapatkan kado istimewa, jika kakinya tidak lumpuh pasti akan meloncat-loncat.
Lisin melihat Ibunya yang tersenyum mulai mengerti satu hal ternyata ayahnya dengan sengaja bilang seperti sebelumnya agar dirinya berjanji untuk kuliah.
"Sekarang Papa bisa tenang untuk menjalani Operasi... " Kenapa kalian bahagia padahal kakinya belum sembuh.
"Papa... tidak perlu Operasi Lisin akan melakukan perawatan... " Lisin berkata dengan yakin.
"Nak... kamu bisa pengobatan?" Ibunya bertanya.
"Ya... sedikit... Ma apakah Papa melakukan Foto Rontgen bagian Kaki... " Lisin bertanya.
Foto Rontgen adalah prosedur pemeriksaan menggunakan radiasi gelombang elektromagnetik atau sinar-X untuk menampilkan gambar bagian dalam tubuh. Selain untuk mendeteksi masalah kesehatan, foto Rontgen juga dapat digunakan sebagai prosedur penunjang dalam tindakan medis tertentu.
Pada foto Rontgen, gambaran dari benda padat, seperti tulang, akan ditampilkan sebagai area berwarna putih. Sedangkan, udara yang terdapat pada paru-paru akan tampak berwarna hitam dan gambaran dari lemak atau otot ditampilkan dengan warna abu-abu.
"Ada Nak... " Setelah Lisin melihat hasil dari Rontgen dia terkejut melihatnya. Kemudian mengunakan Energi Batin untuk memeriksa secara Langsung.
"Siapa... yang melakukan ini... siapa yang membuat Papa menjadi Lumpuh... Ini jelas bukan kecelakaan kerja, ini patah tulang Lutut dan ada keretakan dengan tulang sendinya... " Lisin berkata dengan Marah.
"Lisin... bagaimana kamu bisa tau?" Bagaimana tidak terkejut, apa yang lisin katakan hampir sama dengan yang dokter katakan selama ini.
"Lutut Papa pasti di pukul dengan benda tumpul, Katakan siapa yang melakukannya... " Hawa membunuh meluap memenuhi ruangan bangsal. sedangkan kedua orang tuanya terdiam sedih.
Bersambung...
__ADS_1